Hari ini melelahkan. Tiga kali kelas, tiga kalinya pula aku harus presentasi di depan kelas. Sungguh, semalam aku hampir gila rasanya. Materi ini belum selesai, materi itu belum kupelajari, materi yang satunya malah sedang ku proses. Belum lagi aku harus berbicara didepan forum organisasiku. Hampir muak rasanya. Ingin kabur dari semua kegiatan. Tapi superegoku menahan untuk tidak pergi.

Sore itu entah mengapa suhu tubuhku menurun, hingga tangan-tangan yang kukepal dalam tas pun masih tetap kedinginan, badanku menggigil. Entahlah, tapi aku sering tiba-tiba kedinginan seperti ini. Tidak pernah membawa jaket ke kampus, siapa pula yang tau bahwa hari ini aku akan mendadak kedinginan.

Hari ini pula sudah kami rencanakan, makan malam berdua di kos setelah forum selesai. Begitu forum kami usai, ia mendadak hilang begitu saja, entahlah. Yang kutahu, dia akan menungguku dijalanan menuju kos. Tapi salah, kucari ia disekitar tak kutemukan. Kupikir turun lewat escalator, jadi lama. Atau sudah lebih cepat karena lewat tangga, tapi tak ada.

Di parkiran, kutunggu sekitar 15 menit. WhatsApp dengan centang satu, kutunggu pula dengan sabar hingga berubah menjadi dua, bahkan sampai berubah warnanya menjadi biru dengan pesan baru. Tidak bilang apa-apa sebelumnya. Jadi, mana kutahu, jika hari ini ia ada forum juga disebelah.

“Aku di forum sebelah”, setelah15 menit kutunggu, akhirnya ada pesan baru.

Aku masih berdamai dengan si ego.

“Yaudah, ketemu di kos ya kalau sudah selesai”, jawabku tetap tenang meski merasa sebal.

“Siap, nanti jam 9 selesai biasanya”, jawabnya seolah menegaskan bahwa ia akan datang.

Sesampainya di kos, badanku masih menggigil tak karuan. Kurebahkan diri diatas karpet, kutarik selimut, meski sudah menggunakan jaket. Kakiku masih dingin sekali rasanya. Entahlah, kipas sudah mati. Aku tertidur pulas sekali. Hingga tiba-tiba dering membangunkanku. Kupikir itu dia. Ternyata temanku, malas sekali. Menyuruhku ke kosnya untuk mengambil barangku yang terbawa olehnya saat di kampus tadi. Aku menaiki motor ke kosnya dengan muka bantal dan perut yang sudah lapar sekali.

Pukul setengah delapan malam. Terakhir kali aku mengunyah adalah di kos tadi pagi, makan sereal saja. Jadi, jika laparku sudah tak karuan, wajar bukan? Apalagi 9 SKS hari ini benar-benar menguras pikiran karena harus presentasi diketiga mata kuliah.

Sampai di kosnya temanku, diajaknya aku mencari makan. Ia lapar katanya, sendirian pula. Mie ayam goreng, ia ingin. Sejak diatas motor, ia memaksaku untuk ikut makan juga, tidak hanya sekadar menemaninya melahap habis mie ayam goreng itu. Berkali-kali itulah aku menolaknya. Aku masih ingin makan malam berdua, karena ia nanti tidak akan mau jika harus makan sendirian dan aku juga tidak ingin makan dua kali malam ini, apalagi dengan selang waktu yang kukira cukup singkat.

Tapi ada rasa takut yang menghantuiku jika makan malam ini akan gagal. Karena hari sudah kian gelap, sedang ia belum ada kabar akan benar datang atau hanya menenangkanku saja dengan kalimatnya yang terakhir bahwa ia akan datang setelah selesai forum.

Setelah kupikir-pikir, aku memutuskan untuk makan saja. Mengingat yang sudah-sudah, jika forumnya selesai tidak dengan singkat. Aku makan, dengan terus dihantui pikiran “Ia akan datang tidak ya? Jika datang, berarti aku harus makan dua kali? Ah sudahlah, biarkan jika harus makan dua kali, lagipula porsinya sedikit dan ini hanya mie, bukan nasi.”

Setelah mie ayam goreng itu habis, aku langsung saja mengajak temanku untuk pulang, aku terburu-buru, takut saja jika dia ternyata sudah menunggu didepan kos, atau sudah selesai forumnya. Pukul sembilan, aku pulang ke kos. Ternyata masih tidak ada kabar. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu I Still Love You – The Overtunes. Tenang sekali rasanya, suara Mikha benar-benar menyejukkan, kuputar berkali-kali.

Layar handphoneku menyala, ada pesan darinya.

“Tidur saja, aku masih lama. Maaf”, pesannya membuatku kesal, namun aku tidak boleh egois. Berada di forum lama-lama bukan keinginan ‘kan? Menyebalkan pastinya. Mendengarkan satu orang berbicara, kemudian lainnya berdebat.

“Iya, lanjutkan forumnya”, kubalas dengan tenang.

Aku putus asa. Kutarik selimut lagi, meski suhu tubuhku sudah membaik, aku mulai lelap diatas lagunya I Still Love You – The Overtunes. Pukul setengah sebelas malam, handphoneku bordering. Aku terbangun. Kali ini dari dia.

“Dimana? Aku tidak enak kalau harus kesana tengah malam. Gimana? Aku baru selesai”, suaranya lelah, pasti juga belum makan, kasihan.

“Di kos, gak usah, pintu kos sudah kututup, lampunya juga sudah kumatikan. Sudah malam, next time”, jawabku.

“Maaf ya”, katanya lirih.

“Maaf untuk apa? Aku ngerti kok. Gak usah bilang maaf”, kataku menenangkan bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf sudah membuatmu menunggu”, katanya.

“Iya memang, menyebalkan. Aku tadi nunggu kamu di parkiran lama banget, kukira kamu sholat Maghrib di masjid. Ternyata di sebelah. Tapi yaudah gakpapa, santai aja. Yaudah kamu pulang aja, udah malam, nanti gak berani pulang lagi…”, jawabku.

“Berani, iya habis ini aku pulang langsung, tapi maaf ya”, katanya berkali-kali mengucap maaf.

“Iya, santai aja kali, ah”.

“Yaudah, aku pulang ya”, katanya menutup.

“Hati-hati”.

Merasa kesal dan sebal. Tapi untungnya mie ayam goreng tadi sudah jadi amunisiku. Aku gak akan kelaparan malam ini. Tapi sayang, makan malam ini harus tertunda, entah hingga kapan terealisasi. Yang pasti aku akan selalu menunggu waktu-waktu itu. Sekadar makan berdua di kos dengan lauk seadanya atau kemana saja yang penting berdua. Diatas motor melintas ditengah keramaian Kota Semarang yang sedang dihebohkan dengan adanya air mancur menari disalah satu jembatan.

Tidak apa bila makan malam ini sempat tertunda, aku paham dengan semua kesibukan yang kami punya sebagai aktivis mahasiswa yang harus kuliah dan berorganisasi, kemudian mulai memberikan kualitas waktu yang baik kepada satu dengan lainnya. Berusaha memahami apapun yang terjadi saat ini adalah untuk masa depan masing-masing dari kami.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Hari ini Kamis manis, bersama kenangan manis pula didalamnya. Aku berada dalam ruang organisasiku berdua. Hanya berdua. Sebenarnya karena ditinggal satu-satunya temanku yang tadinya berada disini, untuk membeli makan. Tertinggallah aku, bersama dengannya. Diam, hening, dan ingin pulang. Adakah orang yang senang karena tidak dianggap ada? Ditinggal mendiam diri dan duduknya memunggungiku. Seperti aku tidak terlihat olehnya.

Kemudian ia pamit untuk berkumpul dengan kelompok tugasnya. Aku sendirian. Entah mengapa, meski tadi sempat tak dianggap, aku tetap saja menunggunya. Sebenarnya tidak ada niatan pula, namun sekalian, toh bosan di kos sendirian.

Pukul setengah sembilan malam, ia kembali ke ruang terakhir kali ia meninggalkanku. Mengajakku untuk makan malam, di angkringan pinggir jalan, ramai, aku suka. Kami bertiga dengan temanku tadi, menggelar tikar ditengah lapangan samping warung. Memandangi bulan yang terang sambil mendengarkan pengamen jalanan menyanyikan lagu-lagu Tulus yang sejuk. Tak terasa, tiba-tiba gemericik air mulai turun dengan nyaring. Kami masih tetap di tempat. Berharap hujannya akan tetap gerimis manis seperti hari ini.

Salah, ketika kami membiarkan badan kami masih tergeletak duduk rapi di lapangan, hujan tiba-tiba deras. Kami lekas lari menuju tenda warung, sekalian membayar apa yang sudah kami beli. Selepasnya, kami memutuskan untuk pulang ke kosan ku, menerjang hujan yang sedikit mereda, lebih baik dari hujan yang tadi, deras.

Kami bertiga basah kuyup dan menggigil kedinginan. Segelas teh hangat kusajikan untuk menghangatkan. Pesta minum teh sederhana yang kubuat malam itu, aku ingat sekali. Ketika ia tersenyum, dan aku mulai berani menatap matanya diam-diam. Namun kau tahu tidak? Hatiku kembali berdebar-debar, kencang pula.

“Sudah malam, aku pamit pulang ya”, ia pamit.
“Baru saja mau aku usir”, jawabku bercanda.
“Kelamaan nunggu diusir, aku tahu diri orangnya, wlee”, ia pun membalas.
“Berani kamu pulang?”, tanyaku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Memangnya aku ini kamu? Ya berani lah”, jawabnya sembari mengejekku.
“Hati-hati, kalau jatuh, WhatsApp aja”, kataku bercanda.
“Ini aku udah jatuh, cinta”, jawabnya.
“Ha? Apa? Aku nggak ngerti”, tanyaku.
“Simpan saja, selama malam, Nona”, sembari menyalakan motornya.
“Selamat malam juga, Tuan. Hati-hati di jalan”, kataku sambil ia berlalu dan mengklakson.

Pagi itu aku malas sekali keluar kamar. Aku masih ngantuk, setelah Shubuh aku belum lelap lagi. Ditambah kabar kelas pagi ku kosong yang tiba-tiba muncul di notifikasi, senang. Akhirnya aku bisa tidur lagi. Ah, ternyata hanya bisa ditambah sekitar 45menit, sial. Hanya rebahan di atas kasur, mendengarkan lagu-lagu Ed Sheeran.
Tiba-tiba saja aku ingat, ada satu tugas siang ini yang belum aku kerjakan. Tapi si malas belum mau jauh-jauh sampai tiga jam sebelum kelas. Dengan jurus seribu bayangan, jemariku mulai gemulai menari diatas keyboard laptop, otakku yang sedari tadi hanya untuk bermalas-malasan, kini sudah bekerja dengan baik sehingga apa saja tiba-tiba muncul.

Setengah jam sebelum kelas dimulai. Si hujan datang, sekitar 20 menitan, tidak mau mereda. Menahanku untuk tetap di kos, dan tidak masuk kelas. Pikirku, aku akan alfa saja hari ini. Tapi pupus. Sudah tiga minggu, kelas mata kuliah ini kosong. Hari ini berarti akan ada absensi tiga kali. Jadi, kuputuskan menunggu reda. Terlambat sampai setengah jam. Tapi tak apa, saat reda, saatnya melaju cepat.

Ketika menaiki tangga ke lantai dua, tiba-tiba badanku melemas. Aku baru ingat, belum sarapan pagi tadi. Padahal ini sudah jam satu lebih. Pikirku, ah, nanti juga jam dua sudah selesai kelasnya, biasanya juga begitu. Tapi, ah, kesal. Materi minggu kemarin dirangkap di pertemuan hari ini. Terpaksa harus mundur sarapan sampai jam tiga nanti.

Akhirnya, belum sampai pukul tiga, kelas usai juga. Aku langsung berlari menuju food court. Aku mana tahu kalau ternyata dia rapat ditempat yang sama. Sedang duduk bersama teman-temannya. Kami saling tahu keberadaan kami. Aku biasa saja. Kurasa, dia masih punya teman, akupun sama. Dunianya masing-masing. Tidak harus setiap hari bersama ‘kan?

Saat aku sedang makan, tiba-tiba, ia dari kejauhan sudah tampak bangkit dari bangkunya. Sedang berdiskusi dengan teman-temannya, berdiri di samping mejanya. Kemudian melihatku, tak sengaja, akupun sedang melihat kearahnya.

“Aku pulang ‘ya :)”, katanya berbisik malu dibalik punggung temannya.

“Iya :)”, jawabku membalas sambil mengangguk.

Saat itu kamu tahu tidak? Jantungku berdebar lagi. Memang tidak sekencang saat pertama kali kuceritakan padamu. Tapi hampir, hampir sama kedengarannya. Sama-sama aku sendiri mendengarnya.

Tapi sekali lagi, aku biasa saja, dan aku pikir dalam hati,

“Aku tidak posesif. Pergilah, aku tidak harus tau semua tentangmu, kamu dimana, dan sedang apa, bahkan dengan siapa. Kita masih punya dunia kita masing-masing. Sebelum atau sesudah ada kamu, aku akan tetap sama saja. Jadi, aku yang sebelum dan sesudah ada kamu, masih sama, tanpa perubahan”, gumamku dalam hati ketika melihat senyumnya yang tersembunyi dan secara malu-malu. Aku melanjutkan makanku, dan dia pulang.

Bersyukur aku sudah di kos, tapi tak tahu tentangnya. Kurasa ia kehujanan, mungkin sedang berteduh di ruko-ruko pinggir jalan dengan orang-orang yang tak dikenal, kedinginan.

Aku menelponnya, memastikan ia akan baik-baik saja.

“Sudah sampai di rumah?”, tanyaku mengkhawatirkannya.

“Belum, ini lagi neduh di pinggir jalan”, jawabnya sedikit teriak, karena hujan sangat lebat.

“Are you okay?”, balasku.

I’m okay, aku cuma takut petir, makanya aku neduh dulu. Jangan khawatir, aku laki-laki, bisa jaga diriku. Yang penting kamu gak kehujanan” , dia memberiku ruang untuk tenang.

“Aku yang akan menemaniu ke Poliklinik kalau kamu sampai sakit”, jawabku, karena hujan tidak kunjung mereda, meski sudah dua jam mengguyur kota sore ini.

Pukul delapan malam, ia akhirnya tiba di rumah namun dengan keadaan basah kuyup meski sudah memakai jas hujan. Sopir-sopir mobil malam itu tidak tahu diri melaju dengan kencang tepat disampingnya hingga wajahnya yang sudah lelahpun tersiram genangan air pinggir jalan.

“Aku sudah di rumah, kamu sudah tidur?”, ia mengabariku.

“Belum, aku menunggu pesanmu, aku khawatir. Mandi, air hujan kan gak baik buat kesehatan…”

“Iya, aku mandi dulu”, katanya, lalu memutus teleponnya.

Entah pada akhirnya ia mandi atau tidak karena mungkin airnya terlalu dingin. Tapi malamnya, ia menemaniku untuk lembur mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proposal yang belum berujung, masih revisi terus menerus.

Hingga pukul dua pagi, aku masih sibuk mengerjakan. Sambil mendengarkan ia menyanyikan lagu-lagu dari Coldplay dengan gitarnya. Meski suaranya terdengar sedikit fals, aku maklumi, ia bukan penyanyi. Sesekali aku ikut menyanyikan lagu-lagu yang dinyanyikannya, sebagai tanda bahwa aku masih terbangun dan mengerjakan tugas-tugasku.

Pukul tiga pagi, ia tiba-tiba berhenti menyanyi dan menyuruhku untuk tidur karena benar-benar sudah pagi.

“Tidur, sudah pagi, nanti atau besok lagi dikerjainnya. Aku temenin deh”, ia menyuruhku untuk menyudai pekerjaanku pagi itu.

“iya udah aku tidur, kamu juga tidur. Besok ‘kan kuliah pagi, terus lanjut rapat ‘katanya”, jawabku sembari mengingatkannya jika ia besok ada rapat dengan organisasinya.

“Siap bos. Selamat tidur pagi, jangan lupa sholat Shubuh, hehe”, katanya dengan suara yang terdengar sudah ngantuk. Aku memutuskan teleponnya.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Seusai kelas, sore itu kami berdua masih tertinggal dengan beberapa mahasiswa lainnya. Ia menghampiriku dan mengajakku untuk makan siang, karena sebelum kelas ini, kami berdua belum sempat untuk makan siang.

“Makan yuk, aku yang traktir. Ada warung baru di belakang kampus”, ajaknya.

“Hmmm boleh kalo ditraktir mah ayok”, jawabku dengan sedikit bercanda.

“Kalau nggak aku traktir kamu mau aku ajak makan siang bareng ga?”, tanyanya balik.

“Mau, kalau ada duit hahaha”, aku memang masih menutupi keseriusanku.

Ia mengambil motor di parkiran, kemudian aku naik di motornya.

“Sudah?”, tanyanya.

“Sudah”, kataku.

“Kalau sudah, turun dong”, dia bercanda.

“Turun beneran nih”, kataku.

“Hahahaha, aku bercanda, ayo lah, dah laper bingitz nih”.

Di warung belakang kampus yang baru dibuka kemarin lusa itu, masih cukup sepi. Banyak meja kosong dan tampak masih baru sekali. Warung itu adalah sebuah warung masakan Jepang kesukaanku, kurasa ia tidak tahu, kalau saja ia tahu, sepertinya ia sudah mencari tahu lebih dulu soal ini.

“Aku bisa tebak, kamu akan pesan paket Irito ini, yang ada katsunya”, katanya.

“Kok kamu tahu? Gak jadi pesen itu ah, wlee”, jawabku sambil melet ke dia.

“Lah kenapa? Itu kesukaanmu ‘kan? Aku udah ramal itu kali”, ia heran.

“Kamu apaan sih, iya deh iya, aku pesen itu, Mas, Irito 1 ya”, jawabku sembari mengatakan pesananku ke pelayannya.

Entahlah darimana ia tahu kalau aku suka katsu, selama ini aku belum pernah makan dengannya di warung masakan Jepang. Diam-diam aku bertanya pada diriku sendiri, “apa ia selalu mengamati insta story ku, atau ia diam-diam bertanya teman dekatku”. Ah, terlalu jauh kurasa pemikiranku. Tapi tetap saja aneh, dan aku masih penasaran, bagaimana ia tahu hal sekecil itu.

Setelah makan, ia mengajakku untuk ke Swalayan sebentar, ia disuruh ibunya membeli sabun dan bumbu dapur, katanya. Ketika keluar dari Swalayan, tak terasa, hari sudah kian petang, ditambah gelapnya mendung yang menutupi kota Semarang sore ini. Aku sudah tampak kebingungan, apakah aku bisa pulang tanpa harus basah karena hujan atau malah sebaliknya.

“Aku anterin kamu pulang sekarang aja ya, mendung, aku kasihan sama kamu, nanti kamu sakit, kan anak kos gak ada yang ngerawat kalau nanti sakit, kecuali aku sih”, katanya. Kedengarannya bercanda, namun jika dicerna, kalimatnya mengajak serius.

“Ya, kalau kamu tega aku sakit ya nggakpapa sih… Kamu? Ngerawat aku? Hahahaha pantes tiba-tiba mendung gelap banget”, candaku.

“Aku serius, kalau kamu sakit, nanti aku yang ngerawat, eh enggak deh. Aku cuma anter kamu ke Poliklinik, terus aku suruh minum aja obatnya”, jawabnya dengan bercanda lagi.

“Sudah, ayo naik, aku anterin kamu pulang sekarang, aku gak mau anter kamu ke Poliklinik soalnya. Aku berubah pikiran”, katanya menambahi.

Dijalan menuju kos, angin sudah kencang menembus kulit meski sudah terbalut jaket.

“Kalau dingin, tanganmu masukin aja ke saku jaketku, jaketku ‘kan lebih tebal dari jaketmu”, katanya sambil teriak karena jalanan ramai dan berisik kendaraan yang ingin cepat sampai di rumah, terus menerus membunyikan klaksonnya atau berkali-kali menginjak gasnya sambil di blayer.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Setelah kencan pertama kita berhasil, kupikir kita akan baik-baik saja bersikap. Namun yang terjadi pada akhirnya tiba-tiba muncullah perasaan canggung yang seketika menghentikan tatapanku yang sengaja kuperlihatkan seperti tidak sengaja, aku pura-pura.
Siang itu kita duduk dibangku kelas secara berjauhan. Dia lebih memilih duduk didepan, tidak sepertiku, memilih kursi belakang supaya tidak terlihat dosen jika aku sedang mengantuk. Ketika dosen meminta kami berubah posisi duduk bersama dengan teman tugas kelompok. Maka posisiku beralih kedepan.
Secara refleks temanku dibelakang sedang bertanya pada dosen, kemudian aku menoleh kearahnya. Sengaja ku meliriknya. Namun yang terjadi adalah ketika dua orang saling bertatap mata dengan tak sengaja disitulah rasa canggung semakin memberontak.
Tak ada percakapan setelahnya. Hanya tepisan muka kita bersama yang kita tunjukkan bersama. Untuk berusaha mengatakan lewat batin “aku tidak melihatmu, mungkin kau saja yang GR”.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Maksudku kencan pertama dengan laki-laki saat kuliah. Boleh kusebut itu kamu? Laki-laki yang pertama kali mengajakku kencan.
Pagi itu aku bangun kesiangan, kemudian dipenuhi drama mencari baju yang lucu untuk kencan pertama kita. Aku menaruh harapan besar supaya tidak ada yang menggagalkan kencan kita, bukan karena aku berharap lebih untuk denganmu.
“Aku dah selesai”, pesanku setelah keluar kelas yang hanya terhalang beberapa dinding-dinding kelas saja denganmu. Untuk selanjutnya aku menunggu lebih dari setengah jam pada akhirnya. Satu persatu temanmu mulai berlarian meninggalkan kelasmu, tapi aku belum melihatmu. Setelahnya, kamu muncul dan berdiri didepanku. Jantungku berdebar lebih dari saat aku berlari. Aku takut kamu dengar detak jantungku.
“Lama nunggu? Ayo turun dulu”, ucapnya saat kami masih di lantai 4. Lalu turun bersama pula. Menuruni escalator berdecit, mungkin ia lelah, tapi tak ada yang memperdulikan.
Aku meninggalkannya menuju food court, tak lama, ia menyusul, kemudian menaruh buku dan jaketnya sembari berlalu ke dapur food court. Selanjutnya kami duduk satu meja bersama teman-teman lainnya. Aku masih sibuk dengan proposalku. Ia sibuk makan.
Hingga bulan menyinari bumi seutuhnya, kami masih duduk dibangku food court yang sama. Ada banyak obrolan hingga akhirnya ia menyuruhku untuk pulang. “Sudah malam, pulang”, katanya. “Tapi proposalku belum selesai” sanggahku. “Lanjutkan di rumah atau besok lagi”, nadanya sedikit memaksa. Ada banyak pula cerita yang tak mungkin kubagikan semua. Akan kusimpan sendiri. Aku takut nanti ia membaca, kemudian ia akan tau ketika jantungku berdebar saat ia berdiri didepanku, kemudian cerita ini akan tamat. Jangan, jangan sekarang. Aku masih ingin merasakan jantungku berdebar kencang lagi saat bertemu dengannya. Mungkin kau pikir ini cukup untukku saja, kalian yang membaca ini pasti menganggap ini sampah. Tapi aku menganggapnya ini mewah. Kencan pertamaku bersamanya berhasil.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

lampu kuning temaram
lampu kuning temaram

Le Malentendu

 (oleh: Muhammad Abdul Malik)

 

Lampu diatasnya menyala kuning temaram. Sinarnya tidak terlalu terpancar dan menarik perhatian. Warnanya terkesan membuai kehangatan. Ahh, rintikan hujan tadi memang membuat tubuh kedinginan.

“Hei, minumlah…” Ella dikejutkan oleh sosok disampingnya dan terbuyar dalam lamunan. “Kalau sudah dingin, tak enak nanti”

Ella menyeruput kopi panasnya itu. Ia sedikit menahan panas. Ketika bibirnya hampir menyentuh pinggiran cangkir, Ia sengaja melihat Emanuel dari balik cangkir. Didepannya adalah orang yang selalu ada. Selalu. Jika Ia berada diposisi atas. Bahkan jatuh terjun berada diposisi bawah sekalipun, seperti sekarang ini.

“Aku masih tidak percaya” ucap Ella memulai percakapan. Bibir merahnya sedikit basah.

“Kau harus kuat. Ella!

“Eman….” sapaan akrab Emanuel. “tapi aku..” pantulan cahaya lampu diatas tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Telaga dipelupuk matanya hampir penuh. “aku tidak mampu”

“Ayolah, Ella. Mari kita selesaikan masalah bersama. Aku tahu ini ini bukan kesalahan. Ini kemalangan.” Mata Eman menatap Ella dalam-dalam. “Bukankah itu sebuah kerikil. Ya ampun, hanya kerikil. Kita bisa menghempaskannya dengan ujung jari kaki kita. Namun kita juga harus hati-hati agar kerikil itu tidak melukai. Benar-benar harus hati-hati menjelaskan itu semua kepada orang-orang.” Eman berusaha untuk menguatkanya.

Jika masalah diibaratkan sebuah isi harta karun, dan cara penyelesaiannya diibaratkan secarik kain sutera yang menutupi harta karun itu, maka Komunikasi adalah seperti menghempaskan secarik kain sutera itu untuk mengambil isi harta karun. Komunikasi memang benar-benar dapat menyesaikan agar masalah tak berlarut-larut. Lalu mengendap. Hingga basi kemudian memadat.

“Bagaimana mereka kalau tidak percaya.” ucap Ella sembari mengulur tisu disamping kopinya, Ia mengusap matanya sebelum air telaga dipelupuk matanya jatuh. “Aku tidak tahu mengapa orang-orang berpikiran jauh seperti itu.”

“Saya memang bodoh! Seharusnya saya menahan diri untuk tidak masuk ke kamar kosmu dipagi hari yang sepi. Dan sialnya, kali itu saya hanya memakai kolor.” Sesal Eman sambil mengepal tangannya kuat-kuat. “Tapi kala itu kita tidak melakukan apa-apa kan Ella? Dan mereka semua itu malentendu(1)

Ella mengangguk perlahan.

Cahaya lampu rem yang menyala terang ketika hampir sampai lampu merah, bunyi cicitan rem, dan lalu-lalang orang-orang, juga papan iklan yang menampilkan produk pasaran, tidak menarik perhatian Ella dan Eman sama sekali. Disudut ruangan kedai kopi itu, mereka tenggelam dalam percakapan.

Ella melihat tangannya seperti tangan milik orang lain “Kau tidak boleh seperti ini. Tidak ada kesalahan yang kau perbuat. Mereka semua terlalu mencampuri urusan orang. Jangan sedih!

***

Ella dan Emanuel adalah remaja lawan jenis yang mempunyai ketertarikan satu sama lain. Cinta mereka tumbuh seperti ungkapan jawa: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Sebuah ungkapan dalam bahasa jawa bahwa “Cinta tumbuh karena terbiasa” – terbiasa bertemu dan bersama-sama. Mereka memang satu kampus, satu fakultas, satu program studi dan tak jarang satu kelas. Karena mereka anak rantau, untuk bertempat tinggal mereka menyewa kos. Bukan, mereka bukan satu kos. Eman kos didaerah selatan kampus. Sedangkan kos Ella berada diutara kampus. Sedikit jauh. Namun mereka masih bisa bertandang ke kos satu sama lain.

Kamis pagi kala itu, Eman sedang bertandang ke kos Ella untuk menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan sesegera mungkin.

“Aku akan menuju kosmu sekarang Ella.” Tulis Eman dipesan singkatnya. Sebelum Ia memutar tuas gas motornya, Ia memencet tombol send.

Eman tidak tahu apakah Ella menyanggupi untuk menerima Eman ditempat kosnya. Eman terlalu terburu-buru.

“Eman aku mohon jangan sekarang.” Balasan pada pesan singkatnya tadi ketika Ia sampai didepan kos Ella.

“kepalang tanggung! Aku sudah sampai didepan kosmu, Ella.”

“Ella, Selamat Pagi… buka pintunya segera, sayang!”

Keadaan kos pagi hari ini memang sepi. Sepatu-sepatu yang ditempatkan dirak dekat tempat sampah tak ada. Sandal lusuh terlihat terbengkalai dilantai. Nampak juga kursi tua yang teronggok dan sapu lusuh yang tersender ditembok motif bata balok.

Bunyi pintu terdengar ketika gagang pintu terpelintir kekanan.

“Kau tidak baca balasanku. Ya ampun…” Ella berusaha memberitahu Eman bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bertandang, namun Eman nampakknya tahu dan segera memotong;

“Ini karena tugas Ella.”

Mungkin Ella bisa beralasan jika Ia belum mandi dan belum siap diri. Bagaimanapun, Ia ingin sempurna didepan kekasihnya. Jika memang Eman cukup peka melihat ketidaksiapan seseorang, alasan Ella memang logis dan benar, bahwa wajahnya telihat kusut, bibirnya belum tergores lipstik, bubuhan bedak tipis belum tersebar, dan rambutnya sedikit awul-awulan.

“Bolehkah aku masuk?”

Kursi tua yang teronggok dan warna kreamnya telah lusuh, seperti melarang Ella; “please… jangan duduki aku. (dengan tatapan mata sayu)” dan ketika Ella melempar pandangan kelantai warna abu-abu “Jangan duduki. Aku kotor. Kau tidak pernah mengepel punggungku.

“Masuk saja.”

***

 Nyonya Rein setiap minggu sore selalu melihat hasil pantauan selama satu minggu  dari CCTV yang Ia pasang dipojok atas genteng kosnya. CCTV-nya Ia warnai coklat, jadi tidak telihat. Nyonya Rhein nampaknya pribadi yang was-was, Ia tak mau penghuni kosnya meninggalkan usaha barunya ini, mengingat pekan lalu telah terjadi tragedi seorang mahasiswa kehilangan laptopnya. “Biar aman.” Alasannya ketika tiap kali orang-orang bertanya mengapa ia memasang CCTV dikosnya.

Namun ketika Ia melihat video pada Kamis pagi. Ia tercengang. Dalam video itu terlihat sosok pria tinggi, warna kulitnya kecoklatan, hidungnya mancung, dan hanya memakai kolor. Pria itu memasuki salah satu kamar kosnya. Diambang pintu, Nyonya Rhein bisa melihat bahwa –dan Ia belum percaya, bahwa Ella menyambut pria itu dan membiarkannya masuk. Pikiran Nyonya Rhein melesat jauh menduga-duga apa yang dilakukan Ella dan Pria itu didalam kamar kosnya.

Adegan itu kemudian tersebar ke penghuni kos lain. Tatapan mata dan tindak-tanduk penghuni kos lain terhadap Ella sekarang berubah. Ella cukup pintar untuk menyimpulkan bahwa Ia sedang direndahkan dan diremehkan. Ia tidak tahu mengapa. Namun ketika nyonya Rhein berkunjung untuk melihat keadaan kosnya, Ia basa-basi menyapa Ella.

“Kemana pria itu, Ella?

Seketika Ella tersadar bahwa Ia merasa direndahkan dan diremehkan karena masuknya Pria itu kekamar kosnya. Bahwa semuanya telah salah paham. Ini harus segera dibicarakan. Segera. Sebelum Salah Paham menggerogoti kebenaran.

 

 

Malentendu(1) (baca: malongtondzuu) adalah bahasa perancis yang jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti  Salah Paham. Jika didepan kata malentendu terdapat kata Le ( Le Malentendu) mempunyai arti Kesalahpahaman.

Penampakan diUujung Malam

Penampakan di Ujung Malam

(oleh: Muhamad Abdul Malik)

 

Pada suatu malam, Cleo beserta teman-temannya menikmati malam. Mereka mengobrol, memperbincangkan sesuatu. Suara klakson kendaraan dan deru sedan terdengar jelas dari sini, Kedai Kopi.

Penampakan Diujung Malam
Penampakan Diujung Malam

“Begitu menarik kawan” kata Cleo.

Kota Lama Menuju Warisan Dunia

Oleh : Radite Rafi

Seperti yang kita lihat di kota semarang ini terus mengalami perkembangan, mulai dari sektor pembangunan, ekonomi, perindustrian, hingga sumber daya manusia di dalamnya. Namun ada sesuatu hal yang terlewatkan dari kota semarang ini, yaitu Kota Lama.

Kota lama merupakan sebuah komplek yang berisi bangunan-bunganan kuno peninggalan masa kolonial. Seiring jaman berganti Kota Lama hanya tinggal kenangan bahkan yang ada hanyalah cerita-cerita mistis yang membuat buku kuduk berdiri dan terkesan menyeramkan bila melewati komplek Kota Lama. Namun sekarang cerita-cerita tersebut sudah tiada lagi.