Can I Call U, Love? – #9 Bumerang

Can I Call U, Love? – #9 Bumerang

Meski sempat renggang, tapi keadaan memaksa kami untuk tetap merapat. Sekalipun lebih banyak bungkam ketika dua manusia canggung dipertemukan. Namun inilah kenyataannya. Kemudian kami mulai terbiasa kembali dengan situasi seperti ini.

Sekarang ini bersyukur karena kampus sudah memberikan libur meski, ya, singkat. Tapi begitu banyak kisah yang terjadi dengan kami selama liburan. Semuanya kembali berantakan. Padahal sebelumnya sempat kurasa membaik.

Untuk memulai libur, kami menyempatkan diri untuk bertemu sebelum akhirnya rindu akan mulai hadir diantara kami, kemudian dipastikan sulit untuk menyelesaikan rindu yang hadir disela-sela masa libur kami. Karena kami akan kembali ke kampung halaman masing-masing yang terbentang jarak sekitar 420km.

Hari itu sangat indah, semuanya baik-baik saja. Kami berdua tampak seperti minggu-minggu lalu. Hari itu pula, organisasi kami menyempatkan pula untuk berkumpul bersama untuk pamitan sebelum liburan, sekaligus evaluasi selama satu semester dan selesai pukul dua siang. Setelahnya kami habiskan waktu berdua di sebuah mall yang kebetulan jaraknya tak jauh dari kampus kami. Mulai dari nonton film, main game, hingga makan burger kesukaannya.

“Nanti liburan aku ada project nih sama saudaraku, mau bikin short movie”, ia membuka suara lebih dulu sambil mengunyah burgernya.

“Bagus dong, aku mau nonton, ‘ya!”

“Cek di channel Youtube aku ya, jangan lupa subscribe, like, comment, and share hahahaha”, ia meledek dengan menirukan gayaku.

“Hihh nyebelin! Eh aku juga katanya mau dikasih kerjaan dari Papa nih mas, kayaknya suruh ngedit deh. Soalnya kemarin Papa tuh telepon, katanya kalau pulang suruh bawa kamera sama laptop gitu”

“Video CCTV lagi maksudnya?”

“Kayaknya sih gitu. Eh jadi kita bakal sama-sama sibuk dong?”

“Ya, iya, hehehe”

“Okeh, ndak apa. Nanti liburan, aku juga kurangin porsi aku ngepoin kamu deh mas, biar kamu fokus sama short movie nya”, aku memberinya ruang untuk sendiri.

“Kebetulan aku nge-shoot, juga yang ngedit, jadi bakal sibuk”

I know, kamu kalau udah ngadep laptop kan gak bisa diganggu gugat hehehe”

“Biar fokus aja, kamu juga biar fokus. Biar kamu nggak mikirin aku chat apa enggak”

“Aku jadi inget mas hahaha”, aku tertawa tiba-tiba karena mengingat masalalu

“Inget apa?”

“Pas lagi teleponan kita, padahal aku mau nugas, terus kamu tiba-tiba matiin teleponnya. Katanya biar aku nugas, terus beneran aku nugas deh langsungan”

“Ohhh inget! Hahahaha, kan kamu gitu sukanya kalau udah nyaman, suka lupa”

“Yaudah deh deal ‘ya?”

“Iya siap bosku”

Setelah percakapan kami usai, liburan tiba, hingga pada akhirnya yang terjadi adalah benar. Tak ada saling mengganggu, tak saling memikirkan satu sama lain sedang apa, dan memang jarang berkomunikasi kecuali untuk hal yang benar-benar penting.

Ketika liburan hampir usai, ternyata kami belum sempat berkomunikasi lagi seperti biasa. Yang ada dalam pikirku, ia pasti akan lebih dulu menghubungiku ketika short movie-nya telah selesai. Namun ternyata salah. Bahkan saat aku sudah kembali ke Kota Semarang, ia bahkan tak merespon insta stories-ku yang kutahu ia melihatnya. Diabaikan.

Kemudian, untuk hari-hari berikutnya pun, tak pernah bertemu di kampus. Ia menghilang dari sosial medianya, tak pernah kulihatnya berada di dalam ruang organisasi, ataupun di warung burjo.

Sekitar seminggu perkuliahan kembali dimulai dalam suasana semester genap, aku baru bisa menemukannya. Berada dalam satu meja food court bersama perempuan, berdua saja. Asik sekali berbicara hingga tertawa dan tak menyadari bahwa aku ada disana. Kuhampirinya tanpa pernah ada rasa gengsi atau takut akan harga diriku hilang karena lebih dulu menghampirinya.

“Bisa kita pindah ke meja sebelah? Aku pengen ngobrol berdua”, aku sambil menahan air mataku.

“Boleh, ada apa?”, sambil bangkit dari bangkunya dan meninggalkan perempuan itu.

“Dia siapa mas?”, tanyaku langsung to the point.

“Itu? Mantanku, hehehe”, sambil menunjuknya.

“Oh, mantan. Aku nunggu kamu chat duluan sih mas dari kemarin. Soalnya aku pikir karena liburnya habis, dan short movie-nya udah kelar, ya…”, belum selesai kalimatku sudah dipotong dengannya.

“Udah jadi kok short movie-nya, tonton di Youtube-ku aja. Itu, kemarin aku habis nganterin dia ke Bandara, nganter dia ketemu sahabatnya”, lontarnya dengan santai tanpa memikirkan perasaanku.

“Mmmmm, oke. Yaudah aku cabut dulu mas”, kataku tersenyum sembari meninggalkannya.

“Oke, hati-hati”

Sekalipun status kami belum jelas. Namun faktanya, ia yang selama ini membuatku nyaman, memberi ketenangan. Jika ia tiba-tiba jalan berdua dengan perempuan lain yang tak lain adalah mantannya sendiri, aku ini bisa apa? Memintanya untuk menjauhi perempuan itu? Tidak seberhak itu.

Ternyata bumerang. Ketika aku memberikannya ruang untuk sendiri, nyatanya malah ia bagi dengan perempuan lain. Bahkan aku sendiri kehilangan ruang itu.

Related Post

Pulang

Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali? Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan? Kembalilah Bujang,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: