BAI UDINUS Tutup Islamic Fair dengan Seminar Nasional

Badan Amalan Islam Matholiul Anwar Universitas Dian Nuswantoro resmi menutup acara Islamic Fair 2016 dengan mengadakan Seminar Nasional, Minggu (15/5), pukul 08.00 WIB di Aula Gedung E Lt. 3 UDINUS. Seminar yang mengusung tema “Kenali Potensi Diri sebagai Muslim Sejati” ini menghadirkan pembicara Arry Rahmawan, seorang Founder Young Trainer Academy.

STAGE BUS JAZZ TOUR 2016

 

2016-05-14 22.22.03

Sebuah acara musik jazz persembahan MLD Spot digelar di Jl. Pahlawan Semarang tepatnya di  depan gedung DPRD Jawa Tengah pada Sabtu (14/5) mulai pukul 18.00 WIB. Acara yang diberi nama “STAGE BUS JAZZ TOUR 2016” adalah pertunjukan music jazz yang menyambangi 15 kota, diantaranya Jakarta, Bekasi, Bandung, Cirebon, Tasik, Jogja, Magelang, Purwokerto, Solo, Semarang, Madiun, Surabaya, Malang, Denpasar dan Tangerang. Pertunjukan ini dimulai 15 April 2016 di Jakarta dan akan berakhir 4 Juni 2016 di kota Tangerang.

Seni Graffiti atau Vandalisme

1 (11)

Wajah kota semarang memang tak asing lagi dengan berbagai gambar dan coret coretan yang menghisasi bangunan kota. Mulai dari dinding, gerbang, ataupun bangunan tua. Ada pula berbagai gambar dan tulisan yang justru merusak fasilitas seperti rambu-rambu lalu lintas.

Kemenkominfo dan KIBAR gaet Udinus adakan SeDEA

IMG_2996

Pada hari Kamis (12/5), Seminar Nasional yang bertema “Semarang Digital Economic Acceleration (SeDEA): 1000 Technopreneurs, Are You Ready ?” diselenggarakan di Wisma Perdamaian, Jl. Mgr Sugiopranoto No.37. Seminar yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerjasama dengan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) serta KIBAR  ini dihadiri oleh 285 mahasiswa UDINUS dan umum (luar UDINUS). Acara di buka oleh Ir. Azhar Hasyim selaku Direktur E-Bussines Kemenkominfo sekaligus menetapkan Universitas Dian Nuswantoro sebagai working place atau tempat berkumpulnya para pelaku startup bisnis.

Rektor Universitas Dian Nuswantoro, Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom beranggapan positif dan menyambut dengan baik atas terselenggaranya seminar ini. “Sebagai Kampus yang berorientasi di bagian IT yang juga mempunyai visi misi menumbuhkembangkan wirausaha muda, UDINUS akan mendukung 100% mahasisnya untuk menjadi technopreneur. Saya berharap mahasiswa UDINUS menjadi technopreneur yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia”, ujar beliau.

Sementara itu, Octa Ramadani selaku  Researcher Incubator Program KIBAR  dalam penjelasannya menuturkan bahwa peran start up bussines dalam pengaruh dunia sangat besar, apalagi diera global seperti sekarang. Dalam dialognya ia memaparkan bahwa para pelaku start up bussines pemula  harus dapat bergabung dengan para pelaku start up bussines  lainnya agar saat proses kerjanya dapat bangkit lagi setelah mengalami kegagalan.

SeDEA akan  mefasilitasi para anak muda khususnya area semarang dalam rangka membangun 1000 technopreneur seperti yang di rencanakan oleh Presiden Republik Indonesia, yang menerangkan pada tahun 2020 sudah ada 1000 technopreneur yang siap bersaing dengan technopreneur luar negeri. Oleh karena itu, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi beserta KIBAR membuat sebuah wadah bagi para pelaku usaha di bidang tekhnologi,

Working place merupakan wadah inkubator , dimana akan ada pelatihan dari orang yang berkompeten dalam bidangnya. Seperti di ungkapkan Hermawansyah selaku panitia acara, “working place bertujuan untuk menampung para anak muda khususnya daerah Semarang untuk bersama-sama membangun 1000 technopreneur. Di Indonesia, program ini tidak membatasi siapapun untuk ikut serta, working place kali ini bertempat di Universitas Dian Nuswantoro Semarang dan akan membuka pendaftaran mulai 13 Mei 2016”. (Baren)

Festival Kuliner Semarang

Pengunjung dari berbagai kota ramaikan Festival Kuliner Semarang
Pengunjung dari berbagai kota ramaikan Festival Kuliner Semarang
Live Musik di Festival Kuliner Semarang
Live Musik di Festival Kuliner Semarang

Semarang kali ini ada event seru loh, yaitu festival kuliner Semarang yang berlangsung tanggal 10 – 15 Mei 2016 di Lapangan Parkir Sri Ratu, Jl. Pemuda. Acara yang merupakan rangkaian acara untuk menyambut HUT kota Semarang ini merupakan acara festival kuliner yang terbesar tahun ini dan pengunjung pun tak kalah besar jumlahnya. Festival kuliner diselenggarakan guna untuk men-support para UMKM dan para pengusaha kecil untuk mempromosikan produknya. Sekitar 25 stand makanan hadir dalam festival kuliner ini. Jika kalian sering pergi ke daerah pecinan saat weekend, festival yang mengambil tema “We Are  Kuliner Brotherfood” hampir sama dengan pecinan namun yang menjadi perbedaan adalah tempat duduk di festival kuliner ini lebih banyak karena tempat yang disediakan cukup luas. Dalam peluang ini para UMKM dan para pengusaha kecil bisa berkesempatan menjual produk secara besar-besaran karena pengunjung tak hanya berasal dari kota Semarang, namun dari berbagai kota datang memenuhi area festival kuliner Semarang.

Menurut salah satu pedagang di festival kuliner yaitu Vika Hapsari dengan tokonya “Golden Cone”, yang menjual aneka es krim dan makanan ringan mengatakan bahwa dia sangat senang dengan adanya acara seperti ini, dia bisa menambah pendapatannya sampai dua kali lipat dan kemungkinan bisa lebih banyak ketika dihari Sabtu dan Minggu yang ditarget akan ramai dari pagi sampai malam hari. Harapannya pun selalu diadakan event seperti ini beberapa kali dalam setahun agar para UMKM bisa mendapat lapangan untuk menjual produk dan lebih berpromosi dalam skala yang lebih besar.

Selain festival kuliner, di Sri Ratu juga sedang diadakan pameran batu akik. Dalam pameran ini dijual berbagai macam akik dari seluruh Indonesia. Pada acara tersebut juga menghadirkan live musik, sehingga pengunjung tidak perlu takut bosan.
So… buat kalian anak-anak Semarang yuk datang keacara festival kuliner Semarang !
(Dharma & Dela)

Kau Pergi

Meninggalkan sejumput rasa asing yang sulit kubaca

Menyisakan tanya “apa maksudmu?”

Kini kau telah pergi

Hingga tak lagi punya daya tuk menjawab tanyaku,

Bahkan tuk sekedar mendengarnya

Jadilah aku masih setia berdiri disini

Dan terus bertanya “apa maksudmu?”

Kan ku titipkan tanyaku

pada Tuhan yang menghendaki kepergianmu

Namun tolong titipkan jua jawabmu

pada Tuhan yang kan menguatkanku.

(Fina)

 

Brownies Untuk Raka (Part I)

Revita Arifin

 

“ Waa gimana nih? Brownies nya gosong! “ pekik Nandia sambil mengeluarkan brownies yang sudah menghitam. Ibunya hanya geleng-geleng kepala.
“ Ini udah kelima kali kamu bikin brownies, Nan. Tapi, gosong terus! Gimana, sih? Makanya jadi cewek itu rajinan didapur dikit.”, omel Mama. Nandia tetap keukeuh untuk membuat brownies lagi. Sebenarnya, brownies ini untuk orang yang spesial baginya. Tapi, dia tidak berani ngasih tahu Mama.
“ Mama, nih. Harusnya doain anaknya dong.”, sungut Nandia.
“ Dari tadi mama mau bantuin. Tapi, kamunya gak mau. Sebenarnya, buat siapa, sih, browniesnya?”
“ Buat temen. Si Vania.”, bohong Nandia menyebut nama sahabat karibnya. Padahal sih buat cowok yang sedang dekat dengannya.
Setelah beberapa jam membuat brownies, akhirnya brownies keenam buatan Nandia selesai juga. Saking senangnya, dia memotong kue brownies dengan cetakan berbentuk hati dan menaruh cream serta buah ceri diatasnya.
“ Ah, akhirnya, kelar juga bikin brownies.”, seru Nandia. Dia mengeluarkan telepon dari kantongnya. Diketiknya nama Vania disana.
Tuuuuuuttt.. tuuuuuutt
“ Halo.” Jawab suara diujung sana.
“ Van, aku jemput kamu sekarang. Temenin aku kesekolah, ya?”
“ Buat apa?”
“ Browniesnya, Van. Buat diaa.. Cepet siap-siap sana.”, kata Nandia sambil segera menutup teleponnya. Dengan langkah ceria, dia masukkan brownies berbentuk hati itu kedalam kotak makan warna pink yang sudah dihiasi berbagai hiasan kue cantik.
****

Nandia sibuk mengutak-atik handphonenya. Wajahnya terlihat gelisah. Berbeda 180 derajat dari wajahnya dirumah. Sama halnya dengan Nandia, wajah Vania juga ditekuk berlipat-lipat. Menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
“ Mana, sih, orangnya? Kamu telpon, gih”, saran Vania. Dia melirik kearah Nandia . Kesal.
“ Handphonenya gak aktif. Gimana, nih. Aku sudah susah-susah bikinin Raka brownies. Masa harus gagal?”, Nandia merengek-rengek. Vania menatapnya heran.
Kesambet apa nih anak? Sampai sesayang itu sama si Raka, pikir Vania.
“Yaudah gimana kalau kita kerumahnya langsung. Rumahnya dekat sini, aja, kan?”, tanya Vania. Nandia tertegun. Selama ini dia tidak pernah pergi kerumah Raka. Sekalipun hanya mengantar buku yang dipinjamnya.
“ Apa? Apa? Tapi,.. gimana kalau gak dibukain pintu?”, Nandia mengeluh.

Vania mengeluarkan hapenya sendiri dan mengetik nomer Raka. “MASUK !!! Tersambung, Nan !“, teriak Vania mengagetkan Nandia. Nandia hanya tersenyum-senyum senang. Tapi, dibiarkannya Vania berbicara dengan Raka.

“Ayo, Nan. Kita kerumah Raka sekarang. Dia udah setuju, tuh.”, kata Vania setelah menutup pembicaraan ditelpon. Dengan langkah yang kembali ceria, Nandia berjalan ke arah parkiran motornya .
****
Namun , sesampainya didepan rumah Raka. Semua hal berbeda dengan yang diharapkan. Rumah Raka tertutup rapat. Kegelisahan kembali muncul diwajah Nandia. Menyadari itu, Vania mengambil handphonenya dan kembali menghubungi Raka.
Nandia tahu telepon itu tersambung, tapi dia tidak mau bertanya lebih jauh kepada Vania. Karena dilihatnya Vania merengut kesal setelah berbicara dengan Raka.
“ Kenapa, Van?”, tanya Nandia gelisah
“ Raka masih dirumah temennya. Dia suruh kita nunggu. Katanya, sih, kita kelamaan datang kerumahnya.”
“ Yaah, yaudah deh. Kita tunggu Raka.” jawab Nandia. Walaupun sedikit sedih, nandia tetap berharap Raka akan datang. Mencoba brownies pertama yang dibuatnya. Brownies yang dibuatnya dengan penuh cinta.
Satu jam, dua jam, Nandia dan Vania terus menunggu. Nandia terus menatap jalanan. Berharap Raka segera datang. Namun, entah apa yang terjadi, Raka tidak juga datang. Sedangkan Vania yang sudah mulai kesal mulai meminta untuk pulang.
“ Apa, sih, yang kamu tunggu? Mungkin si Raka bohong ! Buat apa, sih, kamu kesemsem sama cowok kayak gitu?”, Vania mulai ngomel. Dia sudah berkali-kali menelpon Raka, Tapi selalu di reject.
“Bentar ya Van,, tungguin bentar lagi.”, kesedihan mulai terlihat di wajahnya.

Beberapa menit Vania masih sabar menunggu. Sebenarnya ia sudah mulai muak dengan kisah cinta kedua anak SMA yang labil. Seperti kisah cinta Romeo dan Julie, bahkan lebih di dramatisir lagi.

Senja sudah mulai datang, beberapa masjid sudah mulai menujukan bahwa waktu magrib akan segera tiba. Kali ini Nandia yang mulai muak, setitik air menetes dari wajahnya. Vania yang melihat mulai panik.
“Pulang yuk,”, pinta Nandia sambil mengelap pipinya. Kotak brownies masih digrnggamnya kuat.
“Tapi browniesnya gimana? Kan kamu udah capek-capek bikin”, suara Vania terdengar gelisah.
“Bawa pulang aja, buang kalo perlu !”, nada suaranya sudah mulai meninggi, suaranya serak.
Vania mendekati sahabatnya, pelan-pelan ia memeluk sahabatnya, “Gimana kalo kita taruh di depan rumahnya?”, kali ini Vania mencoba menenangkan gadis di sampingnya.
”Terserah ! Aku gak mau tau lagi”

Mereka pulang dengan segenap rasa kecewa, sedih. Nandia, meneteskan air mata beberapa kali. Lain halnya dengan itu, ternyata Raka pulang dengan hati gembira sebelum akhirnya ia melihat kotak makanan didepan pintu rumahnya. Ia baru ingat, seharusnya ia pulang cepat untuk bertemu Nandia. Sekarang hanya brownies itu yang dia temukan.   Brownies yang manis,tapi meninggalkan rasa pahit tersendiri dihati Nandia. Raka tertegun, apa yang harus diperbuatnya?

Bersambung…………….

..

PIS Munculkan Talenta-Talenta Baru

PIS Munculkan Talenta-Talenta BaruBeberapa hari yang lalu tepatya tanggal 19-20 Maret 2014, UDINUS menyelenggarakan sebuah acara Pekan Ilmiah dan Seni (PIS) yang didalamnya terdapat rangkaian pekan ilmiah, pekan seni, expo, dan seminar.  Pekan Ilmiah mahasiswa, Pekan seni mahasiswa dan Expo  telah diselenggarakan Universitas Dian Nuswatara beberapa hari yang lalu. Acara tersebut murni dari, oleh dan untuk Udinus sendiri. Rangkaian acara itu sendiri diadakan untuk mencari bibit bibit atau bakat terpendam dari sebelas ribu mahasiswa Udinus yang nanatinya tujuan akhirnya akan diperlombakan atau di ikutsertakan dalam kompetisi tingkat nasional maupun Internasional antara lain PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional), PEKSIMINAS(Pekan Seni Mahasiswa Nasional), GAMASTIC, Festival Film Mahasiswa tingkat nasional , Desain Batik tingkat nasional dan Game Edukasi tingkat nasional.

Pekan ilmiah dan seni ini untuk semua mahasiswa UDINUS semua fakultas dan tidak harus dari satu progdi yang sama. Salah satu contohnya dalam pekan seni kemarin dalam lomba tari, nomor urut 3 merupakan gabungan dari mahasiswa FIK, FIB dan Fkes. Selain itu, lomba Cerpen dan fotografi bias dikatakan sebagai kategori favorit dari mahasiswa karena terhitung dari jumlah pesertanya yang melampaui target. Dalam expo sendiri hampir 90% adalah stand expo mahasiswa udinus dan sisanya 10% dari stand komersil yang mendukung jalannya acara.

Jumlah peserta mencapai 402 perserta sedangkan yang ditargetkan adalah 300 peserta, itu menunjukkan bahwa antusias mahasiswa dalam acara ini sangat besar hingga melebihi target yang ada. Akan tetapi, di tahun mendatang antusiasme mahasiswa pada ajang semacam ini diharapkan terus meningkat.

 “kalau bisa tahun depan lebih banyak lagi yang mengikuti “, ujar Rindra Yusianto selaku ketua pelaksana PIS.

PIS sendiri merupakan salah satu ajang terbesar di UDINUS untuk menggali bakat-bakat mahasiswa yang selama ini tidak terlihat. Tidak main-main, cabang lomba yang dipertandingkan sendiri ada 25 kategori yang melibatkan 51 dosen sebagai tim juri. Alhasil, atmosfer kemeriahan menyelimuti area yang dijadikan sebagai sarana perlombaan, salah satunya adalah lapangan parkir gedung D.

“tujuan kita adalah mereka yang memiliki bakat terpendam yang terkadang kita tidak tahu kemudian kita beri media, kita fasilitasi kemudian akhirnya muncul bakat baru menyanyi, menulis cerpen, baca puisi , fotografi dan lain-lain muncul”, tambah Rindra yang juga sebagai kepala BIMA.

Reporter : Amalita Lanora, Pulung Rizky Saputra.

Siadin Mahasiswa

Sistem Informasi Akademik Mahasiswa Udinus 2013

Siadin atau merupakan akronim (red: kependekan kata) dari sistem informasi akademik, bagi seluruh mahasiswa udinus bukan sesuatu yang asing ditelinga tentu. Menurut Imanuel  Harkespan selaku staff IT PSI (Pengembang Sistem Informasi) Universitas Dian Nuswantoro, “Siadin adalah sistem informasi akademik universitas dian nuswantoro. Dulunya siadin dibuat berdasarkan inovasi dan kreatifitas untuk aktivitas mahasiswa. Jadi si pembuatnya itu dulu merasa mahasiswa perlu sistim informasi akademik[1]”. Dari sinilah kami dari tim redaksi wartadinus ingin mengangkat siadin sebagai laporan utama kami, dengan beralihnya siadin yang mulai digunakan pada tahun 2006  bermetamorphosis menjadi siadin versi 2.

Tak kenal maka tak sayang, sebelum menuju pada seluk beluk siadin akan lebih baik jika kita mengenal fungsi dan sejarah siadin terlebih dahulu. Siadin memiliki fungsi untuk menyediakan informasi akademik bagi mahasiswa udinus, meliputi nilai, KRS, KHS, tugas, PKM,jurnal dan lain-lain[1]. Mengenai pencetus, belum dapat diketahui siapa yang membuat Siadin pertama kali. Dari hasil penelusuran kami, siadin mulai dipakai dan terus dikembangkan sekitar tahun 2006. Mengenai perancangan atau blueprint dari siadin sendiri, PSI belum mendokumentasikan blueprint tersebut. Ada, tapi belum terdokumentasi dengan baik. Masih disusun dg rapi[1].
Mengenai pengembangan sistem informasinya, siadin menggunakan software yang bernama AGILE. Kata Agile berarti bersifat cepat, ringan, bebas bergerak serta waspada. Konsep Agile Software Development dicetuskan oleh Kent Beck dan 16 rekannya dengan menyatakan bahwa Agile Software Development adalah cara membangun software dengan melakukannya dan membantu orang lain membangunnya sekaligus. Uniknya jika berdasarkan nama softwarenya, kata Agile berarti bersifat cepat, ringan, bebas bergerak, waspada[2]. Apakah tujuan siadin dikembangkan dengan software tersebut supaya cepat, ringan, bebas bergerak, dan waspada??? Silahkan pembaca memberikan penilaian.

Sampai tahun 2013 ini, database siadin sudah mengelola sekitar ± 16.500 lebih alumni, mahasiswa dan dosen. Prosentase alumni dan mahasiswa ± 15.000 sedangkan dosen ± 1.500. Mengenai kualitas informasi dan sistemnya serta analisa mengenai pengembangan sistem inforrmasi yang dilakukan, PSI mengatakan, “Analisanya itu dulu siadin kan dibuat berdasarkan kebutuhan mahasiswa, kemudian fitur-firur penambahannya itu juga dianalisa sesuai kebutuhan mahasiswa sendiri[1]”
Dalam hal mutu dari siadin maupun siadin versi 2.1 sampai saat ini tidak pernah dianalisa. KPM sebagai penjamin mutu ternyata tidak menjamin mutu sampai ke mutu sistem informasi yang digunakan atau dikembangkan PSI. Selama ini yang diaudit masih sebatas PSI sebagai lembaga[1]. Apakah tidak perlu universitas yang mendaulat dan didaulat sebagai universitas berbasis teknologi informasi terbesar di jawa tengah seperti UDINUS memiliki suatu lembaga untuk menjamin mutu kualitas sistem informasi dan mengatur tata kelola informasinya? (redaksi). Pihak PSI mengatakan siadin versi 2.1 Sudah bisa dikatakan handal ini dikarenakan waktu dulu, awal input KRS itu waktunya dibagi perjurusan dan angkatan. Dan itu dirasa mahasiswanya lambat sekali untuk input KRS. Kalau sekarang kami memberikan jadwal input per progdi namun semua angkatan.
Sampai saat ini siadin memiliki empat tipe.  Yakni 1.0, 1.1, 2.0 atau fap itu (red: krs.dinus.ac.id), dan 2.1 yang terbaru ini. yang pertama itu murni pakainya pap aktif. Kalau yang 2.0 pakai print work, printworknya namanya kohana, terus bisa integrasi juga sama google. Log-in nya pakai e-mail. Kalau yang 2.1 ini log-in nya pakai nim. Tujuan dari perbedaan tiap tipe tersebut adalah untuk mengupdate teknologi.  Siadin lama yang tadinya kurang efisien dan secara mainteins juga agak kesulitan[1]. Dan semua itu tentunya untuk peningkatan kualitas dari siadin (red). Setalah siadin tidak dipakai, siadin dipensiunkan. Namun dari sisi  diskfloopingnya masih dibutuhkan (red: siadin lama). Mana yang masih bisa diambil dan diterapkan itu diambil. Istilahnya reusable atau digunakan kembali[1].
Bukan hal yang aneh jika terkadang dalam suatu sistem dieluh-eluhkan oleh pengguna, termasuk siadin yang mengalami masalah atau trouble entah dalam input krs (kartu rencana hasil study), menginput nilai oleh dosen, dan lain sebagainya. Menanggapi hal yang demikian pihak PSI sebagai pengembang sistem memiliki beberapa spekulatif mengenai penyebabnya. Misalnya mengenai hang yang terjadi dibeberapa waktu lalu disaat input krs oleh mahasiswa, dari pengakuan PSI memang ada sedikit trouble di A12. Ini dikarenakan untuk server webnya sempat mati, tapi untuk progdi yang lain dituturkan tetap normal[1]. Untuk masalah hang akan menghambat transaksional dari mahasiswa. Tidak Cuma itu, sistim akademik, siadin dosen, keuangan, poliklinik dan semua sistem yang terintegrasi kesana itu juga terganggu. Lantas jika sudah seperti itu apa yang dilakukan PSI? melihat penyebabnya sebenarnya bukan PSI yang mengoprasikan saat terjadi hang, tetapi dinustech[1]. PSI hanya sebagai pengembang (red).
Menanggapi permasalahan server di UDINUS guna memberikan pelayanan yang prima kepada mahasiswa, tim reporter wartadinus telah menelusuri ke bagian dinustech anak perusahaan dari Universitas Dian Nuswantoro fokus pada penyediaan Solusi ITC (Information technologi and Computer). Permasalahan mengenai input KRS di awal tahun 2013 ini, memang dikarenakan oleh server yang mati sehingga proses transaksi mahasiswa terganggu. Untuk penambahan server di UDINUS bisa dijadikan sebagai alternative sebagai penaggulangan pelayanan sistem informasi akademik yang sering dikeluhkan karena sering mengalami hang. Dari wawancara pula, pihak dinustech memberikan penjelasan bahwa kita bisa menggunakan teknologi multiserver atau teknologi cluster. Dari penelusuran reporter kami disebutkan bahwa server dan bandwith di udinus digunakan untuk banyak keperluan seperti untuk mengetahui informasi internal maupun eksternal udinus. Untuk cari materi dosen maupun mahasiswa. Sampai sekarang bandwith UDINUS mencapai 50 mega[3]. Ini jauh lebih besar dibanding Universitas Indonesia yang hanya 40 Mega[4].

PERKEMBANGAN SIADIN
Dari sisi kualitas berdasarkan wawancara kepada PSI, Siadin versi baru dinilai lebih baik. Ini bisa dilihat dari sisi design dan juga tampilan yang lebih menarik dan baik. Jika dibandingkan, dulu siadin menggunakan gambar sehingga yang sekarang dinilai lebih praktis. Untuk rancangan siadin versi 2.1 akan dipakai sampai ada pengembangan siadin yang baru, sebenarnya kalau dipakai sampai kapan yaaa, saya juga belum bisa bilang sampai kapan. Cuma dari kebutuhan juga, kalau misal nanti ada teknologi yang lebih baru juga kita (red:psi) bisa tambahkan[1].
Selain dari sisi desain siadin kedepan akan menarik karena mahasiswa dimanjakan dengan kerja sama PSI dan raksasa google. Adapun kerjasama tersebut meliputi pembuatan email, integrasi log-in dan terakhir ini masih ada kerjasama juga mungkin dari dosen juga akan ada mail google, kemudian kalender google akademik. Sehingga pihak civitas akademik (dosen dan mahasiswa) memiliki layanan reminder aktivitas universitas [1]

Kekurangan SIADIN 2.1
No system is perfect perumpamaan ini sepertinya bisa dipakai untuk semua sistem di dunia ini. Sejatinya sistem pasti memiliki kekurangan tanpa terkecuali siadin 2.1. Hal-hal yang bisa dinikmati oleh mahasiswa di versi lama tidak bisa dinikmati pada versi baru. Pada saat siadin 2.1 sempat mendapatkan cibiran tentang kemiripan tampilan dengan windows 8. Menyikapi hal tersebut PSI menyatakan tidak mempermasalahkan karena hal tersebut bersifat public dan tampilan saja.
Pendapat Pakar SIstem Informasi
Untuk melengkapi hasil laporan utama mengenai siadin mahasiswa dan permasalahannya, tim reporter kami mencoba melakukan study pakar kepada bapak hibertus hiqmawan selaku salah satu pakar tata kelola teknologi informasi dan dosen di UDINUS. Dari study pakar kami menemui beberapa informasi. Sebagai pakar sistem informasi yang pernah menjabat sebagai kepala KPM beliau mengungkapkan sejarah dan tujuan siadin untuk mengelola data, khususnya akademik, data keuangan seperti pemberitahuan apakah sudah mahasiswa sudah membayar atau belum, sedangkan laporan-laporan keuangan tidak masuk dalam siadin. Menjawab mengenai siadin yang masuk kategori governance dan standar yang digunakan untuk membangun sistem, beliau menjawab, “Sebenarnya tidak ada istilah profit dan non profit dalam membangun system, yang ada adalah bagaimana system itu bisa memenuhi kebutuhan informasi, aman, update, memenuhi kebutuhan proses bisnis dalam lingkup perkuliahan, seperti halnya absensi bagi dosen maupun mahasiswa. Sharing materi dari dosen ke mahasiswa maupun sebaliknya yaitu pengumpulan tugas dari mahasiswa ke dosen. Untuk membuat semua proses itu terangkum dalam suatu system, maka system harus memadai”.
Adapun mengenai audit terhadap siadin selama ini di udinus belum ada kegiatan formal untuk mengaudit system sidadin, yang ada hanya kebutuhan dari individu seperti dosen ataupun mahasiswa melakukan penelitian tentang system informasi dengan megadakan audit tentang system siadin. Pak himawan menambahkan saat ini siadin mengalami metamorphose, dulu siadin hanya dimiliki oleh fasilkom. Kemudian setelah ± 5 tahun berjalan baru muncul lembaga PSI yang kemudian mengelola siadin dalam lingkup universitas. Siadin itu sendiri merupakan  pengembangan dari informasi akademik yang dulu dikelola oleh BIAK.
Sebagai dosen, beliau mengatakan siadin saat ini sudah cukup karena hanya difungsikan untuk entri nilai. Sedangkan untuk tampilan, siadin dinilai mencoba untuk modern, namun sebenarnya perlu sosialisasi. Perubahan sekecil apapun yang menyangkut interface bagi orang awam sering membuat bingung, dengan kata lain diperlukan trial and error terlebih dahulu. Kalau tampilan interfacenya menurut saya lumayan bagus dengan mengadopsi interface dari windows 8. Sedangkan ketika ditanya perancangan databasenya bagaimana? apakah sudah baik? beliau menjawab, “Saya tidak begitu tahu, karena ini masalah internal mereka (red: PSI). terkadang memang sering mengalami kejanggalan misalkan data yang tiba-tiba hilang sehingga dosen harus entri lagi. Di satu sisi dosen tidak bisa mengupdate nilai, namun di sisi lain bisa mengupdate nilai”.
Sistem informasi yang sempurna ialah mustahil. Namun perubahan yang tepat dengan memenuhi kriteria-kriteria sebuah informasi yang baik seperti data dapat dipercaya, terkini, aman, dan memenuhi kebutuhan pengguna.Kalau pengembangannya tentunya secara terus menerus mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Dari hasil pengamatan pakar, siadin 2.1 mendapatkan nilai 2 dari 5 skala penilaian. Hal ini  karenatata kelolanya belum baik. Beliau berpendapat, “Kalau dalam organisasi tata kelolanya belum bagus dimana semua fungsi dilakukan dalam satu tempat bagaimanapun juga akkhirnya akan buruk”. Melihat point yang disampaikan oleh pakar, siadin versi 2.1 dinyatakan belum bagus. Bahkan sebagai seorang auditor sistem informasi menyatakan  “Kalau saya sebagai user di level dosen hanya melihat perubahan pada interface saja. Mengenai persoalan data sering hilang dulu sering terjadi, dan sekarang juga masih terjadi, ya sama saja”.Sedangkan mengenai kelebihan siadin versi 2.1 beliau menandaskan bahwa Siadin versi 2.1 ini justru sedikit mengalami kemunduran pada enkripsi yang dilakukan setiap entri. Pada saat entri nilai data sebelum disimpan terlebih dahulu melalui tahapan enkripsi dimana hal ini akan membuat proses lebih lama. Mungkin memang lebih secure, karena data yang akan disimpan terlebih dahulu dienkripsi, namun prosesnya memang lebih lama. Menurut saya mereka (red: PSI) melakukan hal tersebut karena tata kelola yang belum baik. Belum jelas siapa yang mengelola data, siapa yang mengembangkan system, siapa yang mengelola jaringan itu kan campur aduk”
Pada kesempatan ini pula, pakar menanggapi mengenai tampilan siadin versi 2.1 yang memiliki tampilan seperti windows 8 yang beberapa waktu ini sempat menyita perhatian bagi sebagian mahasiswa, apakah hal tersebut diperbolehkan dan tidak melanggar hak cipta?. Menjawab keingintahuan kami pakar menjawab, “Tidak melanggar hak cipta. Fakta di internet banyak framework-framework yang bisa kita terapkan sehingga tampilan system itu mirip dengan system yang lain. Banyak juga framework yang bisa didownload secara gratis. Dari fakta itu ya sah-sah saja kalau kemudian mereka mengadopsi gaya windows ya tidak apa apa karena kita gayanya masih gaya nyonto, belum mempunyai gaya sendiri. Meskipun menurut saya itupun tidak perlu.apakah itu kemudian dikatakan keren saya kira tidak semua orang megatakan begitu. Malah mengatakan ooo ya ini niru-niru windows”. Selain itu menanggapi permasalahan server udinus apakah sudah dapat memenuhi kebutuhan se- universitas dengan bandwith 50 Mega pakar memberikan jawaban, “Menurut saya mampu, tetepi karena server ini dipakai untuk banyak kepentingan saya tidak tahu sejauh mana pengelolaan bandwith-nya. Kalau bandwith untuk UDINUS secara keseluruhan cukup besar”. Selanjutnya bapak hibertus hiqmawan memberikan saran guna memperbaiki layanan dan mutu dari siadin, “Buat tata kelola yang baik dengan membuat organisasi pengelola system informasi yang baik dan ada visi dari pimpinan bahwa udinus adalah perguruan tinggi yang mengandalkan teknologi informasi”.
Sebagai mahasiswa yang merupakan civitas akademik Universitas Dian Nuswantoro tercinta, kita tetap harus berpegang teguh kepada tri dharma perguruan tinggi sebagai landasan kita dalam menuntut ilmu di Perguruan Tinggi. Dalam tri dharma perguruan tinggi kita diajarkan pendidikan, penelitian dan pengabdian. Menyikapi perkembangan siadin mahasiswas serta pelayanan IT di UDINUS, terlepas dari sisi plus dan minusnya. Kita harus menyikapinya sebagai insan perguruan tinggi yang baik sesuai tri dharma perguruan tinggi. Pelajari kelemahan dan kelebihannya sebagai unsur pendidikan, gali dan kembangkan sebagai sisi penelitian, dan mengimplementasikan sebagai pengabdian luhur mahasiswa.

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Belajar Impian, yang biasa disebut RUBI oleh masyarakat di Desa Tenggang, Kecamatan Gayamsari, Semarang merupakan tempat belajar bagi anak-anak sekitar desa dari SD hingga SMP. Awal berdirinya RUBI ini adalah inisiatif dari salah seorang pemuda desa tersebut. Komunitas yang dinamai Sahabat Tenggang Semarang inilah yang menjadi pemrakarsa berdirinya RUBI. Komunitas yang resmi berdiri sejak tahun 2013 ini dulunya hanya beranggotakan sekitar 8 orang relawan dari beberapa universitas di Semarang.

Tempat belajar yang berada digang sempit perkampungan inilah yang menjadi tempat belajar bagi mereka, anak-anak korban rob yang memiliki semangat luar biasa untuk terus belajar. Sekarang fungsi RUBI memang sebagai rumah belajar, dan tempat belajar tambahan bagi anak-anak sekitar. Buku-buku yang tertata rapih disana begitu memasuki ruangan depan rumah tersebut merupakan buku yang berasal dari berbagai komunitas sosial dan beberapa adalah buku yang para relawan berikan dari dana pribadi.

Dengan semboyan “Siap Hebat!” inilah yang menjadi pemacu semangat belajar anak-anak. Setiap hari mereka belajar mulai dari pukul 16.00 sampai 18.00 WIB. Meski waktu sangat terbatas tapi semangat belajar mereka tetap terlihat. Walaupun ada beberapa anak yang berlari-larian dan suasana juga cukup ramai dengan suara teriakan mereka, para pengajar tetap dengan sabar memberikan pelajaran hingga sekedar mendongengkan mereka. Tidak hanya itu, yang menjadi prioritas adalah memberikan pedidikan karakter bagi mereka.

Mulai dari pelajaran kelas satu SD hingga SMP diberikan disini. Sistem mengajar juga mungkin cukup membingungkan, yaitu satu atau dua orang pengajar dibagi untuk mengajar satu bahkan hingga dua tingkatan kelas sekaligus. Untuk kelas satu hingga empat SD berada di lantai bawah dan sisanya berada di lantai atas. Tidak mudah memang mengajar anak-anak seusia mereka dengan pengajar yang masih sangat muda. Terlebih dengan adanya toko kecil dirumah belajar itu, anak-anak sering bolak-balik membeli makanan ringan untuk camilan mereka saat belajar.

Keceriaan dan semangat anak-anak Desa Tenggang haruslah tetap seperti itu bahkan harus terus bertambah. Dengan langkah kecil yang tentunya tidak mudah inilah, yang pastinya menjadi segelintir harapan untuk terus memajukan pendidikan anak bangsa.