Brownies Untuk Raka (Part I)

Revita Arifin

 

“ Waa gimana nih? Brownies nya gosong! “ pekik Nandia sambil mengeluarkan brownies yang sudah menghitam. Ibunya hanya geleng-geleng kepala.
“ Ini udah kelima kali kamu bikin brownies, Nan. Tapi, gosong terus! Gimana, sih? Makanya jadi cewek itu rajinan didapur dikit.”, omel Mama. Nandia tetap keukeuh untuk membuat brownies lagi. Sebenarnya, brownies ini untuk orang yang spesial baginya. Tapi, dia tidak berani ngasih tahu Mama.
“ Mama, nih. Harusnya doain anaknya dong.”, sungut Nandia.
“ Dari tadi mama mau bantuin. Tapi, kamunya gak mau. Sebenarnya, buat siapa, sih, browniesnya?”
“ Buat temen. Si Vania.”, bohong Nandia menyebut nama sahabat karibnya. Padahal sih buat cowok yang sedang dekat dengannya.
Setelah beberapa jam membuat brownies, akhirnya brownies keenam buatan Nandia selesai juga. Saking senangnya, dia memotong kue brownies dengan cetakan berbentuk hati dan menaruh cream serta buah ceri diatasnya.
“ Ah, akhirnya, kelar juga bikin brownies.”, seru Nandia. Dia mengeluarkan telepon dari kantongnya. Diketiknya nama Vania disana.
Tuuuuuuttt.. tuuuuuutt
“ Halo.” Jawab suara diujung sana.
“ Van, aku jemput kamu sekarang. Temenin aku kesekolah, ya?”
“ Buat apa?”
“ Browniesnya, Van. Buat diaa.. Cepet siap-siap sana.”, kata Nandia sambil segera menutup teleponnya. Dengan langkah ceria, dia masukkan brownies berbentuk hati itu kedalam kotak makan warna pink yang sudah dihiasi berbagai hiasan kue cantik.
****

Nandia sibuk mengutak-atik handphonenya. Wajahnya terlihat gelisah. Berbeda 180 derajat dari wajahnya dirumah. Sama halnya dengan Nandia, wajah Vania juga ditekuk berlipat-lipat. Menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
“ Mana, sih, orangnya? Kamu telpon, gih”, saran Vania. Dia melirik kearah Nandia . Kesal.
“ Handphonenya gak aktif. Gimana, nih. Aku sudah susah-susah bikinin Raka brownies. Masa harus gagal?”, Nandia merengek-rengek. Vania menatapnya heran.
Kesambet apa nih anak? Sampai sesayang itu sama si Raka, pikir Vania.
“Yaudah gimana kalau kita kerumahnya langsung. Rumahnya dekat sini, aja, kan?”, tanya Vania. Nandia tertegun. Selama ini dia tidak pernah pergi kerumah Raka. Sekalipun hanya mengantar buku yang dipinjamnya.
“ Apa? Apa? Tapi,.. gimana kalau gak dibukain pintu?”, Nandia mengeluh.

Vania mengeluarkan hapenya sendiri dan mengetik nomer Raka. “MASUK !!! Tersambung, Nan !“, teriak Vania mengagetkan Nandia. Nandia hanya tersenyum-senyum senang. Tapi, dibiarkannya Vania berbicara dengan Raka.

“Ayo, Nan. Kita kerumah Raka sekarang. Dia udah setuju, tuh.”, kata Vania setelah menutup pembicaraan ditelpon. Dengan langkah yang kembali ceria, Nandia berjalan ke arah parkiran motornya .
****
Namun , sesampainya didepan rumah Raka. Semua hal berbeda dengan yang diharapkan. Rumah Raka tertutup rapat. Kegelisahan kembali muncul diwajah Nandia. Menyadari itu, Vania mengambil handphonenya dan kembali menghubungi Raka.
Nandia tahu telepon itu tersambung, tapi dia tidak mau bertanya lebih jauh kepada Vania. Karena dilihatnya Vania merengut kesal setelah berbicara dengan Raka.
“ Kenapa, Van?”, tanya Nandia gelisah
“ Raka masih dirumah temennya. Dia suruh kita nunggu. Katanya, sih, kita kelamaan datang kerumahnya.”
“ Yaah, yaudah deh. Kita tunggu Raka.” jawab Nandia. Walaupun sedikit sedih, nandia tetap berharap Raka akan datang. Mencoba brownies pertama yang dibuatnya. Brownies yang dibuatnya dengan penuh cinta.
Satu jam, dua jam, Nandia dan Vania terus menunggu. Nandia terus menatap jalanan. Berharap Raka segera datang. Namun, entah apa yang terjadi, Raka tidak juga datang. Sedangkan Vania yang sudah mulai kesal mulai meminta untuk pulang.
“ Apa, sih, yang kamu tunggu? Mungkin si Raka bohong ! Buat apa, sih, kamu kesemsem sama cowok kayak gitu?”, Vania mulai ngomel. Dia sudah berkali-kali menelpon Raka, Tapi selalu di reject.
“Bentar ya Van,, tungguin bentar lagi.”, kesedihan mulai terlihat di wajahnya.

Beberapa menit Vania masih sabar menunggu. Sebenarnya ia sudah mulai muak dengan kisah cinta kedua anak SMA yang labil. Seperti kisah cinta Romeo dan Julie, bahkan lebih di dramatisir lagi.

Senja sudah mulai datang, beberapa masjid sudah mulai menujukan bahwa waktu magrib akan segera tiba. Kali ini Nandia yang mulai muak, setitik air menetes dari wajahnya. Vania yang melihat mulai panik.
“Pulang yuk,”, pinta Nandia sambil mengelap pipinya. Kotak brownies masih digrnggamnya kuat.
“Tapi browniesnya gimana? Kan kamu udah capek-capek bikin”, suara Vania terdengar gelisah.
“Bawa pulang aja, buang kalo perlu !”, nada suaranya sudah mulai meninggi, suaranya serak.
Vania mendekati sahabatnya, pelan-pelan ia memeluk sahabatnya, “Gimana kalo kita taruh di depan rumahnya?”, kali ini Vania mencoba menenangkan gadis di sampingnya.
”Terserah ! Aku gak mau tau lagi”

Mereka pulang dengan segenap rasa kecewa, sedih. Nandia, meneteskan air mata beberapa kali. Lain halnya dengan itu, ternyata Raka pulang dengan hati gembira sebelum akhirnya ia melihat kotak makanan didepan pintu rumahnya. Ia baru ingat, seharusnya ia pulang cepat untuk bertemu Nandia. Sekarang hanya brownies itu yang dia temukan.   Brownies yang manis,tapi meninggalkan rasa pahit tersendiri dihati Nandia. Raka tertegun, apa yang harus diperbuatnya?

Bersambung…………….

..

You Know Me So Well

84906111longdistance_crop“Eh, tugas kelompok kita udah selesai semua kan?” tanyaku kepada ketiga teman-temanku.

“Udah dong, Ra! Kita kan anak rajin.” jawab Crysti sembari tertawa.

“Yo’aa..” Fanya menimpali.

“Emangnya kenapa, Ra? Mau ngapel ke Jakarta lagi kamu?” Kinan bertanya padaku.

“Yo mesti to, yaa.. Kerjaanku tiap liburan semester kan ngapelin pacarku tersayang di Jakarta.” jawabku dengan suara sok pamer.

“Waaa.. Mentang-mentang punya pacar cah Jakarta, kerjaanne dolan neng Jakarta terus..” Fanya menyindirku.

“Fanya padune pengen kuwi. Hahaha..” sahut Crysti tertawa.

“Wo wo wo.. Sorry lho, sorry.. Disini ada bang Ryan yang setia menemaniku. Wek!” Fanya menjulurkan lidahnya dan tertawa.

“Uwes to, cah.. Kan wes do punya pacar sendiri-sendiri. Nggak usah ngrusuhi ngono lho.” ucap Kinan sok bijaksana.

            Aku tersenyum geli melihat Fanya dan Crysti adu suara kayak gitu. Abis lucu, sih. Fanya dan Crysti itu teman sebangku yang duduk di depanku.  Kerjaan mereka berdua kalo nggak nggosip, narsis, yaa.. berantem. Adaaa.. aja yang di ributin. Rebutan bolpen lah, tipe-x lah, bahkan sampai rebutan ngomong. Tapi walaupun mereka sering berantem, tapi aku nggak pernah tuh ngliat mereka jauh-jauhan atau marahan lama. Marahannya mereka paling lama cuma 5 menit. Abis itu damai. Dan abis itu berantem lagi. Marahan lagi.. Yaah.. gitu-gitu terus jalan hidup mereka di kelas.

            Sedangkan Kinan, dia itu teman sebangku ku sekaligus sahabat ku juga. Kan Fanya-Crysti itu sukanya berantem, kalo aku sama Kinan beda. Kita berdua cenderung lebih pendiem. Tapi.. kalo kita udah ngobrol berdua, kita yang sama-sama pendiem berubah drastis jadi sama-sama cerewet.

            Oo iya, kenalin, namaku Rizkiara Anneke, anak kelas X.3 di SmanSix. Aku itu orangnya biasa aja, simple, cuek and jutek, tapi kadang-kadang jail juga sih. Satu info yang wajib di ketahui, aku ngeFANS banget sama boyband Indonesia yang namanya SMASH. Alesannya, musik mereka itu easy listening, dance mereka keren, akting mereka juga joos! Di tambah lagi wajah para personelnya yang ca’em and chubby abis itu. Apalagi sama yang namanya Morgan Oey. Waah.. Aku tu ngefans setengah mampus sama kak Morgan. Bahkan aku udah jadi membernya SmashBlast and Morganous juga loh! [promosi sithik aah..] Hehehe.. :p

            Balik lagi ke profilku.. Di kelas ini aku punya 3 sahabat deket yang biasa main bareng sama aku, yaitu Kinanthi Putri, Crysti Indriyani, dan Zefanya Roskaningrum. Pertama, Kinan itu si tomboy jago basket yang ngefans banget sama boyband Korea, Super Junior [terutama bang Eunhyuk]. Kedua, Crysti itu cewek yang di takdirin cantik plus gahoel banget, yang di takdirin juga jadi cewek plengeh alias kagetan [bahasa gaulnya ‘latah’]. Sedangkan si imut Fanya, sebenarnya orangnya kayak aku, simple and nggak neko-neko. Tapi yang bikin beda, dia itu pikunan. Tadi kan aku udah cerita tentang mereka, jadi nggak perlu di bahas lagi, ya? Ini kan ceritaku, bukan cerita mereka. :p

            Sepulang sekolah, seperti biasa aku langsung pulang. Maklum, aku termasuk tipe cewek rumahan yang jarang keluar rumah. Begitu sampai rumah, aku langsung ke kamarku yang ada di lantai 2. Aku melemparkan tasku ke kasur dan langsung merebahkan badanku ke kasur juga. Selang beberapa menit, aku bangkit dan melepas jaket serta mengganti seragam sekolah yang masih ku kenakan dengan pakaian rumah. Setelah selesai berganti pakaian, aku duduk di kursi meja belajar dan menghidupkan laptopku. HP yang ku letakkan di sebelah laptop bergetar, tanda ada SMS masuk.

            drrt drrrrtt.. drrt drrrrtt.. [text message received from : kak Rowi Hydera]

udah pulang skolah belom , dek ? kok nggak ada laporan ? tumben .

            Oo iyaa.. Tadi aku belum cerita tentang pacarku yang tersayang, ya? [lebay_modeOn] Oke deeh, aku ceritain sekarang. Kayak yang di omongin Fanya tadi pagi, pacarku itu orang Jakarta, namanya Derowi Prasetya Winata. Tapi sejak dia pacaran sama aku, dia ngerubah namanya jadi Rowi Hydera Winata. Sedangkan Hydera itu nickname di FBku. Kalo aku di suruh nggambarin kayak apa kak Rowi, jawabanku pasti : kayak kak Morgan SMASH! Abisnya, kak Rowi itu tinggi, putih, manis, cool, pokoknya mirip kayak kak Morgan banget deh.. :p

            Aku bisa kenal kak Rowi lewat FB. Dia duluan yang nge-add FBku. Setelah ku confirm, dia nge-wall aku dan ngajak kenalan. Awalnya sih enggak mau  ku tanggepin, karna aku takut. Kan waktu itu lagi marak-maraknya penipuan di FB. Tapi biar nggak di cap cewek sombong, akhirnya aku nanggepin kak Rowi sampai akhirnya aku di ajak ketemuan. Kebetulan waktu itu dia lagi di rumah omanya, di daerah Ngaliyan. Setelah aku ketemu langsung sama kak Rowi, ternyata kak Rowi lebih cute aslinya daripada yang ada di foto. Sejak itulah, aku mulai ngerasain ‘love at the first sight’ sama kak Rowi. Dan ternyata, aku nggak bertepuk sebelah tangan. Desember 2009 aku jadian sama kak Rowi. Dan sampai sekarang, kita masih bertahan ngejalanin hubungan jarak jauh ini.

“Kamu udah belajar belum?” tanya kak Rowi dari sebrang sana.

“Udah dong, kak..” jawabku sembari memakan cemilan di depanku.

“Tumben jam segini udah selesei belajar. Emang besok mapelnya apaan?”

“Besok tu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sama bahasa Prancis.”

“Eh, hari pertama UKK serba bahasa semua gitu?” suara kak Rowi kedengaran kaget.

“He’em. Emangnya kenapa, kak? Kok kayaknya kaget gitu?” tanyaku sembari tertawa kecil.

“Nggak papa sih. Cuma aneh aja, kok bisa kebetulan serba bahasa gitu.”

“Hehe..” aku terkekeh.

“Yo dahlah. Inget, kamu harus belajar yang rajin lho! Biar bisa masuk jurusan IPA, kuliah di ITB, dan ngraih semua impian kamu.”

“Siiap, kaak..”

“Satu lagi pesen kakak,”

“Hah? Apaan, kak?” tanyaku penasaran.

“Kalo kamu udah nggak kuat belajar atau lagi nggak mood belajar, jangan di paksain lah. Ntar kalo kamu paksain, kamu kecapekan lagi.” suara kak Rowi kedengaran cemas di sebrang telfon.

Aku tersenyum dan berkata dengan semangat. “Santei, kak.. Kakak kayak nggak tau aku aja. Ntar kalo aku nggak mood belajar, ntar aku nelfon kakak deh. Minta di ajarin..”

“Wuu.. Maunya.” terdengar suara kak Rowi tertawa. “Ya udah ya, dek. Udah malem. Kamu bobok gih. Istirahat. Biar besok fit pas ngerjain UKKnya.” pesan kak Rowi.

“Iya, kak.. Setelah telfon ini aku juga mau bobok kok. Udah ngantuk.”

“Ya udah. Met bobok ya, sayaang.. Have a nice dream.. Love you..”

“Okeokee.. Met bobok juga ya, sayaang.. Have a nice dream juga.. Always love you, too..”

            Sebelum ku matikan telfonnya, ku dengar kak Rowi tertawa kecil. Maklum lah, jawabanku kan ngopy kata-katanya kak Rowi semua, tapi di tambahin kata ‘juga’.

            Tiap malem, kak Rowi emang suka nelfon aku. Yaah.. Sekedar  berkangen-kangenan ria lah, kan kita nggak bisa ketemu sesuka hati. Walaupun long distance, tapi aku ngerasanya nggak kayak long distance tuh. Aku selalu ngerasa kak Rowi ada disisiku yang selalu nemenin and nyemangatin aku. Ya jelaslah, tiap pagi, siang, sore dan malam kan kak Rowi selalu ngontact aku. Jadi aku nggak pernah ngerasa kesepian.

            Setelah mematikan telfon barusan, aku meletakkan HPku di atas meja belajar. Aku berjalan menuju madding kamarku. Disana tertera jadwal UKK ku selama seminggu penuh. Dan di madding itu juga, sengaja ku tempel foto-foto ku bersama ketiga sahabatku. Setelah puas mengamati madding, aku berjalan dan duduk di kursi meja belajarku. Laptopku masih menyala dengan wallpaper fotoku dan kak Rowi. Aku memandang layar laptopku. Sambil tersenyum sendiri, ku tutup laptopku.

            Aku berdiri mendekati tempat tidur. Sembari merebahkan badan, ku ambil pigura yang berisi fotoku dengan kak Rowi. Aku memeluk foto itu. Maklum.. Aku kangen banget sama kak Rowi. Udah hampir 2 bulan aku nggak ketemu sama dia. Tanpa sadar akupun tersenyum sendiri ketika teringat kenangan-kenangan ku bersama pacarku itu. Aku bangkit dan mengambil HPku di atas meja. Ku buka file musik dan ku play lagu Senyum Semangat punyanya SM*SH. Kak Rowi kan sumber semangatku, jadi yaa.. Biar besok semangat ngerjain UKKnya, malam ini aku pengen ndengerin lagu ini. Sampai aku berlayar ke pulau mimpi sekalipun, aku masih tetep pengen ndengerin lagu ini..

[Seminggu setelah Ulangan Kenaikan Kelas..]

            Akhirnya, setelah hampir seminggu strees gara-gara Ulangan Kenaikan Kelas plus strees gara-gara deg-degan bakalan naik kelas atau enggak, endingnya 2 minggu FULL jadi tanggal merah buat aku dan semua para pelajar di sekolahanku. Dan liburan kali ini, aku udah janji mau ke Jakarta. Mau liburan ke rumahnya tante Rita sekalian liburan bareng pacarku disana.

            Deg-deganku juga udah ilang kok, setelah raportku di ambil sama mama tadi pagi. Nilaiku di semester 2 ini naik tajem lho, daripada nilaiku di semester 1 dulu. Selain aku naik ke kelas XI dengan nilai cukup memuaskan, aku juga berhasil nembus di jurusan IPA. Yyeeee..

            Sorenya aku langsung tancap gas ke bandara di anter sama papa, mama dan masku.

“Mah, aku pergi dulu, ya?” kataku sambil mencium tangan mama.

“Hati-hati kamu, nduk. Nanti kamu di jemput sama tante Rita, lho. Jangan keluyuran!”

“Iya, mah.”

“Kalau udah sampai, kabari papa mama langsung, ya?” giliran papa yang bicara.

“Okee, pah..”

“Ya udah gih, kamu masuk sana. Ntar ketinggalan pesawat.”

“Iyaiyaa.. aku pergi dulu, ya..”

            Aku masuk ke dalam. Setelah aku dan koperku di periksa, aku langsung mengantri untuk konfirmasi ulang dan menitipkan koperku yang akan di masukkan ke dalam bagasi. Setelah selesai, aku menunggu sembari menikmati softdrink dan cemilan yang sengaja aku bawa dari rumah. Mungkin ini saatnya aku bilang Goodbye, Semarang dan I’m coming, Jakarta..

“Selama kamu disini, kamu tidur di kamar ini. Lemari itu juga bisa kamu pakai buat baju-baju kamu.” jelas tante Rita begitu ia membuka pintu kamar untukku.

“Waah.. Makasih ya, tante.”

“Iya. Kamu istirahat gih. Tante siapin makan malamnya.”

            Tante Rita keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan pelan. Kamarnya lumayan luas juga. Dinding dan perabotan di dalam kamar ini sangat fanatik dengan warna biru. Warna biru adalah warna favorit almarhumah anak tunggalnya tante Rita. Kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu menyebabkan tante Rita kehilangan suami dan anaknya. Dan kamar yang sekarang aku tempatin ini adalah ‘bekas’ kamar anaknya tante Rita.

            Setelah menata baju-baju ku di lemari, aku mengambil handuk dan peralatan mandiku. Selesai mandi, aku keluar kamar untuk sekedar ngobrol dengan tante Rita, sekalian nglepas kangen juga. Puas ngobrolin ini-itu, aku dan tante Rita makan malam bersama. Setelah makan aku kembali ke kamar. Saatnya aku melakukan kebiasaanku. Dan kebiasaanku itu adalah.. Online!

            Aku mengeluarkan laptop ku dari tas dan menyalakannya. Sembari menunggu, aku mengambil HP dan mengeceknya. “Missed calls : 1 , new messages : 2”. Setelah ku buka ternyata dari kak Rowi semua. Ya ampun, aku sampai lupa kalo aku belum ngasih kabar sama sekali ke kak Rowi sejak berangkat tadi. Lalu aku langsung membalas SMS kak Rowi itu.

[text message delivered to : kak Rowi Hydera]

maaf.. aku lupa ngasi kabar ke kakak. aku uda sampe tadi mahgrib di rumahnya tante Rita.

drrt drrrrtt.. drrt drrrrtt.. [text message received from : kak Rowi Hydera]

ya udah nggak pa2 kok . kamu istirahat aja gih . biar besok nggak kecapekan pas ku ajak pergi .

 [text message delivered to : kak Rowi Hydera]

pergi? kemana, kak..?

drrt drrrrtt.. drrt drrrrtt.. [text message received from : kak Rowi Hydera]

ada deh . :p  pokoknya besok jam 10 kamu harus udah siap . oke ? Love you .

[text message delivered to : kak Rowi Hydera]

okeokee.. always love you, too..

            Aku tersenyum dan meletakkan HPku di samping laptop. Aku langsung menancapkan modem ku ke laptop. Dan jreng jreeng.. Aku langsung membuka account FB ku dan online..

“Kiara.. Rowi udah dateng tuh. Buruan.” kata tante Rita setengah berteriak dari lantai bawah.

            Kak Rowi udah dateng. Aku mempercepat menyisir rambutku dan memakai bando berpita putih pemberian kak Rowi dulu. Setelah selesai, aku segera keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Ku lihat kak Rowi sedang mengobrol santai dengan tante Rita.

“Kiara..” kata kak Rowi sembari berpaling dari tante Rita.

“Eh, Kiara udah siap. Ya udah deh. Rowi, tante titip ponakan tante, ya?” kata tante Rita.

“Iya, tante. Aku bakalan jagain Kiara kok. Kalo gitu kita permisi dulu, tante.”

            Setelah berpamitan dengan tante Rita, kak Rowi mengajakku have fun seharian. Pertama ke Monas dan terakhir ke Ancol. Di Ancol, aku di cariin kerang sama kak Rowi lho. Terus aku di beliin es krim kesukaanku sama kak Rowi. Kita juga bernarsis-narsis ria di photobox sebuah mall.

            Emang cuma kak Rowi yang bisa ngertiin aku banget. Kak Rowi pun rela bolak-balik Jakarta-Semarang. Dan setiap ada libur panjang dia pasti pergi ke Semarang buat nemuin aku sekalian nemenin omanya yang ada di Semarang juga. Pokoknya kak Rowi itu pacar impianku banget deh. Dia nggak pernah ngatur-ngatur aku. Dia ngebebasin aku bergaul atau jalan sama siapa aja. Dia nggak pernah nglarang aku buat nglakuin apa aja yang aku suka, selagi itu positif dan bisa ku pertanggung jawabkan. Dan dia itu juga sabar banget lho ngadepin aku. Baru kali ini aku pacaran sama orang yang bener-bener mau ‘ngertiin’ aku. Dan yang bener-bener bisa ‘terima’ aku apa adanya.

“Kiara.. Ayo bangun! Udah jam berapa ini?”

            Ku buka mataku perlahan. Dan ku lihat sosok tante Rita sedang membuka jendela kamarku. Lalu ia menghampiriku dan menarik selimutku.

“Ayo bangun, ah! Cepet mandi trus sarapan.” perintah tante sembari menarik tanganku.

“Iya..” jawabku dengan malas.

            Setelah tante Rita keluar dan menutup pintu kamarku, aku mulai bangkit dari tempat tidurku. Aku berjalan mengambil handuk lengkap dengan peralatan mandiku. Dengan malas, aku berjalan menuju kamar mandi.

            Selesai mandi, aku kembali ke kamar untuk ganti baju. Lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi bareng tante Rita. Hari ini tante Rita masuk kerja seperti biasa. Dan semalem, kak Rowi bilang pagi ini dia ada acara sama temen-temen sekelasnya. Maklum, kan kemaren baru aja di umumin kalo sekolahannya kak Rowi lulus 100%. Jadi hari ini, aku cukup berdiam diri di rumah aja. Sebenernya aku pengen ikut sama kak Rowi, tapi aku nggak enak sama temen-temennya. Satu-satunya temen kak Rowi yang ku kenal deket cuma satu, yaitu kak Bima. Tapi percuma. Kak Bima kan nggak sekelas sama kak Rowi.

            Seharian ini, aku nonton film dari DVD doang. Mulai dari film drama sampai horror ku tonton semua. Kebetulan, tante Rita itu maniak film. Jadi persedian DVDnya banyak, tinggal pilih.

            Sampai sore, udah puluhan DVD aku tonton. Di tengah-tengah film, aku berjalan menuju dapur untuk mengambil softdrink. Ketika ku buka lemari es berwarna putih itu, ada sekotak roti black florest di dalamnya. Aku mengeluarkan roti tersebut dan melihatnya. Ada tulisan ‘Sixteen Months.. and Happy Birthday to You..’ di atasnya. Lhah? Emang siapa yang ulang tahun?

[drrrrtt..] sempat ngerasa [drrrrtt..] sedih karna [drrrrtt..] sering di bully.. [drrrrtt..] pernah jadinya [drrrrtt..] malu karna [drrrrtt..] di cibir mulu.. [drrrrtt..]

“Hallo?” sapaku setelah menekan tombol hijau di keypad HPku.

“Kiara, kamu dimana?” terdengar suara tante Rita dari sebrang sana.

“Aku di rumah lah, tante. Emang mau dimana lagi?”

“Ooh.. Kamu di rumaah..”

            Aku sempet bingung dengan perkataan tante Rita barusan. Tiba-tiba pandangan mataku melihat ke roti yang baru aja aku temuin di dalam lemari es.

“Tante, black florest di kulkas itu buat siapa? Emang ada yang ulang tahun hari ini?”

“Lhoh? Kamu nggak tau, ini tanggal berapa?” suara tante Rita yang kedengaran kayak kaget gitu.

“Sekarang? Nggak tau deh, tan. Aku liburan nggak mikirin tanggalan.”

“Ya Tuhan.. Kamu bener-bener nggak inget, ya?”

            Aku jadi tambah bingung dengan perkataan tante Rita. Kalau aku enggak salah inget, sekarang tanggal 18 deh. Emang siapa yang ulang tahun? Aku kok mendadak jadi pikun gini sih?! Odoong..!

“Udah nggak usah di inget, Ra. Ntar kamu juga tau kok. Oh ya, tante sebentar lagi pulang. Kamu mau di bawain apa?”

“Apa aja yang bisa di makan. Hehehe..” aku tertawa kecil.

“Kamu itu.. Ntar tante bawain kue bandung deh. Ya udah, ya.. Daa..”

            Aku menekan tombol merah di keypad HPku. Lalu memasukkan HPku ke dalam saku celanaku. Pandanganku kembali mengarah ke roti itu. Aku penasaran, emang siapa sih yang ultah tanggal 18 bulan ini? Apa jangan-jangan salah satu pembantu yang ada di rumah ini kali, ya? Tapi masa’ ada tulisannya Sixteen Months? Apanya yang 16 bulan?

            Ketika tante Rita pulang ke rumah, di dalam mobilnya terlihat sebuah kardus berukuran lumayan besar. Pas aku tanyain, tante Rita bilang itu kerjaannya yang dia bawa pulang. Setelah makan malam, aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Sambil online, aku sesekali melirik ke arah HPku. Kok tumben, ya? Seharian kak Rowi nggak SMS ataupun telfon. Ku telfonin, daritadi nggak bisa terus. Ku SMSin juga nggak di bales. Kata kak Bima, kak Rowi sekarang lagi sibuk. Tapi masa’ saking sibuknya, dia sampai lupa sama pacarnya? Nggak kayak kak Rowi yang biasanya deh. Aku tau betul, sesibuk apapun kak Rowi, dia selalu nyempatin buat SMS atau telfon aku. Tapi hari ini? Nggak ada kabar sama sekali! Tu anak manusia ngilang kemana sih??!

            Daripada nungguin kak Rowi nggak ada kabar kayak gini, mendingan tidur. Aku langsung menutup laptopku dan meletakkannya di atas meja. Tanpa sengaja, aku melihat fotoku bersama kak Rowi beberapa hari yang lalu di pigura di atas meja. Tiba-tiba aku merasa kesal ketika melihat foto itu terus menerus. Mungkin, aku kesal gara-gara kak Rowi ngilang entah kemana dan nggak ada kabar sama sekali hari ini. Aarrghh.. Aug ah! Bodo’!

“Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday. Happy birthday, Kiraa..”

            Samar-samar ku dengar suara petikan gitar dan suara seseorang bernyanyi. Akupun mulai membuka mataku dengan perlahan. Ku lihat di sebelahku ada kak Rowi, orang yang tadi menyanyikan lagu Happy Birthday di telingaku.

“Kak Rowi? Sekarang jam berapa, sih?”

“Jam 12 lebih 5 menit.”

“Ooh.. Kak, kak Rowi nyanyi-nyanyi happy birthday buat siap sih? emang ada yang ulang tahun disini?” tanyaku sembari memakai kacamata minus berbingkai hitam kesayanganku.

“Eh?” kak Rowi tersenyum. “Yang ulang tahun kan kamu, sekarang itu udah tanggal 20 Juni, sayaang..” lalu ia mencubit pipiku.

            Hah? 20 Juni? Masa’?

“Kamu masih belom sadar sepenuhnya, ya?” tanya kak Rowi sembari membelai rambutku.

            Kak Rowi menyandarkan gitarnya di kursi dan mengajakku untuk keluar kamar. Di depan kamarku, kak Rowi menyuruhku untuk menutup mata. Akupun menurut dan ku tutup mataku. Kak Rowi terus menggenggam tanganku dan membimbingku ke suatu tempat. Lalu kak Rowi menyuruhku berhenti. Tiba-tiba kak Rowi melepaskan pegangan tangannya.

“Sayaang..” suara kak Rowi setengah berteriak. “ Buka mata kamu sekarang..”

            Ku buka mataku dengan perlahan. Ternyata kak Rowi membawaku ke teras belakang rumah. Teras belakang rumah yang biasanya gelap mendadak berubah menjadi terang karena efek dari cahaya lilin. Di permukaan kolam, tersusun tulisan ‘Happy Birthday’ menggunakan lilin-lilin kecil yang disusun sedemikian rupa. Dan di tiap-tiap sudut juga ada lilin yang menyala terang. Kak Rowi berdiri di pinggir kolam, tersenyum dan membentuk tangannya menjadi bentuk hati. Di meja dekat kolam, ada tante Rita dan kak Bima disana.

            Lalu aku berjalan mendekati kak Rowi. Aku menghampirinya dengan di hantui berbagai pertanyaan di pikiranku. Sepertinya kak Rowi tau apa yang ada di dalam pikiranku. Begitu aku berdiri di depannya, dia memelukku sebentar dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Lalu dia menjelaskan semuanya. Ternyata kemarin kak Rowi sengaja nggak ngasih kabar ke aku. Tujuannya biar aku marah. Dan kak Rowi udah hafal sama kebiasaanku yang kalo lagi marah cenderung suka tidur lebih awal dari biasanya. Setelah aku tidur, kak Rowi dan kak Bima datang ke rumah tante Rita dan mulai mendekorasi teras belakang di bantu sama tante Rita.

            Setelah kak Rowi menjelaskan semuanya, aku langsung memeluk kak Rowi. Rasanya senneeeengg.. banget. Dan ketika aku memeluk kak Rowi, tiba-tiba terdengar sebuah lagu dari SMASH, my favorite boyband. Dan lagu yang mengalun adalah lagu I Heart You, tapi yang versi piano. Lagu itu hanya berisikan dentingan piano tanpa instrument apapun. Lalu kak Rowi menggandeng dan mengajakku untuk mendekat ke tante Rita dan kak Bima. Dengan di iringi lagu dari SMASH, aku, kak Rowi, kak Bima dan tante Rita, memakan roti yang tadi sore ku temukan di dalam lemari es. Dan yang di maksud dengan ‘Sixteen Months’ adalah di ulang tahunku yang ke-16 ini sekaligus menjadi hari jadianku dengan kak Rowi yang ke-16 bulan.

            Hari ini aku di ajak buat main ke rumahnya kak Rowi lhoo. Ketika aku datang, rumah kak Rowi sepi. Kata kak Rowi sih, orangtuanya lagi ada di luar negeri, tepatnya di New York. Ada urusan bisnis atau apalah itu namanya, aku nggak ngerti.

            Awalnya kita hanya mengobrol dan bercanda seperti biasa di ruang tamu. Terus tiba-tiba kak Rowi ngajakin aku buat main PS. Akupun langsung setuju dan mengikuti kak Rowi ke teras belakang. Teras belakang rumahnya kak Rowi ini emang sengaja di bikin ‘istimewa’. Disini ada TV, PS, DVD, plus ada kolam renangnya juga. Teras belakang ini biasanya di buat nongkrong kak Rowi sama temen-temennya. Modelnya lesehan, jadi nggak ada tempat duduknya sama sekali. Aku dan kak Rowi duduk bersebelahan dan mulai menyalakan TV beserta PSnya. Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba kak Rowi mempause permainan.

“Dek, aku ke dapur bentar, ya?” kata kak Rowi sembari berdiri.

“Ho’oh” jawabku sambil menganggukkan kepala.

            Kak Rowi membelai rambutku dan pergi masuk ke dalam rumah. Aku tersenyum dan melihatnya yang mulai pergi menjauh dari tempat duduk ku. Tak lama setelah kak Rowi pergi, salah satu pembantu di rumahnya kak Rowi datang dan duduk di sebelahku.

“Maaf, mbak. Ini ada surat buat mas Rowi.” katanya sembari menunjukkan seamplop surat.

“Surat? Darimana, bi’?”

“Dari pak pos tadi, mbak.”

“Aduuh.. bi’, aku juga tau kalo itu dari pak pos. Maksud aku, di amplopnya itu tulisannya darimana? Dari siapa gitu?”

“Ooh..” Bibi itu melihat amplop itu dan membolak-baliknya, namun tak lama langsung menyerahkannya padaku. “Nggak tau, mbak. Nggak ada namanya.”

“Ya udah deh, bi’. Ntar suratnya ku kasihin ke kak Rowi. Makasih ya, bi’.”

            Setelah bibi’ itu pergi, aku mengamati surat itu. Surat itu berwarna kuning keemasan dan terdapat tulisan ‘Universite de France’ di pojok kiri bawah. France? Prancis? Kak Rowi dapet surat dari universitas di Prancis? Tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak. Nggak tau nih, perasaanku mendadak jadi horror. Akhirnya, ku buka surat itu dan ku baca perlahan. Ketika aku selesai membacanya, kak Rowi datang dan duduk di depanku sembari tersenyum memegangi sekotak es krim.

“Kak Rowi mau nglanjutin kuliah di Prancis?” tanyaku setengah tak percaya.

            Wajah kak Rowi terlihat bingung. Mungkin ia belum tau tentang surat yang aku pegang.

“Maksud kamu?”

            Aku menunjukkan surat yang baru aja ku terima. Kak Rowi meletakkan es krimnya dan mengambil surat itu dari tanganku. Menunggu kak Rowi selesai membaca surat itu, dalam hati aku bertanya : Apa itu tandanya, kak Rowi mau ninggalin aku..?

“Ooh, surat ini.”

“Kak Rowi mau nglanjutin kuliah di Prancis?” aku mengulang pertanyaanku tadi.

“Memangnya kenapa? Kamu nggak setuju?” kak Rowi melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop lagi.

            Aku diam. Aku bingung, mau njawab pertanyaan kak Rowi gimana. Seharusnya kan aku ikut seneng kalo ternyata kak Rowi ketrima di salah satu universitas di Prancis. Tapi.. Kenapa perasaanku nggak seneng, ya? Kenapa aku justru malah merasa sedih?

            Kurasakan tangan kak Rowi memeluk tubuhku. Airmataku pun akhirnya jatuh. Ku pejamkan mata dan ku balas pelukan erat kak Rowi. Seumur-umur, aku nggak pernah ngrasain kayak gini sebelumnya. Seneng, sedih, marah, kecewa, kecampur jadi satu. Mungkin.. Seperti ini kali yaa, rasanya ‘akan’ berpisah dengan orang yang kita sayangi..

            Malamnya, aku lebih memilih untuk berdiam diri di kamar. Aku mikirin besok. Nggak nyangka deh, belum juga dua tahun pacaran aku udah di tinggal pergi jauh. Mana kak Rowi nggak pernah cerita lagi, kalo dia mau kuliah di Prancis. Long distance Semarang-Jakarta aja kangennya udah nggak ketulungan, apa lagi kalo Semarang-Prancis? Kangennya kayak apa coba?

drrt drrrrtt.. drrt drrrrtt.. [text message received from : kak Rowi Hydera]

besok aku berangkat dari bandara jam 5 pagi di terminal 2F . aku sendirian . aku berharap kamu mau datang buat nemenin aku untuk terakhir kali sebelum aku berangkat ke Prancis . aku sayang banget sama kamu , dek ..

            SMS dari kak Rowi ternyata. Tuh kan.. Dia beneran mau ninggalin aku. Ya Tuhan.. Masa’ aku kudu long distance dengan jarak sejauh itu, sih? Apalagi waktu di Prancis sama di Indonesia kan beda jauh banget. Tapi.. Emangnya aku bisa nglakuin apa sekarang? Nyegah? Nggak mungkin.. Itu kan impiannya kak Rowi.

            Tapi setelah ku pikir-pikir.. Kayaknya seru juga. Jadinya kan ada yang bisa ku tungguin setiap hari dan ku kangenin setiap waktu. Long distance again? So what! Daripada tiap hari ketemu, ntar jadi cepet bosen? Oke! Besok aku bakalan dateng buat nemenin kak Rowi untuk terakhir kalinya.

[drrrrtt..] kenapa hatiku [drrrrtt..] cenat-cenut tiap [drrrrtt..] ada kamu [drrrrtt..] selalu peluhku [drrrrtt..] menetes tiap [drrrrtt..] dekat kamu [drrrrtt..] *klik!*

            Aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka. Tak sengaja, aku melihat jam kecil di samping tempat tidurku. Jarum pendek di angka 4 dan jarum panjang di angka 12, itu berarti jam 4! Berarti satu jam lagi kak Rowi bakalan berangkat ke Prancis. Ya Tuhan! Aku kesiangan! Aku harus buru-buru ganti baju sekarang. Ya, aku harus buru-buru nyusul kak Rowi di bandara. Aku nggak mau nyia-nyiain waktu terakhirku sama kak Rowi.

“Kamu mau kemana?” kata tanteku begitu melihatku berlari keluar kamar dan menyusulku menuju ruang tamu.

“Ke bandara.”

“Eh, eh, eeh.. Ngapain?”

“Nyusulin kak Rowi. Jam 5 kak Rowi mau pergi ke Prancis. Aku harus buru-buru ke bandara. Skarang!” jawabku sembari memakai sepatu.

 “Kalau gitu.. Pakai aja, nih.”

            Tante Rita menyodorkan kunci motornya ke arah ku. Aku mengambil kunci itu dan memeluk tante Rita.

“Thank you so much, tante..”

            Sesampainya di bandara, aku sekilas melihat ke jam tanganku. 15 menit lagi kak Rowi berangkat. Ya Tuhan.. Tolong beri aku kesempatan terakhir.

            Aku masuk ke dalam dan berlari semampuku. Aku nggak perduli dengan tatapan orang-orang yang melihatku aneh. Aku juga berusaha buat nggak nabrak orang-orang yang malang melintang disana, tapi percuma. Udah berkali-kali aku nabrak orang. Tapi bodo’ amat, dah! Yang penting aku sampai di terminal 2E sebelum jam 5. Tepatnya sebelum kak Rowi berangkat.

            Akhirnya.. Aku sampai juga di terminal 2E. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Aku juga mengatur pandanganku untuk mencari dimana kak Rowi. Tapi kok nggak ketemu, yaa? Coba cari sekali lagi.. Aduuh.. Nggak ada! Kak Rowi, kakak dimana sih?

            Setelah aku berputar-putar di sekitar situ, ternyata percuma. Nggak ketemu. Semangatku mulai hilang. Dan aku mulai putus asa. Kakiku lemas hingga aku duduk bersandar di tembok. Ku lirik jam tanganku, ternyata udah jam 5 lebih 15 menit. Aku nggak ketemu sama kak Rowi.. Aku udah nyia-nyiain kesempatan terakhirku.. Aku biarkan airmataku yang udah membanjiri kelopak mataku itu jatuh. Aku menunduk dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku.

“Udah gede, masih.. aja cengeng. Aku nggak mau punya pacar yang cengeng, ya?”

            Aku berhenti menangis. Aku ngrasa kenal dengan suara itu..

“Kak Rowi?” tanyaku begitu aku melihatnya berdiri di depanku.

“Iya. Ini aku, kak Rowi. Rowi Hydera Winata.”

            Kak Rowi tersenyum dan membantuku berdiri. Ia membersihkan airmataku menggunakan tangannya. Sedangkan aku, aku masih nggak percaya kalo orang yang ada di depanku ini kak Rowi. Ini kan udah hampir jam setengah enam, kok dia masih disini? Jangan-jangan dia ketinggalan pesawat kali, ya? Atau mungkin, dia mbatalin rencananya kuliah ke Prancis?

“Kak Rowi kok masih disini? Ini kan udah jam setengah enam?” tanyaku sesenggukan.

“Emang kalo udah jam setengah enam kenapa?”

“Pesawat kakak kan berangkat jam 5 tadi?”

“Ooh, itu. Rencana awal emang pesawatnya take off jam 5. Tapi tadi mundur jadi jam 6. Ada masalah apaaa gitu, nggak mudeng aku.”

“Jam 6? Nggak jadi jam 5?”

“Iya. Jam 6. Kamu kenapa sih? Daritadi ekspresi kamu nggak enak mulu’. Kamu sakit?”

            Aku menggeleng pelan. Kak Rowi membelai rambutku dan memberiku semangat lewat tutur katanya yang lembut. Kak Rowi janji sama aku, setiap 2 semester sekali alias setiap setahun sekali dia bakalan pulang ke Indonesia. Dan bahkan dia juga bilang, kalo disana dia nggak akan pernah nglupain aku walaupun cuma satu menit. Yaah.. Walaupun nggak satu detik, tapi nggak pa-pa lah. Asalkan dia masih mau inget sama aku, itu udah cukup..

            Setelah kita berdua sepakat untuk janji ini-itu, kak Rowi memelukku. Nyamaan.. banget. Serasa nggak mau nglepasin pelukannya. Dan di pelukannya itu, aku membuka mulutku untuk berbicara tentang sesuatu hal yang sejak tadi menggangguku.

“Kak..”

“Iya?”

“Aku pengen ngomong sesuatu..”

“Apa?”

“Aku..”

“Kamu kenapa?”

            Sebelum aku menjawabnya, ternyata perutku udah njawab duluan. Yaah.. Dengan suara yang terdengar dari perutku, kak Rowi jadi tau kalo aku kelaperan. Hehehe.. Emang malu-maluin sih, tapi yaa mau gimana lagi? Yang namanya perut, kalo lagi laper kan emang nggak bisa di ajak kompromi..

-end-

Prameswuri Anneke

Hujan

Tak ada yang lebih istimewah dari suaramu

Hujan

Simbol sebuah ketulusan

Tak peduli di benci atau dikeluhkan

Hujan akan tetap turun menyuarakan rintikan tetes demi tetes

Hujan aku hanya bisa menatapmu

Kutitipkan sejuta rindu

Kubisikan do’a dan harapanku

Untuknya yang jauh dariku

Hujan

Kau tau kapan harus turun

Dan kau tahu kapan harus berhenti10356317rain_by_unexists hujan

Kirab Budaya suguhkan Ciri Khas Demak

Kirab Budaya suguhkan Ciri Khas Demak   Kirab Budaya memperingati Hari Jadi Kabupaten Demak ke 511 berlangsung meriah dengan pawai beragam jenis budaya yang menjadi ciri khas atau ikon Pariwisata Kabupaten Demak. Acara yang mengambil tema “Menuju Masyarakat Demak Yang semakin Sejahtera” ini disaksikan oleh ribuan warga masyarakat Demak yang tumpah ruah di Jalan depan Pasar Bintoro Demak.


Di panggung kehormatan yang terletak di Halaman Pasar Bintoro Demak, tampak hadir Bupati Demak, Drs. H. Dachirin Said, Kapolres Demak, AKBP. R. Setijo Nugroho dan segenap jajaran Muspida Pemerintah Kabupaten Demak hadir dipanggung tersebut. Sejumlah atraksi dari peserta kirab yang ditunjukkan dihadapan Bupati Demak, menuai decak kagum dari Bupati Demak dan semua yang menghadiri acara Kirab tersebut.


Mengambil rute mulai dari Rumah Dinas Sekda Kabupaten Demak berlanjut menuju Panggung Kehormatan di Pasar Bintoro dan berakhir di alun-alun Demak ini, berlangsung sangat semarak. Sebanyak 14 Kecamatan se-Kabupaten Demak dan Kelompok Sanggar Tari, Sekolah dan Grup Kesenian turut menyuguhkan ciri khas dari kecamatan tersebut. Misal saja, atraksi maut Barongan dari Desa Geneng Kecamatan Mijen Demak yang menyuguhkan atraksi mengupas kelapa dengan mulut dan atraksi memakan api. Namun, ada satu atraksi yang disuguhkan Kodim 0716 Makutarama Demak, yakni Atraksi Zippin yang diperagakan langsung oleh Aparat Kodim 0716 Demak tersebut.


Acara yang dihelat sejak pukul 13.30 hingga pukul 16.30 ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang menampilkan beragam kesenian. Adapula peserta kirab dari SMA Negeri 2 Demak yang memberikan kenang-kenangan berupa lukisan dari bahan kompos untuk Bp. Bupati Demak dan peserta kirab asal Kecamatan Mranggen Demak yang memberikan satu buah sangkar burung khusus untuk Bapak Bupati Demak.
Akibat dari dilangsungkannya acara tersebut, arus lalu lintas Jalur Pantura Demak yang melintasi Pasar Bintoro Demak untuk sementara dialihkan melalui Jalur Lingkar Demak untuk Tujuan Kudus hingga Pantura Jawa Timur. Jalur dari SMP Negeri 1 Demak yang menuju Pasar Bintoro Demak untuk sementara ditutup untuk kelancaran acara tersebut.

Reporter : Satrio

 

Kemenangan ’45 bukanlah akhir

Tugas para pahlawan belum berakhir

Pulau hijau masih harus berwaspada

Sigap tehadap kutu-kutu yang menyebar di bangsa

Inilah kelanjutan dari sebuah perjuangan

Warisan para pahlawan

Berjuang mengikuti alur kemenangan

Berjuang demi harapan

Pamerkan semangat merahmu

Ekspresikan semua daya kreatifmu

Hentakkan semangat juang

Merubah mimpi buruk yang terngiang

Meraih keemasan yang gemilang

Hei pemuda,

Ingat janjimu dan sumpahmu

Jangan ragu, jangan malu

Pecahkan ombak yang maju

Pantang takutmu, kuatkan gigihmu

Berdiri bersama Merah Putih

Terus maju tanpa letih

Budaya Jawa di Pinggiran Zaman

sastra-jawa   Dewasa ini, budaya  jawa sudah mulai terpuruk, terpinggirkan karena perkembangan zaman global yang kian gencar memasuki kebudayaan timur. Westernisasi merupakan kata yang lazim untuk menamai arus global yang mulai melunturkan budaya asli Indonesia. Padahal, tidak semua budaya barat yang ada sekarang ini memiliki nilai positif bagi bangsa Indonesia. Tidak sedikit pula budaya barat yang berdampak negatif dan hal inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa Indonesia.

Budaya Jawa merupakan budaya yang memiliki nilai filosofis yang dalam. Kita lihat saja contoh nyata dengan adanya bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa seperti : Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton, dan lain sebagainya. Adanya mereka tak lepas dari adanya nilai budaya yang terkandung di dalamnya dan nilai-nilai kejiwaan terhadap budaya Jawa.

Globalisasi telah membawa efek yang cukup signifikan bagi pola kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Banyak orang yang terjerat oleh budaya kebaratan. Lalu, apakah kita akan tetap membiarkan budaya barat menggerus budaya Jawa ? Apa usaha kita untuk tetap mempertahankan budaya Jawa di tengah himpitan globalisasi yang kian merenggut satu persatu kebudayaan ketimuran kita?

Media penyaluran bahasa Jawa pun mulai hilang sekarang. Benar-benar seperti tertelan oleh zaman. Para siswa di tingkat sekolah pun kini menganggap budaya Jawa merupakan pelajaran yang tidak penting. Bagi mereka budaya Jawa hanya pelajaran sampingan dan tidak perlu menyita banyak perhatian. Bahkan orang asli Jawa sekalipun lebih fasih melantunkan bahasa indonesia dan lebih hebatnya bahasa inggris, dibandingkan berbicara dengan bahasa Jawa. Apalagi bicara bahasa kromo yang menjadi bahasa utama rakyat Jawa dahulu. Soal aksara jawa? Jangan ditanya, dalam satu kelas hanya satu atau dua anak saja yang dapat mengetahuinya. Ironis memang !

Hal ini perlu menjadi cerminan bagi pemangku kepentingan budaya Jawa di dunia pendidikan. Mereka merupakan pilar penting untuk meluaskan kembali budaya Jawa kepada para pemuda agar budaya Jawa dapat tetap bertahan melawan arus globalisasi.

Sekarang, apakah kita akan membiarkan westernisasi menggrogoti budaya Jawa kita? Apakah kita sudah mempertahankan budaya secara nyata? Apakah kita akan membiarkan kegagapan mengenai budaya jawa ini terus berlanjut? Jika ini terus berlanjut, hal ini merupakan sesuatu yang harus menjadi mawas diri bagi kita semua untuk tetap melestarikan budaya jawa di bumi pertiwi ini. Bukankah kita tidak ingin menjadi orang yang gagap akan budaya sendiri?

Reporter: Adelia Dini

gambar:www.google.com

Bertujuan untuk mengenalkan budaya lokal Jawa Tengah, Pemprov Jateng gelar Kesenian Wayang Kulit dihalaman Kantor Gubernur Jawa Tengah Jl. Pahlawan Semarang.

Ganjar Pranowo selaku tamu kehormatan, mengakui jika dirinya senang dengan digelarnya acara tersebut. Dan Ganjar pun unjuk kebolehan dengan menjadi pemeran wayang orang.

Bertempat di Halaman Kantor Gubernur Jateng, seluruh masyarakat Semarang dan sekitarnya antusias menyaksikan acara tersebut. 

Acara yang dihelat Malam Minggu ini, dimulai pukul 19.30 malam. Besar kemungkinan, acara ini selesai pada pukul 3 dinihari.

(Satrio)

Oleh: Adelia Dini Meinawarti

 


“Orang yang punya kesehatan… punya harapan,

Orang yang punya harapan… punya segalanya”

Arabic Proverbs

 

Masih ingat kasus ponari?

         Benar, ponari adalah salah satu dari banyak kasus di antara masyarakat miskin yang lari dari pengobatan medis, masyarakat miskin yang tidak mampu membayar pengobatan dengan biaya mahal dengan hanya mengandalkan premi asuransi jaminan kesehatan, masyarakat miskin yang sangat ingin mendapatkan pengobatan hingga beralih ke pengobatan alternatif yang hanya seolah menyembuhkan namun ternyata tidak, seolah mengurangi namun pada akhirnya menambah masalah baru. Seolah hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa rakyat kecil belum sepenuhnya mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

         UUD 1945 Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. UU tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) (UU Nomor 40 Tahun 2004) turut menegaskan bahwa jaminan kesehatan merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial. Pada hakekatnya jaminan kesehatan bertujuan untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup secara layak.

          Sekali lagi bukti kewajiban Negara kepada rakyatnya harus dipertanyakan. Memang kita tahu, no country is perfect, tapi doesn’t it scare you sometimes how time flies and nothing changes?

          Dengan maraknya kasus penanganan kesehatan yang minim untuk masyarakat miskin. Kasus bayi yang meninggal di loket sebelum ditangani bahkan belum diijinkan untuk ditangani karena prosedur yang berbelit-belit untuk mengurus jamkesmas/jamkesda. Bila dibandingkan dengan negara sebayanya belanja kesehatan Indonesia memang jauh lebih rendah itu bisa dilihat dari studi yang dilakukan oleh bank dunia yang menempatkan Indonesia di bawah Malaysia, Thailand dan Filipina. Dan Indonesia berada pada peringkat ke-100 dunia sebagai negara dengan kesenjangan perbedaan yang tinggi antara anak keluarga kaya dan miskin dalam mengakses layanan kesehatan. Peringkat itu berdasarkan laporan berjudul The Killer Gap: A Global Index of Health Inequality for Children, yang dirilis oleh lembaga kemanusian World Vision pada tahun ini berdasarkan kajian terhadap 176 negara. Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan. Masih banyak bayi dan anak-anak yang harus terus ‘membayar harga’ untuk kesenjangan besar ini dengan nyawa mereka.

          Namun sekali lagi, Semua terjadi bukan dengan tanpa alasan bukan? Selalu ada hikmah yang dapat diambil dari berbagai kasus jaminan kesehatan yang terjadi di Indonesia. Apa semua harus dibebankan kepada negara? Tentu tidak. Kesehatan adalah tanggung jawab pribadi masing-masing. Bagaimana caranya? Kembali kepada masyarakat untuk mengedepankan pola hidup sehat. Untuk bayi yang sakit? Kembali kepada pola asuh orang tua masing-masing untuk lebih menjaga kesehatan keluarganya dengan baik.

          Permasalahan mengenai masyarakat yang belum memahami bagaimana prosedur jaminan kesehatan semestinya kembali lagi kepada pemerintah untuk menyediakan penguatan sistem informasi dan sosialisasi kepada semua lapisan masyarakat. Selama ini yang terjadi, banyak masyarakat di pedesaan yang kurang mengetahui mengenai jaminan, misalnya saja Pelayanan Jampersal yang sebenarnya itu adalah isu yang lama. Masyarakat banyak yang kurang mengetahui manfaat dan jenis layanan yang didapatkan serta persyaratannya.

          Pemerataan peyebaran informasi kepada misalnya kelompok masyarakat yang berada di perkotaan, kelompok masyarakat yang berada di pinggiran desa, kelompok masyarakat yang berada di pegunungan. Hal ini biar bisa mewakili pemerataan dari pelayanan dan untuk memonitor apakah masyarakat sudah mengetahui dan mengerti mengenai akses pelayanan kesehatan.

          Dilansir dari pemberitaan baru-baru ini Jaminan Kesehatan Nasional akan diberlakukan mulai tahun 2014. PT Askes yang akan berubah menjadi Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) akan mengucurkan dana asuransi kesehatan dengan iuran (premi) bagi 86,4 juta warga miskin atau sama dengan penerima fasilitas Jamkesmas secara nasional saat ini dengan jumlah rata-rata mencapai Rp 15.500 per kepala/ bulan.

          Dana itu lebih besar memang dari dana sebelumnya yang telah dianggarkan pemerintah untuk jamkesmas tahun-tahun sebelumnya. Jamkesmas sebelumnya, pemerintah hanya mengucurkan rata-rata Rp 6.000,- sampai dengan Rp 6.500,- per pasien sebagai dana kesehatan. Namun program tersebut masih menimbulkan keraguan dari pemerintah. Siapkah Indonesia memasuki pelayanan kesehatan universal?

          Mulai 1 Januari 2014, pemerintah akan memberikan pelayanan kepada 140 juta peserta, antara lain untuk 86,4 juta jiwa kepesertaan Jamkesmas, 11 juta jiwa untuk Jamkesda, 16 juta peserta Askes, 7 juta peserta Jamsostek, dan 1,2 juta peserta unsur TNI dan Polri. Untuk tahun 2014 pelayanan kesehatan masyarakat belum 100% gratis untuk masyarakat tetapi pemerintah mentargetkan pada tahun 2019 seluruh rakyat Indonesia akan secara otomatis menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan sehat secara gratis. Mampukah? Semoga!