Kemeriahan Malam Puncak Acara Pasporia Jalimbing 2019

Sabtu (16/3) Pasporia Jalimbing 2019 merupakan malam puncak acara Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tim 1 Universitas Diponegoro (UNDIP) yang mengusung tema “Sinergitas Pelestarian Seni dan Budaya Jurang Belimbing” diadakan di panggung terbuka balai RW Desa Jurang Belimbing Tembalang.

Acara dimulai pukul 14.00 hingga tengah malam, acara tersebut ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Pelaksana harian (Plh) Kelurahan Tembalang Agustinus Kristiyono,S.Pd dan jajaran dari Universitas Diponegoro ikut menghadiri dalam serangkaian acara tersebut.

Tujuan diadakannya acara tersebut adalah untuk memperkenalkan Desa Seni Jurang Belimbing kepada masyarakat umum, khususnya warga Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

“Sungguh membanggakan, karena di era millennial masih ada sekelompok masyarakat terutama generasi muda yang peduli dengan kesenian tradisional.” ujar Triyono, SH. M.Kn. selaku salah satu jajaran Universitas Diponegoro.

Acara dibuka dengan penampilan Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi dan dilanjutkan pada sore hari dengan penampilan anak-anak PAUD Mekar Jaya Desa Jurang Belimbing, yakni Tarian Kuda Lumping, Tarian Mbok Jamu dan Tarian Kelinci.

Pasporia Jalimbing tidak hanya menyuguhkan kesenian tradisional saja, tetapi juga menggerakkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah tersebut. Seperti yang dilakukan oleh komunitas Grada yang dibuat oleh tim KKN UNDIP 2019 berhasil mengembangkan produk bernilai jual tinggi, walau hanya dengan bahan yang sederhana. Gantungan kunci, kaligrafi, lampion dan mahar pengantin merupakan produk yang mereka ciptakan.

Cahaya (17) salah satu penonton acara tersebut mengungkapkan bahwa acara yang diselenggarakan sangat bagus dan kreatif selain itu, dia juga menyukai pertunjukan seni karena baginya budaya inilah yang seharusnya dilestarikan oleh anak-anak muda saat ini.

Acara ditutup dengan penampilan Ketoprak Sri Mulyo Budoyo yang mengambil lakon Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang merepresentasikan seseorang yang memiliki tahta dan tanggungjawab namun mudah terlena dengan kenikmatan duniawi.

Penulis: Safira Nur Ujiningtyas

Reporter: Lily Tania Innezaputri

Fotografer: Irfandi Nur Fadhilah

PAMERAN DKV “MANUNGGALING” CURI PERHATIAN WARGA UDINUS

Pameran ilustrasi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) yang digelar di Gallery gedung H UDINUS di hari ketiga (Rabu/13/3/2019) ramai dikunjungi mahasiswa.

Pameran yang berlangsung selama tiga hari pada 11-13 Maret 2019 tersebut menampilkan seluruh karya terbaik dari mahasiswa DKV UDINUS. Karya tersebut tertuang dalam berbagai ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan semangat persatuan dan gotong royong. Sesuai dengan tema yang mereka angkat yaitu  “Manunggaling” yang dalam bahasa Indonesia berarti semangat persatuan dan gotong royong.

“Kami ingin mengingatkan kembali dan mengangkat kembali etika-etika leluhur kita yang sudah dilupakan oleh kaum millennial seperti saat ini, khususnya dalam hal semangat gotong royong dan persatuan” kata Azriel Falah Ananta selaku ketua pelaksana pameran DKV.

Berbeda dari dua hari sebelumnya yang menampilkan rangkaian acara artis talk, dan live painting di jaket, di hari ketiga panitia menyediakan papan tulis dan kapur warna-warni untuk gambreng alias gambar bareng. Sehingga para pengunjung dapat mengekspresikan apa pun lewat gambar ataupun menulis melalui media yang telah disiapkan oleh panitia.

“Karya dari teman-teman DKV bagus, selain itu dibalik karya mereka juga ada makna yang terselubung” ujar Retno Diah Islamiati salah satu pengunjung pameran.

Pameran yang digelar selama tiga hari tersebut mampu menarik perhatian mahasiswa UDINUS dan beberapa dosen yang melewati gallery gedung H. Bukan hanya gambar ilustrasi saja yang dipamerkan, ada beberapa karya menarik lainnya seperti lukisan, hand lettering, dan fotografi yang ikut dipamerkan dalam acara tersebut.  

Penulis : Lily Tania Innezaputri

Foto : Lily Tania Innezaputri

DKV Udinus Gelar Pameran Manunggaling, Ingatkan Guyub Bersama

SEMARANG (11/03) – Jurusan Desain Komunikasi Visual adakan pameran perdananya di galeri gedung H Universitas Dian Nuswantoro. Pameran ini ditujukan untuk mengenalkan karya-karya mahasiswa angkatan 2018 yang notabene masih tergolong mahasiswa baru.

Ada 35 karya dari 85 karya. Karya yang lolos langsung di seleksi oleh Dosen DKV Udinus. Karya yang dipamerkan diantaranya poster, fotografi, kolase, ilustrasi, typography, dan kolase.

Mengusung konsep guyub bersama, pameran dengan tema Manunggaling “Kayuh Serentak Langkah Sepijak” ini menampilkan karya yang kental akan gotong royongnya. Karya yang ditampilkan sengaja dibuat agar sesuai dengan tema mereka.

“Kita mengangkat isu dari anak muda zaman sekarang, banyak yang sudah tidak peka dengan lingkungan masing-masing. Kita ingin menghilangkan krisis etika tersebut, kita ingin mengingatkan kembali indahnya guyub bersama, bekerja sama. Setiap tugas berat jika di lakukan bersama akan sangat mudah” Ujar Azriel Fala Ananta selaku ketua pelaksana pameran angkatan DKV 2018.

Pameran yang akan dilaksanakan selama 3 hari kedepan, telah menyedot banyak pengunjung di awal pembukaanya. Salah satunya adalah Prasetyawan Mahasiswa D3 Teknik Informasi, ia mengatakan bahwa karya yang ditampilkan sudah menarik mata pengunjung, terutama kolase yang dinilainya sangat lah unik.

“Semakin semangat untuk mengembangkan karya-karya yang ditampilkan, dan dekorasi dapat ditambahkan agar semakin menarik minat pengunjung” Tutupnya.

Reporter : Shabrina Edelweiss

Fotografer : Imam Shodiqin

Can I Call U, Love? – #10 Saksi

Lupakan. Lupakan kejadian-kejadian yang lalu, yang sudah-sudah, yang kemarin, biar jadi memori untuk dikenang. Sekarang, berjalan sendiri-sendiri adalah jalan keluar yang baik. Bukan untuk disesali karena telah bertemu, karena setiap pertemuan, ada perpisahan. Pertemuan singkat dengannya nyatanya pernah membuatku tertawa, merasa nyaman, merasa bahwa aku saat itu memiliki polisi yang siap menjagaku seharian penuh, meski jika malam yang menjagaku adalah teman kosku, bukan dia.

Pertemuan kami yang terakhir adalah pertemuan kami di meja food court kampus. Kurasa hari itu adalah hari perpisahan kami, dimana seharusnya kami berdua sudah memahami bahwa kami akan memilih jalan masing-masing yang berbeda tanpa adanya komunikasi verbal. Sebuah tamparan keras bagiku saat itu, karena ternyata yang membuatnya jauh adalah aku sendiri karena bermaksud memberinya ruang sendiri namun malah lepas hempas begitu saja tanpa pamit.

Aku masih ingat pada malam harinya setelah kami bertemu di food court, ia menelponku.

“Hai”, sapanya lebih dulu.

“Iya, hallo”

“Lagi apa?”

“Lagi Youtube-an sih, gimana ik?”

“Aku bingung ik”

“Bingung kenapa?”

“Kalo cewek itu suka cemburuan ya?”, tanyanya.

Pertanyaannya kali ini benar-benar membuatku kaku. Hampir tak mampu menjawab. Namun kuberanikan untuk menjawab meski terbata-bata karena gugup.

“I i i iya, bisa jadi, kenapa?”

“Pantesan dia tadi cemburu pas kamu nyamperin aku ngajakin ngobrol berdua”, ia tertawa seolah-olah ia tak tahu perasaanku bahwa akulah sebenarnya orang yang cemburu karena melihatnya duduk berdua.

“Oh ya?”, jawabku sudah rada malas.

“Iya! Eh, kalau aku nembak dia besok gitu, terlalu cepet ga sih?”

Astaga, demi Neptunus! Ini rasanya aku sedang ditampar pakai batu ratusan kali. Ternyata selama ini memang ia tak punya rasa, hanya saja butuh teman cerita dan kebetulan aku mungkin ada. Mungkin aku satu-satunya orang yang nyaman ia ajak curhat dan berbagi keluh kesahnya. Pantas saja, ada beberapa momen yang waktu itu ia sudah mulai menjauh tiba-tiba. Kupikir memang ia sibuk kuliah atau organisasinya. Ternyata ini penyebabnya. Aku sejujurnya tak tahu pasti kapan ia mulai berhubungan lagi dengan mantannya. Apakah dari sejak pertama kali kencan? Atau memang barusan ketika liburan semester? Ah pikiranku sudah melayang bebas.

“Mmmm, emang kamu deketin dia sejak kapan? Kok gak pernah cerita?”, pertanyaanku kali ini sedikit menjebak, supaya aku tahu sebenarnya sejak kapan ia mendekati kembali mantannya itu.

“Barusan sih, dua minggu lalu kalau ga salah”

Ah, ‘kan, bener! Sialan! Berarti memang ruang sendiri itu adalah bumerang untukku! Jika tahu hasilnya akan seperti ini, aku nggak akan biarkan dia lengah ‘lah.

“Sekitar dua minggu yang lalu itu, aku ketemu dia di reuni sekolahku dulu, terus ya udah, ngobrol, nyaman lagi, kebetulan dia lagi jomblo juga. Terus minggu lalu sempet pergi nonton juga, ke rumahnya, dia katanya mau bikin kue, aku suruh nyobain. Yaudah deh, menurutmu gimana? Tembak sekarang gak?”, imbuhnya di telepon.

Tidak perlu kuceritakan ‘kan, tentang apa yang terjadi pada diriku malam itu. Aku hancur ‘lah, itu pasti dan tidak bisa kupungkiri. Tetapi aku lagi-lagi berusaha untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan bahwa aku sedang hancur, karena orang lain termasuk dia hanya boleh melihat senyumku, yang baik-baik tentangku, biar yang buruk hanya aku dan Tuhan yang tahu.

“Oh gitu, ya…kalau kamu sudah mantap sama pilihanmu, silakan aja mas. Keburu nanti dia diambil sama yang lain ‘kan…”, aku menjawab sembari mengusap air mataku yang jatuh, untung saja ini hanya telepon, ia tak akan bisa melihatnya.

“Besok deh, besok jam 8 aku jemput kamu, kita siapin tempat yang romantis di taman Romansa, nanti dia aku bawa kesana setelah kita selesai siapin semuanya, oke?”, ajaknya dengan sangat berantusias.

“Mmmm, aku gak bisa mas, maaf. Besok aku udah ada janji sama temen-temen”, aku berbohong padanya.

“Ah batalin aja sama temenmu itu, sekali-kali bantuin aku, emang mau kemana?”

“Mm mm mm, ke… kemana ya…itu…”, jawabku gugup karena bingung mau menjawab apa.

“Ah kamu boong ‘kan, aku tahu kali. Pokoknya besok pagi aku jemput kamu”, langsung mematikan teleponnya.

Pagi sekali, bahkan sebelum jam 8 ia sudah mengetuk pintuku, mengucap salam dan langsung masuk sebelum kubukakan pintu dan kujawab salamnya. Setelah itu aku dibawanya ke taman Romansa dekat bandara yang baru saja selesai diresmikan oleh Pak Ganjar Pranowo sebulan yang lalu. Dengan menggendong tas ranselnya yang berisikan banyak barang untuk didekor sesuai kemauannya nanti. Sesampainya disana, langsung saja ia mendekor seromantis mungkin, kemudian setelah semuanya selesai, ia menelpon mantannya yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya lagi.

“Kamu dimana? Aku jemput sekarang ya, ikut aku”, katanya.

Tak lama kemudian setelah ia pergi menjemput mantannya itu, ia sudah kembali dengan menutup mata mantannya. Kemudian ketika berhenti didepan tulisan “Do you want to come back to me?” matanya dibuka dari penutup mata. Mantannya mengangguk dan menangis, kini akhirnya mantan tersebut sudah kembali menjadi tambatan hatinya lagi. Ia memeluk pacarnya yang masih menangis karena memang dekorasi yang ia suguhkan sungguh romantis.

Aku hampir tak percaya bahwa ia akan melakukannya didepan mata kepalaku sendiri, dan akulah yang sedari tadi pagi diributkan untuk membuat rencananya berjalan sesuai ekspektasinya. Akulah satu-satunya orang yang menjadi saksi bisu bertemunya kembali dua insan yang telah lama tak bertemu kemudian menjadi saling mencinta lagi setelah sekian lama pernah saling menjauhi karena tak ingin disakiti lagi.

RRI Beri Sosialisasi Mahasiswa Semarang Tentang Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia pada 17 April mendatang, menyita perhatian warga untuk berlomba-lomba mendukung dan berusaha memenangkan pasangan calonnya masing-masing. Sampai warga menghalalkan segala cara untuk membuat pasangan calonnya menang. Pesta demokrasi ini berlangsung ramai terlebih adanya pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden untuk periode 2019-2024 ini.

Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Semarang kemudian memberi penyuluhan untuk generasi milenial terkait cara memilih yang benar versi zaman sekarang pada 5 Maret 2019 di Gedung Prof. H. Soedarto, SH, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang. Acara yang dimoderatori oleh Tukul Arwana ini berlangsung meriah dengan menghadirkan tokoh-tokoh menarik seperti Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo selaku Gubernur Lemnahas RI, Sarwa Pramana selaku asisten yang mewakili Gubernur Jawa Tengah berhalangan hadir. Kemudian Dr. Federik Ndolu, S.Sos, M.Si selaku Dewan Pengawas LPP. Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Yos Johan Utama, SH. M.Hum serta Ikhwanudin, S.Ag selaku Komisioner KPU Jawa Tengah dan perwakilan dari Polda Jawa Tengah

Tukul Arwana memandu acara tersebut yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Semarang dan disiarkan langsung di RRI. Dengan tema “Memilih Itu Juara – Pesta Demokrasi Jaman Now” itu, Letnan TNI (Purn) Agus Widjojo mengatakan bahwa “Pemilih milenial itu juara, untuk meraup peserta pemilu, milenial di perebutkan dalam tahun politik. Setelah terdaftar, pilihlah secara cerdas. Pilih sesuai aspirasi”.

“Kepolisian sudah melakukan operasi mantapbrata sejak Desember 2018 hingga pesta demokrasi selesai untuk membantu mensukseskan pemilu 2019. Hal ini juga dilakukan serentak di seluruh daerah di Indonesia”, kata perwakilan Polda Jawa Tengah.

RRI sebagai salah satu media pemberitaan netral pemilu 2019, begitu juga pada pemilu selanjutnya. Karena salah satu tugas RRI adalah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, hiburan, tetapi tidak mempropaganda politik.

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Gerbang masuk BUNKASAI 2019

Event tahunan Bunkasai Udinus yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Udinus diadakan pada tanggal 23-24 Februari 2019 dengan tema “Seinshun No Sekai” yang bertempat di Gd. G Universitas Dian Nuswantoro.

Kemeriahan event ini sangat luar biasa sesuai dengan temanya yaitu “Seinshun No Sekai” yang berarti Dunia Anak Muda. Dengan bintang tamu spesial yaitu Didik Nini Thowok seorang penari Indonesia yang sudah Go Internasional dan bintang tamu “Hydra” yang membuat semakin menarik. Event tersebut dibuka untuk umum dengan biaya tiket Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah). Memasuki area event disungguhkan dengan suasana bunga sakura bagai di Jepang sangat cocok sebagai spot foto yang menarik.     

Terdapat juga berbagai jenis perlombaan yang dapat diikuti salah satunya lomba menyanyi, menari, menggambar manga dan lain-lain. Dari pihak sponsor (Nissin) juga mengadakan perlombaan yang tak kalah seru yaitu lomba makan mie yang dapat di ikuti oleh pengunjung. Selain perlombaan tersebut terdapat juga berbagai macam stand food khas Jepang seperti Takoyaki, Okonomiyaki. Tidak ketinggalan berbagai macam souvenir ala jepang yang dijual untuk cendera mata pengunjung.

Rangkaian acara sangat rapi dan tertata, pihak penyelenggara mengadakan berbagai macam pertunjukan yang menambahkan nuansa ala Jepang yang menarik salah satu nya acara pembukaan minum teh bersama yang di sebut “Chanoyu”. Penampilan bintang tamu dilakukan saat sore menjelang malam hari, diawali dengan penampilan “Hydra” yang apik dan ditutup oleh seorang bintang tamu spesial yaitu Didik Nini Thowok yang menampilkan tarian legendaris nya yaitu Dwimuka Japindo (Dua Muka Jepang Indonesia). Tarian ini sebagai perpaduan antara Jepang dan Indonesia dimana menggunakan dua topeng dengan wajah yang berbeda, topeng yang digunnakan salah satunya disebut dengan okame dan wajah orang Indonesia bernuansa Bali. Konnsep tarian ini menandakan persahabat dua negara.

Salah satu aksi Didik Nini Thowok
fotografer : Hanif Wahyu Cahyaningtyas

Event ini sangat sukses dilaksanakan, penampilan Didik Nini Thowok berhasil membius para penonton hingga kagum. Harapan dari setiap pengunjung menginginkan tahun depan dapat lebih meriah dan menampilkan bintang tamu spesial yang lebih memukau. Kesuksesan ini tidak lepas dari peran mahasiswa, rektor dan pihak sponsor yang mendukung.

Penulis : Hanif Wahyu Cahyaningtyas

Editor : Haris Rizky Amanullah

ISP Ajak Investor Millenial Indonesia Melalui Seminar Invest Preneur 2019

Investor Saham Pemula (ISP) gelar Seminar Nasional Invest Preneur 2019 bagi kaum millennial di auditorium Hotel Candi Indah Jatingaleh Semarang pada Sabtu (23/02/2019).

Acara yang digelar oleh ISP tersebut bertema “Millenial Investor at Disruption Economy and Industrial Revolution 4.0” diikuti oleh para investor muda dari berbagai kota di Indonesia seperti Banjarmasin, Bandung, Pontianak, Padang, Jember, Denpasar dan masih banyak lagi. Tidak hanya para investor muda saja, seminar nasional tersebut juga diikuti oleh masyarakat umum yang ada diwilayah Semarang.

“Seminar kali ini bertujuan untuk membahas perkembangan distribusi ekonomi dan membahas mengenai fenomena revolusi industri 4.0 serta cara para investor muda menyikapi berbagai fenomena  yang terjadi pada revolusi industri 4.0” ucap Risky Arya selaku ketua pelaksana Seminar Nasional Invest Preneur.

Selain itu seminar Invest Preneur juga mengajak para masyarakat khususnya millennial investor untuk lebih mengenal berbagai pengaruh terhadap perkembangan pasar Indonesia dan perekonomian khususnya start up digital di Indonesia. ISP telah mencatat rekor 200 ribu investor muda di seluruh Indonesia.

Seminar Nasional tersebut menghadirkan pembicara kondang dibidang investasi seperti Bayu Mahendra Saubiq yang merupakan pendiri PT. Sumber Sinergi Indonesia, Miftachul Ben Robani selaku Chief Marketing Officer Lindungi Hutan, serta Pembina Komunitas ISP yaitu Nicky Hogan dan Fanny Rifqy el Faud.

“Harapannya untuk investor millennial di Indonesia semakin bertambah dan ke depannya semakin maju. Jadilah investor kaya sehingga kita bisa berbagi” ujar Fanny selaku pembina dari ISP.

Seminar ISP merupakan suatu wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman khususnya para investor saham yang sedang mencari pengetahuan mengenai pasar modal. Seminar tersebut merupakan seminar ketiga yang sebelumnya dilaksanakan di kota Bandung.

Penulis : Lily Tania Innezaputri

Fotografer : Laily Makrifatul

Editor : Haris Rizky Amanullah



Can I Call U, Love? – #9 Bumerang

Meski sempat renggang, tapi keadaan memaksa kami untuk tetap merapat. Sekalipun lebih banyak bungkam ketika dua manusia canggung dipertemukan. Namun inilah kenyataannya. Kemudian kami mulai terbiasa kembali dengan situasi seperti ini.

Sekarang ini bersyukur karena kampus sudah memberikan libur meski, ya, singkat. Tapi begitu banyak kisah yang terjadi dengan kami selama liburan. Semuanya kembali berantakan. Padahal sebelumnya sempat kurasa membaik.

Untuk memulai libur, kami menyempatkan diri untuk bertemu sebelum akhirnya rindu akan mulai hadir diantara kami, kemudian dipastikan sulit untuk menyelesaikan rindu yang hadir disela-sela masa libur kami. Karena kami akan kembali ke kampung halaman masing-masing yang terbentang jarak sekitar 420km.

Hari itu sangat indah, semuanya baik-baik saja. Kami berdua tampak seperti minggu-minggu lalu. Hari itu pula, organisasi kami menyempatkan pula untuk berkumpul bersama untuk pamitan sebelum liburan, sekaligus evaluasi selama satu semester dan selesai pukul dua siang. Setelahnya kami habiskan waktu berdua di sebuah mall yang kebetulan jaraknya tak jauh dari kampus kami. Mulai dari nonton film, main game, hingga makan burger kesukaannya.

“Nanti liburan aku ada project nih sama saudaraku, mau bikin short movie”, ia membuka suara lebih dulu sambil mengunyah burgernya.

“Bagus dong, aku mau nonton, ‘ya!”

“Cek di channel Youtube aku ya, jangan lupa subscribe, like, comment, and share hahahaha”, ia meledek dengan menirukan gayaku.

“Hihh nyebelin! Eh aku juga katanya mau dikasih kerjaan dari Papa nih mas, kayaknya suruh ngedit deh. Soalnya kemarin Papa tuh telepon, katanya kalau pulang suruh bawa kamera sama laptop gitu”

“Video CCTV lagi maksudnya?”

“Kayaknya sih gitu. Eh jadi kita bakal sama-sama sibuk dong?”

“Ya, iya, hehehe”

“Okeh, ndak apa. Nanti liburan, aku juga kurangin porsi aku ngepoin kamu deh mas, biar kamu fokus sama short movie nya”, aku memberinya ruang untuk sendiri.

“Kebetulan aku nge-shoot, juga yang ngedit, jadi bakal sibuk”

I know, kamu kalau udah ngadep laptop kan gak bisa diganggu gugat hehehe”

“Biar fokus aja, kamu juga biar fokus. Biar kamu nggak mikirin aku chat apa enggak”

“Aku jadi inget mas hahaha”, aku tertawa tiba-tiba karena mengingat masalalu

“Inget apa?”

“Pas lagi teleponan kita, padahal aku mau nugas, terus kamu tiba-tiba matiin teleponnya. Katanya biar aku nugas, terus beneran aku nugas deh langsungan”

“Ohhh inget! Hahahaha, kan kamu gitu sukanya kalau udah nyaman, suka lupa”

“Yaudah deh deal ‘ya?”

“Iya siap bosku”

Setelah percakapan kami usai, liburan tiba, hingga pada akhirnya yang terjadi adalah benar. Tak ada saling mengganggu, tak saling memikirkan satu sama lain sedang apa, dan memang jarang berkomunikasi kecuali untuk hal yang benar-benar penting.

Ketika liburan hampir usai, ternyata kami belum sempat berkomunikasi lagi seperti biasa. Yang ada dalam pikirku, ia pasti akan lebih dulu menghubungiku ketika short movie-nya telah selesai. Namun ternyata salah. Bahkan saat aku sudah kembali ke Kota Semarang, ia bahkan tak merespon insta stories-ku yang kutahu ia melihatnya. Diabaikan.

Kemudian, untuk hari-hari berikutnya pun, tak pernah bertemu di kampus. Ia menghilang dari sosial medianya, tak pernah kulihatnya berada di dalam ruang organisasi, ataupun di warung burjo.

Sekitar seminggu perkuliahan kembali dimulai dalam suasana semester genap, aku baru bisa menemukannya. Berada dalam satu meja food court bersama perempuan, berdua saja. Asik sekali berbicara hingga tertawa dan tak menyadari bahwa aku ada disana. Kuhampirinya tanpa pernah ada rasa gengsi atau takut akan harga diriku hilang karena lebih dulu menghampirinya.

“Bisa kita pindah ke meja sebelah? Aku pengen ngobrol berdua”, aku sambil menahan air mataku.

“Boleh, ada apa?”, sambil bangkit dari bangkunya dan meninggalkan perempuan itu.

“Dia siapa mas?”, tanyaku langsung to the point.

“Itu? Mantanku, hehehe”, sambil menunjuknya.

“Oh, mantan. Aku nunggu kamu chat duluan sih mas dari kemarin. Soalnya aku pikir karena liburnya habis, dan short movie-nya udah kelar, ya…”, belum selesai kalimatku sudah dipotong dengannya.

“Udah jadi kok short movie-nya, tonton di Youtube-ku aja. Itu, kemarin aku habis nganterin dia ke Bandara, nganter dia ketemu sahabatnya”, lontarnya dengan santai tanpa memikirkan perasaanku.

“Mmmmm, oke. Yaudah aku cabut dulu mas”, kataku tersenyum sembari meninggalkannya.

“Oke, hati-hati”

Sekalipun status kami belum jelas. Namun faktanya, ia yang selama ini membuatku nyaman, memberi ketenangan. Jika ia tiba-tiba jalan berdua dengan perempuan lain yang tak lain adalah mantannya sendiri, aku ini bisa apa? Memintanya untuk menjauhi perempuan itu? Tidak seberhak itu.

Ternyata bumerang. Ketika aku memberikannya ruang untuk sendiri, nyatanya malah ia bagi dengan perempuan lain. Bahkan aku sendiri kehilangan ruang itu.

Can I Call U, Love? – #8 Sepotong Black Forest yang Menjauhkan

Hari ini bukan hari baik pula bagiku. Kukira akan ada rencana pengganti makan malam kemarin yang tertunda. Bukan ternyata. Tugas-tugas menjelang UAS memberatkan kami.

Sepulang kuliah, sekitar pukul 16.45, aku tiba di lantai 2 gedung kegiatan mahasiswa. Meletakkan ranselku yang berat, cukup banyak mata kuliah hari ini yang mengharuskanku membawa modul pula. Laptop yang kutenteng, kupersilakan ia untuk tidur di lantai. Aku menikmati senja di camp seorang diri, disoroti matahari yang hampir tenggelam, kemudian memutar lagu-lagu indie yang shaydu. Lengkap sudah. Hari ini lelah. Aku merenung sambil memejamkan mata, berharap untuk sejenak tidur.

Seorang laki-laki berbadan kurus, tidak terlalu tinggi, namun lebih tinggi dariku, dengan rambut klimis, tiba-tiba membuat mataku terbuka lagi. Mengetok pintu dengan kasar, seolah ingin bercanda, tapi sayang bukan waktunya. Aku sedang lelah.

“Sudah selesai kelas?”, tanyanya sambil makan batagor.

“Mmm, barusan, tiga kali UAS praktek tadi. Kamu?”, aku rasanya masih setengah sadar.

“Udah selesai. Kamu gimana? Bisa UASnya?” Mau gak?”, sambil menawariku batagor yang hampir habis itu, mungkin hanya tersisa saus kacangnya.

“Alhamdulillah. Makasih, nawarin itu dari tadi dong, nawarin pas udah mau habis”, jawabku bercanda.

“Hehe, aku laper. Dari tadi pagi belum makan”, jawabnya sambil melahap habis.

“Kebiasaan deh, jarang makan”.

“Males”, sambil tersenyum.

Kami mengobrol disana, sekitar 15 menit. Kemudian tiba-tiba ia berdiri dengan cepat, meraih tasnya, mencabut charger handphonenya, dan mengambil jaket yang sengaja ia tinggal dibalik pintu.

“Eh, mau kemana?”, tanyaku heran.

“Ngerjain tugas”, jawabnya sambil membalas pesan di handphonenya.

“Nanti mampir ke kos ya”.

“Ngapain?”, tanyanya bingung.

“Ada, nanti”.

“Ngapain? Kayaknya nanti bakal malem banget deh, apa besok aja gimana?”.

“Keburu busuk”.

“Apa emang?”.

“Ya nanti juga kamu tahu”.

“Gampang deh ntar, aku cabut ya”.

“Iyaudah, hati-hati mas”, sambil melihatnya berlalu.

Ia pergi, kemudian aku tidur lagi. Melunasi tidurku yang terganggu olehnya. Hingga bangun pukul setengah delapan malam. Sudah malam juga ternyata, lama pula aku tidur. Aku memutuskan untuk pulang ke kos sebelum hari kian gelap lagi. Ada tugas-tugas yang sudah mengantre untukku kerjakan juga.

Sesampainya di kos, aku mandi, kemudian beres-beres, lalu melanjutkan untuk mengedit video liputanku. Hingga pukul sepuluh malam. Layar handphoneku tiba-tiba menyala disertai notifikasi darinya.

“”Mending kamu tidur aja, besok aja kali ya? Aku masih belum selesai soalnya”, pesannya.

“Ah gak mau ah, gapapa aku tunggu, aku juga masih ngedit”, sanggahku.

“Yaudah kalo mau nunggu, ntar tapi. Jam 11 aku otw kali ya, biar gak kemaleman”, tanyanya.

“Iya gapapa, nanti balik nugas lagi ‘kan bisa, apa mau sekarang?”.

“Nanggung, nanti sekalian ya, nanti aku kabari kalo otw”.

“Oke siap, aku tunggu, santai”.

“Lanjut nugasnya. Semangat! J”, berdebar lagi, kencang, meski tidak bertatap muka, aku juga heran.

“Kamu juga mas, semangat nugasnya J”.

Hingga setengah 12 malam, ia ternyata baru bisa menuju kosku. Ia bilang sedang diperjalanan. Aku siap-siap ganti baju, memakai jaket, memakai kerudung, karena sebelumnya aku hanya menggunakan celana dan kaos pendek. Bisa dibilang excited.

Malam itu, barusan saja selesai kutulis surat untuknya sebelum aku memulai untuk ngedit videoku. Surat itu berisi ucapan selamat mengerjakan tugas-tugas menjelang UAS dengan kalimat-kalimat yang akan membuatnya bertanya-tanya karena sengaja kubumbui kata-kata yang menjurus tentang kedekatan kami selama ini, namun entah bagaimana ia mengartikannya. Sepotong kue black forest yang kubeli semalam di Paragon. Iya, jadi semalam aku rela ke Paragon hanya untuk membeli sepotong kue ini. Bahagia bisa berbagi kebahagiaan. Maklum, sedang banyak rezeki. Kebetulan saudaraku baru saja pulang ke kampong halaman, kemudian aku diberi uang saku.

Ia sudah didepan gerbang kosku. Berdiam disana, hingga aku keluar. Kusodorkan plastik bertema natal itu kepadanya. Kuletakkan di spion motornya. Ia bingung, tersenyum-senyum.

“Ini apa? Buat aku?”, raut mukanya penuh tanda Tanya.

“Iyalah, masa buat tetanggamu?”.

“Dalam rangka apa?”.

“Gak ada sih, cuma lagi pengen kasih aja. Kamu butuh kok”.

“Apa emang?”.

“Ya nanti dibuka lah”.

Ia mengambil plastik berisi kue dan surat itu kemudian meletakkan digantungan belanja motornya tetapi dengan tidak hati-hati.

“Hey! Jangan gitu bawanya, nanti rusak! Kalau sampe rusak, kamu harus gentian beliin aku lho”, aku panik.

“Heh? Apa sih ini? Iya iya, maaf”.

“Yaudah gitu doang, aku cuma mau kasih ini”.

“Hmmmmmmm, kirain ada apa. Yaudah aku pulang dulu”.

“Berani mas?”.

“Aku mau nugas lagi maksudnya, malam ini gak pulang kayaknya”.

“Yaudah, hati-hati. Selamat nugas, mas”.

“Iya, kamu juga, semangat ngeditnya”, kemudian menghidupkan motornya dan berlalu.

Setelah kue itu sampai kepada pemiliknya. Sejak saat itu pula, mungkin saat suratnya sudah dibaca. Ada perasaan canggung pada dirinya. Sehingga semenjak hari itu, kami jarang berkomunikasi, renggang. Seperti ingin menjauh, tetapi mungkin hanya ia yang mampu. Sedang aku masih berusaha mencari topik-topik pembicaraan yang ingin kubahas dengannya. Sekadar basa-basi, hingga hal-hal penting yang sebenarnya masih bisa kami bicarakan besok-besok.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Kemeriahan Dinus Festival 2019 (Dinusfest) (24/01) berakhir dengan antusiasme peserta lomba yang ingin mendengarkan pengumuman di panggung utama. Beberapa lomba pun diadakan pada hari terakhir Dinusfest 2019.

Salah satunya adalah lomba paduan suara yang diadakan oleh tiga UKM Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), yaitu Pelayanan Kerasulan Keluarga Mahasiswa Katolik (PKKMK). Persatuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM). Tiga UKM ini berkolaborasi membuat lomba paduan suara dengan konsep Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) dan mengusung tema “Harmoni untuk Tuhan”. Mereka berharap lomba seperti Pesparawi bisa diadakan setiap tahunnya.

“Saya berharap untuk tahun depan ada lomba lagi seperti Pesparawi ini dan semoga bisa bekerja sama dengan tiga UKM ini serta organisasi lain di Udinus maupun dari luar Udinus.” ujar Timotius Edward selaku Ketua Panitia kegiatan.

Acara tersebut baru di adakan pertama kali di Udinus, bertempat di Gedung H lantai 7. Lomba paduan suara SMA/SMK sederajat diikut oleh tiga peserta dari Semarang, yang mana nantinya akan dipilih satu juara untuk diberi uang pembinaan, sertifikat dan potongan USPI masuk ke Udinus. Ketentuan lomba tersebut adalah menyanyikan satu lagu rohani dan bebas dengan kemampuan Sopran, Alto, Tenor, Bass (SATB) dalam durasi paling lama 10 menit. Juri dalam perlombaan tersebut yakni satu juri dari luar Udinus dan dua juri dari UKM PSM.

Salah satu peserta paduan suara, Immanuel Azarya siswa kelas 11 SMA Negeri 2 Semarang yang baru pertama kali mengikuti lomba merasa tegang dan nervous saat tampil, tapi akhirnya bisa tampil dengan santai dan mengalir sesuai harapannya. Ia bersama 17 temannya melakukan persiapan selama dua minggu sebelum lomba.

“Kami membawakan satu lagu kerohanian dan satu lagu bebas berjudul Twinkle-Twinkle Little Star dan puji Tuhan, tidak ada hambatan saat kami tampil tadi. Harapan saya dan teman-teman semoga lebih bisa mengharumkan nama sekolah serta dari segi vokal dan lainnya ada progress untuk lebih baik lagi.” tambahnya.

Penulis : Safira Nur Ujiningtyas

Editor : Haris Rizky Amanullah