Can I Call U, Love? – #5 Pamit

Pagi itu aku malas sekali keluar kamar. Aku masih ngantuk, setelah Shubuh aku belum lelap lagi. Ditambah kabar kelas pagi ku kosong yang tiba-tiba muncul di notifikasi, senang. Akhirnya aku bisa tidur lagi. Ah, ternyata hanya bisa ditambah sekitar 45menit, sial. Hanya rebahan di atas kasur, mendengarkan lagu-lagu Ed Sheeran.
Tiba-tiba saja aku ingat, ada satu tugas siang ini yang belum aku kerjakan. Tapi si malas belum mau jauh-jauh sampai tiga jam sebelum kelas. Dengan jurus seribu bayangan, jemariku mulai gemulai menari diatas keyboard laptop, otakku yang sedari tadi hanya untuk bermalas-malasan, kini sudah bekerja dengan baik sehingga apa saja tiba-tiba muncul.

Setengah jam sebelum kelas dimulai. Si hujan datang, sekitar 20 menitan, tidak mau mereda. Menahanku untuk tetap di kos, dan tidak masuk kelas. Pikirku, aku akan alfa saja hari ini. Tapi pupus. Sudah tiga minggu, kelas mata kuliah ini kosong. Hari ini berarti akan ada absensi tiga kali. Jadi, kuputuskan menunggu reda. Terlambat sampai setengah jam. Tapi tak apa, saat reda, saatnya melaju cepat.

Ketika menaiki tangga ke lantai dua, tiba-tiba badanku melemas. Aku baru ingat, belum sarapan pagi tadi. Padahal ini sudah jam satu lebih. Pikirku, ah, nanti juga jam dua sudah selesai kelasnya, biasanya juga begitu. Tapi, ah, kesal. Materi minggu kemarin dirangkap di pertemuan hari ini. Terpaksa harus mundur sarapan sampai jam tiga nanti.

Akhirnya, belum sampai pukul tiga, kelas usai juga. Aku langsung berlari menuju food court. Aku mana tahu kalau ternyata dia rapat ditempat yang sama. Sedang duduk bersama teman-temannya. Kami saling tahu keberadaan kami. Aku biasa saja. Kurasa, dia masih punya teman, akupun sama. Dunianya masing-masing. Tidak harus setiap hari bersama ‘kan?

Saat aku sedang makan, tiba-tiba, ia dari kejauhan sudah tampak bangkit dari bangkunya. Sedang berdiskusi dengan teman-temannya, berdiri di samping mejanya. Kemudian melihatku, tak sengaja, akupun sedang melihat kearahnya.

“Aku pulang ‘ya :)”, katanya berbisik malu dibalik punggung temannya.

“Iya :)”, jawabku membalas sambil mengangguk.

Saat itu kamu tahu tidak? Jantungku berdebar lagi. Memang tidak sekencang saat pertama kali kuceritakan padamu. Tapi hampir, hampir sama kedengarannya. Sama-sama aku sendiri mendengarnya.

Tapi sekali lagi, aku biasa saja, dan aku pikir dalam hati,

“Aku tidak posesif. Pergilah, aku tidak harus tau semua tentangmu, kamu dimana, dan sedang apa, bahkan dengan siapa. Kita masih punya dunia kita masing-masing. Sebelum atau sesudah ada kamu, aku akan tetap sama saja. Jadi, aku yang sebelum dan sesudah ada kamu, masih sama, tanpa perubahan”, gumamku dalam hati ketika melihat senyumnya yang tersembunyi dan secara malu-malu. Aku melanjutkan makanku, dan dia pulang.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #4 Cerita Kehujanan

Bersyukur aku sudah di kos, tapi tak tahu tentangnya. Kurasa ia kehujanan, mungkin sedang berteduh di ruko-ruko pinggir jalan dengan orang-orang yang tak dikenal, kedinginan.

Aku menelponnya, memastikan ia akan baik-baik saja.

“Sudah sampai di rumah?”, tanyaku mengkhawatirkannya.

“Belum, ini lagi neduh di pinggir jalan”, jawabnya sedikit teriak, karena hujan sangat lebat.

“Are you okay?”, balasku.

I’m okay, aku cuma takut petir, makanya aku neduh dulu. Jangan khawatir, aku laki-laki, bisa jaga diriku. Yang penting kamu gak kehujanan” , dia memberiku ruang untuk tenang.

“Aku yang akan menemaniu ke Poliklinik kalau kamu sampai sakit”, jawabku, karena hujan tidak kunjung mereda, meski sudah dua jam mengguyur kota sore ini.

Pukul delapan malam, ia akhirnya tiba di rumah namun dengan keadaan basah kuyup meski sudah memakai jas hujan. Sopir-sopir mobil malam itu tidak tahu diri melaju dengan kencang tepat disampingnya hingga wajahnya yang sudah lelahpun tersiram genangan air pinggir jalan.

“Aku sudah di rumah, kamu sudah tidur?”, ia mengabariku.

“Belum, aku menunggu pesanmu, aku khawatir. Mandi, air hujan kan gak baik buat kesehatan…”

“Iya, aku mandi dulu”, katanya, lalu memutus teleponnya.

Entah pada akhirnya ia mandi atau tidak karena mungkin airnya terlalu dingin. Tapi malamnya, ia menemaniku untuk lembur mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proposal yang belum berujung, masih revisi terus menerus.

Hingga pukul dua pagi, aku masih sibuk mengerjakan. Sambil mendengarkan ia menyanyikan lagu-lagu dari Coldplay dengan gitarnya. Meski suaranya terdengar sedikit fals, aku maklumi, ia bukan penyanyi. Sesekali aku ikut menyanyikan lagu-lagu yang dinyanyikannya, sebagai tanda bahwa aku masih terbangun dan mengerjakan tugas-tugasku.

Pukul tiga pagi, ia tiba-tiba berhenti menyanyi dan menyuruhku untuk tidur karena benar-benar sudah pagi.

“Tidur, sudah pagi, nanti atau besok lagi dikerjainnya. Aku temenin deh”, ia menyuruhku untuk menyudai pekerjaanku pagi itu.

“iya udah aku tidur, kamu juga tidur. Besok ‘kan kuliah pagi, terus lanjut rapat ‘katanya”, jawabku sembari mengingatkannya jika ia besok ada rapat dengan organisasinya.

“Siap bos. Selamat tidur pagi, jangan lupa sholat Shubuh, hehe”, katanya dengan suara yang terdengar sudah ngantuk. Aku memutuskan teleponnya.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #3 Sebelum Hujan Turun

Seusai kelas, sore itu kami berdua masih tertinggal dengan beberapa mahasiswa lainnya. Ia menghampiriku dan mengajakku untuk makan siang, karena sebelum kelas ini, kami berdua belum sempat untuk makan siang.

“Makan yuk, aku yang traktir. Ada warung baru di belakang kampus”, ajaknya.

“Hmmm boleh kalo ditraktir mah ayok”, jawabku dengan sedikit bercanda.

“Kalau nggak aku traktir kamu mau aku ajak makan siang bareng ga?”, tanyanya balik.

“Mau, kalau ada duit hahaha”, aku memang masih menutupi keseriusanku.

Ia mengambil motor di parkiran, kemudian aku naik di motornya.

“Sudah?”, tanyanya.

“Sudah”, kataku.

“Kalau sudah, turun dong”, dia bercanda.

“Turun beneran nih”, kataku.

“Hahahaha, aku bercanda, ayo lah, dah laper bingitz nih”.

Di warung belakang kampus yang baru dibuka kemarin lusa itu, masih cukup sepi. Banyak meja kosong dan tampak masih baru sekali. Warung itu adalah sebuah warung masakan Jepang kesukaanku, kurasa ia tidak tahu, kalau saja ia tahu, sepertinya ia sudah mencari tahu lebih dulu soal ini.

“Aku bisa tebak, kamu akan pesan paket Irito ini, yang ada katsunya”, katanya.

“Kok kamu tahu? Gak jadi pesen itu ah, wlee”, jawabku sambil melet ke dia.

“Lah kenapa? Itu kesukaanmu ‘kan? Aku udah ramal itu kali”, ia heran.

“Kamu apaan sih, iya deh iya, aku pesen itu, Mas, Irito 1 ya”, jawabku sembari mengatakan pesananku ke pelayannya.

Entahlah darimana ia tahu kalau aku suka katsu, selama ini aku belum pernah makan dengannya di warung masakan Jepang. Diam-diam aku bertanya pada diriku sendiri, “apa ia selalu mengamati insta story ku, atau ia diam-diam bertanya teman dekatku”. Ah, terlalu jauh kurasa pemikiranku. Tapi tetap saja aneh, dan aku masih penasaran, bagaimana ia tahu hal sekecil itu.

Setelah makan, ia mengajakku untuk ke Swalayan sebentar, ia disuruh ibunya membeli sabun dan bumbu dapur, katanya. Ketika keluar dari Swalayan, tak terasa, hari sudah kian petang, ditambah gelapnya mendung yang menutupi kota Semarang sore ini. Aku sudah tampak kebingungan, apakah aku bisa pulang tanpa harus basah karena hujan atau malah sebaliknya.

“Aku anterin kamu pulang sekarang aja ya, mendung, aku kasihan sama kamu, nanti kamu sakit, kan anak kos gak ada yang ngerawat kalau nanti sakit, kecuali aku sih”, katanya. Kedengarannya bercanda, namun jika dicerna, kalimatnya mengajak serius.

“Ya, kalau kamu tega aku sakit ya nggakpapa sih… Kamu? Ngerawat aku? Hahahaha pantes tiba-tiba mendung gelap banget”, candaku.

“Aku serius, kalau kamu sakit, nanti aku yang ngerawat, eh enggak deh. Aku cuma anter kamu ke Poliklinik, terus aku suruh minum aja obatnya”, jawabnya dengan bercanda lagi.

“Sudah, ayo naik, aku anterin kamu pulang sekarang, aku gak mau anter kamu ke Poliklinik soalnya. Aku berubah pikiran”, katanya menambahi.

Dijalan menuju kos, angin sudah kencang menembus kulit meski sudah terbalut jaket.

“Kalau dingin, tanganmu masukin aja ke saku jaketku, jaketku ‘kan lebih tebal dari jaketmu”, katanya sambil teriak karena jalanan ramai dan berisik kendaraan yang ingin cepat sampai di rumah, terus menerus membunyikan klaksonnya atau berkali-kali menginjak gasnya sambil di blayer.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #2 Tatapan Canggung

Setelah kencan pertama kita berhasil, kupikir kita akan baik-baik saja bersikap. Namun yang terjadi pada akhirnya tiba-tiba muncullah perasaan canggung yang seketika menghentikan tatapanku yang sengaja kuperlihatkan seperti tidak sengaja, aku pura-pura.
Siang itu kita duduk dibangku kelas secara berjauhan. Dia lebih memilih duduk didepan, tidak sepertiku, memilih kursi belakang supaya tidak terlihat dosen jika aku sedang mengantuk. Ketika dosen meminta kami berubah posisi duduk bersama dengan teman tugas kelompok. Maka posisiku beralih kedepan.
Secara refleks temanku dibelakang sedang bertanya pada dosen, kemudian aku menoleh kearahnya. Sengaja ku meliriknya. Namun yang terjadi adalah ketika dua orang saling bertatap mata dengan tak sengaja disitulah rasa canggung semakin memberontak.
Tak ada percakapan setelahnya. Hanya tepisan muka kita bersama yang kita tunjukkan bersama. Untuk berusaha mengatakan lewat batin “aku tidak melihatmu, mungkin kau saja yang GR”.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #1 Kencan Pertama

Maksudku kencan pertama dengan laki-laki saat kuliah. Boleh kusebut itu kamu? Laki-laki yang pertama kali mengajakku kencan.
Pagi itu aku bangun kesiangan, kemudian dipenuhi drama mencari baju yang lucu untuk kencan pertama kita. Aku menaruh harapan besar supaya tidak ada yang menggagalkan kencan kita, bukan karena aku berharap lebih untuk denganmu.
“Aku dah selesai”, pesanku setelah keluar kelas yang hanya terhalang beberapa dinding-dinding kelas saja denganmu. Untuk selanjutnya aku menunggu lebih dari setengah jam pada akhirnya. Satu persatu temanmu mulai berlarian meninggalkan kelasmu, tapi aku belum melihatmu. Setelahnya, kamu muncul dan berdiri didepanku. Jantungku berdebar lebih dari saat aku berlari. Aku takut kamu dengar detak jantungku.
“Lama nunggu? Ayo turun dulu”, ucapnya saat kami masih di lantai 4. Lalu turun bersama pula. Menuruni escalator berdecit, mungkin ia lelah, tapi tak ada yang memperdulikan.
Aku meninggalkannya menuju food court, tak lama, ia menyusul, kemudian menaruh buku dan jaketnya sembari berlalu ke dapur food court. Selanjutnya kami duduk satu meja bersama teman-teman lainnya. Aku masih sibuk dengan proposalku. Ia sibuk makan.
Hingga bulan menyinari bumi seutuhnya, kami masih duduk dibangku food court yang sama. Ada banyak obrolan hingga akhirnya ia menyuruhku untuk pulang. “Sudah malam, pulang”, katanya. “Tapi proposalku belum selesai” sanggahku. “Lanjutkan di rumah atau besok lagi”, nadanya sedikit memaksa. Ada banyak pula cerita yang tak mungkin kubagikan semua. Akan kusimpan sendiri. Aku takut nanti ia membaca, kemudian ia akan tau ketika jantungku berdebar saat ia berdiri didepanku, kemudian cerita ini akan tamat. Jangan, jangan sekarang. Aku masih ingin merasakan jantungku berdebar kencang lagi saat bertemu dengannya. Mungkin kau pikir ini cukup untukku saja, kalian yang membaca ini pasti menganggap ini sampah. Tapi aku menganggapnya ini mewah. Kencan pertamaku bersamanya berhasil.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

lampu kuning temaram
lampu kuning temaram

Le Malentendu

 (oleh: Muhammad Abdul Malik)

 

Lampu diatasnya menyala kuning temaram. Sinarnya tidak terlalu terpancar dan menarik perhatian. Warnanya terkesan membuai kehangatan. Ahh, rintikan hujan tadi memang membuat tubuh kedinginan.

“Hei, minumlah…” Ella dikejutkan oleh sosok disampingnya dan terbuyar dalam lamunan. “Kalau sudah dingin, tak enak nanti”

Ella menyeruput kopi panasnya itu. Ia sedikit menahan panas. Ketika bibirnya hampir menyentuh pinggiran cangkir, Ia sengaja melihat Emanuel dari balik cangkir. Didepannya adalah orang yang selalu ada. Selalu. Jika Ia berada diposisi atas. Bahkan jatuh terjun berada diposisi bawah sekalipun, seperti sekarang ini.

“Aku masih tidak percaya” ucap Ella memulai percakapan. Bibir merahnya sedikit basah.

“Kau harus kuat. Ella!

“Eman….” sapaan akrab Emanuel. “tapi aku..” pantulan cahaya lampu diatas tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Telaga dipelupuk matanya hampir penuh. “aku tidak mampu”

“Ayolah, Ella. Mari kita selesaikan masalah bersama. Aku tahu ini ini bukan kesalahan. Ini kemalangan.” Mata Eman menatap Ella dalam-dalam. “Bukankah itu sebuah kerikil. Ya ampun, hanya kerikil. Kita bisa menghempaskannya dengan ujung jari kaki kita. Namun kita juga harus hati-hati agar kerikil itu tidak melukai. Benar-benar harus hati-hati menjelaskan itu semua kepada orang-orang.” Eman berusaha untuk menguatkanya.

Jika masalah diibaratkan sebuah isi harta karun, dan cara penyelesaiannya diibaratkan secarik kain sutera yang menutupi harta karun itu, maka Komunikasi adalah seperti menghempaskan secarik kain sutera itu untuk mengambil isi harta karun. Komunikasi memang benar-benar dapat menyesaikan agar masalah tak berlarut-larut. Lalu mengendap. Hingga basi kemudian memadat.

“Bagaimana mereka kalau tidak percaya.” ucap Ella sembari mengulur tisu disamping kopinya, Ia mengusap matanya sebelum air telaga dipelupuk matanya jatuh. “Aku tidak tahu mengapa orang-orang berpikiran jauh seperti itu.”

“Saya memang bodoh! Seharusnya saya menahan diri untuk tidak masuk ke kamar kosmu dipagi hari yang sepi. Dan sialnya, kali itu saya hanya memakai kolor.” Sesal Eman sambil mengepal tangannya kuat-kuat. “Tapi kala itu kita tidak melakukan apa-apa kan Ella? Dan mereka semua itu malentendu(1)

Ella mengangguk perlahan.

Cahaya lampu rem yang menyala terang ketika hampir sampai lampu merah, bunyi cicitan rem, dan lalu-lalang orang-orang, juga papan iklan yang menampilkan produk pasaran, tidak menarik perhatian Ella dan Eman sama sekali. Disudut ruangan kedai kopi itu, mereka tenggelam dalam percakapan.

Ella melihat tangannya seperti tangan milik orang lain “Kau tidak boleh seperti ini. Tidak ada kesalahan yang kau perbuat. Mereka semua terlalu mencampuri urusan orang. Jangan sedih!

***

Ella dan Emanuel adalah remaja lawan jenis yang mempunyai ketertarikan satu sama lain. Cinta mereka tumbuh seperti ungkapan jawa: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Sebuah ungkapan dalam bahasa jawa bahwa “Cinta tumbuh karena terbiasa” – terbiasa bertemu dan bersama-sama. Mereka memang satu kampus, satu fakultas, satu program studi dan tak jarang satu kelas. Karena mereka anak rantau, untuk bertempat tinggal mereka menyewa kos. Bukan, mereka bukan satu kos. Eman kos didaerah selatan kampus. Sedangkan kos Ella berada diutara kampus. Sedikit jauh. Namun mereka masih bisa bertandang ke kos satu sama lain.

Kamis pagi kala itu, Eman sedang bertandang ke kos Ella untuk menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan sesegera mungkin.

“Aku akan menuju kosmu sekarang Ella.” Tulis Eman dipesan singkatnya. Sebelum Ia memutar tuas gas motornya, Ia memencet tombol send.

Eman tidak tahu apakah Ella menyanggupi untuk menerima Eman ditempat kosnya. Eman terlalu terburu-buru.

“Eman aku mohon jangan sekarang.” Balasan pada pesan singkatnya tadi ketika Ia sampai didepan kos Ella.

“kepalang tanggung! Aku sudah sampai didepan kosmu, Ella.”

“Ella, Selamat Pagi… buka pintunya segera, sayang!”

Keadaan kos pagi hari ini memang sepi. Sepatu-sepatu yang ditempatkan dirak dekat tempat sampah tak ada. Sandal lusuh terlihat terbengkalai dilantai. Nampak juga kursi tua yang teronggok dan sapu lusuh yang tersender ditembok motif bata balok.

Bunyi pintu terdengar ketika gagang pintu terpelintir kekanan.

“Kau tidak baca balasanku. Ya ampun…” Ella berusaha memberitahu Eman bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bertandang, namun Eman nampakknya tahu dan segera memotong;

“Ini karena tugas Ella.”

Mungkin Ella bisa beralasan jika Ia belum mandi dan belum siap diri. Bagaimanapun, Ia ingin sempurna didepan kekasihnya. Jika memang Eman cukup peka melihat ketidaksiapan seseorang, alasan Ella memang logis dan benar, bahwa wajahnya telihat kusut, bibirnya belum tergores lipstik, bubuhan bedak tipis belum tersebar, dan rambutnya sedikit awul-awulan.

“Bolehkah aku masuk?”

Kursi tua yang teronggok dan warna kreamnya telah lusuh, seperti melarang Ella; “please… jangan duduki aku. (dengan tatapan mata sayu)” dan ketika Ella melempar pandangan kelantai warna abu-abu “Jangan duduki. Aku kotor. Kau tidak pernah mengepel punggungku.

“Masuk saja.”

***

 Nyonya Rein setiap minggu sore selalu melihat hasil pantauan selama satu minggu  dari CCTV yang Ia pasang dipojok atas genteng kosnya. CCTV-nya Ia warnai coklat, jadi tidak telihat. Nyonya Rhein nampaknya pribadi yang was-was, Ia tak mau penghuni kosnya meninggalkan usaha barunya ini, mengingat pekan lalu telah terjadi tragedi seorang mahasiswa kehilangan laptopnya. “Biar aman.” Alasannya ketika tiap kali orang-orang bertanya mengapa ia memasang CCTV dikosnya.

Namun ketika Ia melihat video pada Kamis pagi. Ia tercengang. Dalam video itu terlihat sosok pria tinggi, warna kulitnya kecoklatan, hidungnya mancung, dan hanya memakai kolor. Pria itu memasuki salah satu kamar kosnya. Diambang pintu, Nyonya Rhein bisa melihat bahwa –dan Ia belum percaya, bahwa Ella menyambut pria itu dan membiarkannya masuk. Pikiran Nyonya Rhein melesat jauh menduga-duga apa yang dilakukan Ella dan Pria itu didalam kamar kosnya.

Adegan itu kemudian tersebar ke penghuni kos lain. Tatapan mata dan tindak-tanduk penghuni kos lain terhadap Ella sekarang berubah. Ella cukup pintar untuk menyimpulkan bahwa Ia sedang direndahkan dan diremehkan. Ia tidak tahu mengapa. Namun ketika nyonya Rhein berkunjung untuk melihat keadaan kosnya, Ia basa-basi menyapa Ella.

“Kemana pria itu, Ella?

Seketika Ella tersadar bahwa Ia merasa direndahkan dan diremehkan karena masuknya Pria itu kekamar kosnya. Bahwa semuanya telah salah paham. Ini harus segera dibicarakan. Segera. Sebelum Salah Paham menggerogoti kebenaran.

 

 

Malentendu(1) (baca: malongtondzuu) adalah bahasa perancis yang jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti  Salah Paham. Jika didepan kata malentendu terdapat kata Le ( Le Malentendu) mempunyai arti Kesalahpahaman.

Penampakan diUujung Malam

Penampakan di Ujung Malam

(oleh: Muhamad Abdul Malik)

 

Pada suatu malam, Cleo beserta teman-temannya menikmati malam. Mereka mengobrol, memperbincangkan sesuatu. Suara klakson kendaraan dan deru sedan terdengar jelas dari sini, Kedai Kopi.

Penampakan Diujung Malam
Penampakan Diujung Malam

“Begitu menarik kawan” kata Cleo.

Kota Lama Menuju Warisan Dunia

Oleh : Radite Rafi

Seperti yang kita lihat di kota semarang ini terus mengalami perkembangan, mulai dari sektor pembangunan, ekonomi, perindustrian, hingga sumber daya manusia di dalamnya. Namun ada sesuatu hal yang terlewatkan dari kota semarang ini, yaitu Kota Lama.

Kota lama merupakan sebuah komplek yang berisi bangunan-bunganan kuno peninggalan masa kolonial. Seiring jaman berganti Kota Lama hanya tinggal kenangan bahkan yang ada hanyalah cerita-cerita mistis yang membuat buku kuduk berdiri dan terkesan menyeramkan bila melewati komplek Kota Lama. Namun sekarang cerita-cerita tersebut sudah tiada lagi.

Tiwah Untuk Bapak

sumber foto : katawarta.com

Tiwah untuk Bapak
   oleh : Revita Tri Sulastri

     Di sore hari, padang rumput di kaki bukit desa Pandau, Radiyo duduk diam, termenung menunggu matahari tenggelam. Sesekali ia usap butiran-butiran air yang jatuh dari matanya. Membasahi pipi lagi relung hatinya semenjak beberapa minggu terakhir ini. Ditegakkannya badannya yang kurus kering dan hitam itu. Pakaiannya yang kotor kontras dengan hijaunya padang rumput. Pundaknya telah lelah memikul batu dari hari ke hari, tapi hatinya lebih lelah lagi. Ia meratap dalam diam bagai perihnya luka disayat parang.

“ Kemona lagi ulun mencari duit?[1]” ujarnya di sela-sela isak tangis sore itu.

Duderan, Tradisi Khas Kota Semarang Dalam Menyambut Puasa

Duderan, Tradisi Khas Kota Semarang Dalam Menyambut Puasa

pict by khazanah.republika.co.id
pict by khazanah.republika.co.id

Dugderan, tradisi khas Kota Semarang dalam menyambut puasa yang diramaikan dengan arak-arakan dugderan khas budaya Kota Semarang, Warak Ngendog. Ribuan peserta akan mengikuti arak-arakan dilakukan mulai dari Balai Kota menuju Masjid Agung Semarang (MAS) kemudian menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).