Can I Call U, Love? – #6 Basah Kuyup

Can I Call U, Love? – #6 Basah Kuyup

Hari ini Kamis manis, bersama kenangan manis pula didalamnya. Aku berada dalam ruang organisasiku berdua. Hanya berdua. Sebenarnya karena ditinggal satu-satunya temanku yang tadinya berada disini, untuk membeli makan. Tertinggallah aku, bersama dengannya. Diam, hening, dan ingin pulang. Adakah orang yang senang karena tidak dianggap ada? Ditinggal mendiam diri dan duduknya memunggungiku. Seperti aku tidak terlihat olehnya.

Kemudian ia pamit untuk berkumpul dengan kelompok tugasnya. Aku sendirian. Entah mengapa, meski tadi sempat tak dianggap, aku tetap saja menunggunya. Sebenarnya tidak ada niatan pula, namun sekalian, toh bosan di kos sendirian.

Pukul setengah sembilan malam, ia kembali ke ruang terakhir kali ia meninggalkanku. Mengajakku untuk makan malam, di angkringan pinggir jalan, ramai, aku suka. Kami bertiga dengan temanku tadi, menggelar tikar ditengah lapangan samping warung. Memandangi bulan yang terang sambil mendengarkan pengamen jalanan menyanyikan lagu-lagu Tulus yang sejuk. Tak terasa, tiba-tiba gemericik air mulai turun dengan nyaring. Kami masih tetap di tempat. Berharap hujannya akan tetap gerimis manis seperti hari ini.

Salah, ketika kami membiarkan badan kami masih tergeletak duduk rapi di lapangan, hujan tiba-tiba deras. Kami lekas lari menuju tenda warung, sekalian membayar apa yang sudah kami beli. Selepasnya, kami memutuskan untuk pulang ke kosan ku, menerjang hujan yang sedikit mereda, lebih baik dari hujan yang tadi, deras.

Kami bertiga basah kuyup dan menggigil kedinginan. Segelas teh hangat kusajikan untuk menghangatkan. Pesta minum teh sederhana yang kubuat malam itu, aku ingat sekali. Ketika ia tersenyum, dan aku mulai berani menatap matanya diam-diam. Namun kau tahu tidak? Hatiku kembali berdebar-debar, kencang pula.

“Sudah malam, aku pamit pulang ya”, ia pamit.
“Baru saja mau aku usir”, jawabku bercanda.
“Kelamaan nunggu diusir, aku tahu diri orangnya, wlee”, ia pun membalas.
“Berani kamu pulang?”, tanyaku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Memangnya aku ini kamu? Ya berani lah”, jawabnya sembari mengejekku.
“Hati-hati, kalau jatuh, WhatsApp aja”, kataku bercanda.
“Ini aku udah jatuh, cinta”, jawabnya.
“Ha? Apa? Aku nggak ngerti”, tanyaku.
“Simpan saja, selama malam, Nona”, sembari menyalakan motornya.
“Selamat malam juga, Tuan. Hati-hati di jalan”, kataku sambil ia berlalu dan mengklakson.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Related Post

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: