Atrium Citraland Mall, Semarang – Pagelaran tahunan Galaxy Technoart oleh Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro Semarang (21/11/18) sukses diselenggarakan dengan menuai banyak pujian. Acara  berlangsung meriah, dihadiri oleh siswa-siswi peserta lomba yang berasal dari berbagai SMA di Semarang, pembicara kompeten pada bidangnya serta hiburan dari mahasiswa-mahasiswi aktif Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Tidak hanya partisipan, acara yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini pun, ramai menarik perhatian publik, sekedar lewat untuk menengok rangkaian acaranya, berfoto bersama maskot dari UDINUS maupun menyimak materi Seminar yang dibawakan oleh pembicara.

Berchika bersama team saat menjuarai lomba Performing Art

Pada perlombaan yang diselenggarakan, para peserta terlihat sangat antusias dengan kreativitas yang mereka sajikan dalam bentuk karya, yang nantinya akan dinilai di hadapan dewan juri. Pada Galaxy Technoart 2, terdapat berbagai jenis rangkaian perlombaan dengan tema yang mengolaborasikan antara Budaya Tradisional serta Teknologi. Salah seorang Mahasiswi Baru UDINUS, Berchika Nisa yang juga merupakan peserta lomba Performing Art mengatakan, “Ketika team kami menang, tidak ada pemikiran kami bisa menang dalam acara ini. Sejujurnya niat kami tidak hanya untuk mencari nilai dan kejuaraan, tetapi lebih berniat untuk memberikan hasil yang terbaik dari tim, dan ini adalah salah satu hasil perjuangan dari tim kami”, ujarnya. “Acara ini sangatlah bagus dan bermanfaat bagi semua orang, terutama kalangan remaja, acara ini membuat kita sadar dengan adanya perkembangan budaya Indonesia, dan di sini juga kami belajar adanya perkembangan teknologi yang sedang berkembang saat ini, disisi lain di sini juga kami masih mau menengok kembali akan adanya budaya yang masih otentik dan mengembangkannya menjadi budaya yang lebih modern”, tambahnya.

Berbagai jenis lomba dan seminar yang diselenggarakan dalam Galaxy Technoart 2 ini, membuat para pengunjung dan partisipan lebih paham akan perkembangan zaman terutama Teknologi yang kian pesat. Pesatnya kemajuan Teknologi tersebut, baiknya diimbangi dengan pengetahuan berbudaya tradisional sebagai akar dari sejarah kemajuan Teknologi. Sesuai dengan tema tahun ini, ‘New Hope Kreasi Anak Bangsa’  diharapkan, setelah acara Galaxy Technoart 2 selesai, muncul bibit-bibit anak muda yang unggul di bidang Teknologi, serta ramah pada Budaya.

Penulis : Elwan Adi

Editor : Intan Widianti K.P

Fotografer : Rendi Andrea Pramana

Rabu, 21 November 2018 diadakan acara Galaxy Technoart yang berlokasi di Mall Ciputra Semarang. Galaxy Technoart merupakan event yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS). Tema yang diusung kali ini adalah New Hope Kreasi anak negeri.

Dalam Galaxy Technoart terdapat lomba yang diselenggarakan di antaranya, lomba fotografi, jurnalistik dan skenario tingkat SMA/SMK sederajat. Dalam Galaxy Technoart sendiri dibagi ke dalam beberapa sesi salah satunya adalah Kolaborasi Kreatif Untuk Pembangunan.

Perkembangan zaman sekarang tidak membuat anak muda berhenti berkreasi dan berkarya, dengan adanya teknologi seperti sekarang, justru membuat mereka semakin berkreasi dan dapat menciptakan karya yang memukau. Seperti e-macapat dan e-gamelan merupakan hasil teknologi yang diciptakan oleh UDINUS bahkan sudah sampai ke ranah Internasional. Tujuan dibuatnya e-gamelan dan e-macapat supaya menarik perhatian anak muda dalam melestarikan kebudayaan. Munculnya beberapa start-up juga menjawab perkembangan teknologi yang dimanfaatkan oleh anak muda. Seperti Young on Top dan Inakriya.

Young on Top merupakan start-up yang sudah berdiri 10 tahun dan sudah ada di 25 kota, termasuk Semarang. Kota Semarang menjadi salah satu kota teraktif dan member yang paling banyak. Event yang di selenggarakan pun sangat menarik, seperti yang baru-baru ini Young on Top dan Top Karier mengadakan job fair yang di peruntukan untuk lulusan SMA/SMK yang bekerja sama dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Karena tingkat pengangguran paling banyak adalah lulusan SMA/SMK. Tidak hanya memfasilitasi mereka untuk bekerja, Young on Top dan Top karier juga mendorong mereka sebisa mungkin untuk melanjutkan pendidikan berlanjut meskipun mereka memilih untuk bekerja,” Ungkap Riki Son selaku manager dari Young on Top.

“UMKM di sini termasuk dalam hal seni. Inakriya hadir untuk mewadahi industri kreatif. Banyak kreasi seni dan budaya yang masih belum di publish, untuk itu Inakriya hadir untuk menginkubator. UMKM sebagai seni budaya seperti kuliner dan kerajinan. Inakriya melakukan pembangunan dan pelatihan agar UMKM bertumbuh. Salah satunya UMKM yang ada di Semarang, Inakriya bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) untuk pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM). Hasil riset dari Inakriya, kota Semarang menjadi kota transit kuliner dan budaya yang harusnya menjadi kota destinasi utama,” ungkap Lisa Mardiana selaku inkubator Inakriya.

Hal tersebut didukung oleh pemerintah kota (pemkot) Semarang seperti membangun taman-taman, mempercantik kota, destinasi wisata ditambah. Sedangkan pelayanan untuk masyarakat pemkot Semarang menyediakan bus wisata untuk keliling Semarang dalam sehari bus tersebut beroperasi tiga kali keliling tanpa dipungut biaya. Pemkot Semarang juga fokus di dalam pendidikan yaitu dengan cara memperbaiki fasilitas yang ada dan memfasilitasi beasiswa bagi yang kurang mampu.

UDINUS merupakan salah satu perguruan tinggi yang mempunyai potensi di bidang seni dengan apresiasi yang bagus. Salah satu yang dilakukan adalah menumbuhkan seni kreatif yang berdimensi luas ekonominya dan sosial budaya, karena jika sudah ada seni radikalisme akan hilang. Tidak hanya itu UDINUS juga memfasilitasi mahasiswa yang memiliki start-up, salah satunya dengan mendirikan tenda kewirausahaan dan memberikan mahasiswa mata kuliah kewirausahaan yang nantinya diharapkan banyak start-up- start-up bermunculan dan menjadi seorang entrepreneur atau kreator.

“Mari kita berpikir, mari kita melakukan” Salam akhir dari Lisa Mardiana selaku inkubator Inakriya dan dosen Udinus Dalam akhir acara Galaxy Technoart.

Penulis & Fotofrager : Ummi Nur Aini Daneswari

Editor : Haris Rizky Amanullah

Palari Films telah sukses produksi film Aruna dan Lidahnya, film yang pemeran utamanya Dian Sastrowardoyo tersebut sedang promosikan filmnya secara gencar-gencaran. Kali ini mereka targetkan penonton kalangan remaja dengan adakan promosi di aula gedung E Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Promosi ini diadakan langsung oleh Palari Films dan Sineroom Semarang- komunitas sineas film- yang bekerjasama dengan LabStory dan Udinus pada hari rabu (3/10).

Mereka mengadakan Mini Talkshow berdurasi satu jam dengan menghadirkan Produser Film Meiske Taurisia, Sutradara Edwin yang notabene-nya pernah di daulat menjadi sutradara terbaik pada film “Posesif”, dan Nicholas Saputra yang memerankan karakter Bono pada film Aruna dan Lidahnya.

Peserta sangat antusias menyaksikan talkshow tersebut, hal ini dibuktikan dengan hadirnya 270 orang dari kalangan umum dan Mahasiswa Udinus.

“Kegiatan ini dari Sineroom dan Palari Films, kami dari udinus dan LabStory hanya bekerjasama dengan mereka. Peserta yang hadir kurang lebih ada 250 orang dari udinus, sedangkan umum ada 27 orang” Ujar Shinta Arum selaku panitia acara.

Mieske menjelaskan bahwa ia mengangkat Novel Aruna dan Lidahnya menjadi film karena didalamnya terdapat cerita kompleks seperti pertemanan, persahabatan, cinta, dan konspirasi dalam kerja yang dibalut dalam kegiatan berbincang di meja makan.

“Kenapa memilih Aruna dan Lidahnya, kan pada film Posesif sudah ada unsur remaja, _romance_. Tapi pada film ini, kita pingin _explore_ hubungan yang dewasa pada anak yang sedang kuliah dan bekerja, jadi waktu saya baca novelnya jadi membayangkan mereka bisa merasakan rasa pertemanan, persahabatan, cinta, dan pekerjaan yang dibalut dalam suasana ngobrol di meja makan” Tuturnya saat menjelaskan detail Film Aruna dan Lidahnya.

Selain di Universitas Dian Nuswantoro Aruna dan Lidahnya juga lakukan serangkaian promosi di Institut Seni Indonesia Surakarta dan Yogyakarta, hingga jumpa fans di Bioskop. Film yang tayang perdana tanggal 27 september 2018, masih dapat di saksikan di bioskop terdekat.

Penulis & Fotografer : Shabrina Edelweiss

Editor : Haris Rizky A.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Dian Nuswantoro kembali gelar International Seminar on Application for Technology of Information and Communication (iSemantic). Seminar tingkat international tersebut sudah diselenggarakan untuk ketiga kalinya dan mendatangkan pembicara dari dalam negeri maupun luar negeri.

Dihadiri sekitar 400 peserta, kali ini iSemantic mengangkat tema bertajuk “Creative Technology for Human Life”. Dengan menghadirkan tiga pembicara handal yakni Prof. Dr. Ir. Nurul Taufiqurrachman, M.Eng. dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Peter Wushou Chang, MD, MPH,ScD. dari Teipei Medical University dan yang terakhir Reece Hinchcliff, Ph.D dari University of Technology Sydney.

Pada sesi pertama Prof. Nurul Taufiqurrachman menjelaskan tentang pengelolaan Intelectual Property “LIPI terdaftar memiliki jumlah paten mungkin terbesar di Indonesia, pada tahun 2017 “jelasnya saat di temui jumat (21/09/2018). Seperti yang kita tahu paten merupakan salah satu parameter untuk kemajuan bangsa. Setelahnya Prof. Peter Wushou menjelaskan tentang literasi kesehatan dan juga hak atas kesehatan. Selain itu juga Reece Hinchcliff menjelaskan tentang teknologi yang dapat memperkuat sistem kesehatan “seperti yang kita tau, kita bisa memiliki teknologi yang bagus. Tetapi tidak diimplementasikan dengan benar”jelasnya.

Menurut Rektor Universitas Dian Nuswantoro, Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko M.kom diadakannya isemantik bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dari para mahasiswa, karyawan, dan masyarakat. Sehingga pada acara tersebut mengundang 3 pembicara yang didatangkan langsung dari Taiwan, Australia dan dari Indonesia.

“Di sini kita melihat bahwa mahasiswa, karyawan, dan masyarakat dan perlu ditingkatkan kreatifitasnya, intinya seperti itu. Sehingga kami mengundang pembicara-pembicara dari berbagai penjuru Australia, Taiwan, Indonesia sehingga bicaralah tentang kreatifitas dan bisa menyebarkan virus tentang itu kepada para peserta”ujar Rektor Udinus yang di temui pada aula gedung E, Universitas Dian Nuswantoro

 

Penulis : Juliana Heidi

Editor : Haris Rizky A

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro memeriahkan hari terakhir Dinus Inside tepatnya hari Rabu, 5 September 2018.

Fakultas ini menyelenggarakan Lomba Denok Kenang antar mahasiswa baru yang diikuti sebanyak 5 pasang peserta.Tujuan diadakanya acara ini untuk menyaring mahasiswa berprestasi dan berbudi pekerti yang baik sebagai public figure dari Fakultas Ekonomi Bisnis yang mampu bersaing dengan mahasiswa lain.  Untuk menjadi Denok Kenang Fakultas Ekonomi Bisnis ,peserta telah melalui berbagai tahap penyeleksian yang dimulai sejak hari pertama Dinus Inside dan diseleksi langsung oleh para dosen.Kriteria penilaian meliputi public speaking, penampilan serta bakat.

Peserta Denok Kenang ini selain cantik dan tampan, juga memiliki bakat dan prestasi yang membanggakan.Bahkan salah satu diantaranya menjadi juara 3 Korea Open Taekwondo.Rangkaian acara lomba ini diawali dengan catwalk. Dilanjutkan dengan penyampaian materi seputar ekonomi bisnis kepada seluruh mahasiswa baru serta  sesi tanya jawab antar peserta Denok Kenang dan mahasiswa baru .

Nantinya akan ada 2 kategori juara yang meliputi juara umum berdasar penilaian juri dan juara favorit berdasar voting seluruh mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Bisnis.

“Saya berharap mahasiswa FEB dapat termotivasi oleh peserta yang terpilih menjadi Denok Kenang agar tidak hanya memperhatikan penampilan saja namun juga memperbaiki skill maupun public speaking.”Tutur Yuli Fardani Faisal selaku sie acara.

“Seneng, gak nyangka, kaget, karena persiapan mepet hanya 2 hari. Harapannya semoga kita bias menjadi contoh yang baik dan tentunya dapat membanggakan udinus.”tutur Kukuh Wijayanto sebagai juara umum Denok Kenang Fakultas Ekonomi Bisnis 2018.

Penulis : Ratna Ulya
Editor : Mila Elmeida
Fotografer : Dessyta Melinia Eriza

Selasa (04/09) Konservasi Udinus Peduli merupakan satu dari serangkaian kegiatan Dinus Inside yang telah menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Udinus.
Kegiatan penanaman mangrove yang diikuti oleh delegasi dari masing-masing Unit Kegiartan Mahasiswa (UKM), mahasiswa baru delegasi dari fakultas, beberapa dosen dan mahasiswa exchange ini bertujuan untuk dapat membantu masyarakat sekitar kelurahan Mangunharjo dalam mencegah abrasi.
Rombongan Konservasi Dinus Peduli meninggalkan area kampus pada pukul 07.00 WIB untuk menuju lokasi penanaman mangrove. Membutuhkan waktu 20 menit dari kelurahan Mangunharjo untuk menuju lokasi penanaman pohon mangrove.


Penanaman mangrove di mulai dengan pembukaan oleh Jaka Prasetya, M.Kes, selaku dosen Udinus dilanjut dengan bimbingan dari Sururi selaku tokoh pelestari lingkungan dan dibantu oleh rekan-rekan beliau. Berdasarkan keterangan Sururi, telah ada 4 petak area penanaman mangrove dan telah tertanam 4000 pohon mangrove dari Udinus. Sebelumnya wilayah tersebut merupakan sungai lepas, mangrove di sini ditanam sejak tahun 1996. Hutan mangrove yang dikelola Sururi tidak hanya dimanfaatkan sebagai pencegahan rob, namun ia juga mengoptimalkan pemanfaatan hutan mangrove tersebut dengan membuat produk-produk seperti batik mangrove, dodol, dll.
Sesampainya peserta di sana, Sururi mengajarkan bagaimana cara menanam mangrove. Sururi juga menegaskan jika setelah 3 bulan mangrove yg telah ditanam harus di lihat kembali untuk mengganti bibit yg tidak bisa tumbuh. “ kami hanya menyediakan 100 mangrove untuk menyulam. Menyulam itu maksudnya adalah guna mengganti bibit yang telah mati, karena faktor iklim cuaca yang tidak bisa kami kendalikan.” pungkasnya.
Seluruh peserta mengikuti seluruh susunan acara dengan antusias. “Senang ya, bisa berbagi untuk membantu mengurangi bencana juga” tutur salah satu peserta Konservasi Udinus Peduli.

Reporter : Aniqotun Nadhifah

Editor : Khilma Kumala

Fotografer : Haris Rizky