Perempat Final, Rebutkan Tiket Semifinal Kembali Hasilkan Kemenangan Panen Raya

Empat tim berhasil lolos dari babak perempat final dan menuju ke babak semifinal pada ajang Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI) setelah berhasil menang dengan keunggulan poin.

Empat tim yang berhasil lolos akan bertanding kembali di babak semifinal yaitu Politeknik Negeri Ujung Pandang (PANGGALUNG MP) melawan Politeknik Negeri Jember (TANOKER_IR64) dan pertandingan kedua antara Universitas Bayangkara Surabaya (EURO_01), melawan Universitas Negeri Yogyakarta (ABHINAYA). Kali ini tim PANGGALUNG MP dari Politeknik Negeri Ujung Pandang berhasil mendapat poin Panen Raya untuk pertama kalinya. Empat tim yang lolos tersebut nantinya akan bertanding di babak semifinal pada pukul 10.00 WIB, Minggu (23/6/2019).

Pertandingan yang diselenggarakan di Sport Center Graha Padma Semarang merupakan perlombaan KRMTI adalah divisi baru yang mengambil tema untuk ketahanan bangsa dan negara. Tema pada KRTMI Nasional 2019 adalah pertanian padi, dengan slogan “Kecukupan Pangan, Ketahanan Negara”. Divisi seperti ini nantinya dapat membantu pertanian di indonesia dengan teknologi robot dan mekanik untuk menghadapi Teknologi 4.0 yang sudah didepan mata.

Di dalam venue terdapat 5 divisi lomba selain KRTMI yakni Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) beroda.

KRI Nasional 2019 merupakan ajang kompetisi rancang bangun dan rekayasa dalam bidang robotika. Ajang tersebut diselanggarakan pada 20-23 Juni 2019 dan akan bertanding di Graha Padma Sport Center. Kontes Robot Indonesia tahun 2019 diikuti oleh lebih dari 64 Perguruan Tinggi seluruh Indonesia yang terbagi dalam 121 tim.

Penulis : Haris Rizky Amanullah

Fotografer : Tim Humas

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Lenggak-Lenggok Robot Tari Dipercantik dengan Gaun Warna-Warni

Ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 Tingkat Nasional diwarnai dengan aksi lenggak-lenggok robot cantik dalam Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) di Venue Graha Padma Semarang pada Sabtu (22/6/2019).

Tidak hanya menampilkan keluwesan saat menari, robot tari dari ke 14 tim yang mengikuti Kontes Robot Seni Tari Idonesia (KRSTI) juga memperlihatkan busana yang dikenakan oleh robot dari masing-masing tim.

Mulai dari kebaya Jawa, baju adat Sumatera, hingga memodifikasi baju dengan pernak pernik yang berwarna warni, menambah kesan cantik dari robot yang tampil. Dengan balutan busana batik dan beludru ini, terkesan bahwa robot juga ikut melestarikan budaya Indonesia.

Pernak pernik yang dipakai seperti, kipas, selendang, sandal, anting-anting, kalung hingga aksesoris yang ada di kepala seperti mahkota, kerudung, dan bahkan tusuk konde dengan bulu bulu yang semakin cantik saat dipandang. Selain busana yang warna-warni, riasan di wajah juga mempercantik penampilan robot tersebut seperti layaknya penari asli.

Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 tingkat Nasional ini sendiri merupakan ajang kompetisi bangun dan rekayasa dalam bidag robotika. Kontes Nasional ini diikuti oleh 64 Perguruan Tinggi di Seluruh Indonesia yang terbagi menjadi 121 tim. Tim yang lolos di babak penyisihan akan bertanding kembali pada hari Minggu 23 Juni 2019 untuk memperebutkan gelar juara.

Penulis            : Lily Tania Innezaputri

Fotografer : Lily Tania Innezaputri

Editor  : Mila Elmeida

14 Tim Kontes Robot Seni Tari Indonesia Tampil di Babak Penyisihan Delapan Besar

Ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 Tingkat Nasional devisi Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) mulai tampil pada Sabtu (22/6/2019) di venue Graha Padma Semarang dengan 14 tim yang tampil pada arena perlombaan.

Universitas yang mengikuti Kontes Robot Seni Tari Indonesia diantaranya Univesitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Brawijaya, Universitas Teknokrat Indonesia, Politeknik Negeri Batam dan beberapa tim yang lainnya berusaha menampilkan robot terbaik mereka untuk berlenggak-lenggok di arena pertandingan.

Dalam penampilan ini, para robot peserta melakukan tiga kali penampilan yang akan dinilai oleh juri. Setiap penampilan akan mendapatkan nilai kemudian akan nilai tersebut akan digabungkan untuk diperoleh rata-rata tertinggi. Tim yang memiliki nilai rata-rata tertinggi di babak penyisihan akan lolos ke babak perdelapan final.  Delapan  tim yang akan masuk ke babak selanjutnya.

Di pertandingan KRSTI ini, dua tim saling beradu di dua sisi yang berbeda di dalam satu lapangan. Dalam prses pertandinganna, robot mengikuti alunan musik tradisional yang telah ditentukan oleh juri. Berbagai macam gerakan ditampilkan oleh robot, mulai dari gerakan pembuka hingga gerakan-gerakan khusus seperti gerak pancungan, ngala, pencil, hingga keselarasan gerak robot dengan irama musik menjadi aspek untuk penilaian dalam KRSTI.

Tim yang masuk delapan besar yakni, Institut Tekonologi Sepuluh Nopember (VI-ROSE), Universitas Negeri Yogyakarta (ROSEMARY), Universitas Ahmad Dahlan (LANANGE JAGAD), Universitas Brawijaya (NAWASENA), Politeknik Negeri Batam (BARELANG 7.1), Universitas Mitra Indonesia (RoboGen Dance), Universitas Tadulako (RATARO 04 4), dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (ERISA).

Tim yang lolos akan bertanding kembali di hari terakhir ajang KRI 2019 pada Minggu 23 Juni 2019 untuk memperebutkan gelar juara.

Penulis : Lily Tania Innezaputri

Fotografer : Lily Tania Innezaputri

Editor  : Mila Elmeida

Jelang Pertandingan, Tim Robot KRI 2019 Lakukan Running Test I di Arena Perlombaan

Seluruh peserta melakukan running test di setiap lapangan demi mempersiapkan robot sebelum pertandingan esok hari. Kegiatan tersebut bertujuan sebagai latihan untuk para tim robot mengetahui arena yang akan di pertandingkan.

Kegiatan Running Test I Kontes Robot Indonesia (KRI) telah diselenggarakan di Hall B Venue The Club Graha Padma, Semarang Barat Jum’at (21/6). Mereka berusaha menampilkan sisi terbaiknya dengan  melakukan tes langsung di lapangan. Robot-robot tersebut disambungkan dengan program yang telah di rancang sedemikian rupa agar bisa berjalan dengan baik. Kontes ini terbagi menjadi 6 divisi lomba yakni KRAI, KRPAI, KRSTI, KRSBI Beroda dan Humanoid, KRTMI yang diikuti oleh 64 universitas se-Indonesia. Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI) terdapat beberapa tim yang tiga diantaranya ialah Tim Brahmana (Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta), Tim Garudago (Institut Teknologi Bandung) dan Tim Risma (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) yang menjajal robotnya di arena lomba secara langsung.

Sedangkan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Humandoid (KRSBIH) diikuti oleh 12 tim peserta yang lima diantaranya adalah Tim Barelang FC (Politeknik Negeri Batam), G4-Har (Universitas Negeri Malang), Eros (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), Alfarobi (Universitas Negeri Gadjah Mada), Ichiro (nstitut Teknologi Sepuluh Nopember). Setiap persiapan running test diawali dengan setting robot yang mana setiap tim men-setting robot mereka untuk latihan. Sesi untuk setiap tim selama 10 menit dengan sistem duel antarrobot.

Salah satu tim peserta running test yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Even Clarence (19) mahasiswa jurusan Teknik Mesin mengatakan bahwa timnya melakukan persiapan  pada robot Ichiro kurang lebih setahun, mereka melakukan latihan di kampusnya.

“Saya berada di tim mekanik, kami mempersiapkan berbagai hal yakni menyiapkan beberapa perangkat seperti body robot, motor robot. Sensor dan algoritma di setting oleh tim programming dan elektronik,” jelasnya.

Ia berharap agar KRI pada tahun 2019 dapat berjalan dengan baik dan timnya dapat meraih juara pada ajang tersebut. “Harapannya ikut KRI ini supaya bisa sharing ilmu dengan teman-teman yang lain dan semoga kami bisa juara 1,”  pungkasnya.

Penulis : Safira Nur Ujiningtyas

Fotografer : Safira Nur Ujiningtyas

Editor :  Juliana Heidi

Ratusan peserta kontes robot menghadiri acara sambutan yang diberikan oleh Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), selaku tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 tingkat Nasional. Opening ceremony tersebut berlokasi di Gedung Balaikota Semarang pada Kamis (20/6) pukul 20.00 WIB.

Sambutan dibuka oleh Rektor Udinus Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi, kemudian dilanjut dengan hiburan yang diberikan oleh mahasiswa Udinus. Para tamu dan peserta yang datang disuguhkan dengan penampilan dari Paduan Suara Mahasiswa Gita Dian Nuswa (PSM GDN). Lagu pertama yang dinyanyikan yaitu Elders Drinking Song dan dibawakan dengan penuh semangat, yang merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) paduan suara di Udinus. Selanjutnya penampilan dari komunitas Dance From Udinus (DFU) yang menampilkan dua tarian modern yang energik dan mencuri perhatian semua peserta opening ceremony tersebut. PSM GDN sekali lagi membuat peserta terpukau dengan penampilan kedua yaitu Yamko Rambe Yamko yang mereka nyanyikan dengan semangat luar biasa. Penampilan terakhir dari UKM Teater Kaplink yang menampilkan kelas bercerita, yaitu sebuah cerita yang disampaikan oleh dua orang dan diiringi oleh musik yang diselaraskan dengan cerita tersebut.

Rektor Udinus Prof. Edi beserta Walikota Semarang yang kerap dipanggil Hendi tidak hanya memberi sambutan hangat tapi juga mereka memberikan semangat  fair-play dan harapan supaya dengan adanya kontes ini bisa membuat Indonesia menjadi maju dan terus menjadi kebanggaan warganya. “Sesuai dengan kebutuhan negara kita yaitu muncul ahli-ahli robot Indonesia yang bisa mengungguli ahli robot di luar negeri, dengan begitu Indonesia maju, Semarang hebat, dan adik-adik semua menjadi orang yang sukses di negeri ini,” tutup Hendi.

Para peserta yang sudah lelah, merasa sedikit terhibur dengan adanya beberapa penampilan dari mahasiswa Udinus. Karena semua peserta yang datang menggunakan pesawat, kereta, maupun bus pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sebab acara diadakan malam hari, beberapa peserta yang sudah kelelahan kembali ke penginapan lebih awal. Mereka harus beristirahat dan menyiapkan diri untuk acara tiga hari berikutnya.

Penulis : Haris Rizky Amanullah

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

She is My Eyes

Tuhan, ujian apa lagi ini? Hitam dan gelap. Aku dimana? Apa yang terjadi pada diriku? Apa ini? Aku merasakan banyak sekali alat-alat asing yang menempel pada wajahku. Apa lagi ini? Jarum? Baunya alkohol, sebenarnya aku dimana? Ah, sudahlah jika ini memang terjadi, ini sudah kehendak Tuhan.

Satu tahun kemudian…

Hai, namaku Rian. Aku merupakan anak kedua dari keluarga yang sangat sederhana. Kini usiaku sudah menginjak 19 tahun dan baru lulus dari SMK. Aku mendapatkan beasiswa khusus untuk melanjutkan pendidikanku di salah satu Universitas khusus yang ada di kota Semarang.

“Hai, selamat pagi dunia, selamat pagi juga buat kamu yang disana,” dalam hati. Iringan suara ayam berkokok seolah menyanyi membangunkanku yang masih tertidur lelap serta dapat kurasakan burung-burung meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Terasa sang surya masih sangat malu untuk menampakan cahayanya.

“Rian! Cepetan bangun, katanya hari ini kuliah,” teriak ibuku dari dapur.

Aku perlahan menuju kamar mandi dan siap-siap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa aku diantarkan ibukku sampai ke halte.

Suara bus telah datang menghampiri halte, pelan-pelan aku memasukinya. Seperti biasa aku duduk di kursi prioritas. Bus berangkat, semua pintu tertutup rapat. Hanya udara dingin dari AC yang aku rasakan, ditambah lagi dengan suara brisik yang ada dalam sini. Oh, sungguh pagi yang sangat menyebalkan.

Getaran kecil terasa di paha, melodi yang tak asing lagi telah terdengar, apa ini? Ternyata ini hanyalah handphone jadul biasa yang sedang mendapatkan panggilan. Aneh sekali, biasanya di pagi-pagi seperti ini jarang ada yang menelponku. Aku penasaran siapa yang menelpon, kuambil handphone dari saku dan menekan tombol untuk menerima panggilan.

“Halo?”

“Sayang, nanti jadi ya?”

“Iyaa jadi kok,”

“Nanti ketemuan di taman seperti biasanya,”

“Iya sayang,”

“Yaudah deh, kamu lanjut dulu berangkat ke kampusnya. Maaf ya ganggu waktumu,”

“Iya nggakpapa kok,”

“Ya udah. Daaaa,”

“Daaaa”. Kuakhiri obrolan kami pagi itu.

Ternyata Mey, dia pacarku. Aku sudah berjanji saat pulang nanti menemaninya pergi ke sebuah restoran baru yang ada di sebrang kampusnya. Mey merupakan anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia melanjutkan pendidikannya di Universitas yang terletak tidak jauh dari kampusku. Aku menyukainya, dia menerimaku apa adanya. Sayangnya dia adalah orang yang suka menuntut, memaksakan keinginannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.

Maaf, terlalu lama aku menceritakan tentangnya. Hingga aku lupa bahwa bus sudah hampir sampai di halte dekat kampusku.

“Imam Bonjol, Ibu Kartini, SMP 7,” teriak petugas penjaga pintu dalam bus.

Satu persatu orang keluar meninggalkan bus termasuk aku. Aku meninggalkan bus dan melangkah perlahan menuruni anak tangga yang sudah aku hafalkan tiap harinya. Jam menunjukan pukul tujuh tepat, seperti biasa aku menunggu temanku di depan gedung rektorat untuk pergi ke kelas bersama.

“Rian!,” seseorang merangkul ku dari belakang.

“Eh ini Alan kan?” kataku untuk memastikan.

“Iyalah, siapa lagi?”

“Ya udah yuk, pergi ke kelas,” ajaknya.

Sesampainya di depan kelas, kami memasuki ruangan. Rasanya sepi sekali, hampa, celotehan teman-temanku belum juga terdengar, yang terdengar sekarang adalah bunyi handphone Alan.

“Halo,”

“Alan,”

“Iya mbak kenapa?”

“Saya tadi lihat kamu. Kok hari ini masuk? Kan masih UTS jadi nggak ada kuliah,” tanya dosenku dengan heran.

Loh mbak, saya nggak tahu,” jawabnya sedikit kecewa.

“Lah, makanya to di dengerin ketika saya lagi ngajar”

“Iya mbak,” mematikan telepon.

Alan kecewa dan menghampiriku.

“Rian,”

“Iya Lan?”

“Ternyata kelasnya libur hari ini, tadi Mbak Ratna nelpon aku,”

“Lah kok bisa?”

“Kan minggu ini UTS, jadi nggak ada kuliah,”

“Astaga, kok bisa lupa sih aku,” ikut kecewa dan menyesal datang ke kampus.

Kaget sekali mendengar bahwa tidak kelas hari ini, lagi pula ini juga salahku yang terlalu tidak fokus mendengarkan dosen. Alan pun juga ikut menyesal berangkat ke kampus hari ini, dia memutuskan untuk pamit pulang meninggalkanku. Dering handphoneku berbunyi, ternyata Mey.

“Halo sayang,”

“Iyaa halo,”

“Sayang sekarang aja yuk, kamu nggak ada kuliah kan? Masa UTS kok kuliah,”

“Katanya nanti,”

“Sekarang aja yang,”

“Masih bete aku,”

“Kenapa bete?

“Tadi to. Jauh-jauh dari rumah ke kampus ternyata malah nggak ada kuliah,” jawabku kesal.

“Lagian kamu sih, tahu UTS malah kuliah,” ia tertawa.

“Iya deh maaf to,”

“Iya, ya udah yok sekarang,”

“Nanti aja, masih bete aku,”

“Nanti kalau ketemu aku, kan betenya ilang,”

“Yayayaya,”

“Ikhlas apa ndak?”

“Ikhlas sayang,”

“Yaudah kamu tunggu disana, aku otw ke kampusmu sekarang,”

“Iya nanti tunggu aja di depan gedung rektorat,”

“Okey,”

Alan telah pulang, kini hanya aku sendiri. Aku bingung mau ke gedung rektorat sama siapa. Untungnya aku masih ingat ada temanku di sekitar sini yang sedang mengikuti ujian.

“Halo Rin,”

“Iya?”

“Emm. Kamu dimana? Kamu ujian?”

“Di H.6.3. Aku nggak jadi ujian, pengawasnya nggak datang hari ini,”

“Mau minta tolong temenin aku jalan kedepan gedung rektorat,”

“Oalah ya udah ayok sekarang, aku juga mau kesana nyelesain administrasi,”

“Ya udah, aku tunggu di H.6.10 ya”.

Sepuluh menit berlalu dan Rina menghampiriku.

“Rian. Ayok sekarang,” teriak Rina dan langsung menggandeng tanganku.

“Eh Rina, merdu sekali suaramu seperti biasanya. Ya udah yuk,”

Sesampainya di gedung rektorat, aku menunggu Mey hingga panas matahari sudah terasa sangat menyengat di badanku. Suara motor yang khas kini telah sampai menghampiri. Senang sekali rasanya merasakan orang yang aku tunggu-tunggu datang.

“Yuk naik yang,”

Aku langsung menaiki motornya, menuju restoran baru yang ada di depan kampus Mey. Menikmati panas di kota Semarang sambil berbincang-bincang bersamanya.

“Sayang, tadi siapa?”

“Siapa?”

“Halah jangan bohong, tadi aku lihat kamu digandeng cewek lain kok,” tertawa.

“Oalah itu Rina, kamu cemburu?”

“Dikit…,” dengan nada yang datar.

“Jangan cemburu, dia cuman nemenin aku untuk sampai ke gedung rektorat kok”

“Iya sayang, aku paham kok,”

“Nah gitu dong,” sambil mencubit pipinya dari belakang.

Kami telah sampai di restoran. Mey menggandengku masuk kedalam, duduk menikmati udara yang sangat sejuk. Suara lonceng kecil terus-terusan berbunyi terasa sangat ramai orang yang berdatangan. Aku hanya duduk diam di depan Mey.

“Sayang, kamu mau makan apa?”

“Emm. Kalo makanan aku pesenin sesuai apa yang kamu pesan aja yang. Untuk minum tolong pesenin jus wortel”

“Jus wortel?,” ia heran dan bertanya-tanya.

Dua puluh menit berlalu dipenuhi rasa lapar dan haus. Pelayan disini sangatlah ramah. Makanan dan minuman yang telah di pesan akhirnya datang di meja kami. Aku tak begitu tau apa yang akan aku makan ini. Pertanyaan terus muncul dalam pikiranku.

“Ini apa?” aku menyentuh sesuatu.

“Nasi,”

“Ini?” aku menyentuh sesuatu lagi.

“Ayam,”

“Ini apa?” aku mengambil kertas yang pelayan selipkan di bawah piring.

“Itu struk,”

“Berapa totalnya?”

“Dua ratus lima puluh empat ribu,”

Sekejap aku kaget mendengarkan total harga yang sebesar itu, terjadilah perdebatan antara aku dan dia.

“Itu harga yang harus kita bayar,”

“Kita? Kamu nggak malu?”

“Lah, seharusnya kamu. Kamu apa nggak malu kalo di bayarin terus-terusan?”

“Enggak, kan itu udah tugas cowok buat mbayarin makan ceweknya,”

“Ya nggak gitu juga lah yang. Kan aku belom kerja, masih kuliah, uang aja masih dikasih sama orang tua, kamu pergertian dikit dong,” dengan nada yang agak keras.

“Makanya kamu itu nyari kerja sambilan apa kek gitu,”

“Kerja? Lihat kondisiku yang sekarang gitu loh!” membentak.

“Alah! Emang gak guna punya pacar yang buta kayak kamu!”

“Tega ya kamu bilang kayak gitu! Satu tahun yang lalu waktu kamu operasi, yang ngedonorin mata buat kamu itu siapa? Aku!

“Ohh jadi kamu nggak ikhlas? Kalo nggak ikhlas ngapain waktu itu donorin mata buat aku?!”

“Karena aku sayang sama kamu!! Tapi kamunya nggak sadar diri! Disayang ga ngerti disayang!”

Suasana menjadi tidak terkondisikan, ditambah hujan yang tiba-tiba turun dari langit.

“Diam!!” teriak seorang karyawan restoran sambil menggebrak meja.

“Disini itu tempatnya orang mau makan, kalian berdua malah ribut disini. Keluar kalian!!” kata seorang karyawan restoran itu.

Kami berdua hanya terdiam sejenak dan berdiri meninggalkan meja makan. Mey keluar tanpa mengajakku. Aku keluar mengikuti Mey dengan memanggil penjaga restoran dan meminta bantuan untuk menuntunku keluar restoran.

“Puas ‘kan kamu? Sekarang kita jadi diusir dari sini,”

“Diam!! Udahlah aku capek sama kamu. Kita udahan aja sampai disini, percuma punya pacar yang nggak guna kayak kamu!” Mey pergi meninggalkanku.

“Waktu yang telah berputar tak akan mungkin berputar kembali. Kini, tinggal ku sendiri, berkawan dengan sepi,” ucapku dalam hati.

Setelah mendengar perkataan Mey tadi, aku hanya diam dan berputar badan berjalan perlahan ke taman yang ada sekitar sini. Tetapi ada suatu hal yang tidak terduga, Mey berlari dari jauh menghampiriku dan memelukku sangat erat. Aku membalas pelukan itu. Dia sadar apa yang telah dia ucapkan itu salah. Kami berpelukan cukup lama. Hanya dengan pelukan semuanya menjadi baik-baik saja seperti semula. Pelukan itu menandakan kalau kami masing-masing saling minta maaf dan memaafkan.

“Sayang, sampai kapan kita akan pelukan disini,” kataku sambil tertawa.

“Bodo amat. Aku sayang kamu..,” masih memeluk dengan erat.

– S E L E S A I –

Penulis : Irfandi Nur Fadhilah

Aktivis Udinus Jadi LO KRI, Peserta: Sangat Membantu

Kamis, 20 Juni peserta Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 mulai lakukan registrasi dengan didampingi Liaison Officer (LO) mereka. Registrasi dimulai dari pukul 08.00 sampai 14.00 atau sampai semua peserta sudah teregistrasi.

Antusias peserta untuk megikuti kontes robot kali ini sangatlah tinggi. Terlihat dari sebagian peserta yang sudah melakukan registrasi dari jam 8 pagi tadi. Proses registrasi dipandu oleh LO perserta masing-masing, hal tersebut ditujukan supaya antrian di tempat registrasi tidak penuh dan berdesakan. LO peserta merupakan mahasiswa Udinus yang ikut berpartisipasi untuk mensukseskan acara KRI 2019, karena tahun ini Udinus menjadi tuan rumah kontes tersebut. Dengan adanya LO peserta untuk setiap tim sangat membantu proses registrasi menjadi lebih cepat, tidak hanya itu LO peserta akan menemani setiap tim untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan Kontes Robot kali ini.

Kontes robot dengan 6 kategori diikuti oleh 121 tim total dari semua kategori yang dikonteskan. Para peserta juga sangat terbantu dengan adanya LO peserta. Menurut peserta dengan adanya LO peserta tersebut sangat membantu dan mempermudah proses registrasi. “Lebih enak diregistrasikan LO jadi antrinya gak penuh,” ungkap Andre salah satu peserta dari Universitas Politeknik Negeri Batam.

menurut LO peserta cara tersebut juga cara terbaik, selain tidak membuat penuh tempat registrasi. Dengan adanya orang dari panitia dan perwakilan tim akan mempercepat registrasi karena sudah paham apa saja yang dibutuhkan. “Sudah efektif karena satu orang panitia dan perwakilan peserta masuk, dan sudah pasti panitia LO sudah paham semua informasi dari dalam dan peserta paham dengan data yang dibutuhkan. Jadi di dalam ruangan tidak penuh,”  ujar Hanif salah satu LO peserta dari Udinus yang merupakan perwakilan dari Wartadinus.

Setelah peserta teregistrasi, para peserta bisa memulai loading dan memasukan robot dengan perlengkapannya ke dalam pitstop untuk di mempersiapkan robot mereka. Karena hari berikutnya peserta akan nemulai running test untuk setiap kategori lomba.

Penulis : Haris Rizky Amanullah

Fotografer : Muhammad Hanif Rosyadi

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Kontes Robot Indonesia 2019, Udinus Kembali Dipercaya Jadi Tuan Rumah

Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) kembali menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI). 121 tim dari seluruh perguruan tinggi di indonesia turut berpartisipasi dalam serangkaian acara tersebut.

Pembukaan acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Supriyadi Rustad, M.Si dan dihadiri oleh ketua pelaksana ISRC , Dr. M Ary Heryanto, S.T, M.Eng, tim delegasi kemahasiswaan ristek, dan 10 juri KRI.

Pemukulan gong menjadi pertanda bahwa kompetisi tahunan Kontes Robot Indonesia (KRI) resmi dibuka. Acara pembukaan dibarengi dengan seminar Symposium on Robotic System and Control (ISRSC) di Aula Gedung E, Udinus.

Dua pembicara kompeten Ir. Dr Indrawanto (ITB) dan Prof.Dr.Eng.Drs. Benyamin Kusumoputro, turut dihadirkan guna memberikan pengetahuan luas terhadap para peserta yang hadir.

“Ajang ini bertujuan untuk membangun dan mengembangkan kreatifitas, mengangkat derajat robot guna membantu manusia”, ujar bapak Supriyadi Rustad selaku Wakil Rektor. Antusias peserta nampak begitu santai mengikuti jalanya acara, sesi tanya jawab turut dihadirkan guna lebih menggali pengetahuan bagi para peserta.

Salah seorang peserta lomba dari Universitas Gajah Mada ( UGM)  mengaku sudah berpartisipasi dalam  lomba ini untuk ketiga kalinya, dan tahun ini merasa lebih berantusias tinggi untuk bisa mengantongi kemenangan bagi tim mereka. “Kali ini saya dan tim membawa 15 orang, persiapan kami cukup matang dari bulan Oktober lalu, sehingga kami merasa siap untuk berkompetisi”, ujar Harit peserta dari UGM.

Hari ini menjadi pembukaan bagi serangkaian lomba yang akan dipertandingkan. Adapun sederet lomba-lomba meliputi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI) Pertanian, serta Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) humanoid. Sederet perlombaan akan berakhir pada Minggu (23/6) mendatang.

Reporter dan Penulis : Mirna Walyani

Fotografer : Tim Humas Udinus

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Café Ice Cream Gelato Instagramable Hadir di Kawasan Kota Lama Semarang

Sebagian besar kaum millenials pasti suka berfoto dengan latar yang instagenic. Sudah barang tentu, foto-foto itu akan diunggah ke media sosial miliknya agar lebih terlihat menarik. Nah, di Semarang ada tempat baru yang menyediakan spot-spot foto kekinian yakni Ice Cream World.

Ice cream world Semarang adalah salah satu tempat untuk menyantap es krim yang ditambah banyak spot foto menarik didalam café tersebut. Panasnya Kota Semarang sangat cocok bila dinikmati dengan menyantap satu cone ice cream dengan berbagai macam rasa mulai dari chocolate, vanilla, strawberry, hingga rasa yang saat ini sedang gemar dicari oleh kaum milenial seperti taro, matcha, tiramisu, dan yakult.

Bila dilihat dari namanya, mungkin tidak ada yang menyangka kalau café yang berlokasi di Jalan Suari No.8, Purwodinatan, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang ini menyediakan spot foto menarik. Ya, selain menjual ice cream gelato, café ini memang menyediakan spot foto menarik bagi mereka yang suka berswafoto.

Untuk bisa berfoto di spot-spot foto yang disediakan, Sahabat Warta hanya perlu merogoh kocek sebesar 35 ribu saja. Sementara itu, satu cone ice cream gelato yang berisi dua scoop es krim khas Italia ini dibanderol dengan harga 25 ribu.

Saat mengunjungi tempat ini, setidaknya ada sepuluh spot foto yang ada di dalam studio. Ada juga lima spot foto sederhana yang tersedia di luar studio sehingga bisa dimanfaatkan pengunjung yang hanya pengin menikmati gelato tanpa membayar biaya tambahan sebesar 35 ribu tadi.

Bagi Sahabat Warta yang ingin datang untuk menikmati ice cream gelato, atau hanya sekadar mampir untuk berswafoto disana. Café ini dibuka setiap hari mulai pukul 11.30 hingga 20.30, dan khusus pada hari Sabtu dan Minggu, café ini ditutup hingga pukul 21.00 WIB.

Nah bagaimana, apakah Sahabat Warta tertarik untuk datang?

Penulis : Eka Aristiana

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Fotografer : Gusti Bintang Kusumaningrum

Review dan Analisis Film : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menggunakan latar belakang Sumba, Nusa Tenggara Timur, salah satu pulau yang akhir-akhir ini mulai terkenal dengan surga dunianya para traveler. Letak tanah lapang yang apik dan dapat berubah warna sesuai dengan musim yang terjadi di Sumba sendiri. Pada film ini, menggunakan musim kemarau sebagai suasananya. Memperlihatkan keindahan Sumba lewat jalan yang berliku diapi dengan tanah yang gersang. Orang-orang yang belum pernah melihat atau mendengar Sumba sebelumnya, maka akan terkagum-kagum melihat indahnya Sumba dari sisi lain.

Pada film berdurasi 90 menit ini pula menggambarkan betapa beraninya masyarakat penduduk Sumba, yang sebenarnya akan dapat menggiring opini negatif masyarakat mengenai Sumba. Namun jika ditelaah, memang tidak hanya Sumba saja yang masih menjadi salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Lagipula, Sumba yang dimaksud disini adalah Sumba yang bisa dibilang kuno, dimana disini hanya diperlihatkan satu rumah saja dan itupun yang terbuat dari bambu-bambu yang dianyam sedemikian rupa.

Soal make up artist, film ini juaranya. Dimana tokoh-tokoh dalam film ini digambar menjadi sosok yang benar-benar mirip sekali dengan orang Sumba. Dari bagaimana ia berpakaian menggunakan bawahan kain yang dililit menjadi rok. Tidak menggunakan make up, serta lebih terlihat berkulit gelap, dan penyuka sirih sehingga warna bibirnya pun kemerah-merahan yang bukan berasal dari lipstick.

Bahasa yang digunakan dalam film ini benar-benar menggunakan bahasa Sumba, yang dapat mengenalkan bahasa Sumba kepada masyarakat luas melalui film ini. Adat dan budaya yang kental pula dimasukkan kedalam film ini. Bagaimana mayat yang menjadi mumi dan diletakkan di rumah dengan hanya tertutupi kain karena upacara untuk biaya penguburan mayat saja terlalu mahal. Orang-orang yang bepergian menggunakan truk sebagai angkutan umum. Karena digunakan sekaligus untuk mengangkut hewan ternak mereka. Hewan ternak yang banyak di Sumba adalah kuda, babi, kerbau, sapi, dan ayam.

Film ini berbeda dari film-film Indonesia lainnya yang kebanyakan membahas mengenai drama percintaan, action, comedy, atau sekalipun horror. Namun film ini adalah film bergenre thriller yang menantang dan tidak biasa. Dalam film ini jangan meremehkan dulu dan tidak perlu diragukan lagi properti yang digunakan, karena memang benar-benar tampak seperti nyata pada kehidupan asli penduduk Sumba. Bisa dibilang terniat, karena kepala Markus yang terpotong dan selalu dibawa kemana-mana oleh Marlina adalah kepala yang sengaja dibuat dan di make up persis menyerupai muka asli dari Markus, detail-detailnya seperti nyata bahkan hingga rambutnya yang pirang dengan uban.

Selain mengenai latar dan property serta make up yang digunakan dalam pembuatan film ini adalah moral value yang dapat diambil dari film ini adalah sebagai perempuan, khususnya, harus berhati-hati ketika bertemu dengan seorang laki-laki. Selalu waspada terhadap orang yang tidak dikenal, orang yang dikenal pun ternyata juga terkadang bisa mempunyai niat jahat kepada kita.

Apapun yang kita lakukan, meski menurut kita benar, namun terkadang kita juga harus mengalah pada hukum-hukum negara yang sudah diatur dan ditegakkan untuk dipatuhi setiap warga negaranya. Seperti Marlina yang tetap saja melapor bahwa ia telah diperkosa oleh Markus, namun Marlina pun membunuh Markus juga berdosa karena membunuh ciptaan Tuhan.

Seperti Novi yang selalu ingat pada Tuhan, bahkan di detik-detik terakhir ia membunuh Frans untuk menyelamatkan Marlina saat di perkosa. Novi berdoa memohon ampun pada Tuhan supaya apa yang dilakukannya ini semata-mata hanya untuk menolong sahabatnya saja, tidak untuk niatan yang buruk kepada Frans.

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum