Aktivis Udinus Jadi LO KRI, Peserta: Sangat Membantu

Kamis, 20 Juni peserta Kontes Robot Indonesia (KRI) 2019 mulai lakukan registrasi dengan didampingi Liaison Officer (LO) mereka. Registrasi dimulai dari pukul 08.00 sampai 14.00 atau sampai semua peserta sudah teregistrasi.

Antusias peserta untuk megikuti kontes robot kali ini sangatlah tinggi. Terlihat dari sebagian peserta yang sudah melakukan registrasi dari jam 8 pagi tadi. Proses registrasi dipandu oleh LO perserta masing-masing, hal tersebut ditujukan supaya antrian di tempat registrasi tidak penuh dan berdesakan. LO peserta merupakan mahasiswa Udinus yang ikut berpartisipasi untuk mensukseskan acara KRI 2019, karena tahun ini Udinus menjadi tuan rumah kontes tersebut. Dengan adanya LO peserta untuk setiap tim sangat membantu proses registrasi menjadi lebih cepat, tidak hanya itu LO peserta akan menemani setiap tim untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan Kontes Robot kali ini.

Kontes robot dengan 6 kategori diikuti oleh 121 tim total dari semua kategori yang dikonteskan. Para peserta juga sangat terbantu dengan adanya LO peserta. Menurut peserta dengan adanya LO peserta tersebut sangat membantu dan mempermudah proses registrasi. “Lebih enak diregistrasikan LO jadi antrinya gak penuh,” ungkap Andre salah satu peserta dari Universitas Politeknik Negeri Batam.

menurut LO peserta cara tersebut juga cara terbaik, selain tidak membuat penuh tempat registrasi. Dengan adanya orang dari panitia dan perwakilan tim akan mempercepat registrasi karena sudah paham apa saja yang dibutuhkan. “Sudah efektif karena satu orang panitia dan perwakilan peserta masuk, dan sudah pasti panitia LO sudah paham semua informasi dari dalam dan peserta paham dengan data yang dibutuhkan. Jadi di dalam ruangan tidak penuh,”  ujar Hanif salah satu LO peserta dari Udinus yang merupakan perwakilan dari Wartadinus.

Setelah peserta teregistrasi, para peserta bisa memulai loading dan memasukan robot dengan perlengkapannya ke dalam pitstop untuk di mempersiapkan robot mereka. Karena hari berikutnya peserta akan nemulai running test untuk setiap kategori lomba.

Penulis : Haris Rizky Amanullah

Fotografer : Muhammad Hanif Rosyadi

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Kontes Robot Indonesia 2019, Udinus Kembali Dipercaya Jadi Tuan Rumah

Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) kembali menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI). 121 tim dari seluruh perguruan tinggi di indonesia turut berpartisipasi dalam serangkaian acara tersebut.

Pembukaan acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Supriyadi Rustad, M.Si dan dihadiri oleh ketua pelaksana ISRC , Dr. M Ary Heryanto, S.T, M.Eng, tim delegasi kemahasiswaan ristek, dan 10 juri KRI.

Pemukulan gong menjadi pertanda bahwa kompetisi tahunan Kontes Robot Indonesia (KRI) resmi dibuka. Acara pembukaan dibarengi dengan seminar Symposium on Robotic System and Control (ISRSC) di Aula Gedung E, Udinus.

Dua pembicara kompeten Ir. Dr Indrawanto (ITB) dan Prof.Dr.Eng.Drs. Benyamin Kusumoputro, turut dihadirkan guna memberikan pengetahuan luas terhadap para peserta yang hadir.

“Ajang ini bertujuan untuk membangun dan mengembangkan kreatifitas, mengangkat derajat robot guna membantu manusia”, ujar bapak Supriyadi Rustad selaku Wakil Rektor. Antusias peserta nampak begitu santai mengikuti jalanya acara, sesi tanya jawab turut dihadirkan guna lebih menggali pengetahuan bagi para peserta.

