Jauhi Budaya Phubbing, Perhatikan Orang Di Sekitarmu

Jauhi Budaya Phubbing, Perhatikan Orang Di Sekitarmu

Phone Snubbing atau Phubbing atau dalam bahasa Indonesia di artikan sebagai tindakan acuh terhadap seseorang karena lebih fokus pada gawai. Kata Phubbing diciptakan oleh mahasiswa asal Australia bernama Alex Haigh. Istilah Phubbing sendiri semakin marak seiring dengan berkembangnya teknologi telepon pintar dan menjadi peristiwa yang umum karena smartphone adalah bagian dari kehidupan sehari – hari . Tanpa kita sadari, Phubbing lambat laun mengancam pola sosialisasi antar manusia secara langsung. Tindakan Phubbing memiliki beberapa efek negatif terhadap lingkungan sosialisasi kita, di antaranya
• Anti Sosial
Phubbing dapat menghambat interaksi sosial manusia secara langsung dan nyata karena hubungan sosial yang seharusnya terjadi di dunia nyata terhambat oleh aktivitas yang ada di dalam handphone. Hal itu menjadikan kita sebagai pengguna handphone lebih tertarik kepada fitur canggih yang sudah ada pada handphone seperti game, akun sosial media, artikel, novel online dan layanan canggih lainnya daripada berinteraksi langsung dalam kehidupan sehari – hari.
• Merusak Hubungan
Hubungan terbentuk karena adanya interaksi sesama manusia. Apabila interaksi tersebut terganggu, maka sebuah hubungan juga akan terganggu. Phubbing membagi bahkan menghilangkan fokus seseorang terhadap interaksi karena fokus seseorang dialihkan pada gawai. Sebuah kelompok akan terlihat tidak asik ketika para anggotanya sibuk dengan gadget masing-masing, dan hal itu akan dianggap membosankan dan membuat kelompok tersebut perlahan pudar.
Phubbing adalah hal baru yang kurang dikenal. Maka dari itu, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro program studi Ilmu Komunikasi melalui mata kuliah Public Relation membuat kampanye mengenai Phubbing. Dikemas dalam sebuah tema ‘No Phubbing Let’s Sharing’ para mahasiswa yang tergabung dalam sebuah kelompok ini melaksanakan sebuah kegiatan kampanye di Taman Indonesia Kaya, Semarang (5/7). Kegiatan kampanye tersebut dikemas secara asik dan menarik karena melibatkan pengunjung TIK di antaranya adalah bermain mainan tradisional, bernyanyi, parade Phubbing, dan membagikan goodie bag berisi suvenir menarik dengan syarat gawai yang mereka bawa harus dikumpulkan pada sebuah wadah atau disimpan dalam kantong masing – masing dan boleh diambil ketika permainan selesai.
Kampanye tersebut berjalan dengan baik dengan antusias pengunjung TIK yang banyak, dengan adanya kampanye ini, diharapkan masyarakat lebih sadar betapa banyaknya cerita yang akan kita tahu tanpa gadget. Ayo dengarkan cerita tanpa gadget, NO PHUBBING, LET’S SHARING!!

Penulis : Tyas Handayani

Related Post

Terima Kasih

Terima Kasih

Sudahkah kau ucap 2 kata yg sering lupa terkata? Bukan “Aku Cinta”, “Rasa Cinta” atau…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: