Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali?

Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan?

Kembalilah Bujang, kembali ke Kampungmu, disana

Kampung yang dulu kau elok elokan padaku

Tengoklah ayah dan ibumu sanak famili yang selalu menanti

Hai Bujang

Ayah ibumu pasti sudah lama menanti

Atau bahkan mereka sudah lelah menantimu pulang Bujang

Bujang

Sudah cukup ilmu yang kau cari, apalagi yang kau tunggu bujang?

Atau haruskah ayah ibumu ke liang lahat dulu baru kau akan pulang?

Wahai Bujang

Jangan jadi sepertiku

Sebatang kara tanpa seorang pun peduli

Hidup terlunta lunta tanpa sanak famili

Bahkan jika aku mati

Tak akan ada yang menghampiri

Wahai Bujang

Pulanglah Bujang, pulang

-elmeida(04/12/2018)

*terinspirasi dari novel Pulang karya Tere Liye

She is My Eyes

Tuhan, ujian apa lagi ini? Hitam dan gelap. Aku dimana? Apa yang terjadi pada diriku? Apa ini? Aku merasakan banyak sekali alat-alat asing yang menempel pada wajahku. Apa lagi ini? Jarum? Baunya alkohol, sebenarnya aku dimana? Ah, sudahlah jika ini memang terjadi, ini sudah kehendak Tuhan.

Satu tahun kemudian…

Hai, namaku Rian. Aku merupakan anak kedua dari keluarga yang sangat sederhana. Kini usiaku sudah menginjak 19 tahun dan baru lulus dari SMK. Aku mendapatkan beasiswa khusus untuk melanjutkan pendidikanku di salah satu Universitas khusus yang ada di kota Semarang.

“Hai, selamat pagi dunia, selamat pagi juga buat kamu yang disana,” dalam hati. Iringan suara ayam berkokok seolah menyanyi membangunkanku yang masih tertidur lelap serta dapat kurasakan burung-burung meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Terasa sang surya masih sangat malu untuk menampakan cahayanya.

“Rian! Cepetan bangun, katanya hari ini kuliah,” teriak ibuku dari dapur.

Aku perlahan menuju kamar mandi dan siap-siap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa aku diantarkan ibukku sampai ke halte.

Suara bus telah datang menghampiri halte, pelan-pelan aku memasukinya. Seperti biasa aku duduk di kursi prioritas. Bus berangkat, semua pintu tertutup rapat. Hanya udara dingin dari AC yang aku rasakan, ditambah lagi dengan suara brisik yang ada dalam sini. Oh, sungguh pagi yang sangat menyebalkan.

Getaran kecil terasa di paha, melodi yang tak asing lagi telah terdengar, apa ini? Ternyata ini hanyalah handphone jadul biasa yang sedang mendapatkan panggilan. Aneh sekali, biasanya di pagi-pagi seperti ini jarang ada yang menelponku. Aku penasaran siapa yang menelpon, kuambil handphone dari saku dan menekan tombol untuk menerima panggilan.

“Halo?”

“Sayang, nanti jadi ya?”

“Iyaa jadi kok,”

“Nanti ketemuan di taman seperti biasanya,”

“Iya sayang,”

“Yaudah deh, kamu lanjut dulu berangkat ke kampusnya. Maaf ya ganggu waktumu,”

“Iya nggakpapa kok,”

“Ya udah. Daaaa,”

“Daaaa”. Kuakhiri obrolan kami pagi itu.

Ternyata Mey, dia pacarku. Aku sudah berjanji saat pulang nanti menemaninya pergi ke sebuah restoran baru yang ada di sebrang kampusnya. Mey merupakan anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia melanjutkan pendidikannya di Universitas yang terletak tidak jauh dari kampusku. Aku menyukainya, dia menerimaku apa adanya. Sayangnya dia adalah orang yang suka menuntut, memaksakan keinginannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.

Maaf, terlalu lama aku menceritakan tentangnya. Hingga aku lupa bahwa bus sudah hampir sampai di halte dekat kampusku.

“Imam Bonjol, Ibu Kartini, SMP 7,” teriak petugas penjaga pintu dalam bus.

Satu persatu orang keluar meninggalkan bus termasuk aku. Aku meninggalkan bus dan melangkah perlahan menuruni anak tangga yang sudah aku hafalkan tiap harinya. Jam menunjukan pukul tujuh tepat, seperti biasa aku menunggu temanku di depan gedung rektorat untuk pergi ke kelas bersama.

“Rian!,” seseorang merangkul ku dari belakang.

“Eh ini Alan kan?” kataku untuk memastikan.

“Iyalah, siapa lagi?”

“Ya udah yuk, pergi ke kelas,” ajaknya.

Sesampainya di depan kelas, kami memasuki ruangan. Rasanya sepi sekali, hampa, celotehan teman-temanku belum juga terdengar, yang terdengar sekarang adalah bunyi handphone Alan.

“Halo,”

“Alan,”

“Iya mbak kenapa?”

“Saya tadi lihat kamu. Kok hari ini masuk? Kan masih UTS jadi nggak ada kuliah,” tanya dosenku dengan heran.

Loh mbak, saya nggak tahu,” jawabnya sedikit kecewa.

“Lah, makanya to di dengerin ketika saya lagi ngajar”

“Iya mbak,” mematikan telepon.

Alan kecewa dan menghampiriku.

“Rian,”

“Iya Lan?”

“Ternyata kelasnya libur hari ini, tadi Mbak Ratna nelpon aku,”

“Lah kok bisa?”

“Kan minggu ini UTS, jadi nggak ada kuliah,”

“Astaga, kok bisa lupa sih aku,” ikut kecewa dan menyesal datang ke kampus.

Kaget sekali mendengar bahwa tidak kelas hari ini, lagi pula ini juga salahku yang terlalu tidak fokus mendengarkan dosen. Alan pun juga ikut menyesal berangkat ke kampus hari ini, dia memutuskan untuk pamit pulang meninggalkanku. Dering handphoneku berbunyi, ternyata Mey.

“Halo sayang,”

“Iyaa halo,”

“Sayang sekarang aja yuk, kamu nggak ada kuliah kan? Masa UTS kok kuliah,”

“Katanya nanti,”

“Sekarang aja yang,”

“Masih bete aku,”

“Kenapa bete?

“Tadi to. Jauh-jauh dari rumah ke kampus ternyata malah nggak ada kuliah,” jawabku kesal.

“Lagian kamu sih, tahu UTS malah kuliah,” ia tertawa.

“Iya deh maaf to,”

“Iya, ya udah yok sekarang,”

“Nanti aja, masih bete aku,”

“Nanti kalau ketemu aku, kan betenya ilang,”

“Yayayaya,”

“Ikhlas apa ndak?”

“Ikhlas sayang,”

“Yaudah kamu tunggu disana, aku otw ke kampusmu sekarang,”

“Iya nanti tunggu aja di depan gedung rektorat,”

“Okey,”

Alan telah pulang, kini hanya aku sendiri. Aku bingung mau ke gedung rektorat sama siapa. Untungnya aku masih ingat ada temanku di sekitar sini yang sedang mengikuti ujian.

“Halo Rin,”

“Iya?”

“Emm. Kamu dimana? Kamu ujian?”

“Di H.6.3. Aku nggak jadi ujian, pengawasnya nggak datang hari ini,”

“Mau minta tolong temenin aku jalan kedepan gedung rektorat,”

“Oalah ya udah ayok sekarang, aku juga mau kesana nyelesain administrasi,”

“Ya udah, aku tunggu di H.6.10 ya”.

Sepuluh menit berlalu dan Rina menghampiriku.

“Rian. Ayok sekarang,” teriak Rina dan langsung menggandeng tanganku.

“Eh Rina, merdu sekali suaramu seperti biasanya. Ya udah yuk,”

Sesampainya di gedung rektorat, aku menunggu Mey hingga panas matahari sudah terasa sangat menyengat di badanku. Suara motor yang khas kini telah sampai menghampiri. Senang sekali rasanya merasakan orang yang aku tunggu-tunggu datang.

“Yuk naik yang,”

Aku langsung menaiki motornya, menuju restoran baru yang ada di depan kampus Mey. Menikmati panas di kota Semarang sambil berbincang-bincang bersamanya.

“Sayang, tadi siapa?”

“Siapa?”

“Halah jangan bohong, tadi aku lihat kamu digandeng cewek lain kok,” tertawa.

“Oalah itu Rina, kamu cemburu?”

“Dikit…,” dengan nada yang datar.

“Jangan cemburu, dia cuman nemenin aku untuk sampai ke gedung rektorat kok”

“Iya sayang, aku paham kok,”

“Nah gitu dong,” sambil mencubit pipinya dari belakang.

Kami telah sampai di restoran. Mey menggandengku masuk kedalam, duduk menikmati udara yang sangat sejuk. Suara lonceng kecil terus-terusan berbunyi terasa sangat ramai orang yang berdatangan. Aku hanya duduk diam di depan Mey.

“Sayang, kamu mau makan apa?”

“Emm. Kalo makanan aku pesenin sesuai apa yang kamu pesan aja yang. Untuk minum tolong pesenin jus wortel”

“Jus wortel?,” ia heran dan bertanya-tanya.

Dua puluh menit berlalu dipenuhi rasa lapar dan haus. Pelayan disini sangatlah ramah. Makanan dan minuman yang telah di pesan akhirnya datang di meja kami. Aku tak begitu tau apa yang akan aku makan ini. Pertanyaan terus muncul dalam pikiranku.

“Ini apa?” aku menyentuh sesuatu.

“Nasi,”

“Ini?” aku menyentuh sesuatu lagi.

“Ayam,”

“Ini apa?” aku mengambil kertas yang pelayan selipkan di bawah piring.

“Itu struk,”

“Berapa totalnya?”

“Dua ratus lima puluh empat ribu,”

Sekejap aku kaget mendengarkan total harga yang sebesar itu, terjadilah perdebatan antara aku dan dia.

“Itu harga yang harus kita bayar,”

“Kita? Kamu nggak malu?”

“Lah, seharusnya kamu. Kamu apa nggak malu kalo di bayarin terus-terusan?”

“Enggak, kan itu udah tugas cowok buat mbayarin makan ceweknya,”

“Ya nggak gitu juga lah yang. Kan aku belom kerja, masih kuliah, uang aja masih dikasih sama orang tua, kamu pergertian dikit dong,” dengan nada yang agak keras.

“Makanya kamu itu nyari kerja sambilan apa kek gitu,”

“Kerja? Lihat kondisiku yang sekarang gitu loh!” membentak.

“Alah! Emang gak guna punya pacar yang buta kayak kamu!”

“Tega ya kamu bilang kayak gitu! Satu tahun yang lalu waktu kamu operasi, yang ngedonorin mata buat kamu itu siapa? Aku!

“Ohh jadi kamu nggak ikhlas? Kalo nggak ikhlas ngapain waktu itu donorin mata buat aku?!”

“Karena aku sayang sama kamu!! Tapi kamunya nggak sadar diri! Disayang ga ngerti disayang!”

Suasana menjadi tidak terkondisikan, ditambah hujan yang tiba-tiba turun dari langit.

“Diam!!” teriak seorang karyawan restoran sambil menggebrak meja.

“Disini itu tempatnya orang mau makan, kalian berdua malah ribut disini. Keluar kalian!!” kata seorang karyawan restoran itu.

Kami berdua hanya terdiam sejenak dan berdiri meninggalkan meja makan. Mey keluar tanpa mengajakku. Aku keluar mengikuti Mey dengan memanggil penjaga restoran dan meminta bantuan untuk menuntunku keluar restoran.

“Puas ‘kan kamu? Sekarang kita jadi diusir dari sini,”

“Diam!! Udahlah aku capek sama kamu. Kita udahan aja sampai disini, percuma punya pacar yang nggak guna kayak kamu!” Mey pergi meninggalkanku.

“Waktu yang telah berputar tak akan mungkin berputar kembali. Kini, tinggal ku sendiri, berkawan dengan sepi,” ucapku dalam hati.

Setelah mendengar perkataan Mey tadi, aku hanya diam dan berputar badan berjalan perlahan ke taman yang ada sekitar sini. Tetapi ada suatu hal yang tidak terduga, Mey berlari dari jauh menghampiriku dan memelukku sangat erat. Aku membalas pelukan itu. Dia sadar apa yang telah dia ucapkan itu salah. Kami berpelukan cukup lama. Hanya dengan pelukan semuanya menjadi baik-baik saja seperti semula. Pelukan itu menandakan kalau kami masing-masing saling minta maaf dan memaafkan.

“Sayang, sampai kapan kita akan pelukan disini,” kataku sambil tertawa.

“Bodo amat. Aku sayang kamu..,” masih memeluk dengan erat.

– S E L E S A I –

Penulis : Irfandi Nur Fadhilah

Jatuh Cinta

>Hey, siapa cinta pertamamu?

<Emm.. siapa ya

>Pasti si dia ya?

<……

Satu pertanyaan yang pastinya pernah dilontarkan oleh segelintir orang yang notabenenya sangat senang sekali mengingat masa lalu.

Tapi kalau boleh aku berkata, mengapa cinta pertama selalu dikaitkan dengan sesama manusia, kenapa tidak batu, air,tanah,api, atau bahkan laptop, handphone?

Mengapa harus manusia?

Sejenak aku memikirkan ini kala hujan turun beberapa jam yang lalu, memboyong semerbak wangi tanah yang tiada banding.

Kalau aku boleh mengganti subjek cinta pertamaku, aku mungkin akan lebih memilih jatuh cinta pada air susu ibuku. Karena selama 6 bulan pertamaku hidup di bumi aku tak bisa hidup tanpanya dan tentu saja aku selalu merengek jika tak kunjung bertemu dengan air susu ibuku.

Mungkin agak aneh jika memberi predikat pada benda atau apapun selain manusia sebagai cinta pertamanya. Tapi, menurutku jatuh cinta untuk pertama kalinya bukan hanya pada manusia karena kita bisa saja kan jatuh cinta pada bau kopi arabica racikan kedai kopi ternama saat pertama mencoba, ataupun jatuh cinta pada buku fiksi yang memiliki alur cerita menarik sampai-sampai membuat pembacanya masuk ke dalam dunia dongeng yang ditulis.

Jadi, jatuh cinta bukan hanya perasaan suka pada sesama manusia, tapi juga kesenangan saat melihat, merasakan, mendengar, menghirup, dan meraba segala apapun itu pada pertama kalinya. Dan ada semacam gejolak untuk terus terusan mengingat dan mengingat hingga akhirnya terbayang bayang dan berkelanjutan selalu ingin melihat, mendengar,menghirup serta merasakannya terus-terusan.

Penulis : Mila Elmeida

Menciummu

Bunga di pagi hari itu sangatlah indah.

Rasanya…

Ingin sekali mencium semerbak harumnya hingga masuk ke dalam dada.

Lalu kupejamkan mata sembari menikmati suara alam ini.

Terlintas dipikiranku. Aku pernah merasakan kenikmatan dan kenyamanan ini.

Iya, aku pernah merasakan ini semua. Tapi kapan?

Kupejamkan mata ini lebih dalam lagi. Aku paksa pikiran ini untuk mengingatnya, dan terlintas sosok perempuan yang selalu menyayangi, menjaga dan merawat.

Terlintas cahaya putih yang selalu ia berikan hingga kini masih putih dan sangat suci.

Alunan nada-nada itupun masih diberikan dan mengiringi hingga saat ini.

Jika terjadi sesuatu, sosok itu menjadi barisan terdepan untuk melindungi.

Tak peduli bahaya yang ia dapatkan nanti. Meskipun ia harus merasakan kesakitan.

Perhatian yang selalu diberikan oleh sosok itu terus diberikan. Ia ingin perjuangan yang ia berikan itu berubah manis, ia tak ingin melihat kesedihan.

Aku tarik nafas ini lebih panjang dan kurasakan semua itu …

Oh Tuhan terimkasih Kau telah memberikanku sosok ibu yang baik, penuh perhatian denganku dan tak pernah lelah untuk berjuang demi aku. Selalu memberikan yang terbaik dan tak ingin melihat aku bersedih. Terimakasih Tuhan… aku mungkin tak tahu perjuangan yang telah dilewatinya. Rasanya aku ingin mengganti perjuangan itu dengan melihat raut wajah kebahagiaan.

“Bu… anakmu ini sudah tumbuh besar. Sebesar kebahagiaan yang nanti kuberikan untukmu bu. Terimakasih engkau telah merawatku sedari kecil hingga sekarang. Mungkin semua itu belum bisa aku balas. Perhatian yang tanpa lelah engkau berikan padaku. Selalu memberikan semangat disetiap hariku. Disaat sedang sedih, bimbang, putus harapan. Engkau selalu datang menyinariku tanpa aku menceritakan semuanya padamu. Mungkin dari raut wajahku dan tingkah lakuku, padahal aku selalu mencoba menutupi agar engkau tak pikiran. Maaf ya bu anakmu ini terkadang masih membuatmu marah dan kawatir. Aku janji aku bakal menghapus itu semua bu…”

Angin datang menerpa tubuh ini.. disaat memori itu kembali.

Ibu… aku ingin menciummu…

Penulis : Ummi Nur Aini Daneswari

Prasastiku

Aku Mencintaimu

Sungguh

Namun arah mata angin kita sungguh berbeda

Memang benar kau yang meruntuhkan dinding kokohku

Melumatkan batu dalam pikiranku

Juga memberi sejuk dalam malamku

Tapi hei…

Kita sungguh sangat berbeda

Aku memang benar mencintaimu

Tapi jendela ini benar-benar sulit untuk dibuka

Seberapa keras aku mencoba

Sungguh…

Aku sangat mencintaimu

Namun kau ada dalam ketiadaan

Dan luka ini akan terinfeksi bila terus terpapar

Tapi benar memang

Aku sudah cukup bahagia

Kenangan ini terpatri dalam hidupku

Dengan kau ada didalamnya

Mencintai dan dicintai

Walau akhirnya tak dapat memiliki

Penulis : Mila Elmeida

Can I Call U, Love? – #10 Saksi

Lupakan. Lupakan kejadian-kejadian yang lalu, yang sudah-sudah, yang kemarin, biar jadi memori untuk dikenang. Sekarang, berjalan sendiri-sendiri adalah jalan keluar yang baik. Bukan untuk disesali karena telah bertemu, karena setiap pertemuan, ada perpisahan. Pertemuan singkat dengannya nyatanya pernah membuatku tertawa, merasa nyaman, merasa bahwa aku saat itu memiliki polisi yang siap menjagaku seharian penuh, meski jika malam yang menjagaku adalah teman kosku, bukan dia.

Pertemuan kami yang terakhir adalah pertemuan kami di meja food court kampus. Kurasa hari itu adalah hari perpisahan kami, dimana seharusnya kami berdua sudah memahami bahwa kami akan memilih jalan masing-masing yang berbeda tanpa adanya komunikasi verbal. Sebuah tamparan keras bagiku saat itu, karena ternyata yang membuatnya jauh adalah aku sendiri karena bermaksud memberinya ruang sendiri namun malah lepas hempas begitu saja tanpa pamit.

Aku masih ingat pada malam harinya setelah kami bertemu di food court, ia menelponku.

“Hai”, sapanya lebih dulu.

“Iya, hallo”

“Lagi apa?”

“Lagi Youtube-an sih, gimana ik?”

“Aku bingung ik”

“Bingung kenapa?”

“Kalo cewek itu suka cemburuan ya?”, tanyanya.

Pertanyaannya kali ini benar-benar membuatku kaku. Hampir tak mampu menjawab. Namun kuberanikan untuk menjawab meski terbata-bata karena gugup.

“I i i iya, bisa jadi, kenapa?”

“Pantesan dia tadi cemburu pas kamu nyamperin aku ngajakin ngobrol berdua”, ia tertawa seolah-olah ia tak tahu perasaanku bahwa akulah sebenarnya orang yang cemburu karena melihatnya duduk berdua.

“Oh ya?”, jawabku sudah rada malas.

“Iya! Eh, kalau aku nembak dia besok gitu, terlalu cepet ga sih?”

Astaga, demi Neptunus! Ini rasanya aku sedang ditampar pakai batu ratusan kali. Ternyata selama ini memang ia tak punya rasa, hanya saja butuh teman cerita dan kebetulan aku mungkin ada. Mungkin aku satu-satunya orang yang nyaman ia ajak curhat dan berbagi keluh kesahnya. Pantas saja, ada beberapa momen yang waktu itu ia sudah mulai menjauh tiba-tiba. Kupikir memang ia sibuk kuliah atau organisasinya. Ternyata ini penyebabnya. Aku sejujurnya tak tahu pasti kapan ia mulai berhubungan lagi dengan mantannya. Apakah dari sejak pertama kali kencan? Atau memang barusan ketika liburan semester? Ah pikiranku sudah melayang bebas.

“Mmmm, emang kamu deketin dia sejak kapan? Kok gak pernah cerita?”, pertanyaanku kali ini sedikit menjebak, supaya aku tahu sebenarnya sejak kapan ia mendekati kembali mantannya itu.

“Barusan sih, dua minggu lalu kalau ga salah”

Ah, ‘kan, bener! Sialan! Berarti memang ruang sendiri itu adalah bumerang untukku! Jika tahu hasilnya akan seperti ini, aku nggak akan biarkan dia lengah ‘lah.

“Sekitar dua minggu yang lalu itu, aku ketemu dia di reuni sekolahku dulu, terus ya udah, ngobrol, nyaman lagi, kebetulan dia lagi jomblo juga. Terus minggu lalu sempet pergi nonton juga, ke rumahnya, dia katanya mau bikin kue, aku suruh nyobain. Yaudah deh, menurutmu gimana? Tembak sekarang gak?”, imbuhnya di telepon.

Tidak perlu kuceritakan ‘kan, tentang apa yang terjadi pada diriku malam itu. Aku hancur ‘lah, itu pasti dan tidak bisa kupungkiri. Tetapi aku lagi-lagi berusaha untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan bahwa aku sedang hancur, karena orang lain termasuk dia hanya boleh melihat senyumku, yang baik-baik tentangku, biar yang buruk hanya aku dan Tuhan yang tahu.

“Oh gitu, ya…kalau kamu sudah mantap sama pilihanmu, silakan aja mas. Keburu nanti dia diambil sama yang lain ‘kan…”, aku menjawab sembari mengusap air mataku yang jatuh, untung saja ini hanya telepon, ia tak akan bisa melihatnya.

“Besok deh, besok jam 8 aku jemput kamu, kita siapin tempat yang romantis di taman Romansa, nanti dia aku bawa kesana setelah kita selesai siapin semuanya, oke?”, ajaknya dengan sangat berantusias.

“Mmmm, aku gak bisa mas, maaf. Besok aku udah ada janji sama temen-temen”, aku berbohong padanya.

“Ah batalin aja sama temenmu itu, sekali-kali bantuin aku, emang mau kemana?”

“Mm mm mm, ke… kemana ya…itu…”, jawabku gugup karena bingung mau menjawab apa.

“Ah kamu boong ‘kan, aku tahu kali. Pokoknya besok pagi aku jemput kamu”, langsung mematikan teleponnya.

Pagi sekali, bahkan sebelum jam 8 ia sudah mengetuk pintuku, mengucap salam dan langsung masuk sebelum kubukakan pintu dan kujawab salamnya. Setelah itu aku dibawanya ke taman Romansa dekat bandara yang baru saja selesai diresmikan oleh Pak Ganjar Pranowo sebulan yang lalu. Dengan menggendong tas ranselnya yang berisikan banyak barang untuk didekor sesuai kemauannya nanti. Sesampainya disana, langsung saja ia mendekor seromantis mungkin, kemudian setelah semuanya selesai, ia menelpon mantannya yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya lagi.

