Maksudku kencan pertama dengan laki-laki saat kuliah. Boleh kusebut itu kamu? Laki-laki yang pertama kali mengajakku kencan.
Pagi itu aku bangun kesiangan, kemudian dipenuhi drama mencari baju yang lucu untuk kencan pertama kita. Aku menaruh harapan besar supaya tidak ada yang menggagalkan kencan kita, bukan karena aku berharap lebih untuk denganmu.
“Aku dah selesai”, pesanku setelah keluar kelas yang hanya terhalang beberapa dinding-dinding kelas saja denganmu. Untuk selanjutnya aku menunggu lebih dari setengah jam pada akhirnya. Satu persatu temanmu mulai berlarian meninggalkan kelasmu, tapi aku belum melihatmu. Setelahnya, kamu muncul dan berdiri didepanku. Jantungku berdebar lebih dari saat aku berlari. Aku takut kamu dengar detak jantungku.
“Lama nunggu? Ayo turun dulu”, ucapnya saat kami masih di lantai 4. Lalu turun bersama pula. Menuruni escalator berdecit, mungkin ia lelah, tapi tak ada yang memperdulikan.
Aku meninggalkannya menuju food court, tak lama, ia menyusul, kemudian menaruh buku dan jaketnya sembari berlalu ke dapur food court. Selanjutnya kami duduk satu meja bersama teman-teman lainnya. Aku masih sibuk dengan proposalku. Ia sibuk makan.
Hingga bulan menyinari bumi seutuhnya, kami masih duduk dibangku food court yang sama. Ada banyak obrolan hingga akhirnya ia menyuruhku untuk pulang. “Sudah malam, pulang”, katanya. “Tapi proposalku belum selesai” sanggahku. “Lanjutkan di rumah atau besok lagi”, nadanya sedikit memaksa. Ada banyak pula cerita yang tak mungkin kubagikan semua. Akan kusimpan sendiri. Aku takut nanti ia membaca, kemudian ia akan tau ketika jantungku berdebar saat ia berdiri didepanku, kemudian cerita ini akan tamat. Jangan, jangan sekarang. Aku masih ingin merasakan jantungku berdebar kencang lagi saat bertemu dengannya. Mungkin kau pikir ini cukup untukku saja, kalian yang membaca ini pasti menganggap ini sampah. Tapi aku menganggapnya ini mewah. Kencan pertamaku bersamanya berhasil.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum