Kamis, 15 November 2018 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro Semarang (UDINUS) sukses mengadakan kegiatan Seminar Internasional 2018 Thailand dan Taiwan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Auditorium lantai tujuh Gedung H.

Seminar yang mengangkat tema “ Management of Sport and Culture Organization at Thailand and Taiwan Area” diisi oleh pembicara dari Thailand, Dr. Nilmanee Sriboon dan juga oleh Prof. Yahn-Shir-Chen, Ph.D. yang merupakan dosen Univerisity of Science of Technology Taiwan. Peserta yang berdatangan terlihat antusias untuk mengikuti seminar yang dijadwalkan mulai pada pukul 13.00 WIB .

Pada sesi speaker, Prof. Yahn-Shir-Chen menjelaskan tentang profil universitasnya. Menurut penjelasannya, University of Science of Technology Taiwan adalah universitas ekonomi dan bisnis, di mana pengajarnya sudah berbasis Havard dan juga oleh Global Ensures.

Dilanjutkan oleh Dr. Nilmanee Sriboon, ia menyampaikan lebih dalam mengenai manajemen olahraga. Menurutnya manajemen olahraga dalam USA menduduki peringkat keenam, yang berarti manajemen olahraga sangat menguntungkan. “Mengapa USA menjadi peringkat keenam Karena kebanyakan penduduk di sana menjadikan olahraga sebagai kebiasaan. Semakin banyak orang yang berolahraga, industri akan berkembang pesat,” ungkapnya. Ia juga memotivasi para peserta untuk menjadi producer daripada user, karena menjadi produsen juga lebih menguntungkan.

Tak hanya itu, Dr. Nilmanee Sriboon juga memberikan tips apabila mempunyai program baru. “Yang utama dilakukan adalah mengetahui minat pasar. Kita harus bisa membaca kebutuhan konsumen” jelasnya. Dengan mengetahui kebutuhan konsumen diharapkan dapat menghasilkan barang yang konsumtif sehingga dapat laris di pasaran.

Menurut Muhamad Rido Hernanda selaku Ketua Acara, kegiatan seminar mendatangkan pembicara dari Thailand dan Taiwan karena negara tersebut maju akan manajemen olahraganya. “Oleh karena itu, diharapkan peserta yang mengikuti seminar ini dapat mempelajari manajemen olahraga pada negara-negara tersebut, ”jelasnya. Dengan harga tiket Rp 90.000 peserta mendapatkan fasilitas berupa sertifikat, perlengkapan seminar dan snack.

Kegiatan seminar yang membahas manajemen ini berlangsung selama dua jam dan dalam waktu yang singkat, para peserta sangat antusias mendengarkan ilmu dari para pembicara. Sementara itu, Rido, Ketua Acara mengharapkan kegiatan seminar tersebut dapat memotivasi para peserta agar belajar manajemen olahraga yang sangat menguntungkan untuk kemajuan negara.

Penulis :  Hanis Wahyunita

Fotografer : Mahatma Yudha Prayitna

Editor : Haris Rizky A.

Tim II KKN UNDIP Desa Kajar lakukan pelatihan pembuatan pupuk dari sampah rumah tangga pada warga sekitar. Takakura menjadi metode yang digunakan dalam pelatihan tersebut, metode pengolahan sampah organik yang dipelopori oleh Koji Takakura.
Pada bulan Juli-Agustus 2018, Tim II KKN UNDIP diterjunkan ke berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Salah satunya adalah di Desa Kajar, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. KKN dilakukan untuk melatih mahasiswa UNDIP menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan dan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa UNDIP pada masyarakat. Dalam KKN tersebut, mahasiswa UNDIP diwajibkan membuat berbagai program untuk membantu desa. Salah satu program multidisiplin yang juga merupakan program unggulan dari Tim II KKN UNDIP Desa Kajar adalah program berjudul “Kabar Panik – Kajar Berkreasi dengan Sampah Organik”. Program tersebut berupa program pelatihan pembuatan pupuk dari sampah rumah tangga. Pemilihan program multidisiplin tersebut didasari oleh permasalahan sampah rumah tangga yang belum bisa ditangani oleh warga Desa Kajar. Maka dari itu, Tim II KKN Undip Desa Kajar mencoba untuk memberikan solusi bagi warga Desa Kajar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu dengan melatih warga membuat pupuk dengan metode Takakura.

Takakura merupakan metode pengolahan sampah organik yang dipelopori oleh Koji Takakura, peneliti asal Jepang yang banyak melakukan pelatihan di surabaya. Sejak 2004, metode tersebut mulai dikenal oleh masyarakat luas. Metode Takakura mengandalkan fermentasi untuk mengurai. Sampah yang dihasilkan dari metode ini tidak mengeluarkan bau tengik karena penguraiannya menggunakan mikroba. Metode Takakura mudah diterapkan dan bahan yang dibutuhkan juga mudah diperoleh. Pertama, keranjang atau wadah yang berlubang atau memiliki pori-pori. Keranjang yang berlubang ini berguna untuk menjaga sirkulasi udara pada kompos. Kedua, bantalan dari jaring plastik atau kain yang diisi sabut kelapa, sekam, atau kain perca. Ketiga, kardus pelapis untuk mengatur kelembapan kompos dan menjaga agar kompos tidak keluar dari keranjang. Keempat, pengaduk, yang bisa dibuat dari pipa, kayu, atau besi. Terakhir, biang kompos yang berupa kompos setengah jadi yang mengandung mikroba.
Metode Takakura dimulai dengan memasukkan biang kompos ke keranjang dengan tinggi 5 cm diatas permukaan bantalan alas. Selanjutnya, masukkan bahan-bahan kompos diatasnya. Bahan kompos ini terdiri dari sampah yang mengandung karbon (sampah coklat) sebagai sumber energi, misalnya daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, sekam padi, kertas, kulit jagung kering, jerami dan tangkai sayur serta sampah yang mengandung mikroba dan nitrogen (sampah hijau), misalnya sayuran, buah-buahan, potongan rumput segar, sampah dapur, bubuk teh atau kopi, kulit telur, pupuk kandang dan kulit buah. Proses pematangan akan berlangsung selama 7-10 hari. Sebelum sampah baru dimasukkan, kompos yang lama diaduk terlebih dahulu untuk menjaga oksigen di bagian bawah. Setelah melewati proses tersebut, kompos harus diayak menggunakan ayakan kawat berukuran 0,5 cm. Kompos halus dapat digunakan sebagai pupuk, sedangkan kompos kasar dikembalikan ke dalam keranjang untuk digunakan sebagai biang kompos.

Pelatihan pembuatan pupuk dengan metode Takakura yang dilaksakan pada tanggal 28 Juli 2018 dan bertempat di Balai Desa Kajar. Acara tersebut disambut dengan hangat oleh para peserta, yaitu Ibu-ibu PKK Desa Kajar. Hal ini terlihat dari antusiasme warga dalam bertanya dan melihat secara langsung proses pembuatannya. Pelatihan pembuatan kompos dengan metode Takakura tersebut mudah untuk dilakukan oleh warga Desa Kajar karena peralatan dan bahan-bahannya sederhana dan mudah didapat. Namun, pada prakteknya diperlukan ketekunan oleh warga untuk terus melanjutkan pengomposan dengan metode ini. Melalui pelatihan pada warga Desa Kajar mengenai metode Takakura ini, diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan potensi desa, mengurangi sampah dan pencemaran lingkungan.

Editor : Haris Rizky Amanullah

 

Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) Tobacco Free Community Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro memeriahkannya dengan mengadakan seminar bertajuk ‘Healthy Life Without Smoking’. Seminar ini diadakan bertujuan untuk Advokasi, pengembangan daerah kawasan tanpa rokok (KTR) di Universitas Dian Nuswantoro. Seminar ini diikuti oleh 164 peserta. Dengan menghadirkan Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari M.Si.,Ph.D dari Quit Tobacco Indonesia, Nurjanah S.Km. M. Kes dari Tobacco Free Community UDINUS, dan dipandu oleh Adinda Agustin Duta Lingkungan kota Semarang tahun 2018 sebagai moderator. Materi yang disampaikan oleh para pembicara membahas mengenai bagaimana peran perguruan tinggi untuk pengendalian tembakau di Indonesia dan juga upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah anak & remaja dapat terhindar dari perilaku merokok.

“… bagaimana cara mencegah perilaku remaja terhindar dari perilaku merokok” ujar Nurjanah selaku pembicara.

Seminar ini diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 5 Mei 2018 berlokasi di Auditorium gedung H lantai 7 Universitas Dian Nuswantoro. Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei. Kali ini acara dilaksanakan lebih awal karena tanggal 31 Mei 2018 sudah memasuki bulan puasa. Setiap tahunnya HTTS akan diperingati dengan cara yang berbeda, dan khususnya tahun ini TFC UDINUS meperingatinya dengan mengadakan seminar.

Pada akhir acara ditutup dengan menampilkan kebolehan dari mahasiswa Udinus dalam menyaikan lagu-lagu jawa dan diiringi oleh alat musik gamelan.

 

Reporter : Juliana Heidi & Shaqila Angra P

Fotografer : Alda Melinda

Editor : Titah Banu M