“Kamu dimana? Aku jemput sekarang ya, ikut aku”, katanya.

Tak lama kemudian setelah ia pergi menjemput mantannya itu, ia sudah kembali dengan menutup mata mantannya. Kemudian ketika berhenti didepan tulisan “Do you want to come back to me?” matanya dibuka dari penutup mata. Mantannya mengangguk dan menangis, kini akhirnya mantan tersebut sudah kembali menjadi tambatan hatinya lagi. Ia memeluk pacarnya yang masih menangis karena memang dekorasi yang ia suguhkan sungguh romantis.

Aku hampir tak percaya bahwa ia akan melakukannya didepan mata kepalaku sendiri, dan akulah yang sedari tadi pagi diributkan untuk membuat rencananya berjalan sesuai ekspektasinya. Akulah satu-satunya orang yang menjadi saksi bisu bertemunya kembali dua insan yang telah lama tak bertemu kemudian menjadi saling mencinta lagi setelah sekian lama pernah saling menjauhi karena tak ingin disakiti lagi.

Can I Call U, Love? – #9 Bumerang

Meski sempat renggang, tapi keadaan memaksa kami untuk tetap merapat. Sekalipun lebih banyak bungkam ketika dua manusia canggung dipertemukan. Namun inilah kenyataannya. Kemudian kami mulai terbiasa kembali dengan situasi seperti ini.

Sekarang ini bersyukur karena kampus sudah memberikan libur meski, ya, singkat. Tapi begitu banyak kisah yang terjadi dengan kami selama liburan. Semuanya kembali berantakan. Padahal sebelumnya sempat kurasa membaik.

Untuk memulai libur, kami menyempatkan diri untuk bertemu sebelum akhirnya rindu akan mulai hadir diantara kami, kemudian dipastikan sulit untuk menyelesaikan rindu yang hadir disela-sela masa libur kami. Karena kami akan kembali ke kampung halaman masing-masing yang terbentang jarak sekitar 420km.

Hari itu sangat indah, semuanya baik-baik saja. Kami berdua tampak seperti minggu-minggu lalu. Hari itu pula, organisasi kami menyempatkan pula untuk berkumpul bersama untuk pamitan sebelum liburan, sekaligus evaluasi selama satu semester dan selesai pukul dua siang. Setelahnya kami habiskan waktu berdua di sebuah mall yang kebetulan jaraknya tak jauh dari kampus kami. Mulai dari nonton film, main game, hingga makan burger kesukaannya.

“Nanti liburan aku ada project nih sama saudaraku, mau bikin short movie”, ia membuka suara lebih dulu sambil mengunyah burgernya.

“Bagus dong, aku mau nonton, ‘ya!”

“Cek di channel Youtube aku ya, jangan lupa subscribe, like, comment, and share hahahaha”, ia meledek dengan menirukan gayaku.

“Hihh nyebelin! Eh aku juga katanya mau dikasih kerjaan dari Papa nih mas, kayaknya suruh ngedit deh. Soalnya kemarin Papa tuh telepon, katanya kalau pulang suruh bawa kamera sama laptop gitu”

“Video CCTV lagi maksudnya?”

“Kayaknya sih gitu. Eh jadi kita bakal sama-sama sibuk dong?”

“Ya, iya, hehehe”

“Okeh, ndak apa. Nanti liburan, aku juga kurangin porsi aku ngepoin kamu deh mas, biar kamu fokus sama short movie nya”, aku memberinya ruang untuk sendiri.

“Kebetulan aku nge-shoot, juga yang ngedit, jadi bakal sibuk”

I know, kamu kalau udah ngadep laptop kan gak bisa diganggu gugat hehehe”

“Biar fokus aja, kamu juga biar fokus. Biar kamu nggak mikirin aku chat apa enggak”

“Aku jadi inget mas hahaha”, aku tertawa tiba-tiba karena mengingat masalalu

“Inget apa?”

“Pas lagi teleponan kita, padahal aku mau nugas, terus kamu tiba-tiba matiin teleponnya. Katanya biar aku nugas, terus beneran aku nugas deh langsungan”

“Ohhh inget! Hahahaha, kan kamu gitu sukanya kalau udah nyaman, suka lupa”

“Yaudah deh deal ‘ya?”

“Iya siap bosku”

Setelah percakapan kami usai, liburan tiba, hingga pada akhirnya yang terjadi adalah benar. Tak ada saling mengganggu, tak saling memikirkan satu sama lain sedang apa, dan memang jarang berkomunikasi kecuali untuk hal yang benar-benar penting.

Ketika liburan hampir usai, ternyata kami belum sempat berkomunikasi lagi seperti biasa. Yang ada dalam pikirku, ia pasti akan lebih dulu menghubungiku ketika short movie-nya telah selesai. Namun ternyata salah. Bahkan saat aku sudah kembali ke Kota Semarang, ia bahkan tak merespon insta stories-ku yang kutahu ia melihatnya. Diabaikan.

Kemudian, untuk hari-hari berikutnya pun, tak pernah bertemu di kampus. Ia menghilang dari sosial medianya, tak pernah kulihatnya berada di dalam ruang organisasi, ataupun di warung burjo.

Sekitar seminggu perkuliahan kembali dimulai dalam suasana semester genap, aku baru bisa menemukannya. Berada dalam satu meja food court bersama perempuan, berdua saja. Asik sekali berbicara hingga tertawa dan tak menyadari bahwa aku ada disana. Kuhampirinya tanpa pernah ada rasa gengsi atau takut akan harga diriku hilang karena lebih dulu menghampirinya.

“Bisa kita pindah ke meja sebelah? Aku pengen ngobrol berdua”, aku sambil menahan air mataku.

“Boleh, ada apa?”, sambil bangkit dari bangkunya dan meninggalkan perempuan itu.

“Dia siapa mas?”, tanyaku langsung to the point.

“Itu? Mantanku, hehehe”, sambil menunjuknya.

“Oh, mantan. Aku nunggu kamu chat duluan sih mas dari kemarin. Soalnya aku pikir karena liburnya habis, dan short movie-nya udah kelar, ya…”, belum selesai kalimatku sudah dipotong dengannya.

“Udah jadi kok short movie-nya, tonton di Youtube-ku aja. Itu, kemarin aku habis nganterin dia ke Bandara, nganter dia ketemu sahabatnya”, lontarnya dengan santai tanpa memikirkan perasaanku.

“Mmmmm, oke. Yaudah aku cabut dulu mas”, kataku tersenyum sembari meninggalkannya.

“Oke, hati-hati”

Sekalipun status kami belum jelas. Namun faktanya, ia yang selama ini membuatku nyaman, memberi ketenangan. Jika ia tiba-tiba jalan berdua dengan perempuan lain yang tak lain adalah mantannya sendiri, aku ini bisa apa? Memintanya untuk menjauhi perempuan itu? Tidak seberhak itu.

Ternyata bumerang. Ketika aku memberikannya ruang untuk sendiri, nyatanya malah ia bagi dengan perempuan lain. Bahkan aku sendiri kehilangan ruang itu.

Can I Call U, Love? – #8 Sepotong Black Forest yang Menjauhkan

Hari ini bukan hari baik pula bagiku. Kukira akan ada rencana pengganti makan malam kemarin yang tertunda. Bukan ternyata. Tugas-tugas menjelang UAS memberatkan kami.

Sepulang kuliah, sekitar pukul 16.45, aku tiba di lantai 2 gedung kegiatan mahasiswa. Meletakkan ranselku yang berat, cukup banyak mata kuliah hari ini yang mengharuskanku membawa modul pula. Laptop yang kutenteng, kupersilakan ia untuk tidur di lantai. Aku menikmati senja di camp seorang diri, disoroti matahari yang hampir tenggelam, kemudian memutar lagu-lagu indie yang shaydu. Lengkap sudah. Hari ini lelah. Aku merenung sambil memejamkan mata, berharap untuk sejenak tidur.

Seorang laki-laki berbadan kurus, tidak terlalu tinggi, namun lebih tinggi dariku, dengan rambut klimis, tiba-tiba membuat mataku terbuka lagi. Mengetok pintu dengan kasar, seolah ingin bercanda, tapi sayang bukan waktunya. Aku sedang lelah.

“Sudah selesai kelas?”, tanyanya sambil makan batagor.

“Mmm, barusan, tiga kali UAS praktek tadi. Kamu?”, aku rasanya masih setengah sadar.

“Udah selesai. Kamu gimana? Bisa UASnya?” Mau gak?”, sambil menawariku batagor yang hampir habis itu, mungkin hanya tersisa saus kacangnya.

“Alhamdulillah. Makasih, nawarin itu dari tadi dong, nawarin pas udah mau habis”, jawabku bercanda.

“Hehe, aku laper. Dari tadi pagi belum makan”, jawabnya sambil melahap habis.

“Kebiasaan deh, jarang makan”.

“Males”, sambil tersenyum.

Kami mengobrol disana, sekitar 15 menit. Kemudian tiba-tiba ia berdiri dengan cepat, meraih tasnya, mencabut charger handphonenya, dan mengambil jaket yang sengaja ia tinggal dibalik pintu.

“Eh, mau kemana?”, tanyaku heran.

“Ngerjain tugas”, jawabnya sambil membalas pesan di handphonenya.

“Nanti mampir ke kos ya”.

“Ngapain?”, tanyanya bingung.

“Ada, nanti”.

“Ngapain? Kayaknya nanti bakal malem banget deh, apa besok aja gimana?”.

“Keburu busuk”.

“Apa emang?”.

“Ya nanti juga kamu tahu”.

“Gampang deh ntar, aku cabut ya”.

“Iyaudah, hati-hati mas”, sambil melihatnya berlalu.

Ia pergi, kemudian aku tidur lagi. Melunasi tidurku yang terganggu olehnya. Hingga bangun pukul setengah delapan malam. Sudah malam juga ternyata, lama pula aku tidur. Aku memutuskan untuk pulang ke kos sebelum hari kian gelap lagi. Ada tugas-tugas yang sudah mengantre untukku kerjakan juga.

Sesampainya di kos, aku mandi, kemudian beres-beres, lalu melanjutkan untuk mengedit video liputanku. Hingga pukul sepuluh malam. Layar handphoneku tiba-tiba menyala disertai notifikasi darinya.

“”Mending kamu tidur aja, besok aja kali ya? Aku masih belum selesai soalnya”, pesannya.

“Ah gak mau ah, gapapa aku tunggu, aku juga masih ngedit”, sanggahku.

“Yaudah kalo mau nunggu, ntar tapi. Jam 11 aku otw kali ya, biar gak kemaleman”, tanyanya.

“Iya gapapa, nanti balik nugas lagi ‘kan bisa, apa mau sekarang?”.

“Nanggung, nanti sekalian ya, nanti aku kabari kalo otw”.

“Oke siap, aku tunggu, santai”.

“Lanjut nugasnya. Semangat! J”, berdebar lagi, kencang, meski tidak bertatap muka, aku juga heran.

“Kamu juga mas, semangat nugasnya J”.

Hingga setengah 12 malam, ia ternyata baru bisa menuju kosku. Ia bilang sedang diperjalanan. Aku siap-siap ganti baju, memakai jaket, memakai kerudung, karena sebelumnya aku hanya menggunakan celana dan kaos pendek. Bisa dibilang excited.

Malam itu, barusan saja selesai kutulis surat untuknya sebelum aku memulai untuk ngedit videoku. Surat itu berisi ucapan selamat mengerjakan tugas-tugas menjelang UAS dengan kalimat-kalimat yang akan membuatnya bertanya-tanya karena sengaja kubumbui kata-kata yang menjurus tentang kedekatan kami selama ini, namun entah bagaimana ia mengartikannya. Sepotong kue black forest yang kubeli semalam di Paragon. Iya, jadi semalam aku rela ke Paragon hanya untuk membeli sepotong kue ini. Bahagia bisa berbagi kebahagiaan. Maklum, sedang banyak rezeki. Kebetulan saudaraku baru saja pulang ke kampong halaman, kemudian aku diberi uang saku.

Ia sudah didepan gerbang kosku. Berdiam disana, hingga aku keluar. Kusodorkan plastik bertema natal itu kepadanya. Kuletakkan di spion motornya. Ia bingung, tersenyum-senyum.

“Ini apa? Buat aku?”, raut mukanya penuh tanda Tanya.

“Iyalah, masa buat tetanggamu?”.

“Dalam rangka apa?”.

“Gak ada sih, cuma lagi pengen kasih aja. Kamu butuh kok”.

“Apa emang?”.

“Ya nanti dibuka lah”.

Ia mengambil plastik berisi kue dan surat itu kemudian meletakkan digantungan belanja motornya tetapi dengan tidak hati-hati.

“Hey! Jangan gitu bawanya, nanti rusak! Kalau sampe rusak, kamu harus gentian beliin aku lho”, aku panik.

“Heh? Apa sih ini? Iya iya, maaf”.

“Yaudah gitu doang, aku cuma mau kasih ini”.

“Hmmmmmmm, kirain ada apa. Yaudah aku pulang dulu”.

“Berani mas?”.

“Aku mau nugas lagi maksudnya, malam ini gak pulang kayaknya”.

“Yaudah, hati-hati. Selamat nugas, mas”.

“Iya, kamu juga, semangat ngeditnya”, kemudian menghidupkan motornya dan berlalu.

Setelah kue itu sampai kepada pemiliknya. Sejak saat itu pula, mungkin saat suratnya sudah dibaca. Ada perasaan canggung pada dirinya. Sehingga semenjak hari itu, kami jarang berkomunikasi, renggang. Seperti ingin menjauh, tetapi mungkin hanya ia yang mampu. Sedang aku masih berusaha mencari topik-topik pembicaraan yang ingin kubahas dengannya. Sekadar basa-basi, hingga hal-hal penting yang sebenarnya masih bisa kami bicarakan besok-besok.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #7 Tertunda

Hari ini melelahkan. Tiga kali kelas, tiga kalinya pula aku harus presentasi di depan kelas. Sungguh, semalam aku hampir gila rasanya. Materi ini belum selesai, materi itu belum kupelajari, materi yang satunya malah sedang ku proses. Belum lagi aku harus berbicara didepan forum organisasiku. Hampir muak rasanya. Ingin kabur dari semua kegiatan. Tapi superegoku menahan untuk tidak pergi.

Sore itu entah mengapa suhu tubuhku menurun, hingga tangan-tangan yang kukepal dalam tas pun masih tetap kedinginan, badanku menggigil. Entahlah, tapi aku sering tiba-tiba kedinginan seperti ini. Tidak pernah membawa jaket ke kampus, siapa pula yang tau bahwa hari ini aku akan mendadak kedinginan.

Hari ini pula sudah kami rencanakan, makan malam berdua di kos setelah forum selesai. Begitu forum kami usai, ia mendadak hilang begitu saja, entahlah. Yang kutahu, dia akan menungguku dijalanan menuju kos. Tapi salah, kucari ia disekitar tak kutemukan. Kupikir turun lewat escalator, jadi lama. Atau sudah lebih cepat karena lewat tangga, tapi tak ada.

Di parkiran, kutunggu sekitar 15 menit. WhatsApp dengan centang satu, kutunggu pula dengan sabar hingga berubah menjadi dua, bahkan sampai berubah warnanya menjadi biru dengan pesan baru. Tidak bilang apa-apa sebelumnya. Jadi, mana kutahu, jika hari ini ia ada forum juga disebelah.

“Aku di forum sebelah”, setelah15 menit kutunggu, akhirnya ada pesan baru.

Aku masih berdamai dengan si ego.

“Yaudah, ketemu di kos ya kalau sudah selesai”, jawabku tetap tenang meski merasa sebal.

“Siap, nanti jam 9 selesai biasanya”, jawabnya seolah menegaskan bahwa ia akan datang.

Sesampainya di kos, badanku masih menggigil tak karuan. Kurebahkan diri diatas karpet, kutarik selimut, meski sudah menggunakan jaket. Kakiku masih dingin sekali rasanya. Entahlah, kipas sudah mati. Aku tertidur pulas sekali. Hingga tiba-tiba dering membangunkanku. Kupikir itu dia. Ternyata temanku, malas sekali. Menyuruhku ke kosnya untuk mengambil barangku yang terbawa olehnya saat di kampus tadi. Aku menaiki motor ke kosnya dengan muka bantal dan perut yang sudah lapar sekali.

Pukul setengah delapan malam. Terakhir kali aku mengunyah adalah di kos tadi pagi, makan sereal saja. Jadi, jika laparku sudah tak karuan, wajar bukan? Apalagi 9 SKS hari ini benar-benar menguras pikiran karena harus presentasi diketiga mata kuliah.

Sampai di kosnya temanku, diajaknya aku mencari makan. Ia lapar katanya, sendirian pula. Mie ayam goreng, ia ingin. Sejak diatas motor, ia memaksaku untuk ikut makan juga, tidak hanya sekadar menemaninya melahap habis mie ayam goreng itu. Berkali-kali itulah aku menolaknya. Aku masih ingin makan malam berdua, karena ia nanti tidak akan mau jika harus makan sendirian dan aku juga tidak ingin makan dua kali malam ini, apalagi dengan selang waktu yang kukira cukup singkat.

Tapi ada rasa takut yang menghantuiku jika makan malam ini akan gagal. Karena hari sudah kian gelap, sedang ia belum ada kabar akan benar datang atau hanya menenangkanku saja dengan kalimatnya yang terakhir bahwa ia akan datang setelah selesai forum.

Setelah kupikir-pikir, aku memutuskan untuk makan saja. Mengingat yang sudah-sudah, jika forumnya selesai tidak dengan singkat. Aku makan, dengan terus dihantui pikiran “Ia akan datang tidak ya? Jika datang, berarti aku harus makan dua kali? Ah sudahlah, biarkan jika harus makan dua kali, lagipula porsinya sedikit dan ini hanya mie, bukan nasi.”

Setelah mie ayam goreng itu habis, aku langsung saja mengajak temanku untuk pulang, aku terburu-buru, takut saja jika dia ternyata sudah menunggu didepan kos, atau sudah selesai forumnya. Pukul sembilan, aku pulang ke kos. Ternyata masih tidak ada kabar. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu I Still Love You – The Overtunes. Tenang sekali rasanya, suara Mikha benar-benar menyejukkan, kuputar berkali-kali.

Layar handphoneku menyala, ada pesan darinya.

“Tidur saja, aku masih lama. Maaf”, pesannya membuatku kesal, namun aku tidak boleh egois. Berada di forum lama-lama bukan keinginan ‘kan? Menyebalkan pastinya. Mendengarkan satu orang berbicara, kemudian lainnya berdebat.

“Iya, lanjutkan forumnya”, kubalas dengan tenang.

Aku putus asa. Kutarik selimut lagi, meski suhu tubuhku sudah membaik, aku mulai lelap diatas lagunya I Still Love You – The Overtunes. Pukul setengah sebelas malam, handphoneku bordering. Aku terbangun. Kali ini dari dia.

“Dimana? Aku tidak enak kalau harus kesana tengah malam. Gimana? Aku baru selesai”, suaranya lelah, pasti juga belum makan, kasihan.

“Di kos, gak usah, pintu kos sudah kututup, lampunya juga sudah kumatikan. Sudah malam, next time”, jawabku.

“Maaf ya”, katanya lirih.

“Maaf untuk apa? Aku ngerti kok. Gak usah bilang maaf”, kataku menenangkan bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf sudah membuatmu menunggu”, katanya.

“Iya memang, menyebalkan. Aku tadi nunggu kamu di parkiran lama banget, kukira kamu sholat Maghrib di masjid. Ternyata di sebelah. Tapi yaudah gakpapa, santai aja. Yaudah kamu pulang aja, udah malam, nanti gak berani pulang lagi…”, jawabku.

“Berani, iya habis ini aku pulang langsung, tapi maaf ya”, katanya berkali-kali mengucap maaf.

“Iya, santai aja kali, ah”.

“Yaudah, aku pulang ya”, katanya menutup.

“Hati-hati”.

Merasa kesal dan sebal. Tapi untungnya mie ayam goreng tadi sudah jadi amunisiku. Aku gak akan kelaparan malam ini. Tapi sayang, makan malam ini harus tertunda, entah hingga kapan terealisasi. Yang pasti aku akan selalu menunggu waktu-waktu itu. Sekadar makan berdua di kos dengan lauk seadanya atau kemana saja yang penting berdua. Diatas motor melintas ditengah keramaian Kota Semarang yang sedang dihebohkan dengan adanya air mancur menari disalah satu jembatan.

Tidak apa bila makan malam ini sempat tertunda, aku paham dengan semua kesibukan yang kami punya sebagai aktivis mahasiswa yang harus kuliah dan berorganisasi, kemudian mulai memberikan kualitas waktu yang baik kepada satu dengan lainnya. Berusaha memahami apapun yang terjadi saat ini adalah untuk masa depan masing-masing dari kami.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Can I Call U, Love? – #6 Basah Kuyup

Hari ini Kamis manis, bersama kenangan manis pula didalamnya. Aku berada dalam ruang organisasiku berdua. Hanya berdua. Sebenarnya karena ditinggal satu-satunya temanku yang tadinya berada disini, untuk membeli makan. Tertinggallah aku, bersama dengannya. Diam, hening, dan ingin pulang. Adakah orang yang senang karena tidak dianggap ada? Ditinggal mendiam diri dan duduknya memunggungiku. Seperti aku tidak terlihat olehnya.

Kemudian ia pamit untuk berkumpul dengan kelompok tugasnya. Aku sendirian. Entah mengapa, meski tadi sempat tak dianggap, aku tetap saja menunggunya. Sebenarnya tidak ada niatan pula, namun sekalian, toh bosan di kos sendirian.

Pukul setengah sembilan malam, ia kembali ke ruang terakhir kali ia meninggalkanku. Mengajakku untuk makan malam, di angkringan pinggir jalan, ramai, aku suka. Kami bertiga dengan temanku tadi, menggelar tikar ditengah lapangan samping warung. Memandangi bulan yang terang sambil mendengarkan pengamen jalanan menyanyikan lagu-lagu Tulus yang sejuk. Tak terasa, tiba-tiba gemericik air mulai turun dengan nyaring. Kami masih tetap di tempat. Berharap hujannya akan tetap gerimis manis seperti hari ini.

Salah, ketika kami membiarkan badan kami masih tergeletak duduk rapi di lapangan, hujan tiba-tiba deras. Kami lekas lari menuju tenda warung, sekalian membayar apa yang sudah kami beli. Selepasnya, kami memutuskan untuk pulang ke kosan ku, menerjang hujan yang sedikit mereda, lebih baik dari hujan yang tadi, deras.

Kami bertiga basah kuyup dan menggigil kedinginan. Segelas teh hangat kusajikan untuk menghangatkan. Pesta minum teh sederhana yang kubuat malam itu, aku ingat sekali. Ketika ia tersenyum, dan aku mulai berani menatap matanya diam-diam. Namun kau tahu tidak? Hatiku kembali berdebar-debar, kencang pula.

“Sudah malam, aku pamit pulang ya”, ia pamit.
“Baru saja mau aku usir”, jawabku bercanda.
“Kelamaan nunggu diusir, aku tahu diri orangnya, wlee”, ia pun membalas.
“Berani kamu pulang?”, tanyaku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Memangnya aku ini kamu? Ya berani lah”, jawabnya sembari mengejekku.
“Hati-hati, kalau jatuh, WhatsApp aja”, kataku bercanda.
“Ini aku udah jatuh, cinta”, jawabnya.
“Ha? Apa? Aku nggak ngerti”, tanyaku.
“Simpan saja, selama malam, Nona”, sembari menyalakan motornya.
“Selamat malam juga, Tuan. Hati-hati di jalan”, kataku sambil ia berlalu dan mengklakson.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum