SUMMIT (Student Economic Meeting) merupakan acara tahunan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Dian Nuswantoro. Acara ini sudah berjalan secara rutin selama 4 tahun terakhir.
Tahun 2018 ini, SUMMIT mengambil tema mempersiapkan diri menghadapi VUCA(Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). Aspek yang lebih disoroti pada SUMMIT tahun ini adalah aspek teknologi.
“Kami berharap bahwa ilmu yang disampaikan pembicara pada acara ini dapat diimplementasikan pada masa mendatang”, ujar Resta, Ketua Pelaksana SUMMIT 2018(23/03/2018). Resta juga berharap bahwa ilmu yang didapat dapat menjadi pedoman bagi mahasiswa untuk mempersiapkan menjadi sumber daya manusia yang dapat menghadapi kemajuan teknologi secara cermat dan tepat.
Acara yang diikuti 20 Universitas di Jawa Tengah ini diadakan dalam 3 hari. Diawali dengan dialog interaktif dengan pembicara Peter Sherer, Co-Founder Slingshot Group.Dilanjutkan dengan Focus Group Disscusionoleh peserta dengan pokok bahasan sesuai dengan tema. Debat interaktif yang diadakan bertujuan unutk menyebarluaskan pandangan para peserta mengenai pikirannya terhadap teknologi yang berkaitan dengan bisnis di era sekarang ini kepada khalayak luas. Pada hari berikutnya acara akan dilanjutkan dengan seminar nasional dengan pembicara Helmi Ashar (CEO PT. YMI Group) dan Gian Dwi Saputro(CEO Dropshipaja.com) serta hari terakhir di tutup dengan gala dinner.

Penulis : Mila Elmeida

Lagu terkenal ini punya nada yang sama dengan Lagu Ibu Pertiwi

Lagu terkenal ini punya nada yang sama dengan Lagu Ibu Pertiwi

 

Hak atas kekayaan intelektual atau yang biasa disebut HAKI sangatlah penting dalam suatu karya seni. Maka dari itu Undang-undang Hak Cipta dibuat dengan tujuan melindungi manfaat ekonomi dari suatu karya seni tak terkecuali karya musik. Dalam UU Hak Cipta disebutkan bahwa hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta yang berfungsi mengumumkan atau memperbanyak karya ciptannya. Dengan adanya hak eksklusif itu, maka melekat juga manfaat ekonomi dari suatu karya seni.

Dalam industri musik sendiri terdapat aspek” yang perlu dilindungi agar terhindar dari plagiarisme salah satunya adalah nada yang terdapat dalam suatu lagu. Namun bagaimana jadinya jika lagu yang terlanjur terkenal ternyata adalah lagu plagiat?

Ibu Pertiwi

Sebagai warga negara Indonesia pastinya kita tidak asing lagi dengan lagu Ibu Pertiwi. Ya, lagu ini adalah salah satu lagu nasional negara Republik Indonesia yang diajarkan kepada kita dari bangku sekolah dasar. Masih ingat liriknya? kira” seperti ini :

Kulihat ibu pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intannya terkenang

 

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang lara

Merintih dan berdoa

Dst.

 

Tapi apakah kalian tau bahwa ada lagu lain yang memiliki nada dan irama yang sama dengan lagu ini?

Lagu ini berjudul “What a Friend We Have in Jesus”. Lagu ini adalah lagu rohani umat Kristen yang biasa dinyanyikan di gereja yang ditulis oleh Joseph M. Scriven pada tahun 1855 sebagai sebuah puisi untuk Ibunya di Irlandia saat dirinya berada di Kanada. Kira” seperti ini liriknya :

What a friend we have in Jesus

All our sins and grieves to bear

What a privilege to carry

Everything to God in prayer

 

Oh what peace we often forfeit

Of what needless pain we bear

All because we do not carry

Everything to God in prayer

Dst.

Lagu ini lambat laun akhirnya di terjemahkan dalam berbagai bahasa seperti di Jepang lagu ini di terjemahkan dan memiliki judul “Itsukushimi Fukaki” (いつくしみ深き) namun ditulis ulang oleh Daisui Sugitani pada 1910 sehingga lagu ini berubah dan memiliki judul “Hoshi no Yo” (星の界 – “World of Stars”). Di Indonesia sendiri lagu ini juga diterjemahkan menjadi “Yesus Kawan yang Sejati” dan telah menjadi lagu rohani sejak 1975 dan tercatat dalam Kidung Jemaat nomor 453.

Pasti sekarang kalian sedang mencari lagu” tersebut. Nah sudah ada yang sadar kalau nadanya mirip?

Muslim Ban
Donald Trump

Trump dan Kebijakan Muslim Ban

 

Oleh: Muhammad Abdul Malik

 

Muslim Ban

 

Ketika Donald Trump, presiden AS, sadar mendapat kecaman keras atas kebijakannya yang melarang tujuh warga negara mayoritas Islam (Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman), Ia dalam wawancaranya kepada The Hill mengatakan: “Supaya jelas, aturan ini bukan larangan terhadap muslim seperti yang dilaporkan media.”

Trump berdalih bahwa ada 40 negara mayoritas Islam didunia yang tidak masuk dalam kebjakan ini. Kebijakan ini juga mencakup larangan selama 120 hari bagi pengungsi dari Suriah. Ia juga mengatakan akan memberi visa bagi ketujuh warga negara diatas jika keamanan membaik selama 90 hari terhitung sejak 27 Januari 2017.

Namun, pernyataan berbeda dilontarkan oleh orang dekat Trump sekaligus mantan walikota New York, Rudy W. Giuliani. Giuliani mengatakan kepada Fox News,  bahwa Trump memang benar-benar akan melarang warga dari tujuh negara itu dan Trump memintanya untuk membentuk komisi yang dapat menyusun aturan itu supaya benar dimata hukum. Fokus aturan ini, kata Giuliani, adalah tidak melarang seseorang memasuki AS berdasarkan agama yang dianutnya, melainkan suatu wilayah yang sering menghasilkan teroris.

 

 

 

Perspektif Penulis: Kebijakan Tak Tepat Sasaran

 

Kebijakan Trump tersebut diatas, secara tidak langsung memperlihatkan ketakutan Trump terhadap muslim dan kekhawatiran Trump terhadap keamanan AS. Sebenarnya tujuan pelarangan itu menurut Trump adalah untuk melindungi AS dari aksi teroris. Tujan yang sangat mulia. Namun mengapa Trump hanya melarang negara-negara mayoritas Islam? Ia menyimpulkan dari aksi-aksi teroris, bahwa Islam merupakan agama teroris. Ini sama sekali tidak benar. Trump menggenelarisasi umat muslim bahwa mereka berpotensi menjadi teroris. Sikap ini bergitu diskriminatif. Aksi teroris yang terjadi telah memperburuk citra Islam dimata dunia. Mereka, para teroris, mengatasnamakan Islam dan berteriak “Allahu Akbar” setiap kali melakukan pengeboman, membunuh orang tak bersalah, dan menghancurkan situs arkeologis yang tak tergantikan, padahal Islam tidak mengajarkan mereka melakukan aksi-aksi keji tersebut. Trump semestinya, mengingat AS merupakan negara berpaham sekuler, tidak memandang seseorang untuk memasuki negaranya berdasarkan agama. Langkah terbaik, Ia seharusnya memerangi objek ketimbang subjek. Artinya, Ia bersama militer AS seharusnya mengerahkan segala kekuatannya untuk memerangi aksi-aksi teroris (objek) daripada melarang muslim (subjek) untuk memasuki negaranya. Ini sama halnya seperti konsep yang ditujukan untuk memberi motivasi kepada penderita HIV AIDS yakni jangan jauhi orangnya namun penyebabnya. Salah satu penyebab AS dituju oleh teroris adalah kebijakan luar negerinya yang justru menyengsarakan warga negara lain. Amerika Serikat dengan segala kehebatannya, mampu mempengaruhi kebijakan dalam negeri negara lain dalam bentuk intervensi yang hanya ditujukan untuk kepentingan AS sendiri. Sebagai contoh intervensi AS di Timur Tengah adalah Perang Teluk I pada tahun 1980-1988 antara Irak dan Iran. Persilisihan tersebut merupakan peluag empuk bagi AS untuk melakukan intervensi. Intervensi tersebut bertujuan agar pasokan minyak untuk AS tidak tersendat sehingga industri di AS terus berjalan dan agar senjata produksi AS tetap laku ditengah perang yang sedang berkecamuk. Bagi pihak-pihak yang sadar bahwa AS memanfaatkan situasi buruk ini —Kesempatan dalam kesempitan, lantas memicu sentimen buruk terhadap AS. Salah satu pemicu tersebut menyebabkan AS menjadi tujuan para teroris. Seharusnya kebijakan luar negeri AS tidak mengintervensi kebijakan dalam negeri dari negara-negara yang dilarang itu khususnya, dan negara lain pada umumnya. Ini sebagai tindakan preventif agar warga negara yang dilarang itu atau warga negara lain  tidak benci terhadap AS sehigga tidak melakukan aksi-aksi terorisme di AS.

 

 

Langkah yang Tepat

 

Kebijakan Muslim Ban oleh Trump mendapat banyak tolakan. Aksi demo terjadi dijalanan dan gedung-gedung pemerintahan. Aksi menolak kebijakan itu bahkan didukung oleh Jaksa Agung dibeberapa negara bagian.

Seorang hakim federal, James Robart, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, menghentikan sementara penerapan kebijakan itu. Tak hanya itu, keputusan hakim dinegara bagian Seattle, Washington, Boston, Massachusetts, juga menolak kebijakan Trump itu.

Informasi terbaru yang dihimpun dari KontanMobile.com, pengadilan banding AS menolak pemberlakuan kebijakan tersebut diatas. Dengan demikian, hakim memperbolehkan para pelancong dari ketujuh negara itu untuk masuk ke AS. Menanggapi hal ini, Trump kembali menuliskan tweet. “Sampai jumpa di pengadilan, keamanan negara kita dipertaruhkan!” tulisnya.

Memori Sang Peleton Laut

Seperti menarik kembali setiap duri-duri

Yang tertancap rapi memenuhi nurani menarik jala ekor ikan yang di ketahui

Terdebur ombak dan kembali ke tepi mengarungi beribu-ribu patri

Horizon tegak vertical mencahayai kembalinya kapal yang telah mati

Mengharap kembali mampu menyelami desiran angin yang mewarnai

Setiap memori…

Yang semakin memucat…

Dan tumpah terusik kembali

Ke dalam fikiranku yang lambat

Dan karena cahaya-cahaya horizon yang terus tetap monoton

Yang akan menyambut kembali sang peleton

Ke dermaga buaian sang kandungan…

Terdiam ku merenung

Tak sadar bayang wajahmu

Terlintas dibenakku

Kenapa harus kamu?

Bukan dia tapi kamu!!

Ku merasa semakin aneh

Diriku selalu memikirkanmu

Apakah ini cinta?

Kau selalu membuatku khawatir

Di setiap kau jauh dariku

Aku yang selalu ingin didekatmu

Tak bisa jauh darimu

Apa arti semua ini?

Rasa sayangku ini..

Apakah sekedar sayangku kepada sahabat?

Atau sayang ini lebih dari seorang sahabat?

Entah kapan aku mendapatkan jawaban

Atas semua ini…

Atau mungkin tak kan ada jawaban?

Hanya waktu yang dapat menjawabnya

(Fatimah)