Sabtu, 15 September sebanyak 48 calon anggota Wartadinus mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) yang diselenggarakan di gedung H Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Tujuan dari pelaksanaan acara adalah agar dapat mengetahui SDM calon anggota secara langsung, sehingga akan dapat memberikan pertimbangan untuk seleksi selanjutnya.
” Semoga anggota Wartadinus dapat mempertanggungjawabkan karyanya, serta kami dapat memilih bibit-bibit yang berkualitas agar nantinya dapat melahirkan banyak prestasi, ” Ungkap Gusti Bintang Kusumaningrum selaku Pimpinan Umum Wartadinus.

Acara tersebut merupakan seleksi tahap 1 sebagai salah satu syarat menjadi anggota Wartadinus. Acara seleksi diawali dengan proses pengenalan Pimpinan Umum Wartadinus sampai dengan pengenalan dari masing-masing anggota kelompok yang telah dibentuk. Tidak hanya itu, calon anggota Wartadinus juga mendapatkan pembekalan materi seperti penulisan, reporter, fotografi, desain dan video jurnalistik sebelum mereka menjalankan tugas yang akan diberikan.

Pada tahap seleksi, calon anggota Wartadinus ditugaskan untuk membuat berita berdasarkan informasi dari beberapa narasumber yang telah disiapkan. Penugasan dilakukan secara berkelompok sesuai dengan kelompok yang telah dibagi pada saat Technical Meeting (TM) sebelumnya. Penugasan setiap kelompok sudah dibagi rata sesuai divisi yang ada, seperti reporter atau penulis, fotografi, desain dan video jurnalistik.

Hasil dari penugasan video jurnalistik akan dikirim melalui instagram, sedangkan hasil penugasan lainnya akan dikirim ke email Sie Pendaftaran. Untuk tugas yang belum dapat diselesaikan pada saat ini, maka akan diberikan deadline batas waktu sampai tanggal 16 September pukul 12.00 WIB.

” Untuk saat ini dalam penugasan kelompok cukup mengalami kesusahan dalam pembuatan video karena ini merupakan tugas pertama kali yang diberikan dengan waktu yang singkat,” Ungkap Azzahra Salsabilah selaku calon anggota Wartadinus Divisi Penulis atau Reporter.

Penulis : Alamanda Yuka Prasetyani
Editor    : Haris Rizky Amanullah

Selasa (04/09) Konservasi Udinus Peduli merupakan satu dari serangkaian kegiatan Dinus Inside yang telah menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Udinus.
Kegiatan penanaman mangrove yang diikuti oleh delegasi dari masing-masing Unit Kegiartan Mahasiswa (UKM), mahasiswa baru delegasi dari fakultas, beberapa dosen dan mahasiswa exchange ini bertujuan untuk dapat membantu masyarakat sekitar kelurahan Mangunharjo dalam mencegah abrasi.
Rombongan Konservasi Dinus Peduli meninggalkan area kampus pada pukul 07.00 WIB untuk menuju lokasi penanaman mangrove. Membutuhkan waktu 20 menit dari kelurahan Mangunharjo untuk menuju lokasi penanaman pohon mangrove.


Penanaman mangrove di mulai dengan pembukaan oleh Jaka Prasetya, M.Kes, selaku dosen Udinus dilanjut dengan bimbingan dari Sururi selaku tokoh pelestari lingkungan dan dibantu oleh rekan-rekan beliau. Berdasarkan keterangan Sururi, telah ada 4 petak area penanaman mangrove dan telah tertanam 4000 pohon mangrove dari Udinus. Sebelumnya wilayah tersebut merupakan sungai lepas, mangrove di sini ditanam sejak tahun 1996. Hutan mangrove yang dikelola Sururi tidak hanya dimanfaatkan sebagai pencegahan rob, namun ia juga mengoptimalkan pemanfaatan hutan mangrove tersebut dengan membuat produk-produk seperti batik mangrove, dodol, dll.
Sesampainya peserta di sana, Sururi mengajarkan bagaimana cara menanam mangrove. Sururi juga menegaskan jika setelah 3 bulan mangrove yg telah ditanam harus di lihat kembali untuk mengganti bibit yg tidak bisa tumbuh. “ kami hanya menyediakan 100 mangrove untuk menyulam. Menyulam itu maksudnya adalah guna mengganti bibit yang telah mati, karena faktor iklim cuaca yang tidak bisa kami kendalikan.” pungkasnya.
Seluruh peserta mengikuti seluruh susunan acara dengan antusias. “Senang ya, bisa berbagi untuk membantu mengurangi bencana juga” tutur salah satu peserta Konservasi Udinus Peduli.

Reporter : Aniqotun Nadhifah

Editor : Khilma Kumala

Fotografer : Haris Rizky

Tim II KKN UNDIP Desa Kajar lakukan pelatihan pembuatan pupuk dari sampah rumah tangga pada warga sekitar. Takakura menjadi metode yang digunakan dalam pelatihan tersebut, metode pengolahan sampah organik yang dipelopori oleh Koji Takakura.
Pada bulan Juli-Agustus 2018, Tim II KKN UNDIP diterjunkan ke berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Salah satunya adalah di Desa Kajar, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. KKN dilakukan untuk melatih mahasiswa UNDIP menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan dan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa UNDIP pada masyarakat. Dalam KKN tersebut, mahasiswa UNDIP diwajibkan membuat berbagai program untuk membantu desa. Salah satu program multidisiplin yang juga merupakan program unggulan dari Tim II KKN UNDIP Desa Kajar adalah program berjudul “Kabar Panik – Kajar Berkreasi dengan Sampah Organik”. Program tersebut berupa program pelatihan pembuatan pupuk dari sampah rumah tangga. Pemilihan program multidisiplin tersebut didasari oleh permasalahan sampah rumah tangga yang belum bisa ditangani oleh warga Desa Kajar. Maka dari itu, Tim II KKN Undip Desa Kajar mencoba untuk memberikan solusi bagi warga Desa Kajar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu dengan melatih warga membuat pupuk dengan metode Takakura.

Takakura merupakan metode pengolahan sampah organik yang dipelopori oleh Koji Takakura, peneliti asal Jepang yang banyak melakukan pelatihan di surabaya. Sejak 2004, metode tersebut mulai dikenal oleh masyarakat luas. Metode Takakura mengandalkan fermentasi untuk mengurai. Sampah yang dihasilkan dari metode ini tidak mengeluarkan bau tengik karena penguraiannya menggunakan mikroba. Metode Takakura mudah diterapkan dan bahan yang dibutuhkan juga mudah diperoleh. Pertama, keranjang atau wadah yang berlubang atau memiliki pori-pori. Keranjang yang berlubang ini berguna untuk menjaga sirkulasi udara pada kompos. Kedua, bantalan dari jaring plastik atau kain yang diisi sabut kelapa, sekam, atau kain perca. Ketiga, kardus pelapis untuk mengatur kelembapan kompos dan menjaga agar kompos tidak keluar dari keranjang. Keempat, pengaduk, yang bisa dibuat dari pipa, kayu, atau besi. Terakhir, biang kompos yang berupa kompos setengah jadi yang mengandung mikroba.
Metode Takakura dimulai dengan memasukkan biang kompos ke keranjang dengan tinggi 5 cm diatas permukaan bantalan alas. Selanjutnya, masukkan bahan-bahan kompos diatasnya. Bahan kompos ini terdiri dari sampah yang mengandung karbon (sampah coklat) sebagai sumber energi, misalnya daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, sekam padi, kertas, kulit jagung kering, jerami dan tangkai sayur serta sampah yang mengandung mikroba dan nitrogen (sampah hijau), misalnya sayuran, buah-buahan, potongan rumput segar, sampah dapur, bubuk teh atau kopi, kulit telur, pupuk kandang dan kulit buah. Proses pematangan akan berlangsung selama 7-10 hari. Sebelum sampah baru dimasukkan, kompos yang lama diaduk terlebih dahulu untuk menjaga oksigen di bagian bawah. Setelah melewati proses tersebut, kompos harus diayak menggunakan ayakan kawat berukuran 0,5 cm. Kompos halus dapat digunakan sebagai pupuk, sedangkan kompos kasar dikembalikan ke dalam keranjang untuk digunakan sebagai biang kompos.

Pelatihan pembuatan pupuk dengan metode Takakura yang dilaksakan pada tanggal 28 Juli 2018 dan bertempat di Balai Desa Kajar. Acara tersebut disambut dengan hangat oleh para peserta, yaitu Ibu-ibu PKK Desa Kajar. Hal ini terlihat dari antusiasme warga dalam bertanya dan melihat secara langsung proses pembuatannya. Pelatihan pembuatan kompos dengan metode Takakura tersebut mudah untuk dilakukan oleh warga Desa Kajar karena peralatan dan bahan-bahannya sederhana dan mudah didapat. Namun, pada prakteknya diperlukan ketekunan oleh warga untuk terus melanjutkan pengomposan dengan metode ini. Melalui pelatihan pada warga Desa Kajar mengenai metode Takakura ini, diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan potensi desa, mengurangi sampah dan pencemaran lingkungan.

Editor : Haris Rizky Amanullah

 

lampu kuning temaram
lampu kuning temaram

Le Malentendu

 (oleh: Muhammad Abdul Malik)

 

Lampu diatasnya menyala kuning temaram. Sinarnya tidak terlalu terpancar dan menarik perhatian. Warnanya terkesan membuai kehangatan. Ahh, rintikan hujan tadi memang membuat tubuh kedinginan.

“Hei, minumlah…” Ella dikejutkan oleh sosok disampingnya dan terbuyar dalam lamunan. “Kalau sudah dingin, tak enak nanti”

Ella menyeruput kopi panasnya itu. Ia sedikit menahan panas. Ketika bibirnya hampir menyentuh pinggiran cangkir, Ia sengaja melihat Emanuel dari balik cangkir. Didepannya adalah orang yang selalu ada. Selalu. Jika Ia berada diposisi atas. Bahkan jatuh terjun berada diposisi bawah sekalipun, seperti sekarang ini.

“Aku masih tidak percaya” ucap Ella memulai percakapan. Bibir merahnya sedikit basah.

“Kau harus kuat. Ella!

“Eman….” sapaan akrab Emanuel. “tapi aku..” pantulan cahaya lampu diatas tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Telaga dipelupuk matanya hampir penuh. “aku tidak mampu”

“Ayolah, Ella. Mari kita selesaikan masalah bersama. Aku tahu ini ini bukan kesalahan. Ini kemalangan.” Mata Eman menatap Ella dalam-dalam. “Bukankah itu sebuah kerikil. Ya ampun, hanya kerikil. Kita bisa menghempaskannya dengan ujung jari kaki kita. Namun kita juga harus hati-hati agar kerikil itu tidak melukai. Benar-benar harus hati-hati menjelaskan itu semua kepada orang-orang.” Eman berusaha untuk menguatkanya.

Jika masalah diibaratkan sebuah isi harta karun, dan cara penyelesaiannya diibaratkan secarik kain sutera yang menutupi harta karun itu, maka Komunikasi adalah seperti menghempaskan secarik kain sutera itu untuk mengambil isi harta karun. Komunikasi memang benar-benar dapat menyesaikan agar masalah tak berlarut-larut. Lalu mengendap. Hingga basi kemudian memadat.

“Bagaimana mereka kalau tidak percaya.” ucap Ella sembari mengulur tisu disamping kopinya, Ia mengusap matanya sebelum air telaga dipelupuk matanya jatuh. “Aku tidak tahu mengapa orang-orang berpikiran jauh seperti itu.”

“Saya memang bodoh! Seharusnya saya menahan diri untuk tidak masuk ke kamar kosmu dipagi hari yang sepi. Dan sialnya, kali itu saya hanya memakai kolor.” Sesal Eman sambil mengepal tangannya kuat-kuat. “Tapi kala itu kita tidak melakukan apa-apa kan Ella? Dan mereka semua itu malentendu(1)

Ella mengangguk perlahan.

Cahaya lampu rem yang menyala terang ketika hampir sampai lampu merah, bunyi cicitan rem, dan lalu-lalang orang-orang, juga papan iklan yang menampilkan produk pasaran, tidak menarik perhatian Ella dan Eman sama sekali. Disudut ruangan kedai kopi itu, mereka tenggelam dalam percakapan.

Ella melihat tangannya seperti tangan milik orang lain “Kau tidak boleh seperti ini. Tidak ada kesalahan yang kau perbuat. Mereka semua terlalu mencampuri urusan orang. Jangan sedih!

***

Ella dan Emanuel adalah remaja lawan jenis yang mempunyai ketertarikan satu sama lain. Cinta mereka tumbuh seperti ungkapan jawa: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Sebuah ungkapan dalam bahasa jawa bahwa “Cinta tumbuh karena terbiasa” – terbiasa bertemu dan bersama-sama. Mereka memang satu kampus, satu fakultas, satu program studi dan tak jarang satu kelas. Karena mereka anak rantau, untuk bertempat tinggal mereka menyewa kos. Bukan, mereka bukan satu kos. Eman kos didaerah selatan kampus. Sedangkan kos Ella berada diutara kampus. Sedikit jauh. Namun mereka masih bisa bertandang ke kos satu sama lain.

Kamis pagi kala itu, Eman sedang bertandang ke kos Ella untuk menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan sesegera mungkin.

“Aku akan menuju kosmu sekarang Ella.” Tulis Eman dipesan singkatnya. Sebelum Ia memutar tuas gas motornya, Ia memencet tombol send.

Eman tidak tahu apakah Ella menyanggupi untuk menerima Eman ditempat kosnya. Eman terlalu terburu-buru.

“Eman aku mohon jangan sekarang.” Balasan pada pesan singkatnya tadi ketika Ia sampai didepan kos Ella.

“kepalang tanggung! Aku sudah sampai didepan kosmu, Ella.”

“Ella, Selamat Pagi… buka pintunya segera, sayang!”

Keadaan kos pagi hari ini memang sepi. Sepatu-sepatu yang ditempatkan dirak dekat tempat sampah tak ada. Sandal lusuh terlihat terbengkalai dilantai. Nampak juga kursi tua yang teronggok dan sapu lusuh yang tersender ditembok motif bata balok.

Bunyi pintu terdengar ketika gagang pintu terpelintir kekanan.

“Kau tidak baca balasanku. Ya ampun…” Ella berusaha memberitahu Eman bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bertandang, namun Eman nampakknya tahu dan segera memotong;

“Ini karena tugas Ella.”

Mungkin Ella bisa beralasan jika Ia belum mandi dan belum siap diri. Bagaimanapun, Ia ingin sempurna didepan kekasihnya. Jika memang Eman cukup peka melihat ketidaksiapan seseorang, alasan Ella memang logis dan benar, bahwa wajahnya telihat kusut, bibirnya belum tergores lipstik, bubuhan bedak tipis belum tersebar, dan rambutnya sedikit awul-awulan.

“Bolehkah aku masuk?”

Kursi tua yang teronggok dan warna kreamnya telah lusuh, seperti melarang Ella; “please… jangan duduki aku. (dengan tatapan mata sayu)” dan ketika Ella melempar pandangan kelantai warna abu-abu “Jangan duduki. Aku kotor. Kau tidak pernah mengepel punggungku.

“Masuk saja.”

***

 Nyonya Rein setiap minggu sore selalu melihat hasil pantauan selama satu minggu  dari CCTV yang Ia pasang dipojok atas genteng kosnya. CCTV-nya Ia warnai coklat, jadi tidak telihat. Nyonya Rhein nampaknya pribadi yang was-was, Ia tak mau penghuni kosnya meninggalkan usaha barunya ini, mengingat pekan lalu telah terjadi tragedi seorang mahasiswa kehilangan laptopnya. “Biar aman.” Alasannya ketika tiap kali orang-orang bertanya mengapa ia memasang CCTV dikosnya.

Namun ketika Ia melihat video pada Kamis pagi. Ia tercengang. Dalam video itu terlihat sosok pria tinggi, warna kulitnya kecoklatan, hidungnya mancung, dan hanya memakai kolor. Pria itu memasuki salah satu kamar kosnya. Diambang pintu, Nyonya Rhein bisa melihat bahwa –dan Ia belum percaya, bahwa Ella menyambut pria itu dan membiarkannya masuk. Pikiran Nyonya Rhein melesat jauh menduga-duga apa yang dilakukan Ella dan Pria itu didalam kamar kosnya.

Adegan itu kemudian tersebar ke penghuni kos lain. Tatapan mata dan tindak-tanduk penghuni kos lain terhadap Ella sekarang berubah. Ella cukup pintar untuk menyimpulkan bahwa Ia sedang direndahkan dan diremehkan. Ia tidak tahu mengapa. Namun ketika nyonya Rhein berkunjung untuk melihat keadaan kosnya, Ia basa-basi menyapa Ella.

“Kemana pria itu, Ella?

Seketika Ella tersadar bahwa Ia merasa direndahkan dan diremehkan karena masuknya Pria itu kekamar kosnya. Bahwa semuanya telah salah paham. Ini harus segera dibicarakan. Segera. Sebelum Salah Paham menggerogoti kebenaran.

 

 

Malentendu(1) (baca: malongtondzuu) adalah bahasa perancis yang jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti  Salah Paham. Jika didepan kata malentendu terdapat kata Le ( Le Malentendu) mempunyai arti Kesalahpahaman.

Bersama Dewan Pers, Televisi Lokal Bahas Siaran Berkualitas

Mendekati penghujung bulan agustus 2016, Hotel Aston Semarang menjadi tuan rumah pelaksanaan workshop “Jurnalistik berkualitas di Televisi Lokal” bersama Dewan Pers. Di mulai pukul 09.00 WIB, acara ini dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai televisi swasta daerah di Jawa Tengah salah satunya Televisi Kampus Udinus (TVKU). Mendapatkan kesempatan yang berharga ini tentu para peserta mendapatkan berbagai materi yang apik dan dapat diaplikasikan ke institusi masing-masing.

Sepetik Harapan dari Yuda

Screenshot_2016-05-15-12-39-21_1

Seorang anak yang bernama Yuda Saputra menderita tuna rungu dan tuna wicara. Dia berasal dari Gunung Pati, berkeliling Semarang dengan menawarkan jasa pijat dan kerok badan demi membiayai sekolah adik dan membantu ibunya. Dengan kekurangan fisik yang ia miliki, ia terus berusaha demi adik dan ibunya.

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Belajar Impian, yang biasa disebut RUBI oleh masyarakat di Desa Tenggang, Kecamatan Gayamsari, Semarang merupakan tempat belajar bagi anak-anak sekitar desa dari SD hingga SMP. Awal berdirinya RUBI ini adalah inisiatif dari salah seorang pemuda desa tersebut. Komunitas yang dinamai Sahabat Tenggang Semarang inilah yang menjadi pemrakarsa berdirinya RUBI. Komunitas yang resmi berdiri sejak tahun 2013 ini dulunya hanya beranggotakan sekitar 8 orang relawan dari beberapa universitas di Semarang.

Tempat belajar yang berada digang sempit perkampungan inilah yang menjadi tempat belajar bagi mereka, anak-anak korban rob yang memiliki semangat luar biasa untuk terus belajar. Sekarang fungsi RUBI memang sebagai rumah belajar, dan tempat belajar tambahan bagi anak-anak sekitar. Buku-buku yang tertata rapih disana begitu memasuki ruangan depan rumah tersebut merupakan buku yang berasal dari berbagai komunitas sosial dan beberapa adalah buku yang para relawan berikan dari dana pribadi.

Dengan semboyan “Siap Hebat!” inilah yang menjadi pemacu semangat belajar anak-anak. Setiap hari mereka belajar mulai dari pukul 16.00 sampai 18.00 WIB. Meski waktu sangat terbatas tapi semangat belajar mereka tetap terlihat. Walaupun ada beberapa anak yang berlari-larian dan suasana juga cukup ramai dengan suara teriakan mereka, para pengajar tetap dengan sabar memberikan pelajaran hingga sekedar mendongengkan mereka. Tidak hanya itu, yang menjadi prioritas adalah memberikan pedidikan karakter bagi mereka.

Mulai dari pelajaran kelas satu SD hingga SMP diberikan disini. Sistem mengajar juga mungkin cukup membingungkan, yaitu satu atau dua orang pengajar dibagi untuk mengajar satu bahkan hingga dua tingkatan kelas sekaligus. Untuk kelas satu hingga empat SD berada di lantai bawah dan sisanya berada di lantai atas. Tidak mudah memang mengajar anak-anak seusia mereka dengan pengajar yang masih sangat muda. Terlebih dengan adanya toko kecil dirumah belajar itu, anak-anak sering bolak-balik membeli makanan ringan untuk camilan mereka saat belajar.

Keceriaan dan semangat anak-anak Desa Tenggang haruslah tetap seperti itu bahkan harus terus bertambah. Dengan langkah kecil yang tentunya tidak mudah inilah, yang pastinya menjadi segelintir harapan untuk terus memajukan pendidikan anak bangsa.

Sadarkan Diri, Selamatkan Bumi

Sadarkan Diri, Selamatkan Bumi   RAWA PENING – sebuah danau yang memiliki luas lebih dari 2.600 hektare ini menempati 4 wilayah kecamatan yaitu  AmbarawaBawenTuntang, dan Banyubiru. Terletak di cekungan terendah lereng Gunung MerbabuGunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran menjadikan danau ini salah satu obyek wisata yang cocok untuk dikunjungi dengan udara yang masih sejuk dan pemandangan yang akan memuaskan mata.

Tetapi sungguh disayangkan, danau dengan semua mitos dan keindahan yang menyelimutinya ini tak akan lagi sama dengan penuturan-penuturan cerita dahulunya. Rawa pening yang harusnya berarti danau yang bening kini tidak lagi sebening namanya, disetiap sudut danau akan terlihat eceng gondok yang telah menyerupai pulau-pulau buatan di tengah danau. Akibat yang ditimbulkan oleh eceng gondok tersebut adalah jumlah ikan yang semakin menurun setiap tahunnya dan juga pendangkalan danau yang dulunya 20 meter sekarang hanya tinggal sekitar 7 meter.

Sungai-sungai yang berhulu pada rawa pening banyak dimanfaatkan oleh warga untuk aktivitas sehari-hari, sehingga limbah yang dihasilkanpun akan berakhir di dasar rawa pening. Hal itu turut menyumbang semakin buruknya rawa pening. Sungguh disayangkan, danau yang harusnya dimanfaatkan sebagai obyek wisata serta tempat mata pencaharian sebagian penduduk berada, kini memiliki keadaan yang memprihatinkan dengan semua perubahan yang terjadi padanya.

Memang telah dilakukan beberapa pembenahan dari pemerintah untuk masalah pendangkalan dan eceng gondok. Namun apakah kesadaran hanya harus hadir dari uluran kasih pemerintah? Apakah harus menunggu rawa pening menjadi daratan terlebih dahulu untuk menumbuhkan kesadaran kita betapa alam sangat berharga?

 

Reporter:Is adatur

Uluran Tangan Pahlawan Intelektual

Uluran Tangan Pahlawan Intelektual4″Sistem pendidikan kurang berarti jika hanya mengajarkan anak muda bagaimana mencari nafkah tetapi tidak mengajarkan mereka bagaimana membuat kehidupan.”

-Anonim-

Pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Ketika pendidikan di sebuah negara secara kualitas dapat dikatakan dengan baik, bsa dipastikan jika itu adalah Negara berkembang tidak lama lagi akan mengganti predikatnya menjadi negara maju. Namun, dibalik kualitas pendidikan yang nomor wahid terdapat faktor yang memperngaruhinya, yakni pemerataan pendidikan. Lebih dari setengah abad negeri ini bebas dari jajahan kolonial, tapi selama itu pula anka-anak di pelosok desa tidak memperoleh haknya untuk mendapat pendidikan yang layak. Selama ini indahnya bangku sekolah hanya bisa dinikmati oleh mereka yang hidup di perkotaan.

Melihat kesenjangan itulah, seorang mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (UNSUD) Purwokerto bernama Wildan tergugah hatinya untuk membuat komunitas bersama rekan-rekan sejawat bernama Bhinneka Ceria (Bhincer). Sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat para pahlawan intelektual yang berjuang untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan terutama di bidang pendidikan. Jalan yang mereka pilih memang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang hobinya unjuk rasa ataupun hanya diskusi tanpa solusi, akan tetapi mereka lebih memilih untuk melihat realita di lapangan dan melakukan aksi nyata.

Sebuah desa di ujung Kabupaten Kendal yang bernama Medono, Kec. Boja menjadi desa binaan Bhincer wilayah Semarang yang pertama. Letak geografis yang berbatasan dengan Semarang tidak menjamin anak-anak di Medono memperoleh pendidikan yang layak. Lebih dari enam bulan terhitung dari bulan Maret, Rosi, Ojan, dan beberapa aktivis yang tergabung dalam Bhincer Semarang melakukan kegiatan sosial di kawasan itu. Tujuannya tak lain adalah dalam rangka pemberdayaan masyarakat Medono.

Pendidikan menjadi sorotan utama, karena dari pengamatan Bhincer masyarakat setempat cenderung memandang sebelah mata arti pentingnya pendidikan. Jenjang pendidikan yang tinggi dianggap tidak menjadi solusi terhadap tingkat kesejahteraan hidup. Oleh sebab itu, bekerjasama dengan masyarakat setempat para aktivis yang meyoritas berasal dari UNNES, UNDIP, dan UDINUS ini setiap minggu meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbagi ilmu dengan anak-anak desa Medono. Pendidikan anak-anak merupakan tahap awal setelah bakti sosial sebelum mencapai tujuan utama yakni pemberdayaan masyarakat desa. Metode yang diterapkan dalam mendidik anak anak juga dirancang sedemikian rupa agar mereka tidak merasa jenuh dan tertekan. Memang, sistematika pengajarannya tidak seperti di sekolah formal pada umumnya yakni dengan menekankan pada permainan-permainan edukatif. “Di sini kitapun juga main-main, tapi dapat sesuatu yang barulah buat anak-anak,” tegas Ojan, mahasiswa Ekonomi Semester 5 UNNES.

Perjuangan Bhincer Semarang untuk menanamkan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Medono tidaklah mudah. Selama tiga bulan mereka mendidik anak-anak desa setempat, masih saja ada beberapa orang tua yang meremehkan kegiatan sosial dari Bhincer. Akan tetapi, hal itu masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tentunya tidak menjadi batu sandungan bagi Bhincer Semarang untuk terus mengabdi bagi masyarakat Medono.

Melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dirancang oleh Bhineka Ceria Semarang, masyarakat setempat terlebih pemuda diharap lebih responsif terhadap kegiatan sosial yang dilakukan oleh Bhincer. Sehingga tujuan tercapainya masyarakat desa yang madani tidak terlalu sulit.

 

Reporter : Kholid Khazmi