Prediksi beberapa lembaga keuangan

Beberapa lembaga keuangan internasional –sebagaimana dikutip dari belanegarari.com– memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara maju. Asia Development Bank (ADB) dan Asian Development Bank Institute (ADBI)  dalam laporannya pada 2012 yang  bertajuk “ASEAN, the PRC, and India: The Great Transformation” mengatakan bahwa pada 2030 Indonesia akan menjadi negara maju, pasalnya, perekonomian akan beralih menuju timur ke negara-negara berkembang saat ini. Dalam laporan khusus Standart Charetered (Stanchart) berjudul “The Super-Cycle Report”  mengatakan bahwa Indonesia bakal menjadi raksasa ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang. Berada diposisi kelima, Indonesia akan mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil. Lembaga keuangan lainnya, Morgan Stanley, memperkirakan PDB Indonesia bakal mencapai USD 800 miliar pada satu dekade mendatang. Sementara itu, majalah bergengsi The Economist memperkenalkan akronim CIVETS yang merupakan kepanjangan dari Columbia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa sebagai kekuatan ekonomi dimasa mendatang.

Indonesia Bis!
Indonesia Bisa!

Apakah prediksi lembaga keuangan diatas akan tepat sasaran?

Tiada yang tak mungkin. Indonesia dapat menjadi kekuatan baru perekonomian dunia dan menjadi negara maju dalam beberapa dekade mendatang. Itu bukan suatu hal yang mustahil. Potensi Indonesia menjadi negara maju terbuka lebar karena memiliki beberapa potensi, diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Secara astronomis Indonesia dapat berpotensi menjadi negara maju karena Indonesia memiliki iklim tropis dengan ciri suhu dan curah hujan tinggi sehingga dapat mendukung aktifitas pertanian dan perkebunan. Hal itu dapat menjadi sumber devisa negara jika aktifitas tersebut dimanfaatkan secara optimal.
  2. Secara geografis Indonesia dapat menjadi negara maju karena Indoesia terletak diantara dua benua yaitu benua Asia & benua Australia dan terletak diantara dua samudera yaitu samudera Hindia & samudera Pasifik. Posisi ini dapat menjadikan Indonesia dilalui oleh pelayaran internasional yang ramai. Sehingga negara dapat menambah pendapatannya dari hak lintas transit kapal internasional.
  3. Secara Geologis Indoneisa dapat menjadi negara maju karena berada pada jalur pertemuan tiga lempeng, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Hindia. Karena itu, Indonesia mempunyai keuntungan berupa potensi bahan tambang dan mineral sebagai sumber energi. Mengingat industri-industri disegala bidang membutuhkan sumber energi untuk menggerakkan mesin atau faktor produksi lain, kebutuhan akan bahan tambang dan mineral sangat penting. Sehingga pemerintah dapat memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan negara dengan memanfaatkan sendiri dan/atau mengekspor sumber energi tadi.
  4. Sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Indonesia memiliki bentangan laut dan hutan yang begitu luas. Kesemuanya dapat dimanfaatkan secara optimal agar menghasilkan output yang menguntungkan. Namun pemanfaatnya harus memperhatikan kelangsungan dan keberlanjutan lingkungan.
  5. Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sangat besar. SDM merupakan modal yang begitu penting dalam pembangunan. Untuk dapat memanfaatkan potensi-potensi diatas haruslah dibutuhkan SDM yang handal. Maka peningkatan kualitas SDM dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) begitu penting. Untuk mewujudkannya, program-program pendidikan berkualitas tinggi harus digalakkan sedini mungkin.

 

Jika semua potensi tersebut dimanfaatkan seoptimal mungkin, sehingga dapat menambah pendapatan negara, tak mustahil, prediksi lembaga keuangan Internasional tadi bahwa Indonesia akan menjadi negara maju dalam beberapa dekade mendatang, terbukti benar. Namun, beberapa permasalahan yang menghambat Indonesia menjadi negara maju seperti korupsi, birokrasi yang buruk, perizinan bisnis yang berlarut-larut, keamanan yang tak kondusif, pembangunan ekonomi yang kurang merata, kurangnya jiwa wirausaha, dan pendidikan yang buruk harus dilenyapkan, agar prediksi Indonesia menjadi negara maju tak jadi khayalan.

 

 

Penulis : Muhammad Abdul Malik

Suasana depan gedung E Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) pada 8 Mei 2017 kemarin nampak berbeda dari biasanya. Banyak mahasiswa yang duduk menggelosor dilantai dan kekehan canda sesekali terdengar. Mereka adalah mahasiswa peserta seminar “Program Kreatifitas Mahasiswa: Siapakan Dirimu dan Kembangkan Potensimu Menuju PIMNAS 2018” yang menunggu jarum jam menujukkan angka 13:00 WIB, tepat acara tersebut berlangsung. Sebelum masuk aula gedung E lantai 3, dimana acara tadi berlangsung, setiap mahasiswa harus mengisi daftar hadir dan setelah itu, panitia akan membagikan snack yang berisi minuman dan makanan kecil. Workshop ini dihadiri 184 mahasiswa yang menerima beasiswa, 54 mahasiswa yang menerima bidik misi, dan 110 mahasiswa yang mewakili berbagai jenis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terdapat di Udinus. Total peserta seminar adalah 348 mahasiwa, sehingga suasana meriah begitu terasa.

Seminar

           Seminar bertajuk “Program Kreatifitas Mahasiswa: Siapakan Dirimu dan Kembangkan Potensimu Menuju PIMNAS 2018” merupakan seminar yang diadakan pihak kampus untuk meningkatkan jumlah tulisan ilmiah dan penelitian pada Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro untuk kemudian diseleksi menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Pembicara dalam seminar ini adalah Prof. Ir. Jamasri, Ph.D yang mempunyai jabatan penting di DIKTI sebagai reviewer dan juri seleksi PIMNAS. Dalam seminar ini, beliau memaparkan materi mengenai PKM yang dapat digeluti oleh mahasiswa, membagikan cara bagaimana sebuah PKM dapat lolos seleksi, dan pada bagian akhir dari seminar ini mahasiswa diperkenankan bertanya kemudian Prof. Jamasri –sebutan beliau—menjawab. Dari paparan beliau, kita mengetahui beberapa macam PKM yang dapat digeluti oleh mahasiswa, diantaranya adalah:

  1. PKM-P (PKM-Penelitian) merupakan karya kreatif untuk menjawab permasalahan pengembangan dan teori yang dilaksanakan dengan melakukan penelitian. PKM ini menekankan adanya penelitian dengan metode ilmiah.
  2. PKM-T (PKM-Teknologi) merupakan kreatifitas yang inovatif dalam menciptakan sebuah karya teknologi. Tidak ada penelitian dalam PKM ini.
  3. PKM-M (PKM-Masyarakat) merupakan kreatifitas yang ditujukan untuk memberdayakan atau memajukan suatu masyarakat yang tertinggal.
  4. PKM-K (PKM-Kewirausahaan) merupakan kreatifitas mahasiswa dalam menciptakan peluang pasar dan beorientasi pada profit.
  5. PKM-KC (PKM-Karsa Cipta) merupakan program penciptaan sesuatu hal yang berguna yang didasari atas karsa (keinginanan) dan nalar mahasiswa.
  6. PKM-GT (PKM-Gagasan Tertulis) merupakan penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari ide atau gagasan dari mahasiswa.
  7. PKM-AI (PKM-Artikel Ilmiah) merupakan penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari suatu kegiatan mahasiswa dibidang pendidikan, penelitian atau pengabdian yang dilakukannya sendiri.

Prof. Jamasri ketika memaparkan materi.
Prof. Jamasri ketika memaparkan materi.

       Dalam membuat PKM, mahasiswa harus memiliki kreatifitas atau kemampuan berpikir yang divergen sehingga mampu memberikn alternatif jawaban untuk memecahkan suatu masalah. Ada beberapa ketentuan dalam mengusulkan sebuah PKM, diantaranya adalah; seorang mahasiswa maksimal mengirimkan dua proposal PKM, mahasiswa aktif S1/D1, nama pengusul tidak boleh disingkat, harus memiliki dosen pembimbing, bentuk file harus pdf dan ukuran tak lebih dari 5MB, kemudian mengunggah proposal ke simbolmawa.com. Jika proposal PKM lolos, dikti akan membiaya PKM tersebut agar berkembang dan berguna bagi masyarakat luas.

Valentina Widya, S.s, M.Hum bersama Prof. Jamasri ketika memaparkan materi.
Valentina Widya, S.s, M.Hum bersama Prof. Jamasri ketika memaparkan materi.

Valentina Widya,S.S, M.Hum, salah satu dosen Udinus yang mendampingi Prof. Jamasri dalam memaparkan materi, berharap kepada mahasiswa agar lebih kreatif dalam menulis proposal ilmiah PKM sehingga PKM tersebut dapat lolos menuju PIMNAS.

 

 

Penulis                 : Muhammad Abdul Malik

Pewawancara     : Dini Cantik Ningtias Santoso dan Muhammad Abdul Malik

Logo Canopy.
Logo Canopy.

Workshop

Jumat (3/3/2017) siang yang panas, pukul 14:00 WIB dua belas anggota Wartadinus, setelah kurang lebih satu jam perjalanan, telah sampai di SMAN 12 Semarang. Di sekolah yang terletak di Gunung Pati ini, tiga dari dua belas anggota Wartadinus akan mengisi workshop mengenai dunia kejurnalistikan kepada siswa-siswi anggota ekstrakulikuler jurnalis Smandalas—sebutan lain SMAN 12 Semarang. Ekstrakulikuler jurnalis di Smandalas dinamai Canopy. Canopy merupakan wadah bagi  anggotanya untuk dapat mengerti lebih dalam mengenai dunia kejurnalistikan, sebagai wadah ekspresi, inspirasi, edukasi sekaligus berdemokrasi di lingkungan sekolah. Canopy terdiri dari beragam divisi, yaitu Reporter, Fotografi, dan Modelling. Pembina Canopy, Muhammad Teguh mengatakan bahwa Canopy megadakan pertemuan setiap hari Rabu seminggu sekali. Dalam pertemuan itu, mereka melakukan kegiatan kejurnalistikan seperti membuat berita dan persiapan terbit edisi majalah sekolah, Canopy Magazine. Ditahun ini, majalah tersebut telah mencapai edisi ke delapan. Majalah tersebut ditulis sendiri oleh anggota Canopy dengan dampingan pembina dan tim. Mengingat anggota Canopy merupakan siswa-siswi yang masih belajar dan harus mendapat dukungan, maka pembina dan tim mengundang Wartadinus untuk membagikan pengetahuannya dibidang Jurnalis kepada anggota Canopy agar kemampuan jurnalis mereka semakin terasah. Ketika pewawancara bertanya alasan mengapa mengundang Wartadinus, Teguh, sapaan Muhammad Teguh mengatakan “Karena kita juga kan sudah mengundang Upgris, IAIN Walisongo, Unnes, tapi chemistry-nya nggak dapet. Waktu kemarin ada lomba DinusFest baru ketemu (Wartadinus) kan, ngobrol-ngobrol, jadi (acara workshop terealisasi) begini.”

Materi Workshop

Materi workshop disampaikan oleh Dharma Putra Pratama, Titah Banu Arum Mumpuni dan Gita Ayu Wulandari, masing-masing menyampaikan materi yang berbeda.

Dharma Putra Pratma sewaktu presentasi tentang materi fotografi.
Dharma Putra Pratma sewaktu presentasi tentang materi fotografi.

Dharma, sapaan akrab Dharma Putra Pratama menyampaikan materi fotografi. Materi fotografi yang dipresentasikan yaitu fotografi makanan atau Foodgrafer, Fotografi Fashion, dan fotografi umum. Namun materi lebih meruncing pada Foodgrafer dan Fotografi Fashion. Dalam materinya, terdapat kiat-kiat untuk dapat memfoto objek makanan dengan benar dan editing yang tepat sehingga foto makanan terlihat menggiurkan dan kiat-kiat untuk dapat memfoto objek pakaian (fashion) agar terlihat elegan. Dharma telah menggeluti dunia fotografi, khususnya Foodgrafer dan Fotografi Fashion semenjak dua tahun yang lalu. Tak sia-sia Ia menggeluti dunia fotografi, pasalnya objek yang Ia foto dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ketika presentasi, Ia membagikan pengalamannya yang dapat menggugah minat orang untuk juga terjun didunia fotografi, “satu foto (dari produk perusahaan) minimal dihargai Rp. 150.000. Lumayan dapat menambah uang jajan dan uang kuliah.” katanya. Penyampaian materi fotografi ditangkap baik oleh salah satu peserta workshop, Rizky Nugraha. Di Canopy, Rizky Nugraha berada di divisi Fotrografi. Katanya, Ia sangat terbantu memperoleh pengetahuan tentang fotografi dan sedikit malu Ia mengakui bahwa “Jujur, belum pernah tahu kalau fotografi itu serumit itu.”

Gita Ayu Wulandari sewaktu menyampaikan materi tentang Penulisan Berita dan Teknik Wawancara.
Gita Ayu Wulandari sewaktu menyampaikan materi tentang Penulisan Berita dan Teknik Wawancara.

Jika Dharma menyampaikan materi tentang fotografi, lain halnya dengan Gita Ayu Wulandari. Gita, sapaanya, menyampaikan materi tentang dasar-dasar penulisan berita dan teknik wawanara yang benar. Dalam materinya, Ia menyampaikan kiat-kiat untuk dapat menulis berita yang baik dan benar sesuai 5W+1H. Bagaimana cara menulis berita, bagaimana menggunakan kalimat efektif dalam penulisan berita, bagaimana berita itu dapat mempunyai nilai tambah dimata pembacanya dan bagaimana mengorek informasi dari narasumber dengan baik dan benar dalam wawancara, diterangkan dengan jelas oleh pemimpin redaksi wartadinus itu.

Titah Banu Arum Mumpuni sewaktu menyampaikan materi tentang menulis via jejaring internet Blog dan Tumblr.
Titah Banu Arum Mumpuni sewaktu menyampaikan materi tentang menulis via jejaring internet, Blog dan Tumblr.

Sementara itu, Titah Banu Arum Mumpuni meyampaikan materi mengenai tulis menulis via jejaring internet, blog dan Tumblr. Dalam materinya kita diberi kiat-kiat untuk dapat menulis di blog dan Tumblr dengan baik dan cara memilih kata  (diksi) agar tulisan mampu menggungah pembaca. Titah sapaanya, dalam menyampaikan materi sangat luwes dan berpembawaan ceria. Ia menerangkan dengan jelas dan mudah dipahami.

Penghujung Acara

Dipenghujung acara, siswa-siswi peserta workshop ditugaskan untuk menulis dan memfoto dari hasil pengetahuannya tadi selama workshop. Masing-masing dibagi empat kelompok didampingi oleh anggota wartadinus yang lain. Setelah tugas selesai, tugas tersebut dibacakan oleh tiga pengisi workshop tadi untuk dikoreksi. Kesimpulan dari tugas itu, kemampuan tulis menulis siswa-siswi sedikit masih harus dibenahi dan terus belajar agar kemampuan tulis memulis semakin terasah dan untuk kemampuan fotografi peserta workshop umumnya sangat membanggakan.

Workshop kali ini, kata Rizky Nugraha, “Begitu menyenangkan sekaligus menambah pengalaman tentang jurnalis, cara membuat blog dan fotografi.”

Setelah diadakannya workshop ini, Teguh berharap agar siswa-siswi peserta workshop lebih bersemangat untuk terjun dibidang jurnalistik.

Momen ini kami abadikan seusai workshop.
Momen ini kami abadikan seusai workshop.

 

 

Pewawancara: Dini Cantik Ningtias Santoso, Rifqi Hidayat, dan Muhammad Abdul Malik

Penulis: Muhammad Abdul Malik

 

 

 

Webometrics: UDINUS Ungguli UNNES

 

Sebuah Pencapaian

Menurut laman resmi Webometrics edisi terbaru Januari 2017, dalam skala campuran antar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia, Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang berada diperingkat ke-24. Peringkat  Udinus  ditahun ini meningkat, mengingat pada Juli 2016 lalu Udinus berada diperingkat ke-33.

Udinus berhasil mengalahkan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Salah satu universitas negeri di Semarang itu berada diperingkat ke-27. Dalam skala Internasional, Udinus berada diperingkat 3.468.

Menanggapi hal ini, eks-dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Udinus, Dr. Agus Prayitno mengatakan “Webometrics itu kan menunjukkan bahwa bagaimana web suatu institusi itu diakses oleh umum. Kalau Udinus peringkatnya lebih tinggi itu artinya webnya banyak diakses oleh banyak orang. Artinya juga informasi-informasi yang ada di web Udinus itu menampilkan informasi ilmiah maupun non limiah yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.”

Screenshoot laman  terbaru Webometrics.
Screenshoot laman terbaru Webometrics.

 

 

 

 

Dari laman tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa: dalam skala nasional antar PTS, Udinus berada diperingkat ke-6 se-Indonesia; sementara itu, dalam skala antar PTS se-Jawa  Tengah dan se-Semarang, Udinus berhasil menduduki peringkat pertama. Pencapaian tersebut mencerminkan bahwa Udinus merupakan Perguruan Tinggi Swasta terbaik di kota Semarang dan di provinsi Jawa Tengah.

Eks-dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis, Dr.  Agus Prayitno, berpose seusai wawancara di depan gedung A Udinus pada Senin siang (20/2/2017).
Eks-dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis, Dr. Agus Prayitno, berpose seusai wawancara di depan gedung A Udinus pada Senin siang (20/2/2017).

 

 

Dengan itu beliau menyimpulkan bahwa Udinus semakin dikenal banyak orang baik didalam maupun luar negeri dan semakin berkualitas. Beliau menyebutkan faktor-faktor tentang bagaimana udinus dapat mencapai pencapain tersebut, “Itu dampak dari teman-teman dosen yang mempublikasikan karya-karya ilmiahnya, mahasiswa yang meng-upload tugas-tugas kuliah, skripsi, maupun tesisnya. Juga setiap fakultas di Udinus itu IT Minded, berbeda dengan perguruan tinggi lain yang relatif konvensional.”

 

Kriteria

Webometrics adalah  sebuah lembaga yang melakukan perangkingan pada universitas di seluruh dunia. Lembaga tersebut  merupakan bagian dari National Research Council (CSIC) Spanyol.  Webometrics mulai melakukan perangkingan pada 2014, dan mempublikasikan  rangking universitas setiap enam bulan sekali antara bulan Juli dan Januari. Sebagaimana dikutip dari reconia4training.wordpress.com, dalam melakukan perangkingan, Webometrics menentukan kriteria utama dari sebuah universitas. Kriteria tersebut antara lain:

  1. Visibility (V), yaitu jumlah total tautan ekstern yang diterima dari situs lain (inlink) yang diperoleh dari Yahoo Live Search dan Exaled. Untuk setiap mesin pencari, hasil-hasilnya dinormalisasi logaritmik ke 1 untuk nilai tertinggi dan kemudian dikombinasikan untuk mengasilkan peringkat.
  2. Size (S), yaitu jumlah halaman yang ditemukan dimesin pencari; Google, Yahoo Live Search, dan Exaled. Untuk setiap mesin pencari, hasil pencarian dinormalisasi logaritmik ke 1 untuk nilai tertinggi.
  3. Rich Files (R), yaitu volume file yang ada di situs Universitas. Data file ini diambil menggunakan Google dan hasilnya digabungkan untuk setiap jenis berkas. dan,
  4. Scholar (Sc), yaitu  tulisan-tulisan ilmiah (scientific paper), laporan-laporan dan tulisan akademis lainnya yang dipublikasian oleh dosen dan mahasiswa.

Bobot masing-masing kriteria tersebut adalah Visibility (V) 50%, Size (S) 20%, Rich Files (R) 15%, Scholar (Sc) 15%.

Ketika saya bertanya apa kiat untuk dapat lebih meningkatkan peringkat Udinus di Webometrics, tutur kata Pak Agus nampak lebih serius, “Semakin dosen dan mahasiswa aktif beraktifitas (mempublikasikan karya ilmiah) melalui web, ya semakin dapat meningkat.”

 

Oleh: Muhammad Abdul Malik

lampu kuning temaram
lampu kuning temaram

Le Malentendu

 (oleh: Muhammad Abdul Malik)

 

Lampu diatasnya menyala kuning temaram. Sinarnya tidak terlalu terpancar dan menarik perhatian. Warnanya terkesan membuai kehangatan. Ahh, rintikan hujan tadi memang membuat tubuh kedinginan.

“Hei, minumlah…” Ella dikejutkan oleh sosok disampingnya dan terbuyar dalam lamunan. “Kalau sudah dingin, tak enak nanti”

Ella menyeruput kopi panasnya itu. Ia sedikit menahan panas. Ketika bibirnya hampir menyentuh pinggiran cangkir, Ia sengaja melihat Emanuel dari balik cangkir. Didepannya adalah orang yang selalu ada. Selalu. Jika Ia berada diposisi atas. Bahkan jatuh terjun berada diposisi bawah sekalipun, seperti sekarang ini.

“Aku masih tidak percaya” ucap Ella memulai percakapan. Bibir merahnya sedikit basah.

“Kau harus kuat. Ella!

“Eman….” sapaan akrab Emanuel. “tapi aku..” pantulan cahaya lampu diatas tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Telaga dipelupuk matanya hampir penuh. “aku tidak mampu”

“Ayolah, Ella. Mari kita selesaikan masalah bersama. Aku tahu ini ini bukan kesalahan. Ini kemalangan.” Mata Eman menatap Ella dalam-dalam. “Bukankah itu sebuah kerikil. Ya ampun, hanya kerikil. Kita bisa menghempaskannya dengan ujung jari kaki kita. Namun kita juga harus hati-hati agar kerikil itu tidak melukai. Benar-benar harus hati-hati menjelaskan itu semua kepada orang-orang.” Eman berusaha untuk menguatkanya.

Jika masalah diibaratkan sebuah isi harta karun, dan cara penyelesaiannya diibaratkan secarik kain sutera yang menutupi harta karun itu, maka Komunikasi adalah seperti menghempaskan secarik kain sutera itu untuk mengambil isi harta karun. Komunikasi memang benar-benar dapat menyesaikan agar masalah tak berlarut-larut. Lalu mengendap. Hingga basi kemudian memadat.

“Bagaimana mereka kalau tidak percaya.” ucap Ella sembari mengulur tisu disamping kopinya, Ia mengusap matanya sebelum air telaga dipelupuk matanya jatuh. “Aku tidak tahu mengapa orang-orang berpikiran jauh seperti itu.”

“Saya memang bodoh! Seharusnya saya menahan diri untuk tidak masuk ke kamar kosmu dipagi hari yang sepi. Dan sialnya, kali itu saya hanya memakai kolor.” Sesal Eman sambil mengepal tangannya kuat-kuat. “Tapi kala itu kita tidak melakukan apa-apa kan Ella? Dan mereka semua itu malentendu(1)

Ella mengangguk perlahan.

Cahaya lampu rem yang menyala terang ketika hampir sampai lampu merah, bunyi cicitan rem, dan lalu-lalang orang-orang, juga papan iklan yang menampilkan produk pasaran, tidak menarik perhatian Ella dan Eman sama sekali. Disudut ruangan kedai kopi itu, mereka tenggelam dalam percakapan.

Ella melihat tangannya seperti tangan milik orang lain “Kau tidak boleh seperti ini. Tidak ada kesalahan yang kau perbuat. Mereka semua terlalu mencampuri urusan orang. Jangan sedih!

***

Ella dan Emanuel adalah remaja lawan jenis yang mempunyai ketertarikan satu sama lain. Cinta mereka tumbuh seperti ungkapan jawa: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Sebuah ungkapan dalam bahasa jawa bahwa “Cinta tumbuh karena terbiasa” – terbiasa bertemu dan bersama-sama. Mereka memang satu kampus, satu fakultas, satu program studi dan tak jarang satu kelas. Karena mereka anak rantau, untuk bertempat tinggal mereka menyewa kos. Bukan, mereka bukan satu kos. Eman kos didaerah selatan kampus. Sedangkan kos Ella berada diutara kampus. Sedikit jauh. Namun mereka masih bisa bertandang ke kos satu sama lain.

Kamis pagi kala itu, Eman sedang bertandang ke kos Ella untuk menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan sesegera mungkin.

“Aku akan menuju kosmu sekarang Ella.” Tulis Eman dipesan singkatnya. Sebelum Ia memutar tuas gas motornya, Ia memencet tombol send.

Eman tidak tahu apakah Ella menyanggupi untuk menerima Eman ditempat kosnya. Eman terlalu terburu-buru.

“Eman aku mohon jangan sekarang.” Balasan pada pesan singkatnya tadi ketika Ia sampai didepan kos Ella.

“kepalang tanggung! Aku sudah sampai didepan kosmu, Ella.”

“Ella, Selamat Pagi… buka pintunya segera, sayang!”

Keadaan kos pagi hari ini memang sepi. Sepatu-sepatu yang ditempatkan dirak dekat tempat sampah tak ada. Sandal lusuh terlihat terbengkalai dilantai. Nampak juga kursi tua yang teronggok dan sapu lusuh yang tersender ditembok motif bata balok.

Bunyi pintu terdengar ketika gagang pintu terpelintir kekanan.

“Kau tidak baca balasanku. Ya ampun…” Ella berusaha memberitahu Eman bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bertandang, namun Eman nampakknya tahu dan segera memotong;

“Ini karena tugas Ella.”

Mungkin Ella bisa beralasan jika Ia belum mandi dan belum siap diri. Bagaimanapun, Ia ingin sempurna didepan kekasihnya. Jika memang Eman cukup peka melihat ketidaksiapan seseorang, alasan Ella memang logis dan benar, bahwa wajahnya telihat kusut, bibirnya belum tergores lipstik, bubuhan bedak tipis belum tersebar, dan rambutnya sedikit awul-awulan.

“Bolehkah aku masuk?”

Kursi tua yang teronggok dan warna kreamnya telah lusuh, seperti melarang Ella; “please… jangan duduki aku. (dengan tatapan mata sayu)” dan ketika Ella melempar pandangan kelantai warna abu-abu “Jangan duduki. Aku kotor. Kau tidak pernah mengepel punggungku.

“Masuk saja.”

***

 Nyonya Rein setiap minggu sore selalu melihat hasil pantauan selama satu minggu  dari CCTV yang Ia pasang dipojok atas genteng kosnya. CCTV-nya Ia warnai coklat, jadi tidak telihat. Nyonya Rhein nampaknya pribadi yang was-was, Ia tak mau penghuni kosnya meninggalkan usaha barunya ini, mengingat pekan lalu telah terjadi tragedi seorang mahasiswa kehilangan laptopnya. “Biar aman.” Alasannya ketika tiap kali orang-orang bertanya mengapa ia memasang CCTV dikosnya.

Namun ketika Ia melihat video pada Kamis pagi. Ia tercengang. Dalam video itu terlihat sosok pria tinggi, warna kulitnya kecoklatan, hidungnya mancung, dan hanya memakai kolor. Pria itu memasuki salah satu kamar kosnya. Diambang pintu, Nyonya Rhein bisa melihat bahwa –dan Ia belum percaya, bahwa Ella menyambut pria itu dan membiarkannya masuk. Pikiran Nyonya Rhein melesat jauh menduga-duga apa yang dilakukan Ella dan Pria itu didalam kamar kosnya.

Adegan itu kemudian tersebar ke penghuni kos lain. Tatapan mata dan tindak-tanduk penghuni kos lain terhadap Ella sekarang berubah. Ella cukup pintar untuk menyimpulkan bahwa Ia sedang direndahkan dan diremehkan. Ia tidak tahu mengapa. Namun ketika nyonya Rhein berkunjung untuk melihat keadaan kosnya, Ia basa-basi menyapa Ella.

“Kemana pria itu, Ella?

Seketika Ella tersadar bahwa Ia merasa direndahkan dan diremehkan karena masuknya Pria itu kekamar kosnya. Bahwa semuanya telah salah paham. Ini harus segera dibicarakan. Segera. Sebelum Salah Paham menggerogoti kebenaran.

 

 

Malentendu(1) (baca: malongtondzuu) adalah bahasa perancis yang jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti  Salah Paham. Jika didepan kata malentendu terdapat kata Le ( Le Malentendu) mempunyai arti Kesalahpahaman.

Muslim Ban
Donald Trump

Trump dan Kebijakan Muslim Ban

 

Oleh: Muhammad Abdul Malik

 

Muslim Ban

 

Ketika Donald Trump, presiden AS, sadar mendapat kecaman keras atas kebijakannya yang melarang tujuh warga negara mayoritas Islam (Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman), Ia dalam wawancaranya kepada The Hill mengatakan: “Supaya jelas, aturan ini bukan larangan terhadap muslim seperti yang dilaporkan media.”

Trump berdalih bahwa ada 40 negara mayoritas Islam didunia yang tidak masuk dalam kebjakan ini. Kebijakan ini juga mencakup larangan selama 120 hari bagi pengungsi dari Suriah. Ia juga mengatakan akan memberi visa bagi ketujuh warga negara diatas jika keamanan membaik selama 90 hari terhitung sejak 27 Januari 2017.

Namun, pernyataan berbeda dilontarkan oleh orang dekat Trump sekaligus mantan walikota New York, Rudy W. Giuliani. Giuliani mengatakan kepada Fox News,  bahwa Trump memang benar-benar akan melarang warga dari tujuh negara itu dan Trump memintanya untuk membentuk komisi yang dapat menyusun aturan itu supaya benar dimata hukum. Fokus aturan ini, kata Giuliani, adalah tidak melarang seseorang memasuki AS berdasarkan agama yang dianutnya, melainkan suatu wilayah yang sering menghasilkan teroris.

 

 

 

Perspektif Penulis: Kebijakan Tak Tepat Sasaran

 

Kebijakan Trump tersebut diatas, secara tidak langsung memperlihatkan ketakutan Trump terhadap muslim dan kekhawatiran Trump terhadap keamanan AS. Sebenarnya tujuan pelarangan itu menurut Trump adalah untuk melindungi AS dari aksi teroris. Tujan yang sangat mulia. Namun mengapa Trump hanya melarang negara-negara mayoritas Islam? Ia menyimpulkan dari aksi-aksi teroris, bahwa Islam merupakan agama teroris. Ini sama sekali tidak benar. Trump menggenelarisasi umat muslim bahwa mereka berpotensi menjadi teroris. Sikap ini bergitu diskriminatif. Aksi teroris yang terjadi telah memperburuk citra Islam dimata dunia. Mereka, para teroris, mengatasnamakan Islam dan berteriak “Allahu Akbar” setiap kali melakukan pengeboman, membunuh orang tak bersalah, dan menghancurkan situs arkeologis yang tak tergantikan, padahal Islam tidak mengajarkan mereka melakukan aksi-aksi keji tersebut. Trump semestinya, mengingat AS merupakan negara berpaham sekuler, tidak memandang seseorang untuk memasuki negaranya berdasarkan agama. Langkah terbaik, Ia seharusnya memerangi objek ketimbang subjek. Artinya, Ia bersama militer AS seharusnya mengerahkan segala kekuatannya untuk memerangi aksi-aksi teroris (objek) daripada melarang muslim (subjek) untuk memasuki negaranya. Ini sama halnya seperti konsep yang ditujukan untuk memberi motivasi kepada penderita HIV AIDS yakni jangan jauhi orangnya namun penyebabnya. Salah satu penyebab AS dituju oleh teroris adalah kebijakan luar negerinya yang justru menyengsarakan warga negara lain. Amerika Serikat dengan segala kehebatannya, mampu mempengaruhi kebijakan dalam negeri negara lain dalam bentuk intervensi yang hanya ditujukan untuk kepentingan AS sendiri. Sebagai contoh intervensi AS di Timur Tengah adalah Perang Teluk I pada tahun 1980-1988 antara Irak dan Iran. Persilisihan tersebut merupakan peluag empuk bagi AS untuk melakukan intervensi. Intervensi tersebut bertujuan agar pasokan minyak untuk AS tidak tersendat sehingga industri di AS terus berjalan dan agar senjata produksi AS tetap laku ditengah perang yang sedang berkecamuk. Bagi pihak-pihak yang sadar bahwa AS memanfaatkan situasi buruk ini —Kesempatan dalam kesempitan, lantas memicu sentimen buruk terhadap AS. Salah satu pemicu tersebut menyebabkan AS menjadi tujuan para teroris. Seharusnya kebijakan luar negeri AS tidak mengintervensi kebijakan dalam negeri dari negara-negara yang dilarang itu khususnya, dan negara lain pada umumnya. Ini sebagai tindakan preventif agar warga negara yang dilarang itu atau warga negara lain  tidak benci terhadap AS sehigga tidak melakukan aksi-aksi terorisme di AS.

 

 

Langkah yang Tepat

 

Kebijakan Muslim Ban oleh Trump mendapat banyak tolakan. Aksi demo terjadi dijalanan dan gedung-gedung pemerintahan. Aksi menolak kebijakan itu bahkan didukung oleh Jaksa Agung dibeberapa negara bagian.

Seorang hakim federal, James Robart, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, menghentikan sementara penerapan kebijakan itu. Tak hanya itu, keputusan hakim dinegara bagian Seattle, Washington, Boston, Massachusetts, juga menolak kebijakan Trump itu.

Informasi terbaru yang dihimpun dari KontanMobile.com, pengadilan banding AS menolak pemberlakuan kebijakan tersebut diatas. Dengan demikian, hakim memperbolehkan para pelancong dari ketujuh negara itu untuk masuk ke AS. Menanggapi hal ini, Trump kembali menuliskan tweet. “Sampai jumpa di pengadilan, keamanan negara kita dipertaruhkan!” tulisnya.