Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali?

Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan?

Kembalilah Bujang, kembali ke Kampungmu, disana

Kampung yang dulu kau elok elokan padaku

Tengoklah ayah dan ibumu sanak famili yang selalu menanti

Hai Bujang

Ayah ibumu pasti sudah lama menanti

Atau bahkan mereka sudah lelah menantimu pulang Bujang

Bujang

Sudah cukup ilmu yang kau cari, apalagi yang kau tunggu bujang?

Atau haruskah ayah ibumu ke liang lahat dulu baru kau akan pulang?

Wahai Bujang

Jangan jadi sepertiku

Sebatang kara tanpa seorang pun peduli

Hidup terlunta lunta tanpa sanak famili

Bahkan jika aku mati

Tak akan ada yang menghampiri

Wahai Bujang

Pulanglah Bujang, pulang

-elmeida(04/12/2018)

*terinspirasi dari novel Pulang karya Tere Liye

Jatuh Cinta

>Hey, siapa cinta pertamamu?

<Emm.. siapa ya

>Pasti si dia ya?

<……

Satu pertanyaan yang pastinya pernah dilontarkan oleh segelintir orang yang notabenenya sangat senang sekali mengingat masa lalu.

Tapi kalau boleh aku berkata, mengapa cinta pertama selalu dikaitkan dengan sesama manusia, kenapa tidak batu, air,tanah,api, atau bahkan laptop, handphone?

Mengapa harus manusia?

Sejenak aku memikirkan ini kala hujan turun beberapa jam yang lalu, memboyong semerbak wangi tanah yang tiada banding.

Kalau aku boleh mengganti subjek cinta pertamaku, aku mungkin akan lebih memilih jatuh cinta pada air susu ibuku. Karena selama 6 bulan pertamaku hidup di bumi aku tak bisa hidup tanpanya dan tentu saja aku selalu merengek jika tak kunjung bertemu dengan air susu ibuku.

Mungkin agak aneh jika memberi predikat pada benda atau apapun selain manusia sebagai cinta pertamanya. Tapi, menurutku jatuh cinta untuk pertama kalinya bukan hanya pada manusia karena kita bisa saja kan jatuh cinta pada bau kopi arabica racikan kedai kopi ternama saat pertama mencoba, ataupun jatuh cinta pada buku fiksi yang memiliki alur cerita menarik sampai-sampai membuat pembacanya masuk ke dalam dunia dongeng yang ditulis.

Jadi, jatuh cinta bukan hanya perasaan suka pada sesama manusia, tapi juga kesenangan saat melihat, merasakan, mendengar, menghirup, dan meraba segala apapun itu pada pertama kalinya. Dan ada semacam gejolak untuk terus terusan mengingat dan mengingat hingga akhirnya terbayang bayang dan berkelanjutan selalu ingin melihat, mendengar,menghirup serta merasakannya terus-terusan.

Penulis : Mila Elmeida

Menciummu

Bunga di pagi hari itu sangatlah indah.

Rasanya…

Ingin sekali mencium semerbak harumnya hingga masuk ke dalam dada.

Lalu kupejamkan mata sembari menikmati suara alam ini.

Terlintas dipikiranku. Aku pernah merasakan kenikmatan dan kenyamanan ini.

Iya, aku pernah merasakan ini semua. Tapi kapan?

Kupejamkan mata ini lebih dalam lagi. Aku paksa pikiran ini untuk mengingatnya, dan terlintas sosok perempuan yang selalu menyayangi, menjaga dan merawat.

Terlintas cahaya putih yang selalu ia berikan hingga kini masih putih dan sangat suci.

Alunan nada-nada itupun masih diberikan dan mengiringi hingga saat ini.

Jika terjadi sesuatu, sosok itu menjadi barisan terdepan untuk melindungi.

Tak peduli bahaya yang ia dapatkan nanti. Meskipun ia harus merasakan kesakitan.

Perhatian yang selalu diberikan oleh sosok itu terus diberikan. Ia ingin perjuangan yang ia berikan itu berubah manis, ia tak ingin melihat kesedihan.

Aku tarik nafas ini lebih panjang dan kurasakan semua itu …

Oh Tuhan terimkasih Kau telah memberikanku sosok ibu yang baik, penuh perhatian denganku dan tak pernah lelah untuk berjuang demi aku. Selalu memberikan yang terbaik dan tak ingin melihat aku bersedih. Terimakasih Tuhan… aku mungkin tak tahu perjuangan yang telah dilewatinya. Rasanya aku ingin mengganti perjuangan itu dengan melihat raut wajah kebahagiaan.

“Bu… anakmu ini sudah tumbuh besar. Sebesar kebahagiaan yang nanti kuberikan untukmu bu. Terimakasih engkau telah merawatku sedari kecil hingga sekarang. Mungkin semua itu belum bisa aku balas. Perhatian yang tanpa lelah engkau berikan padaku. Selalu memberikan semangat disetiap hariku. Disaat sedang sedih, bimbang, putus harapan. Engkau selalu datang menyinariku tanpa aku menceritakan semuanya padamu. Mungkin dari raut wajahku dan tingkah lakuku, padahal aku selalu mencoba menutupi agar engkau tak pikiran. Maaf ya bu anakmu ini terkadang masih membuatmu marah dan kawatir. Aku janji aku bakal menghapus itu semua bu…”

Angin datang menerpa tubuh ini.. disaat memori itu kembali.

Ibu… aku ingin menciummu…

Penulis : Ummi Nur Aini Daneswari

Prasastiku

Aku Mencintaimu

Sungguh

Namun arah mata angin kita sungguh berbeda

Memang benar kau yang meruntuhkan dinding kokohku

Melumatkan batu dalam pikiranku

Juga memberi sejuk dalam malamku

Tapi hei…

Kita sungguh sangat berbeda

Aku memang benar mencintaimu

Tapi jendela ini benar-benar sulit untuk dibuka

Seberapa keras aku mencoba

Sungguh…

Aku sangat mencintaimu

Namun kau ada dalam ketiadaan

Dan luka ini akan terinfeksi bila terus terpapar

Tapi benar memang

Aku sudah cukup bahagia

Kenangan ini terpatri dalam hidupku

Dengan kau ada didalamnya

Mencintai dan dicintai

Walau akhirnya tak dapat memiliki

Penulis : Mila Elmeida

Cinta Tak Terbalas…

CINTA TAK TERBALAS

Kuduga…
Lab Kimia adalah tempat yang pantas untuk bisa mengalihkan perhatian,
Menetralkan hatiku dari unsur ras suka yang mencapai titik jenuh tertinggi,

Kau Pergi

Meninggalkan sejumput rasa asing yang sulit kubaca

Menyisakan tanya “apa maksudmu?”

Kini kau telah pergi

Hingga tak lagi punya daya tuk menjawab tanyaku,

Bahkan tuk sekedar mendengarnya

Jadilah aku masih setia berdiri disini

Dan terus bertanya “apa maksudmu?”

Kan ku titipkan tanyaku

pada Tuhan yang menghendaki kepergianmu

Namun tolong titipkan jua jawabmu

pada Tuhan yang kan menguatkanku.

(Fina)