Salah seorang peserta lomba dari Universitas Gajah Mada ( UGM)  mengaku sudah berpartisipasi dalam  lomba ini untuk ketiga kalinya, dan tahun ini merasa lebih berantusias tinggi untuk bisa mengantongi kemenangan bagi tim mereka. “Kali ini saya dan tim membawa 15 orang, persiapan kami cukup matang dari bulan Oktober lalu, sehingga kami merasa siap untuk berkompetisi”, ujar Harit peserta dari UGM.

Hari ini menjadi pembukaan bagi serangkaian lomba yang akan dipertandingkan. Adapun sederet lomba-lomba meliputi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI) Pertanian, serta Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) humanoid. Sederet perlombaan akan berakhir pada Minggu (23/6) mendatang.

Reporter dan Penulis : Mirna Walyani

Fotografer : Tim Humas Udinus

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Café Ice Cream Gelato Instagramable Hadir di Kawasan Kota Lama Semarang

Sebagian besar kaum millenials pasti suka berfoto dengan latar yang instagenic. Sudah barang tentu, foto-foto itu akan diunggah ke media sosial miliknya agar lebih terlihat menarik. Nah, di Semarang ada tempat baru yang menyediakan spot-spot foto kekinian yakni Ice Cream World.

Ice cream world Semarang adalah salah satu tempat untuk menyantap es krim yang ditambah banyak spot foto menarik didalam café tersebut. Panasnya Kota Semarang sangat cocok bila dinikmati dengan menyantap satu cone ice cream dengan berbagai macam rasa mulai dari chocolate, vanilla, strawberry, hingga rasa yang saat ini sedang gemar dicari oleh kaum milenial seperti taro, matcha, tiramisu, dan yakult.

Bila dilihat dari namanya, mungkin tidak ada yang menyangka kalau café yang berlokasi di Jalan Suari No.8, Purwodinatan, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang ini menyediakan spot foto menarik. Ya, selain menjual ice cream gelato, café ini memang menyediakan spot foto menarik bagi mereka yang suka berswafoto.

Untuk bisa berfoto di spot-spot foto yang disediakan, Sahabat Warta hanya perlu merogoh kocek sebesar 35 ribu saja. Sementara itu, satu cone ice cream gelato yang berisi dua scoop es krim khas Italia ini dibanderol dengan harga 25 ribu.

Saat mengunjungi tempat ini, setidaknya ada sepuluh spot foto yang ada di dalam studio. Ada juga lima spot foto sederhana yang tersedia di luar studio sehingga bisa dimanfaatkan pengunjung yang hanya pengin menikmati gelato tanpa membayar biaya tambahan sebesar 35 ribu tadi.

Bagi Sahabat Warta yang ingin datang untuk menikmati ice cream gelato, atau hanya sekadar mampir untuk berswafoto disana. Café ini dibuka setiap hari mulai pukul 11.30 hingga 20.30, dan khusus pada hari Sabtu dan Minggu, café ini ditutup hingga pukul 21.00 WIB.

Nah bagaimana, apakah Sahabat Warta tertarik untuk datang?

Penulis : Eka Aristiana

Editor : Gusti Bintang Kusumaningrum

Fotografer : Gusti Bintang Kusumaningrum

Review dan Analisis Film : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menggunakan latar belakang Sumba, Nusa Tenggara Timur, salah satu pulau yang akhir-akhir ini mulai terkenal dengan surga dunianya para traveler. Letak tanah lapang yang apik dan dapat berubah warna sesuai dengan musim yang terjadi di Sumba sendiri. Pada film ini, menggunakan musim kemarau sebagai suasananya. Memperlihatkan keindahan Sumba lewat jalan yang berliku diapi dengan tanah yang gersang. Orang-orang yang belum pernah melihat atau mendengar Sumba sebelumnya, maka akan terkagum-kagum melihat indahnya Sumba dari sisi lain.

Pada film berdurasi 90 menit ini pula menggambarkan betapa beraninya masyarakat penduduk Sumba, yang sebenarnya akan dapat menggiring opini negatif masyarakat mengenai Sumba. Namun jika ditelaah, memang tidak hanya Sumba saja yang masih menjadi salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Lagipula, Sumba yang dimaksud disini adalah Sumba yang bisa dibilang kuno, dimana disini hanya diperlihatkan satu rumah saja dan itupun yang terbuat dari bambu-bambu yang dianyam sedemikian rupa.

Soal make up artist, film ini juaranya. Dimana tokoh-tokoh dalam film ini digambar menjadi sosok yang benar-benar mirip sekali dengan orang Sumba. Dari bagaimana ia berpakaian menggunakan bawahan kain yang dililit menjadi rok. Tidak menggunakan make up, serta lebih terlihat berkulit gelap, dan penyuka sirih sehingga warna bibirnya pun kemerah-merahan yang bukan berasal dari lipstick.

Bahasa yang digunakan dalam film ini benar-benar menggunakan bahasa Sumba, yang dapat mengenalkan bahasa Sumba kepada masyarakat luas melalui film ini. Adat dan budaya yang kental pula dimasukkan kedalam film ini. Bagaimana mayat yang menjadi mumi dan diletakkan di rumah dengan hanya tertutupi kain karena upacara untuk biaya penguburan mayat saja terlalu mahal. Orang-orang yang bepergian menggunakan truk sebagai angkutan umum. Karena digunakan sekaligus untuk mengangkut hewan ternak mereka. Hewan ternak yang banyak di Sumba adalah kuda, babi, kerbau, sapi, dan ayam.

Film ini berbeda dari film-film Indonesia lainnya yang kebanyakan membahas mengenai drama percintaan, action, comedy, atau sekalipun horror. Namun film ini adalah film bergenre thriller yang menantang dan tidak biasa. Dalam film ini jangan meremehkan dulu dan tidak perlu diragukan lagi properti yang digunakan, karena memang benar-benar tampak seperti nyata pada kehidupan asli penduduk Sumba. Bisa dibilang terniat, karena kepala Markus yang terpotong dan selalu dibawa kemana-mana oleh Marlina adalah kepala yang sengaja dibuat dan di make up persis menyerupai muka asli dari Markus, detail-detailnya seperti nyata bahkan hingga rambutnya yang pirang dengan uban.

Selain mengenai latar dan property serta make up yang digunakan dalam pembuatan film ini adalah moral value yang dapat diambil dari film ini adalah sebagai perempuan, khususnya, harus berhati-hati ketika bertemu dengan seorang laki-laki. Selalu waspada terhadap orang yang tidak dikenal, orang yang dikenal pun ternyata juga terkadang bisa mempunyai niat jahat kepada kita.

Apapun yang kita lakukan, meski menurut kita benar, namun terkadang kita juga harus mengalah pada hukum-hukum negara yang sudah diatur dan ditegakkan untuk dipatuhi setiap warga negaranya. Seperti Marlina yang tetap saja melapor bahwa ia telah diperkosa oleh Markus, namun Marlina pun membunuh Markus juga berdosa karena membunuh ciptaan Tuhan.

Seperti Novi yang selalu ingat pada Tuhan, bahkan di detik-detik terakhir ia membunuh Frans untuk menyelamatkan Marlina saat di perkosa. Novi berdoa memohon ampun pada Tuhan supaya apa yang dilakukannya ini semata-mata hanya untuk menolong sahabatnya saja, tidak untuk niatan yang buruk kepada Frans.

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Jatuh Cinta

>Hey, siapa cinta pertamamu?

<Emm.. siapa ya

>Pasti si dia ya?

<……

Satu pertanyaan yang pastinya pernah dilontarkan oleh segelintir orang yang notabenenya sangat senang sekali mengingat masa lalu.

Tapi kalau boleh aku berkata, mengapa cinta pertama selalu dikaitkan dengan sesama manusia, kenapa tidak batu, air,tanah,api, atau bahkan laptop, handphone?

Mengapa harus manusia?

Sejenak aku memikirkan ini kala hujan turun beberapa jam yang lalu, memboyong semerbak wangi tanah yang tiada banding.

Kalau aku boleh mengganti subjek cinta pertamaku, aku mungkin akan lebih memilih jatuh cinta pada air susu ibuku. Karena selama 6 bulan pertamaku hidup di bumi aku tak bisa hidup tanpanya dan tentu saja aku selalu merengek jika tak kunjung bertemu dengan air susu ibuku.

Mungkin agak aneh jika memberi predikat pada benda atau apapun selain manusia sebagai cinta pertamanya. Tapi, menurutku jatuh cinta untuk pertama kalinya bukan hanya pada manusia karena kita bisa saja kan jatuh cinta pada bau kopi arabica racikan kedai kopi ternama saat pertama mencoba, ataupun jatuh cinta pada buku fiksi yang memiliki alur cerita menarik sampai-sampai membuat pembacanya masuk ke dalam dunia dongeng yang ditulis.

Jadi, jatuh cinta bukan hanya perasaan suka pada sesama manusia, tapi juga kesenangan saat melihat, merasakan, mendengar, menghirup, dan meraba segala apapun itu pada pertama kalinya. Dan ada semacam gejolak untuk terus terusan mengingat dan mengingat hingga akhirnya terbayang bayang dan berkelanjutan selalu ingin melihat, mendengar,menghirup serta merasakannya terus-terusan.

Penulis : Mila Elmeida

Menciummu

Bunga di pagi hari itu sangatlah indah.

Rasanya…

Ingin sekali mencium semerbak harumnya hingga masuk ke dalam dada.

Lalu kupejamkan mata sembari menikmati suara alam ini.

Terlintas dipikiranku. Aku pernah merasakan kenikmatan dan kenyamanan ini.

Iya, aku pernah merasakan ini semua. Tapi kapan?

Kupejamkan mata ini lebih dalam lagi. Aku paksa pikiran ini untuk mengingatnya, dan terlintas sosok perempuan yang selalu menyayangi, menjaga dan merawat.

Terlintas cahaya putih yang selalu ia berikan hingga kini masih putih dan sangat suci.

Alunan nada-nada itupun masih diberikan dan mengiringi hingga saat ini.

Jika terjadi sesuatu, sosok itu menjadi barisan terdepan untuk melindungi.

Tak peduli bahaya yang ia dapatkan nanti. Meskipun ia harus merasakan kesakitan.

Perhatian yang selalu diberikan oleh sosok itu terus diberikan. Ia ingin perjuangan yang ia berikan itu berubah manis, ia tak ingin melihat kesedihan.

Aku tarik nafas ini lebih panjang dan kurasakan semua itu …

Oh Tuhan terimkasih Kau telah memberikanku sosok ibu yang baik, penuh perhatian denganku dan tak pernah lelah untuk berjuang demi aku. Selalu memberikan yang terbaik dan tak ingin melihat aku bersedih. Terimakasih Tuhan… aku mungkin tak tahu perjuangan yang telah dilewatinya. Rasanya aku ingin mengganti perjuangan itu dengan melihat raut wajah kebahagiaan.

“Bu… anakmu ini sudah tumbuh besar. Sebesar kebahagiaan yang nanti kuberikan untukmu bu. Terimakasih engkau telah merawatku sedari kecil hingga sekarang. Mungkin semua itu belum bisa aku balas. Perhatian yang tanpa lelah engkau berikan padaku. Selalu memberikan semangat disetiap hariku. Disaat sedang sedih, bimbang, putus harapan. Engkau selalu datang menyinariku tanpa aku menceritakan semuanya padamu. Mungkin dari raut wajahku dan tingkah lakuku, padahal aku selalu mencoba menutupi agar engkau tak pikiran. Maaf ya bu anakmu ini terkadang masih membuatmu marah dan kawatir. Aku janji aku bakal menghapus itu semua bu…”

Angin datang menerpa tubuh ini.. disaat memori itu kembali.

Ibu… aku ingin menciummu…

Penulis : Ummi Nur Aini Daneswari

Tol Baru, Pemudik Pilih Mobil Pribadi daripada Transportasi Umum

Semarang, Hari Raya Idul Fitri ternyata tidak hanya menjadi hari yang ditunggu oleh umat Islam, namun hampir semua orang khususnya Indonesia turut senang dengan kehadiran Hari Raya ini. Disertai liburan yang cukup panjang bagi pelajar hingga pekerja, mudik atau pulang ke kampung halaman adalah momen yang selalu ditunggu.

Adanya jalan TOL baru yang hadir dibtahun 2019 ini bertepatan dengan Hari Raya liburan lebaran, para pemudik lebih memilih menggunakan mobil pribadi daripada transportasi umum. Alasanya karena tiket kereta, pesawat maupun bis umum menjelang hari lebaran mengalami peningkatan hingga 100% sehingga kesulitan mendapatkan tiket transportasi umum, selain alasan tersebut para pemudik ternyata ingin merasakan melintasi beberapa jalan TOL yang baru selesai dibuat. Beberapa jalan TOL diantaranya menghubungkan Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Pasuruan-Probolinggo, dan Jakarta-Semarang-Solo.

Menurut Bagus, pemudik asal Lampung ini merasa senang karena perjalanan mudiknya ke Semarang kali ini sangat lancar dengan adanya beberapa TOL baru yang baru saja ia lewati. “Saya hemat 5-6 jam dari tahun kemarin yang belum ada TOL Trans Jawa, mudik tahun ini dari Merak sampai Semarang hanya butuh 6 jam saja, padahal sudah mampir rest area dua kali untuk istirahat”.

Beberapa TOL yang baru saja selesai dibuat dan diresmikan ini memberikan dampak yang baik untuk perekonomian masyarakat hingga pariwisata karena memudahkan para wisatawan memiliki akses jalur yang nyaman dan cepat sehingga banyak calon wisata yang memilih untuk menggunakan transportasi darat seperti mobil atau bus. Selain memberikan kesan nyaman karena perjalanan dilakukan dengan menggunakan mobil pribadi, rest area seperti yang ada di KM 429 Tol Ungaran ini memiliki peminat yang membludak pada mudik lebaran kali ini, tidak hanya karena memiliki desain yang bagus fasilitas dan kenyamanan sangat cocok untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.

Reporter dan Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Editor : Haris Rizky Amanullah

Prasastiku

Aku Mencintaimu

Sungguh

Namun arah mata angin kita sungguh berbeda

Memang benar kau yang meruntuhkan dinding kokohku

Melumatkan batu dalam pikiranku

Juga memberi sejuk dalam malamku

Tapi hei…

Kita sungguh sangat berbeda

Aku memang benar mencintaimu

Tapi jendela ini benar-benar sulit untuk dibuka

Seberapa keras aku mencoba

Sungguh…

Aku sangat mencintaimu

Namun kau ada dalam ketiadaan

Dan luka ini akan terinfeksi bila terus terpapar

Tapi benar memang

Aku sudah cukup bahagia

Kenangan ini terpatri dalam hidupku

Dengan kau ada didalamnya

Mencintai dan dicintai

Walau akhirnya tak dapat memiliki

Penulis : Mila Elmeida

Buka Bersama Wartadinus Pererat Tali Silaturahmi Antaranggota

Bertempat di sebuah resto yang terletak di Jl. Imam Bonjol, Pers Kampus Wartadinus berjalan bersama menuju tempat buka bersama pada Minggu (19/5), setelah selesai meneruskan pengecatan basecamp yang terletak di Gedung F Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).

Hampir keseluruhan pengurus dan juga anggota Wartadinus turut hadir dalam acara buka bersama yang diadakan setiap bulan Ramadhan. Sekitar 30 anggota Wartadinus berjalan menyusuri jalanan di sekitar kampus untuk menuju ke tempat berbuka yang jaraknya cukup dekat. Dresscode yang digunakan yaitu pakaian berwarna pink dan hitam. Buka bersama yang dipimpin oleh Ketua Umum Wartadinus, Gusti Bintang K. berlangsung dengan lancar.

Lutfianto Hasbi Haqqi selaku ketua pelaksana kegiatan buka bersama tahun 2019 ini mengaku senang karena acaranya lancar juga bisa lebih mempererat hubungan antar anggota maupun pengurus. “Teman-teman yang jarang hadir dalam kegiatan Wartadinus karena kesibukan kuliahnya, hari ini hadir untuk meluangkan waktunya berbuka puasa bersama. Jika diingat dari tahun ke tahun, tahun ini saya rasa buka bersama teramai hingga 32 orang. Dengan dresscode yang diberikan juga menambah kekompakan para anggota Wartadinus, semoga bisa seperti ini terus ke depannya,” ungkapnya.

Untuk selanjutnya, kegiatan foto bersama usai acara memang sudah menjadi tradisi di setiap acara berkumpul, apalagi buka bersama. Tak hanya ketua pelaksana saja yang merasa senang, salah satu anggota Wartadinus yang jarang berkumpul menjadi senang dengan adanya kegiatan tersebut. Acara ini sekaligus bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota supaya mereka tidak sungkan untuk berkumpul bersama-sama. “Saya senang dengan kegiatan seperti ini, sederhana tetapi punya tujuan yang baik selain untuk berbuka puasa, juga menjalin tali silaturahmi supaya tetap terjaga kekeluargaannya,” imbuh Rendi Andrea Pramana, anggota Wartadinus angkatan tahun 2018.

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Editor : Haris Rizky Amanullah

Aktivis Udinus Ubah Suasana Gedung PKM dengan Aksi Mengecat Bersama

Gedung F Udinus merupakan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), gedung tersebut sudah terlihat sangat tua dan banyak cat yang mengelupas. Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Udinus berinisiatif untuk mengajak semua aktivis merenovasi gedung F dengan mengganti warna cat tembok dan membersihkan lingkungan sekitar pada Sabut (18/5).

Meski sedang dalam suasana bulan Ramadhan, para aktivis terlihat sangat giat melakukan pengecatan ulang dengan senang hati demi menyambut suasana baru dilingkup gedung basecamp mereka. Terlihat hampir semua perwakilan dari masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mendiami Gedung F datang dengan peralatan mereka masing-masing seperti roll, kuas tambahan, hingga koran bekas supaya tidak mengotori lantai.

Tak hanya itu saja, terlihat beberapa perwakilan orang dari UKM Teater Kaplink dan juga Paduan Suara Mahasiswa Gita Dian Nuswa bersama-sama mengecat ulang pendapa. Pendapa tersebut sering mereka gunakan untuk latihan dan kegiatan lainnya. Selain UKM Teater dan Paduan Suara, UKM Pecinta Alam Aldakawanaseta juga membuktikan kecintaannya terhadap alam dengan menebangi ranting-ranting pohon yang sudah kering hingga menguras air kolam yang terletak di depan basecamp mereka.

Meski belum selesai pada hari Sabtu, para aktivis tak sungkan untuk menyelesaikannya di hari Minggu dengan lebih banyak perwakilan dari masing-masing organisasinya. UKM Pers Kampus Wartadinus sendiri juga meneruskan pengecatan kembali di hari Minggu bersama. Gusti Bintang selaku Ketua Umum Wartadinus berharap kegiatan seperti ini dapat sering dilakukan, karena bisa mempererat tali silaturahmi, “Semoga dengan adanya pengecatan ulang bersama ini, kita bisa lebih nyaman di basecamp. Selain itu, kegiatan seperti ini ternyata juga dapat mempererat tali silaturahmi antar tetangga basecamp, seperti ketika meminjam peralatan di organisasi lain, jadi saling kenal,” tuturnya.

Sekarang Gedung F Udinus sudah hadir lebih cerah dan segar, serta terlihat bersih dengan tampilan dan suasananya yang baru.

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Editor : Haris Rizky Amanullah

Fotografer : Fahmi Maulana (BEM KM Udinus)