Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) Tobacco Free Community Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro memeriahkannya dengan mengadakan seminar bertajuk ‘Healthy Life Without Smoking’. Seminar ini diadakan bertujuan untuk Advokasi, pengembangan daerah kawasan tanpa rokok (KTR) di Universitas Dian Nuswantoro. Seminar ini diikuti oleh 164 peserta. Dengan menghadirkan Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari M.Si.,Ph.D dari Quit Tobacco Indonesia, Nurjanah S.Km. M. Kes dari Tobacco Free Community UDINUS, dan dipandu oleh Adinda Agustin Duta Lingkungan kota Semarang tahun 2018 sebagai moderator. Materi yang disampaikan oleh para pembicara membahas mengenai bagaimana peran perguruan tinggi untuk pengendalian tembakau di Indonesia dan juga upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah anak & remaja dapat terhindar dari perilaku merokok.

“… bagaimana cara mencegah perilaku remaja terhindar dari perilaku merokok” ujar Nurjanah selaku pembicara.

Seminar ini diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 5 Mei 2018 berlokasi di Auditorium gedung H lantai 7 Universitas Dian Nuswantoro. Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei. Kali ini acara dilaksanakan lebih awal karena tanggal 31 Mei 2018 sudah memasuki bulan puasa. Setiap tahunnya HTTS akan diperingati dengan cara yang berbeda, dan khususnya tahun ini TFC UDINUS meperingatinya dengan mengadakan seminar.

Pada akhir acara ditutup dengan menampilkan kebolehan dari mahasiswa Udinus dalam menyaikan lagu-lagu jawa dan diiringi oleh alat musik gamelan.

 

Reporter : Juliana Heidi & Shaqila Angra P

Fotografer : Alda Melinda

Editor : Titah Banu M

Bantu Sesama Dengan Sekantong Darah

Rabu (14/03/18) dalam rangka untuk meningkatkan keperdulian dengan sesama, Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Suka Rela (KSR) Universitas Dian Nuswantoro mengadakan donor darah bagi para Mahasiswa dan Dosen Udinus, dengan mengajak serta lembaga Palang Merah Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat yaitu Gedung H lantai 1 dan Pelataran parkir gedung D.

Kegiatan donor darah ini merupakan program kerja yang dilaksanakan 3 kali dalam setahun, dengan rentang waktu 45 hari. Pada bulan Maret ini merupakan periode terakhir untuk kepengurusan UKM KSR melaksanakan donor darah, setelah sebelumnya telah dilaksanakan pada bulan September dan Desember 2017 lalu.

Rafika Faza Amalia selaku ketua umum UKM periode 2016 2017 ini mengatakan bahwa , “Donor darah ini merupakan bentuk kepudulian pada masyarakat yang membutuhkan darah yang banyak, terutama untuk penderita Thalesemia” ujarnya (14/03/18)

Kemudian untuk promosi kegiatan donor darah ini sendiri, Rafika dan kawan – kawan mempromosikannya di sosial media, share di grup kelas anggota, hingga keliling sendiri membagikan informasi donor darah. Pihaknya juga berharap agar UKM ini dapat melaksanakan kegiatan donor darah di Sekolah Menengah Atas di Semarang serta bisa membuka tenda nya di Car Free Day.

Arie Johan Wicaksono selaku admin Palang Merah Indonesia (PMI) berharap agar kegiatan ini rutin dilakukan, karena disamping kegiatan ini dapat membantu sesama, kegiatan ini juga dapat menyehatkan badan, karena dalam tubuh kita akan terjadi regerasi darah, sehingga tubuh akan menjadi lebih sehat.

 

Penulis : Hanifatul Hashinah

Pepaya, Buah Dengan Sejuta Manfaat

Siapa yang suka makan buah? Teman-teman yang suka makan buah pasti tahu buah yang satu ini. Yap, Pepaya atau buah dengan nama latin Carica Papaya ini disebut buah dari malaikat oleh penemu benua amerika, Christopher Columbus.
Teman-teman udah tau belum semua manfaat yang ada pada buah ini? Buah Pepaya ini bukan hanya enak dimakan saja, tetapi juga bermanfaat bagi anggota tubuh kita. Bahkan, daun-daunnya yang berasa pahit saat dilalap juga punya

Detox Water : Tren Minuman Sehat Masa Kini

Di jaman yang serba instan saat ini, susah sekali mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi. Makanan dan minuman biasanya di bubuhi pengawet atau bahan-bahan yang tidak layak konsumsi seperti borax, zat pewarna tekstil atau formalin . Makanan dan minuman seperti itu akan menimbulkan toxin ataupun racun dalam tubuh kita. Oleh karena itu, dibutuhkan penangkal racun yang ampuh dan dapat membuat badan menjadi segar kembali.

Pelukan Hangat Bagi yang Tak Pernah Sembuh

Pelukan Hangat Bagi yang Tak Pernah Sembuh
Pelukan Hangat Bagi yang Tak Pernah Sembuh

“HIV does not make people dangerous to know, so you can shake their hands and give them a hug. They need it.”

-Princess Diana-

Selama ini HIV/AIDS masih menjadi salah satu penyakit yang terdengar sangat menakutkan bagi semua orang. AIDS sebenarnya adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrom, yaitu sekumpulan gejala penyakit yang di sebabkan karena kurangnya daya tahan tubuh manusia oleh infeksi virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Menurut dr. Ari Istoniwati kebanyakan virus HIV/AIDS ditemukan pada seseorang yang dengan gejala TBC dalam waktu yang cukup lama. Seseorang yang terinfeksi virus HIV/AIDS bukan berarti telah di vonis mati. HIV/AIDS dapat dicegah dengan meminum secara rutin antiretroviral atau ARV. Pengobatan ARV hanya  menekan laju perkembangan virus HIV di dalam tubuh sehingga orang dengan infeksi HIV/AIDS dapat kembali “sehat” atau bebas gejala. Namun virus HIV masih ada dan “tertidur” di dalam tubuhnya dan tetap bisa menular pada orang lain.

Berbicara tentang HIV/AIDS tidak dapat dipisahkan dari cerita yang ada di lingkungan kita, seperti cerita yang dialami oleh sari(nama samaran). Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranya akan menjadi bagian dari odha(orang dengan HIV/AIDS), semula kehidupan perempuan yang berprofesi sebagai guru ini baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Bahkan saat dirinya terkena bronkitis, dia tetap tidak berpikir macam-macam, hanya saja bronkitis yang dideritanya terjadi dalam waktu yang lama hingga 6 bulan, dan setiap bulan keadaanya semakin memburuk. Bahkan pada bulan terakhir sampai tidak mampu berjalan. Karena itulah atas saran dari keluarga dan teman-temannya, dia memeriksakan keadaanya kepada dokter khusus masalah HIV/AIDS. Dengan ragu-ragu dokter memberitahu bahwa dirinya positif HIV/AIDS. Memang alm. Suaminya pernah mengidap virus ganas ini, namun tak pernah sedikitpun terbayang jika penyakit yang di derita suaminya itu kini juga ada di dalam tubuhnya. Setelah mendapat vonis dokter, sari sangat terpukul hingga rasanya tidak sanggup lagi untuk menghadapi dunia. Apalagi penyakit yang dideritanya adalah HIV/AIDS yang masih menjadi penyakit yang menakutkan untuk orang-orang. Keadaan yang semula sudah buruk karena penyakit bronkitis yang dideritanya kini menjadi semakin buruk. Bahkan dia sudah memasrahkan hidupnya kepada tuhan. Jika harus pergi menyusul alm. Suaminya maka dia sudah rela.

Sebagai makhluk sosial tentu manusia tidak bisa hidup seorang diri. Hal tersebut melandasi hati nurani teman dan kerabat sari untuk memberikan dukungan bangkit. Semangat dan optimis untuk menghadapi kenyataan yang ia alami, meskipun belum ada satupun penderita virus yang sama bisa sembuh. Keberadaan anak semata wayangnya juga memberikan energi positif kepada janda satu anak ini untuk membesarkan buah hati yang ia sayangi. Akhirnya perlahan-lahan sari yang juga berprofesi sebagai guru ini mulai menerima kenyataan yang ia alami. Sang pahlawan tanpa tanda jasa inipun melanjutkan perjuangannya untuk mencerdaskan anak didiknya.

Seharusnya masyarakat tidak mengucilkan para pengidap virus mematikan ini. Memang HIV/AIDS sering diindikasikan sebagai akibat dari seks bebas. Akan tetapi tidak semua penderita dari penyakit ini merupakan pelaku free seks. Perlu di ketahui bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit menular. Salah satu penularanya adalah melalui transfusi darah. Sehingga tidak semestinya mereka yang mengidap penyakit ini dikucilkan dan disalahkan. Mahasiswa sebagai insan intelektual tentu mempunyai peran untuk mengedukasi masyarakat agar selalu memberikan dukungan bagi penderita HIV/AIDS.

HIV/AIDS memang merupakan salah satu penyakit yang belum ditemukan obatnya. Seseorang yang terinfeksi virus HIV/AIDS memang tidak akan pernah sembuh dan kembali menjadi sehat, namun bukan berarti kita harus menjauhi seseorang yang menderita HIV/AIDS karena sejatinya HIV/AIDS itu tidak akan menular hanya karena kita berjabat tangan ataupun berbicara pada penderita HIV/AIDS. Mereka yang menderita HIV/AIDS bukanlah manusia yang harus ditakuti dan dikucilkan,tetapi mereka membutuhkan pelukan dari kita agar mereka dapat bangkit dan menghadapi dunia dengan senyuman.