DKV Udinus Gelar Pameran Manunggaling, Ingatkan Guyub Bersama

SEMARANG (11/03) – Jurusan Desain Komunikasi Visual adakan pameran perdananya di galeri gedung H Universitas Dian Nuswantoro. Pameran ini ditujukan untuk mengenalkan karya-karya mahasiswa angkatan 2018 yang notabene masih tergolong mahasiswa baru.

Ada 35 karya dari 85 karya. Karya yang lolos langsung di seleksi oleh Dosen DKV Udinus. Karya yang dipamerkan diantaranya poster, fotografi, kolase, ilustrasi, typography, dan kolase.

Mengusung konsep guyub bersama, pameran dengan tema Manunggaling “Kayuh Serentak Langkah Sepijak” ini menampilkan karya yang kental akan gotong royongnya. Karya yang ditampilkan sengaja dibuat agar sesuai dengan tema mereka.

“Kita mengangkat isu dari anak muda zaman sekarang, banyak yang sudah tidak peka dengan lingkungan masing-masing. Kita ingin menghilangkan krisis etika tersebut, kita ingin mengingatkan kembali indahnya guyub bersama, bekerja sama. Setiap tugas berat jika di lakukan bersama akan sangat mudah” Ujar Azriel Fala Ananta selaku ketua pelaksana pameran angkatan DKV 2018.

Pameran yang akan dilaksanakan selama 3 hari kedepan, telah menyedot banyak pengunjung di awal pembukaanya. Salah satunya adalah Prasetyawan Mahasiswa D3 Teknik Informasi, ia mengatakan bahwa karya yang ditampilkan sudah menarik mata pengunjung, terutama kolase yang dinilainya sangat lah unik.

“Semakin semangat untuk mengembangkan karya-karya yang ditampilkan, dan dekorasi dapat ditambahkan agar semakin menarik minat pengunjung” Tutupnya.

Reporter : Shabrina Edelweiss

Fotografer : Imam Shodiqin

Gerbang masuk BUNKASAI 2019

Event tahunan Bunkasai Udinus yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Udinus diadakan pada tanggal 23-24 Februari 2019 dengan tema “Seinshun No Sekai” yang bertempat di Gd. G Universitas Dian Nuswantoro.

Kemeriahan event ini sangat luar biasa sesuai dengan temanya yaitu “Seinshun No Sekai” yang berarti Dunia Anak Muda. Dengan bintang tamu spesial yaitu Didik Nini Thowok seorang penari Indonesia yang sudah Go Internasional dan bintang tamu “Hydra” yang membuat semakin menarik. Event tersebut dibuka untuk umum dengan biaya tiket Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah). Memasuki area event disungguhkan dengan suasana bunga sakura bagai di Jepang sangat cocok sebagai spot foto yang menarik.     

Terdapat juga berbagai jenis perlombaan yang dapat diikuti salah satunya lomba menyanyi, menari, menggambar manga dan lain-lain. Dari pihak sponsor (Nissin) juga mengadakan perlombaan yang tak kalah seru yaitu lomba makan mie yang dapat di ikuti oleh pengunjung. Selain perlombaan tersebut terdapat juga berbagai macam stand food khas Jepang seperti Takoyaki, Okonomiyaki. Tidak ketinggalan berbagai macam souvenir ala jepang yang dijual untuk cendera mata pengunjung.

Rangkaian acara sangat rapi dan tertata, pihak penyelenggara mengadakan berbagai macam pertunjukan yang menambahkan nuansa ala Jepang yang menarik salah satu nya acara pembukaan minum teh bersama yang di sebut “Chanoyu”. Penampilan bintang tamu dilakukan saat sore menjelang malam hari, diawali dengan penampilan “Hydra” yang apik dan ditutup oleh seorang bintang tamu spesial yaitu Didik Nini Thowok yang menampilkan tarian legendaris nya yaitu Dwimuka Japindo (Dua Muka Jepang Indonesia). Tarian ini sebagai perpaduan antara Jepang dan Indonesia dimana menggunakan dua topeng dengan wajah yang berbeda, topeng yang digunnakan salah satunya disebut dengan okame dan wajah orang Indonesia bernuansa Bali. Konnsep tarian ini menandakan persahabat dua negara.

Salah satu aksi Didik Nini Thowok
fotografer : Hanif Wahyu Cahyaningtyas

Event ini sangat sukses dilaksanakan, penampilan Didik Nini Thowok berhasil membius para penonton hingga kagum. Harapan dari setiap pengunjung menginginkan tahun depan dapat lebih meriah dan menampilkan bintang tamu spesial yang lebih memukau. Kesuksesan ini tidak lepas dari peran mahasiswa, rektor dan pihak sponsor yang mendukung.

Penulis : Hanif Wahyu Cahyaningtyas

Editor : Haris Rizky Amanullah

Hari terakhir Dinus Inside ditutup dengan acara malam inagurasi yang dimeriahkan oleh penampilan dari beberapa unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di kampus.
Tidak hanya itu, Wakil Rektor IV Bidang Riset dan Kerjasama Dr. Pulung Nurtantio Andono, St, M.Kom. kembali berpartisipasi dalam kemeriahan acara dengan menampilkan keahlian bermain gitarnya. Pada kesempatan kali ini, Muhammad Devirzha atau yang lebih dikenal dengan nama Virzha Idol diundang sebagai guest star untuk menghibur mahasiswa baru, Rabu (5/9) kemarin.

Penampilan Virzha jebolan dari ajang idol tersebut sangat disambut baik oleh para mahasiswa baru, hal tersebut terlihat jelas saat sang idol mulai menyanyikan beberapa lagu dari Dewa 19 dan lagu hitznya seperti Aku Lelakimu dan Sirna.
Lagu Semua Kata Rindumu milik Dewa 19 menjadi lagu penutup dan sebagai tanda berakhirnya acara malam inagurasi di Udinus.

“Walau sempat di guyur hujan, nggak ngurangi semangat maba gitu, mereka tetep stay di depan panggung nggak nyari tempat teduhan, walau diawal sempat kecewa kenapa guest startnya Virzha, tapi setelah kita lihat langsung kita bener-bener terhibur,” Ujar Mayumi selaku mahasiswi baru Fakultas Ilmu Komputer.

Mahasiswi asal Batam tersebut mengatakan, dengan adanya selingan pentas seni dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) menjadikan semua maba dapat mengetahui apa saja kegiatan yang di lakukan sebelum mereka mendaftarkan diri pada UKM.

Penulis      : Alamanda Yuka P. dan Shabrina Edelweiss
Fotografer : Hanifatul Hashinah H.

FOTOGRAFI !! TAPI SENI ATAU JURNALISTIK ??

Oleh : Airin Ayu

Fotografi adalah salah satu hobby yang banyak diminati oleh sejumlah orang di Indonesia maupun di Dunia. Bahkan ada yang semula hanya memulainya dengan hobby semata kemudian berangsur menjadi sebuah profesi. Tidak lain dan tidak bukan contohnya adalah Reza Yulianto dan Harviyan Perdana. Kedua pemuda lulusan Universitas Dian Nuswantoro ini telah memulai kariernya didua bidang yang berbeda namun satu keahlian yaitu Fotografer.

Seni Graffiti atau Vandalisme

1 (11)

Wajah kota semarang memang tak asing lagi dengan berbagai gambar dan coret coretan yang menghisasi bangunan kota. Mulai dari dinding, gerbang, ataupun bangunan tua. Ada pula berbagai gambar dan tulisan yang justru merusak fasilitas seperti rambu-rambu lalu lintas.

Budaya Jawa di Pinggiran Zaman

sastra-jawa   Dewasa ini, budaya  jawa sudah mulai terpuruk, terpinggirkan karena perkembangan zaman global yang kian gencar memasuki kebudayaan timur. Westernisasi merupakan kata yang lazim untuk menamai arus global yang mulai melunturkan budaya asli Indonesia. Padahal, tidak semua budaya barat yang ada sekarang ini memiliki nilai positif bagi bangsa Indonesia. Tidak sedikit pula budaya barat yang berdampak negatif dan hal inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa Indonesia.

Budaya Jawa merupakan budaya yang memiliki nilai filosofis yang dalam. Kita lihat saja contoh nyata dengan adanya bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa seperti : Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton, dan lain sebagainya. Adanya mereka tak lepas dari adanya nilai budaya yang terkandung di dalamnya dan nilai-nilai kejiwaan terhadap budaya Jawa.

Globalisasi telah membawa efek yang cukup signifikan bagi pola kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Banyak orang yang terjerat oleh budaya kebaratan. Lalu, apakah kita akan tetap membiarkan budaya barat menggerus budaya Jawa ? Apa usaha kita untuk tetap mempertahankan budaya Jawa di tengah himpitan globalisasi yang kian merenggut satu persatu kebudayaan ketimuran kita?

Media penyaluran bahasa Jawa pun mulai hilang sekarang. Benar-benar seperti tertelan oleh zaman. Para siswa di tingkat sekolah pun kini menganggap budaya Jawa merupakan pelajaran yang tidak penting. Bagi mereka budaya Jawa hanya pelajaran sampingan dan tidak perlu menyita banyak perhatian. Bahkan orang asli Jawa sekalipun lebih fasih melantunkan bahasa indonesia dan lebih hebatnya bahasa inggris, dibandingkan berbicara dengan bahasa Jawa. Apalagi bicara bahasa kromo yang menjadi bahasa utama rakyat Jawa dahulu. Soal aksara jawa? Jangan ditanya, dalam satu kelas hanya satu atau dua anak saja yang dapat mengetahuinya. Ironis memang !

Hal ini perlu menjadi cerminan bagi pemangku kepentingan budaya Jawa di dunia pendidikan. Mereka merupakan pilar penting untuk meluaskan kembali budaya Jawa kepada para pemuda agar budaya Jawa dapat tetap bertahan melawan arus globalisasi.

Sekarang, apakah kita akan membiarkan westernisasi menggrogoti budaya Jawa kita? Apakah kita sudah mempertahankan budaya secara nyata? Apakah kita akan membiarkan kegagapan mengenai budaya jawa ini terus berlanjut? Jika ini terus berlanjut, hal ini merupakan sesuatu yang harus menjadi mawas diri bagi kita semua untuk tetap melestarikan budaya jawa di bumi pertiwi ini. Bukankah kita tidak ingin menjadi orang yang gagap akan budaya sendiri?

Reporter: Adelia Dini

gambar:www.google.com

Bertujuan untuk mengenalkan budaya lokal Jawa Tengah, Pemprov Jateng gelar Kesenian Wayang Kulit dihalaman Kantor Gubernur Jawa Tengah Jl. Pahlawan Semarang.

Ganjar Pranowo selaku tamu kehormatan, mengakui jika dirinya senang dengan digelarnya acara tersebut. Dan Ganjar pun unjuk kebolehan dengan menjadi pemeran wayang orang.

Bertempat di Halaman Kantor Gubernur Jateng, seluruh masyarakat Semarang dan sekitarnya antusias menyaksikan acara tersebut. 

Acara yang dihelat Malam Minggu ini, dimulai pukul 19.30 malam. Besar kemungkinan, acara ini selesai pada pukul 3 dinihari.

(Satrio)

Orart Oret: Berkeluarga lewat Seni

Orart Oret: Berkeluarga lewat Seni
Orart Oret: Berkeluarga lewat Seni

Langit cerah dan suasana pagi yang hangat menyambut kehadiran kami dan sekelompok orang-orang kreatif yang menamakan dirinya “Orart Oret”. Udara segar yang tak biasa ada di kota besar layaknya Semarang memberi energi positif sendiri bagi kami sebelum melakukan aktifitas seni di sekitar Jl. Garuda, area kota lama Semarang.

Hari menjelang siang, matahari pun semakin memancarkan kehangatan. Menjadikan suasana antar seniman dan penikmatnya semakin hangat. Perlahan mereka mulai menyiapkan properti yang menjadi sahabat ketika hendak menuangkan imajinasi dalam sebuah karya seni. Ada yang berkutat dengan peralatan gambar seperti pensil, kanvas, dan cat. Adapula yang sibuk dengan lensa kameranya. Ada juga yang mempersiapkan properti guna mendukung aksi drama yang akan disuguhkan. Ya,  seniman yang hadir memang tidak hanya di bidang lukis. Hal itu sesuai dengan konsep didirikannya Orart Oret yang disebut “Guyub Art” yakni  menghadirkan suasana akrab antar komunitas seni yang bertujuan supaya diantara mereka bisa saling mengenal. Di sisi lain, meskipun idealisme seni mereka berbeda-beda, namun rasa respect antar anggota tetap terjaga.

Tak terasa hari sudah mulai siang, obrolan kami dengan sang penggagas Orart Oret yakni Dadang Pribadi juga semakin intensif. Pria berkacamata ini dengan santai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Berbicara mengenai keuntungan, sebenarnya komunitas yang didirikannya bukanlah untuk komersil dalam arti menjual karya-karya para seniman. Akan tetapi, Dadang lebih menekankan pada keuntungan secara emosional, dalam arti mereka dapat saling mengapresiasi  karya seniman lain maupun kegiatan seni yang diadakan oleh komunitas lain.

Satu demi satu hasil lukisan yang berbuah dari kretifitas seniman mulai diperlihatkan. Memanfaatkan beberapa kayu untuk dijadikan tempat pajangan, para penikmat seni yang hadirpun merasa terpukau dengan hasil karya mereka. Saat diamati lebih jelas, ada yang berbeda dengan lukisan-lukisan pada umumnya, yang menonjol adalah media yang digunakan. Mereka memanfaatkan beberapa barang bekas seperti pita kaset. Adapula yang menyulap batu yang notabene merupakan benda mati  seolah-olah menjadi bernyawa dengan membuat pola seperti wajah pada batu tersebut. Rutinitas Orart Oret yang setiap dua minggu sekali “ngelapak” memang tak menyulitkan seniman-seniman ini untuk mendapatkan barang-barang bekas dan saling berbagi ide.

Dadang, dengan ciri khasnya yakni menguncir rambut ke belakang juga tak ragu menyampaikan apa yang belum dicapainya dengan komunitas yang telah didirikannya sejak 26 September 2010 lalu, yakni membuat sebuah kegiatan yang bertajuk “art gaming” secara rutin. Di mana melalui kegiatan itu teman-teman seniman dapat saling tukar pengalaman, terlebih dapat mempererat keakraban antar komunitas.

Di akhir pembicaraan, Dadang juga tak lupa memberikan “wejangan” terhadap para pemuda, terutama mahasiswa untuk tetap berkarya, meskipun karya yang dihasilkan belum bisa dikatakan baik. “Tetap berkarya walaupun belum bagus, mengapresiasi karya orang lain. Yang sudah bagus tidak perlu sombong, yang belum bagus tidak perlu minder.” Pungkas Dadang Pribadi.