Can I Call U, Love? – #10 Saksi

Can I Call U, Love? – #10 Saksi

Lupakan. Lupakan kejadian-kejadian yang lalu, yang sudah-sudah, yang kemarin, biar jadi memori untuk dikenang. Sekarang, berjalan sendiri-sendiri adalah jalan keluar yang baik. Bukan untuk disesali karena telah bertemu, karena setiap pertemuan, ada perpisahan. Pertemuan singkat dengannya nyatanya pernah membuatku tertawa, merasa nyaman, merasa bahwa aku saat itu memiliki polisi yang siap menjagaku seharian penuh, meski jika malam yang menjagaku adalah teman kosku, bukan dia.

Pertemuan kami yang terakhir adalah pertemuan kami di meja food court kampus. Kurasa hari itu adalah hari perpisahan kami, dimana seharusnya kami berdua sudah memahami bahwa kami akan memilih jalan masing-masing yang berbeda tanpa adanya komunikasi verbal. Sebuah tamparan keras bagiku saat itu, karena ternyata yang membuatnya jauh adalah aku sendiri karena bermaksud memberinya ruang sendiri namun malah lepas hempas begitu saja tanpa pamit.

Aku masih ingat pada malam harinya setelah kami bertemu di food court, ia menelponku.

“Hai”, sapanya lebih dulu.

“Iya, hallo”

“Lagi apa?”

“Lagi Youtube-an sih, gimana ik?”

“Aku bingung ik”

“Bingung kenapa?”

“Kalo cewek itu suka cemburuan ya?”, tanyanya.

Pertanyaannya kali ini benar-benar membuatku kaku. Hampir tak mampu menjawab. Namun kuberanikan untuk menjawab meski terbata-bata karena gugup.

“I i i iya, bisa jadi, kenapa?”

“Pantesan dia tadi cemburu pas kamu nyamperin aku ngajakin ngobrol berdua”, ia tertawa seolah-olah ia tak tahu perasaanku bahwa akulah sebenarnya orang yang cemburu karena melihatnya duduk berdua.

“Oh ya?”, jawabku sudah rada malas.

“Iya! Eh, kalau aku nembak dia besok gitu, terlalu cepet ga sih?”

Astaga, demi Neptunus! Ini rasanya aku sedang ditampar pakai batu ratusan kali. Ternyata selama ini memang ia tak punya rasa, hanya saja butuh teman cerita dan kebetulan aku mungkin ada. Mungkin aku satu-satunya orang yang nyaman ia ajak curhat dan berbagi keluh kesahnya. Pantas saja, ada beberapa momen yang waktu itu ia sudah mulai menjauh tiba-tiba. Kupikir memang ia sibuk kuliah atau organisasinya. Ternyata ini penyebabnya. Aku sejujurnya tak tahu pasti kapan ia mulai berhubungan lagi dengan mantannya. Apakah dari sejak pertama kali kencan? Atau memang barusan ketika liburan semester? Ah pikiranku sudah melayang bebas.

“Mmmm, emang kamu deketin dia sejak kapan? Kok gak pernah cerita?”, pertanyaanku kali ini sedikit menjebak, supaya aku tahu sebenarnya sejak kapan ia mendekati kembali mantannya itu.

“Barusan sih, dua minggu lalu kalau ga salah”

Ah, ‘kan, bener! Sialan! Berarti memang ruang sendiri itu adalah bumerang untukku! Jika tahu hasilnya akan seperti ini, aku nggak akan biarkan dia lengah ‘lah.

“Sekitar dua minggu yang lalu itu, aku ketemu dia di reuni sekolahku dulu, terus ya udah, ngobrol, nyaman lagi, kebetulan dia lagi jomblo juga. Terus minggu lalu sempet pergi nonton juga, ke rumahnya, dia katanya mau bikin kue, aku suruh nyobain. Yaudah deh, menurutmu gimana? Tembak sekarang gak?”, imbuhnya di telepon.

Tidak perlu kuceritakan ‘kan, tentang apa yang terjadi pada diriku malam itu. Aku hancur ‘lah, itu pasti dan tidak bisa kupungkiri. Tetapi aku lagi-lagi berusaha untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan bahwa aku sedang hancur, karena orang lain termasuk dia hanya boleh melihat senyumku, yang baik-baik tentangku, biar yang buruk hanya aku dan Tuhan yang tahu.

“Oh gitu, ya…kalau kamu sudah mantap sama pilihanmu, silakan aja mas. Keburu nanti dia diambil sama yang lain ‘kan…”, aku menjawab sembari mengusap air mataku yang jatuh, untung saja ini hanya telepon, ia tak akan bisa melihatnya.

“Besok deh, besok jam 8 aku jemput kamu, kita siapin tempat yang romantis di taman Romansa, nanti dia aku bawa kesana setelah kita selesai siapin semuanya, oke?”, ajaknya dengan sangat berantusias.

“Mmmm, aku gak bisa mas, maaf. Besok aku udah ada janji sama temen-temen”, aku berbohong padanya.

“Ah batalin aja sama temenmu itu, sekali-kali bantuin aku, emang mau kemana?”

“Mm mm mm, ke… kemana ya…itu…”, jawabku gugup karena bingung mau menjawab apa.

“Ah kamu boong ‘kan, aku tahu kali. Pokoknya besok pagi aku jemput kamu”, langsung mematikan teleponnya.

Pagi sekali, bahkan sebelum jam 8 ia sudah mengetuk pintuku, mengucap salam dan langsung masuk sebelum kubukakan pintu dan kujawab salamnya. Setelah itu aku dibawanya ke taman Romansa dekat bandara yang baru saja selesai diresmikan oleh Pak Ganjar Pranowo sebulan yang lalu. Dengan menggendong tas ranselnya yang berisikan banyak barang untuk didekor sesuai kemauannya nanti. Sesampainya disana, langsung saja ia mendekor seromantis mungkin, kemudian setelah semuanya selesai, ia menelpon mantannya yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya lagi.

“Kamu dimana? Aku jemput sekarang ya, ikut aku”, katanya.

Tak lama kemudian setelah ia pergi menjemput mantannya itu, ia sudah kembali dengan menutup mata mantannya. Kemudian ketika berhenti didepan tulisan “Do you want to come back to me?” matanya dibuka dari penutup mata. Mantannya mengangguk dan menangis, kini akhirnya mantan tersebut sudah kembali menjadi tambatan hatinya lagi. Ia memeluk pacarnya yang masih menangis karena memang dekorasi yang ia suguhkan sungguh romantis.

Aku hampir tak percaya bahwa ia akan melakukannya didepan mata kepalaku sendiri, dan akulah yang sedari tadi pagi diributkan untuk membuat rencananya berjalan sesuai ekspektasinya. Akulah satu-satunya orang yang menjadi saksi bisu bertemunya kembali dua insan yang telah lama tak bertemu kemudian menjadi saling mencinta lagi setelah sekian lama pernah saling menjauhi karena tak ingin disakiti lagi.

Related Post

Pulang

Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali? Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan? Kembalilah Bujang,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: