Pada hari Ke dua Rabu (23/01/2018) diadakan perlombaan Rebana yang di selenggarakan oleh UKM BAI (Badan Amalan Islam) dengan tema PESONA (Pekan Sholawat dan Rebana)yang bertempat di Panggung Utama di depan Gedung E Udinus.

Antusias yang luar biasa terlihat ditunjukkan oleh para peserta serta pengunjung yang hadir pada acara DinusFest 2019. Diikuti 18 grup peserta tingkat SMA sederajat  se-Jawa Tengah yang terdiri dari berbagai daerah Semarang, Solo, Grobogan dan Pemalang.

Peserta lomba PESONA sangat antusias dengan diadakannya lomba tersebut, mereka bersemangat dan totalitas dalam menampilkan pertunjukkan. Pertunjukkan yang terbaik sudah mereka berikan meski masih ada rasa gugup sebelum tampil “Grogi, tapi manjadawajjadja semoga Allah memberkahi kita semua” kata Nayla Miftahul Rohmah salah satu peserta lomba PESONA. “Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi” tambahnya.

“Kesannya Alhamdulillah ini peserta juga antusiasnya sangat maksimal mulai dari tampilan peserta juga sudah menyiapkan beberapa variasi untuk kostum juga terlihat maksimal. Kalau untuk pesannya semoga dengan diadakannya kegiatan ini dapat meningkatkan rasa cinta kita kepada Rosul dengan bersholawat” kata Wahyu Candra Tama selaku Ketua Pelaksana. “Untuk kesan DinusFest secara keseluruhan mulai dari rangkaian acara dari mulai lomba rebana atau lomba-lomba ya semoga dengan adanya ini dapat mewujudkan DinusFest yang extraordionary” tambahnya.

Acara DinusFest yang diadakan oleh Universitas Dian Nuswantoro merupakan acara tahunan yang sangat bermanfaat terutama dalam meningkatkan budaya Indonesia. Salah satunya melalui lomba Rebana yang menampilkan musik serta gerakan menari islami. Semoga dengan diadakannya DinusFest setiap tahun dapat mengasah bakat generasi muda serta melestarikan budaya melalui lomba-lomba yang diadakan oleh UDINUS.

Penulis : Wahyu Putri Prihayanti

Editor : Haris Rizky Amanullah

Can I Call U, Love? – #7 Tertunda

Hari ini melelahkan. Tiga kali kelas, tiga kalinya pula aku harus presentasi di depan kelas. Sungguh, semalam aku hampir gila rasanya. Materi ini belum selesai, materi itu belum kupelajari, materi yang satunya malah sedang ku proses. Belum lagi aku harus berbicara didepan forum organisasiku. Hampir muak rasanya. Ingin kabur dari semua kegiatan. Tapi superegoku menahan untuk tidak pergi.

Sore itu entah mengapa suhu tubuhku menurun, hingga tangan-tangan yang kukepal dalam tas pun masih tetap kedinginan, badanku menggigil. Entahlah, tapi aku sering tiba-tiba kedinginan seperti ini. Tidak pernah membawa jaket ke kampus, siapa pula yang tau bahwa hari ini aku akan mendadak kedinginan.

Hari ini pula sudah kami rencanakan, makan malam berdua di kos setelah forum selesai. Begitu forum kami usai, ia mendadak hilang begitu saja, entahlah. Yang kutahu, dia akan menungguku dijalanan menuju kos. Tapi salah, kucari ia disekitar tak kutemukan. Kupikir turun lewat escalator, jadi lama. Atau sudah lebih cepat karena lewat tangga, tapi tak ada.

Di parkiran, kutunggu sekitar 15 menit. WhatsApp dengan centang satu, kutunggu pula dengan sabar hingga berubah menjadi dua, bahkan sampai berubah warnanya menjadi biru dengan pesan baru. Tidak bilang apa-apa sebelumnya. Jadi, mana kutahu, jika hari ini ia ada forum juga disebelah.

“Aku di forum sebelah”, setelah15 menit kutunggu, akhirnya ada pesan baru.

Aku masih berdamai dengan si ego.

“Yaudah, ketemu di kos ya kalau sudah selesai”, jawabku tetap tenang meski merasa sebal.

“Siap, nanti jam 9 selesai biasanya”, jawabnya seolah menegaskan bahwa ia akan datang.

Sesampainya di kos, badanku masih menggigil tak karuan. Kurebahkan diri diatas karpet, kutarik selimut, meski sudah menggunakan jaket. Kakiku masih dingin sekali rasanya. Entahlah, kipas sudah mati. Aku tertidur pulas sekali. Hingga tiba-tiba dering membangunkanku. Kupikir itu dia. Ternyata temanku, malas sekali. Menyuruhku ke kosnya untuk mengambil barangku yang terbawa olehnya saat di kampus tadi. Aku menaiki motor ke kosnya dengan muka bantal dan perut yang sudah lapar sekali.

Pukul setengah delapan malam. Terakhir kali aku mengunyah adalah di kos tadi pagi, makan sereal saja. Jadi, jika laparku sudah tak karuan, wajar bukan? Apalagi 9 SKS hari ini benar-benar menguras pikiran karena harus presentasi diketiga mata kuliah.

Sampai di kosnya temanku, diajaknya aku mencari makan. Ia lapar katanya, sendirian pula. Mie ayam goreng, ia ingin. Sejak diatas motor, ia memaksaku untuk ikut makan juga, tidak hanya sekadar menemaninya melahap habis mie ayam goreng itu. Berkali-kali itulah aku menolaknya. Aku masih ingin makan malam berdua, karena ia nanti tidak akan mau jika harus makan sendirian dan aku juga tidak ingin makan dua kali malam ini, apalagi dengan selang waktu yang kukira cukup singkat.

Tapi ada rasa takut yang menghantuiku jika makan malam ini akan gagal. Karena hari sudah kian gelap, sedang ia belum ada kabar akan benar datang atau hanya menenangkanku saja dengan kalimatnya yang terakhir bahwa ia akan datang setelah selesai forum.

Setelah kupikir-pikir, aku memutuskan untuk makan saja. Mengingat yang sudah-sudah, jika forumnya selesai tidak dengan singkat. Aku makan, dengan terus dihantui pikiran “Ia akan datang tidak ya? Jika datang, berarti aku harus makan dua kali? Ah sudahlah, biarkan jika harus makan dua kali, lagipula porsinya sedikit dan ini hanya mie, bukan nasi.”

Setelah mie ayam goreng itu habis, aku langsung saja mengajak temanku untuk pulang, aku terburu-buru, takut saja jika dia ternyata sudah menunggu didepan kos, atau sudah selesai forumnya. Pukul sembilan, aku pulang ke kos. Ternyata masih tidak ada kabar. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu I Still Love You – The Overtunes. Tenang sekali rasanya, suara Mikha benar-benar menyejukkan, kuputar berkali-kali.

Layar handphoneku menyala, ada pesan darinya.

“Tidur saja, aku masih lama. Maaf”, pesannya membuatku kesal, namun aku tidak boleh egois. Berada di forum lama-lama bukan keinginan ‘kan? Menyebalkan pastinya. Mendengarkan satu orang berbicara, kemudian lainnya berdebat.

“Iya, lanjutkan forumnya”, kubalas dengan tenang.

Aku putus asa. Kutarik selimut lagi, meski suhu tubuhku sudah membaik, aku mulai lelap diatas lagunya I Still Love You – The Overtunes. Pukul setengah sebelas malam, handphoneku bordering. Aku terbangun. Kali ini dari dia.

“Dimana? Aku tidak enak kalau harus kesana tengah malam. Gimana? Aku baru selesai”, suaranya lelah, pasti juga belum makan, kasihan.

“Di kos, gak usah, pintu kos sudah kututup, lampunya juga sudah kumatikan. Sudah malam, next time”, jawabku.

“Maaf ya”, katanya lirih.

“Maaf untuk apa? Aku ngerti kok. Gak usah bilang maaf”, kataku menenangkan bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf sudah membuatmu menunggu”, katanya.

“Iya memang, menyebalkan. Aku tadi nunggu kamu di parkiran lama banget, kukira kamu sholat Maghrib di masjid. Ternyata di sebelah. Tapi yaudah gakpapa, santai aja. Yaudah kamu pulang aja, udah malam, nanti gak berani pulang lagi…”, jawabku.

“Berani, iya habis ini aku pulang langsung, tapi maaf ya”, katanya berkali-kali mengucap maaf.

“Iya, santai aja kali, ah”.

“Yaudah, aku pulang ya”, katanya menutup.

“Hati-hati”.

Merasa kesal dan sebal. Tapi untungnya mie ayam goreng tadi sudah jadi amunisiku. Aku gak akan kelaparan malam ini. Tapi sayang, makan malam ini harus tertunda, entah hingga kapan terealisasi. Yang pasti aku akan selalu menunggu waktu-waktu itu. Sekadar makan berdua di kos dengan lauk seadanya atau kemana saja yang penting berdua. Diatas motor melintas ditengah keramaian Kota Semarang yang sedang dihebohkan dengan adanya air mancur menari disalah satu jembatan.

Tidak apa bila makan malam ini sempat tertunda, aku paham dengan semua kesibukan yang kami punya sebagai aktivis mahasiswa yang harus kuliah dan berorganisasi, kemudian mulai memberikan kualitas waktu yang baik kepada satu dengan lainnya. Berusaha memahami apapun yang terjadi saat ini adalah untuk masa depan masing-masing dari kami.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #6 Basah Kuyup

Hari ini Kamis manis, bersama kenangan manis pula didalamnya. Aku berada dalam ruang organisasiku berdua. Hanya berdua. Sebenarnya karena ditinggal satu-satunya temanku yang tadinya berada disini, untuk membeli makan. Tertinggallah aku, bersama dengannya. Diam, hening, dan ingin pulang. Adakah orang yang senang karena tidak dianggap ada? Ditinggal mendiam diri dan duduknya memunggungiku. Seperti aku tidak terlihat olehnya.

Kemudian ia pamit untuk berkumpul dengan kelompok tugasnya. Aku sendirian. Entah mengapa, meski tadi sempat tak dianggap, aku tetap saja menunggunya. Sebenarnya tidak ada niatan pula, namun sekalian, toh bosan di kos sendirian.

Pukul setengah sembilan malam, ia kembali ke ruang terakhir kali ia meninggalkanku. Mengajakku untuk makan malam, di angkringan pinggir jalan, ramai, aku suka. Kami bertiga dengan temanku tadi, menggelar tikar ditengah lapangan samping warung. Memandangi bulan yang terang sambil mendengarkan pengamen jalanan menyanyikan lagu-lagu Tulus yang sejuk. Tak terasa, tiba-tiba gemericik air mulai turun dengan nyaring. Kami masih tetap di tempat. Berharap hujannya akan tetap gerimis manis seperti hari ini.

Salah, ketika kami membiarkan badan kami masih tergeletak duduk rapi di lapangan, hujan tiba-tiba deras. Kami lekas lari menuju tenda warung, sekalian membayar apa yang sudah kami beli. Selepasnya, kami memutuskan untuk pulang ke kosan ku, menerjang hujan yang sedikit mereda, lebih baik dari hujan yang tadi, deras.

Kami bertiga basah kuyup dan menggigil kedinginan. Segelas teh hangat kusajikan untuk menghangatkan. Pesta minum teh sederhana yang kubuat malam itu, aku ingat sekali. Ketika ia tersenyum, dan aku mulai berani menatap matanya diam-diam. Namun kau tahu tidak? Hatiku kembali berdebar-debar, kencang pula.

“Sudah malam, aku pamit pulang ya”, ia pamit.
“Baru saja mau aku usir”, jawabku bercanda.
“Kelamaan nunggu diusir, aku tahu diri orangnya, wlee”, ia pun membalas.
“Berani kamu pulang?”, tanyaku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Memangnya aku ini kamu? Ya berani lah”, jawabnya sembari mengejekku.
“Hati-hati, kalau jatuh, WhatsApp aja”, kataku bercanda.
“Ini aku udah jatuh, cinta”, jawabnya.
“Ha? Apa? Aku nggak ngerti”, tanyaku.
“Simpan saja, selama malam, Nona”, sembari menyalakan motornya.
“Selamat malam juga, Tuan. Hati-hati di jalan”, kataku sambil ia berlalu dan mengklakson.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Mahasiswa DKV UDINUS Adakan Pameran Seni Di Malam Tahun Baru 2019

Senin, 31 Desember 2018 – Mahasiswa Desain Komunikasi Visual(DKV)  Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) mengadakan sebuah pameran karya-karya mural untuk menyambut tahun baru. Total ada 17 lukisan yang semuanya dilukis oleh mahasiswa DKV Udinus.

Pameran tersebut diadakan di Rumah Ramah yang beralamat di Jalan Genuk Krajan Gang 1 No.26, Sriwijaya, Semarang. Pameran yang mengangkat tema “Imagine Space” dihadiri oleh para alumni mahasiswa DKV Udinus. Beberapa alumni yang datang ikut memeriahkan acara dan memberikan wejangan.

Pameran yang sudah berlangsung kedua kalinya diadakan di Rumah Ramah, yang mulanya hanya kontrakan milik mahasiswa DKV Udinus. “Awalnya ini cuman kontrakan biasa, buat taman-teman DKV yang kumpul, main musik bareng, bicara ngalor-ngidul, ada juga yang kumpul buat ngerjain tugas sendiri” imbuh Ahmad Saiful Hakim sebagai kurator pameran. “Pada tahun pertama, tahun kemarin kita sudah bikin pameran. Seiring berjalannya waktu kami sering melakukan aktivitas tentang seni di sini, karena cukup aktif kami mau mengadakan pameran lagi, kali ini kami undang tata senior, sama adik-adik angkatan juga diajak, setelah itu kami belajar pameran yang benar, mempelajari etika dalam pameran itu seperti apa,” tambah Ahmad atau yang akrab disapa Cipul.

Tujuan dari acara tersebut agar mahasiswa DKV dan alumni guyub dan akrab “Tujuannya mengguyubkan dari beberapa angkatan sampai ke alumni, kami ingin berkarya bareng. Dan di situ nanti kami akan ada diskusi yang mungkin positif yang didapat dari teman-teman kuliah dari alumni, wejangan-wejangan seperti itu yang kita harapkan sebenarnya,”  ujar Wahyu Krisdianto yang bertindak sebagai ketua acara.

Acara tersebut juga turut dihadiri oleh Rusman Sayogo selaku ketua Rukun Warga (RW) setempat, beliau menyampaikan bahwa acara tersebut merupakan buah dari pikiran yang positif  “Tidak hanya sekedar lukisan atau mungkin imajinasi, tetapi ini adalah hasil pikiran. Pikiran ini dapat terwujud, terbentuk atau mungkin hanya kamuflase, tetapi ini adalah filosofi orang hidup”, ujarnya.

Tidak hanya pameran, acara tersebut juga dilanjutkan dengan live painting di sebuah motor, selain itu juga ada live music yang dibawakan oleh mahasiswa atau alumni. Acara ditutup dengan sharing bersama alumni, di mana alumni diharapkan untuk bisa memotivasi para mahasiswa yang masih aktif.

Reporter : Gusti Bintang Kusumaningrum
Penulis : Anugrah Tri Ramadhan
Editor : Haris Rizky Amanullah

Can I Call U, Love? – #5 Pamit

Pagi itu aku malas sekali keluar kamar. Aku masih ngantuk, setelah Shubuh aku belum lelap lagi. Ditambah kabar kelas pagi ku kosong yang tiba-tiba muncul di notifikasi, senang. Akhirnya aku bisa tidur lagi. Ah, ternyata hanya bisa ditambah sekitar 45menit, sial. Hanya rebahan di atas kasur, mendengarkan lagu-lagu Ed Sheeran.
Tiba-tiba saja aku ingat, ada satu tugas siang ini yang belum aku kerjakan. Tapi si malas belum mau jauh-jauh sampai tiga jam sebelum kelas. Dengan jurus seribu bayangan, jemariku mulai gemulai menari diatas keyboard laptop, otakku yang sedari tadi hanya untuk bermalas-malasan, kini sudah bekerja dengan baik sehingga apa saja tiba-tiba muncul.

Setengah jam sebelum kelas dimulai. Si hujan datang, sekitar 20 menitan, tidak mau mereda. Menahanku untuk tetap di kos, dan tidak masuk kelas. Pikirku, aku akan alfa saja hari ini. Tapi pupus. Sudah tiga minggu, kelas mata kuliah ini kosong. Hari ini berarti akan ada absensi tiga kali. Jadi, kuputuskan menunggu reda. Terlambat sampai setengah jam. Tapi tak apa, saat reda, saatnya melaju cepat.

Ketika menaiki tangga ke lantai dua, tiba-tiba badanku melemas. Aku baru ingat, belum sarapan pagi tadi. Padahal ini sudah jam satu lebih. Pikirku, ah, nanti juga jam dua sudah selesai kelasnya, biasanya juga begitu. Tapi, ah, kesal. Materi minggu kemarin dirangkap di pertemuan hari ini. Terpaksa harus mundur sarapan sampai jam tiga nanti.

Akhirnya, belum sampai pukul tiga, kelas usai juga. Aku langsung berlari menuju food court. Aku mana tahu kalau ternyata dia rapat ditempat yang sama. Sedang duduk bersama teman-temannya. Kami saling tahu keberadaan kami. Aku biasa saja. Kurasa, dia masih punya teman, akupun sama. Dunianya masing-masing. Tidak harus setiap hari bersama ‘kan?

Saat aku sedang makan, tiba-tiba, ia dari kejauhan sudah tampak bangkit dari bangkunya. Sedang berdiskusi dengan teman-temannya, berdiri di samping mejanya. Kemudian melihatku, tak sengaja, akupun sedang melihat kearahnya.

“Aku pulang ‘ya :)”, katanya berbisik malu dibalik punggung temannya.

“Iya :)”, jawabku membalas sambil mengangguk.

Saat itu kamu tahu tidak? Jantungku berdebar lagi. Memang tidak sekencang saat pertama kali kuceritakan padamu. Tapi hampir, hampir sama kedengarannya. Sama-sama aku sendiri mendengarnya.

Tapi sekali lagi, aku biasa saja, dan aku pikir dalam hati,

“Aku tidak posesif. Pergilah, aku tidak harus tau semua tentangmu, kamu dimana, dan sedang apa, bahkan dengan siapa. Kita masih punya dunia kita masing-masing. Sebelum atau sesudah ada kamu, aku akan tetap sama saja. Jadi, aku yang sebelum dan sesudah ada kamu, masih sama, tanpa perubahan”, gumamku dalam hati ketika melihat senyumnya yang tersembunyi dan secara malu-malu. Aku melanjutkan makanku, dan dia pulang.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Semarang, 30 Desember 2018— Sebanyak 5 (lima) mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang Fakultas Ilmu Komputer Program Studi Ilmu Komunikasi mengadakan give away berupa souvenir seni terapan kepada pengunjung Candi Gedong Songo secara gratis berdasarkan ketentuan yang telah berlaku. Berkecimpung dalam dunia sosial, mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) tidak tutup mata atas kondisi sosial yang kini tengah dialami generasi millenial. Pengetahuan generasi millenial yang terbatas tentang Budaya dan Sejarah membuat mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang tergerak dan mencari strategi untuk mengajak segenap masyarakat untuk peduli atas sejarah, baik sejarah dalam lingkup lokal maupun nasional. Berawal dari tugas mata kuliah Komunikasi Pemasaran, mahasiswa UDINUS tidak ingin tugas hanya berakhir dengan tugas, mendapatkan nilai lalu selesai. Maka dari itu, keinginan ‘tugas jangan hanya berakhir dengan nilai’ dan keprihatinan tentang minimnya pengetahuan masyarakat dan generasi millenial tentang budaya dan sejarah, maka diadakanlah acara give away seperti ini.

Pembagian souvenir dengan challenge berupa lontaran pertanyaan bertemakan budaya dan sejarah yang akan ditanyakan secara langsung kepada pengunjung merupakan strategi di mana ketika pengunjung ingin mendapatkan souvenir gratis, maka ia harus mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Pemberi pertanyaan tidak serta merta mengharuskan pengunjung untuk menjawabnya secara langsung, terdapat durasi waktu sekitar 2 menit yang memungkinkan pengunjung bertanya kepada rekannya atau kepada pengunjung yang lain, atau dapat pula mencarinya melalui jejaring internet. Strategi tersebut dipilih atas keyakinan bahwa ketika pengunjung mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan, maka otomatis ia akan membaca seputar sejarah dengan konsekuensi sedikit banyak pengunjung akan mengerti tentang budaya dan sejarah.

Di dalam Komunikasi Pemasaran, terdapat strategi pemasaran yang meliputi 7P (Product, place, price, promotion, process, people, physical evidence) yang menjadi dasar penentuan strategi pemasaran Gedong Songo melalui pengenalan sejarah dan budaya. Mahasiswa UDINUS berusaha untuk mem-branding Candi Gedong Songo dengan kekentalan akan culture. Dengan acara give away souvenir seperti ini akan membantu masyarakat dalam mengenali budaya dan sejarah sekaligus mem-branding Candi Gedong Songo dengan objek wisata berbasis budaya yang kental.

Didukung oleh hari yang mendekati perayaan Tahun Baru 2019, peningkatan jumlah pengunjung Candi Gedong Songo membuat acara give away tersebut berlangsung sangat meriah. Para pengunjung menyambut acara yang diadakan oleh mahasiswa UDINUS tersebut dengan sangat antusias. Hal tersebut dibuktikan dengan souvenir yang habis dengan cepat mengingat pihak panitia telah menyiapkan ratusan souvenir dan stiker gratis.

“Kreatif banget adain acara seperti ini, membuat saya sadar diri bahwa pengetahuan budaya saya masih sangat sedikit”, kata salah satu penerima hadiah. Acara berakhir ketika souvenir dan stiker telah habis. Pengunjung yang tidak berhasil menjawab juga mendapatkan hadiah gratis berupa stiker dengan logo Candi Gedong Songo.

Acara diadakan di Candi Gedong Songo dengan maksud dan tujuan tidaklah lain yaitu agar masyarakat lebih mencintai destinasi wisata yang mengandung unsur budaya dan sejarah, serta bertujuan agar masyarakat sadar akan pentingnya budaya dan sejarah lokal, nasional, maupun internasional.

Penulis : Selly Yunika Putri

BEM-KM UDINUS Gelar Doa Dan Sharing Bersama Aktivis Jelang UAS

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Dian Nuswantoro mengadakan acara Kumpul Bersama Aktivis dengan tema “Doa dan Sharing Bersama Aktivis Sebelum UAS” yang diadakan pada hari Jumat, 28 Desember 2018 yang dimulai pukul 15.30 WIB di Aula Gedung E lantai 3 Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).

BEM KM mengadakan acara kumpul bersama dengan tujuan untuk merekatkan dan saling sharing serta mempererat antar aktivis di Udinus. Yang mana acara tersebut telah dihadiri oleh para aktivis yang ada di Udinus mulai dari Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada Udinus. Serta dihadiri juga oleh Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan Dr. Kusni Ingsih, MM serta jajarannya.

Kegiatan dalam acara tersebut yaitu doa bersama, makan bersama, sharing antar aktivis dan juga wakil rektor III bidang kemahasiswaan tentang kegiatan yang telah diselenggarakan oleh kemahasiswaan, serta penggalangan dana untuk saudara-saudara yang ada di Banten dan Lampung yang beberapa hari lalu terkena musibah.

Keunikan dari acara ini adalah menggunakan 3 cara berdoa yaitu Kristen, Katolik, dan Islam yang dipandu oleh UKM yang ada di Udinus. Doa menurut Agama Islam yang dipandu oleh Badan Amalan Islam (BAI), Doa menurut Kristen yang dipandu oleh Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), Doa menurut Katolik yang dipandu oleh Pelayanan Kerasulan Keluarga Mahasiswa Katolik (PKKMK). acara ini sangat seru dan positif serta membuat satu sama lain saling mengenal.

Dr. Kusni Ingsih selaku WR di bidang kemahasiswaan sangat mendukung acara Kumpul Bareng Aktivis dan berharap supaya acara tersebut bisa diadakan setiap tahunnya. “Dari pihak kemahasiswaan sangat senang akan adanya acara yang berlangsung saat ini. Doa menjelang UAS dan sharing bersama aktivis. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi antar aktivis juga. Saya juga minta supaya acara ini, akan berlanjut. Tidak hanya berhenti pada acara kemarin saja,” ujarnya.

Penulis : Wahyu Putri Prihayanti

Editor : Haris Rizky Amanullah

Can I Call U, Love? – #4 Cerita Kehujanan

Bersyukur aku sudah di kos, tapi tak tahu tentangnya. Kurasa ia kehujanan, mungkin sedang berteduh di ruko-ruko pinggir jalan dengan orang-orang yang tak dikenal, kedinginan.

Aku menelponnya, memastikan ia akan baik-baik saja.

“Sudah sampai di rumah?”, tanyaku mengkhawatirkannya.

“Belum, ini lagi neduh di pinggir jalan”, jawabnya sedikit teriak, karena hujan sangat lebat.

“Are you okay?”, balasku.

I’m okay, aku cuma takut petir, makanya aku neduh dulu. Jangan khawatir, aku laki-laki, bisa jaga diriku. Yang penting kamu gak kehujanan” , dia memberiku ruang untuk tenang.

“Aku yang akan menemaniu ke Poliklinik kalau kamu sampai sakit”, jawabku, karena hujan tidak kunjung mereda, meski sudah dua jam mengguyur kota sore ini.

Pukul delapan malam, ia akhirnya tiba di rumah namun dengan keadaan basah kuyup meski sudah memakai jas hujan. Sopir-sopir mobil malam itu tidak tahu diri melaju dengan kencang tepat disampingnya hingga wajahnya yang sudah lelahpun tersiram genangan air pinggir jalan.

“Aku sudah di rumah, kamu sudah tidur?”, ia mengabariku.

“Belum, aku menunggu pesanmu, aku khawatir. Mandi, air hujan kan gak baik buat kesehatan…”

“Iya, aku mandi dulu”, katanya, lalu memutus teleponnya.

Entah pada akhirnya ia mandi atau tidak karena mungkin airnya terlalu dingin. Tapi malamnya, ia menemaniku untuk lembur mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proposal yang belum berujung, masih revisi terus menerus.

Hingga pukul dua pagi, aku masih sibuk mengerjakan. Sambil mendengarkan ia menyanyikan lagu-lagu dari Coldplay dengan gitarnya. Meski suaranya terdengar sedikit fals, aku maklumi, ia bukan penyanyi. Sesekali aku ikut menyanyikan lagu-lagu yang dinyanyikannya, sebagai tanda bahwa aku masih terbangun dan mengerjakan tugas-tugasku.

Pukul tiga pagi, ia tiba-tiba berhenti menyanyi dan menyuruhku untuk tidur karena benar-benar sudah pagi.

“Tidur, sudah pagi, nanti atau besok lagi dikerjainnya. Aku temenin deh”, ia menyuruhku untuk menyudai pekerjaanku pagi itu.

“iya udah aku tidur, kamu juga tidur. Besok ‘kan kuliah pagi, terus lanjut rapat ‘katanya”, jawabku sembari mengingatkannya jika ia besok ada rapat dengan organisasinya.

“Siap bos. Selamat tidur pagi, jangan lupa sholat Shubuh, hehe”, katanya dengan suara yang terdengar sudah ngantuk. Aku memutuskan teleponnya.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Pentingnya Pelatihan Halal Lifestyle Bagi Remaja Masa Kini

Dosen manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) adakan pelatihan Halal Lifestyle (HLS). Pelatihan tersebut mengajarkan praktik gaya hidup islami ditujukan kepada siswa-siswi Madrasah aliyah (MA) Rohmaniyyah Meranggen.

Iptek bagi Masyarakat (IbM) merupakan program yang dilakukan oleh dua dosen Manajemen ahli yaitu Hendri Hermawan Adinugraha, SEI, MSI dan Mila Sartika, SEI, MSI. Kedua dosen sudah sangat ahli dibidangnya yaitu Manajemen Halal dan Ekonomi Syariah. Sesuai dengan analisis yang sudah dilakukan dapat dikemukakan bahwa populasi Muslin di dunia 1,6 miliar orang. Jumlah tersebut sudah mencapai 25% dari total populasi dunia yang mencapai 7 miliar. Bahkan menurut laporan dari State of the Global Islamic Economy 2014-2015,  pengeluaran konsumen Muslim berpotensi mencapai $3,7 triliun. Angka tersebut merupakan perhitungan pada sektor makanan dan gaya hidup saja.

“Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa riset, saat ini jumlah penduduk muslim merupakan umat mayoritas di Indonesia dan permintaan terhadap produk berlabel halal juga semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu adanya edukasi budaya bergaya hidup halal agar nantinya lebih terarah,” ungkap Hendri Hermawan selaku pembawa materi pada pelatihan tersebut.

Pelatihan yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Desember 2018  diikuti oleh 32 siswa. Pelatihan tersebut diadakan di ruang kelas dan para peserta tampak sangat antusias. Terbukti dari adanya interaksi tanya jawab yang aktif antara pembicara dan peserta. “Alhamdulillah antusiasme mereka sangat tinggi, terlihat dari hidupnya dialog interaktif mengenai edukasi HLS ini. Ditambah lagi ada doorprize yang menambah antusias mereka,” ujar Hendri.

Pelatihan HLS ditujukan kepada remaja masa kini. Karena nantinya mereka akan menjadi pelaku sekaligus pemelihara budaya bergaya hidup halal. Hendri juga berpesan pada seluruh remaja islami masa kini “Mulailah bergaya hidup halal dari sekarang, dengan HLS maka Insyallah seluruh tindakan dan perilaku kita juga hasilnya kan baik dan bermartabat,” tutupnya.

Penulis: Haris Rizky Amanullah

Editor: Mila Elmeida

Can I Call U, Love? – #3 Sebelum Hujan Turun

Seusai kelas, sore itu kami berdua masih tertinggal dengan beberapa mahasiswa lainnya. Ia menghampiriku dan mengajakku untuk makan siang, karena sebelum kelas ini, kami berdua belum sempat untuk makan siang.

“Makan yuk, aku yang traktir. Ada warung baru di belakang kampus”, ajaknya.

“Hmmm boleh kalo ditraktir mah ayok”, jawabku dengan sedikit bercanda.

“Kalau nggak aku traktir kamu mau aku ajak makan siang bareng ga?”, tanyanya balik.

“Mau, kalau ada duit hahaha”, aku memang masih menutupi keseriusanku.

Ia mengambil motor di parkiran, kemudian aku naik di motornya.

“Sudah?”, tanyanya.

“Sudah”, kataku.

“Kalau sudah, turun dong”, dia bercanda.

“Turun beneran nih”, kataku.

“Hahahaha, aku bercanda, ayo lah, dah laper bingitz nih”.

Di warung belakang kampus yang baru dibuka kemarin lusa itu, masih cukup sepi. Banyak meja kosong dan tampak masih baru sekali. Warung itu adalah sebuah warung masakan Jepang kesukaanku, kurasa ia tidak tahu, kalau saja ia tahu, sepertinya ia sudah mencari tahu lebih dulu soal ini.

“Aku bisa tebak, kamu akan pesan paket Irito ini, yang ada katsunya”, katanya.

“Kok kamu tahu? Gak jadi pesen itu ah, wlee”, jawabku sambil melet ke dia.

“Lah kenapa? Itu kesukaanmu ‘kan? Aku udah ramal itu kali”, ia heran.

“Kamu apaan sih, iya deh iya, aku pesen itu, Mas, Irito 1 ya”, jawabku sembari mengatakan pesananku ke pelayannya.

Entahlah darimana ia tahu kalau aku suka katsu, selama ini aku belum pernah makan dengannya di warung masakan Jepang. Diam-diam aku bertanya pada diriku sendiri, “apa ia selalu mengamati insta story ku, atau ia diam-diam bertanya teman dekatku”. Ah, terlalu jauh kurasa pemikiranku. Tapi tetap saja aneh, dan aku masih penasaran, bagaimana ia tahu hal sekecil itu.

Setelah makan, ia mengajakku untuk ke Swalayan sebentar, ia disuruh ibunya membeli sabun dan bumbu dapur, katanya. Ketika keluar dari Swalayan, tak terasa, hari sudah kian petang, ditambah gelapnya mendung yang menutupi kota Semarang sore ini. Aku sudah tampak kebingungan, apakah aku bisa pulang tanpa harus basah karena hujan atau malah sebaliknya.

“Aku anterin kamu pulang sekarang aja ya, mendung, aku kasihan sama kamu, nanti kamu sakit, kan anak kos gak ada yang ngerawat kalau nanti sakit, kecuali aku sih”, katanya. Kedengarannya bercanda, namun jika dicerna, kalimatnya mengajak serius.

“Ya, kalau kamu tega aku sakit ya nggakpapa sih… Kamu? Ngerawat aku? Hahahaha pantes tiba-tiba mendung gelap banget”, candaku.

“Aku serius, kalau kamu sakit, nanti aku yang ngerawat, eh enggak deh. Aku cuma anter kamu ke Poliklinik, terus aku suruh minum aja obatnya”, jawabnya dengan bercanda lagi.

“Sudah, ayo naik, aku anterin kamu pulang sekarang, aku gak mau anter kamu ke Poliklinik soalnya. Aku berubah pikiran”, katanya menambahi.

Dijalan menuju kos, angin sudah kencang menembus kulit meski sudah terbalut jaket.

“Kalau dingin, tanganmu masukin aja ke saku jaketku, jaketku ‘kan lebih tebal dari jaketmu”, katanya sambil teriak karena jalanan ramai dan berisik kendaraan yang ingin cepat sampai di rumah, terus menerus membunyikan klaksonnya atau berkali-kali menginjak gasnya sambil di blayer.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum