She is My Eyes

She is My Eyes

Tuhan, ujian apa lagi ini? Hitam dan gelap. Aku dimana? Apa yang terjadi pada diriku? Apa ini? Aku merasakan banyak sekali alat-alat asing yang menempel pada wajahku. Apa lagi ini? Jarum? Baunya alkohol, sebenarnya aku dimana? Ah, sudahlah jika ini memang terjadi, ini sudah kehendak Tuhan.

Satu tahun kemudian…

Hai, namaku Rian. Aku merupakan anak kedua dari keluarga yang sangat sederhana. Kini usiaku sudah menginjak 19 tahun dan baru lulus dari SMK. Aku mendapatkan beasiswa khusus untuk melanjutkan pendidikanku di salah satu Universitas khusus yang ada di kota Semarang.

“Hai, selamat pagi dunia, selamat pagi juga buat kamu yang disana,” dalam hati. Iringan suara ayam berkokok seolah menyanyi membangunkanku yang masih tertidur lelap serta dapat kurasakan burung-burung meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Terasa sang surya masih sangat malu untuk menampakan cahayanya.

“Rian! Cepetan bangun, katanya hari ini kuliah,” teriak ibuku dari dapur.

Aku perlahan menuju kamar mandi dan siap-siap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa aku diantarkan ibukku sampai ke halte.

Suara bus telah datang menghampiri halte, pelan-pelan aku memasukinya. Seperti biasa aku duduk di kursi prioritas. Bus berangkat, semua pintu tertutup rapat. Hanya udara dingin dari AC yang aku rasakan, ditambah lagi dengan suara brisik yang ada dalam sini. Oh, sungguh pagi yang sangat menyebalkan.

Getaran kecil terasa di paha, melodi yang tak asing lagi telah terdengar, apa ini? Ternyata ini hanyalah handphone jadul biasa yang sedang mendapatkan panggilan. Aneh sekali, biasanya di pagi-pagi seperti ini jarang ada yang menelponku. Aku penasaran siapa yang menelpon, kuambil handphone dari saku dan menekan tombol untuk menerima panggilan.

“Halo?”

“Sayang, nanti jadi ya?”

“Iyaa jadi kok,”

“Nanti ketemuan di taman seperti biasanya,”

“Iya sayang,”

“Yaudah deh, kamu lanjut dulu berangkat ke kampusnya. Maaf ya ganggu waktumu,”

“Iya nggakpapa kok,”

“Ya udah. Daaaa,”

“Daaaa”. Kuakhiri obrolan kami pagi itu.

Ternyata Mey, dia pacarku. Aku sudah berjanji saat pulang nanti menemaninya pergi ke sebuah restoran baru yang ada di sebrang kampusnya. Mey merupakan anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia melanjutkan pendidikannya di Universitas yang terletak tidak jauh dari kampusku. Aku menyukainya, dia menerimaku apa adanya. Sayangnya dia adalah orang yang suka menuntut, memaksakan keinginannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.

Maaf, terlalu lama aku menceritakan tentangnya. Hingga aku lupa bahwa bus sudah hampir sampai di halte dekat kampusku.

“Imam Bonjol, Ibu Kartini, SMP 7,” teriak petugas penjaga pintu dalam bus.

Satu persatu orang keluar meninggalkan bus termasuk aku. Aku meninggalkan bus dan melangkah perlahan menuruni anak tangga yang sudah aku hafalkan tiap harinya. Jam menunjukan pukul tujuh tepat, seperti biasa aku menunggu temanku di depan gedung rektorat untuk pergi ke kelas bersama.

“Rian!,” seseorang merangkul ku dari belakang.

“Eh ini Alan kan?” kataku untuk memastikan.

“Iyalah, siapa lagi?”

“Ya udah yuk, pergi ke kelas,” ajaknya.

Sesampainya di depan kelas, kami memasuki ruangan. Rasanya sepi sekali, hampa, celotehan teman-temanku belum juga terdengar, yang terdengar sekarang adalah bunyi handphone Alan.

“Halo,”

“Alan,”

“Iya mbak kenapa?”

“Saya tadi lihat kamu. Kok hari ini masuk? Kan masih UTS jadi nggak ada kuliah,” tanya dosenku dengan heran.

Loh mbak, saya nggak tahu,” jawabnya sedikit kecewa.

“Lah, makanya to di dengerin ketika saya lagi ngajar”

“Iya mbak,” mematikan telepon.

Alan kecewa dan menghampiriku.

“Rian,”

“Iya Lan?”

“Ternyata kelasnya libur hari ini, tadi Mbak Ratna nelpon aku,”

“Lah kok bisa?”

“Kan minggu ini UTS, jadi nggak ada kuliah,”

“Astaga, kok bisa lupa sih aku,” ikut kecewa dan menyesal datang ke kampus.

Kaget sekali mendengar bahwa tidak kelas hari ini, lagi pula ini juga salahku yang terlalu tidak fokus mendengarkan dosen. Alan pun juga ikut menyesal berangkat ke kampus hari ini, dia memutuskan untuk pamit pulang meninggalkanku. Dering handphoneku berbunyi, ternyata Mey.

“Halo sayang,”

“Iyaa halo,”

“Sayang sekarang aja yuk, kamu nggak ada kuliah kan? Masa UTS kok kuliah,”

“Katanya nanti,”

“Sekarang aja yang,”

“Masih bete aku,”

“Kenapa bete?

“Tadi to. Jauh-jauh dari rumah ke kampus ternyata malah nggak ada kuliah,” jawabku kesal.

“Lagian kamu sih, tahu UTS malah kuliah,” ia tertawa.

“Iya deh maaf to,”

“Iya, ya udah yok sekarang,”

“Nanti aja, masih bete aku,”

“Nanti kalau ketemu aku, kan betenya ilang,”

“Yayayaya,”

“Ikhlas apa ndak?”

“Ikhlas sayang,”

“Yaudah kamu tunggu disana, aku otw ke kampusmu sekarang,”

“Iya nanti tunggu aja di depan gedung rektorat,”

“Okey,”

Alan telah pulang, kini hanya aku sendiri. Aku bingung mau ke gedung rektorat sama siapa. Untungnya aku masih ingat ada temanku di sekitar sini yang sedang mengikuti ujian.

“Halo Rin,”

“Iya?”

“Emm. Kamu dimana? Kamu ujian?”

“Di H.6.3. Aku nggak jadi ujian, pengawasnya nggak datang hari ini,”

“Mau minta tolong temenin aku jalan kedepan gedung rektorat,”

“Oalah ya udah ayok sekarang, aku juga mau kesana nyelesain administrasi,”

“Ya udah, aku tunggu di H.6.10 ya”.

Sepuluh menit berlalu dan Rina menghampiriku.

“Rian. Ayok sekarang,” teriak Rina dan langsung menggandeng tanganku.

“Eh Rina, merdu sekali suaramu seperti biasanya. Ya udah yuk,”

Sesampainya di gedung rektorat, aku menunggu Mey hingga panas matahari sudah terasa sangat menyengat di badanku. Suara motor yang khas kini telah sampai menghampiri. Senang sekali rasanya merasakan orang yang aku tunggu-tunggu datang.

“Yuk naik yang,”

Aku langsung menaiki motornya, menuju restoran baru yang ada di depan kampus Mey. Menikmati panas di kota Semarang sambil berbincang-bincang bersamanya.

“Sayang, tadi siapa?”

“Siapa?”

“Halah jangan bohong, tadi aku lihat kamu digandeng cewek lain kok,” tertawa.

“Oalah itu Rina, kamu cemburu?”

“Dikit…,” dengan nada yang datar.

“Jangan cemburu, dia cuman nemenin aku untuk sampai ke gedung rektorat kok”

“Iya sayang, aku paham kok,”

“Nah gitu dong,” sambil mencubit pipinya dari belakang.

Kami telah sampai di restoran. Mey menggandengku masuk kedalam, duduk menikmati udara yang sangat sejuk. Suara lonceng kecil terus-terusan berbunyi terasa sangat ramai orang yang berdatangan. Aku hanya duduk diam di depan Mey.

“Sayang, kamu mau makan apa?”

“Emm. Kalo makanan aku pesenin sesuai apa yang kamu pesan aja yang. Untuk minum tolong pesenin jus wortel”

“Jus wortel?,” ia heran dan bertanya-tanya.

Dua puluh menit berlalu dipenuhi rasa lapar dan haus. Pelayan disini sangatlah ramah. Makanan dan minuman yang telah di pesan akhirnya datang di meja kami. Aku tak begitu tau apa yang akan aku makan ini. Pertanyaan terus muncul dalam pikiranku.

“Ini apa?” aku menyentuh sesuatu.

“Nasi,”

“Ini?” aku menyentuh sesuatu lagi.

“Ayam,”

“Ini apa?” aku mengambil kertas yang pelayan selipkan di bawah piring.

“Itu struk,”

“Berapa totalnya?”

“Dua ratus lima puluh empat ribu,”

Sekejap aku kaget mendengarkan total harga yang sebesar itu, terjadilah perdebatan antara aku dan dia.

“Itu harga yang harus kita bayar,”

“Kita? Kamu nggak malu?”

“Lah, seharusnya kamu. Kamu apa nggak malu kalo di bayarin terus-terusan?”

“Enggak, kan itu udah tugas cowok buat mbayarin makan ceweknya,”

“Ya nggak gitu juga lah yang. Kan aku belom kerja, masih kuliah, uang aja masih dikasih sama orang tua, kamu pergertian dikit dong,” dengan nada yang agak keras.

“Makanya kamu itu nyari kerja sambilan apa kek gitu,”

“Kerja? Lihat kondisiku yang sekarang gitu loh!” membentak.

“Alah! Emang gak guna punya pacar yang buta kayak kamu!”

“Tega ya kamu bilang kayak gitu! Satu tahun yang lalu waktu kamu operasi, yang ngedonorin mata buat kamu itu siapa? Aku!

“Ohh jadi kamu nggak ikhlas? Kalo nggak ikhlas ngapain waktu itu donorin mata buat aku?!”

“Karena aku sayang sama kamu!! Tapi kamunya nggak sadar diri! Disayang ga ngerti disayang!”

Suasana menjadi tidak terkondisikan, ditambah hujan yang tiba-tiba turun dari langit.

“Diam!!” teriak seorang karyawan restoran sambil menggebrak meja.

“Disini itu tempatnya orang mau makan, kalian berdua malah ribut disini. Keluar kalian!!” kata seorang karyawan restoran itu.

Kami berdua hanya terdiam sejenak dan berdiri meninggalkan meja makan. Mey keluar tanpa mengajakku. Aku keluar mengikuti Mey dengan memanggil penjaga restoran dan meminta bantuan untuk menuntunku keluar restoran.

“Puas ‘kan kamu? Sekarang kita jadi diusir dari sini,”

“Diam!! Udahlah aku capek sama kamu. Kita udahan aja sampai disini, percuma punya pacar yang nggak guna kayak kamu!” Mey pergi meninggalkanku.

“Waktu yang telah berputar tak akan mungkin berputar kembali. Kini, tinggal ku sendiri, berkawan dengan sepi,” ucapku dalam hati.

Setelah mendengar perkataan Mey tadi, aku hanya diam dan berputar badan berjalan perlahan ke taman yang ada sekitar sini. Tetapi ada suatu hal yang tidak terduga, Mey berlari dari jauh menghampiriku dan memelukku sangat erat. Aku membalas pelukan itu. Dia sadar apa yang telah dia ucapkan itu salah. Kami berpelukan cukup lama. Hanya dengan pelukan semuanya menjadi baik-baik saja seperti semula. Pelukan itu menandakan kalau kami masing-masing saling minta maaf dan memaafkan.

“Sayang, sampai kapan kita akan pelukan disini,” kataku sambil tertawa.

“Bodo amat. Aku sayang kamu..,” masih memeluk dengan erat.

– S E L E S A I –

Penulis : Irfandi Nur Fadhilah

Related Post

Pulang

Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali? Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan? Kembalilah Bujang,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: