Can I Call U, Love? – #5 Pamit

Can I Call U, Love? – #5 Pamit

Pagi itu aku malas sekali keluar kamar. Aku masih ngantuk, setelah Shubuh aku belum lelap lagi. Ditambah kabar kelas pagi ku kosong yang tiba-tiba muncul di notifikasi, senang. Akhirnya aku bisa tidur lagi. Ah, ternyata hanya bisa ditambah sekitar 45menit, sial. Hanya rebahan di atas kasur, mendengarkan lagu-lagu Ed Sheeran.
Tiba-tiba saja aku ingat, ada satu tugas siang ini yang belum aku kerjakan. Tapi si malas belum mau jauh-jauh sampai tiga jam sebelum kelas. Dengan jurus seribu bayangan, jemariku mulai gemulai menari diatas keyboard laptop, otakku yang sedari tadi hanya untuk bermalas-malasan, kini sudah bekerja dengan baik sehingga apa saja tiba-tiba muncul.

Setengah jam sebelum kelas dimulai. Si hujan datang, sekitar 20 menitan, tidak mau mereda. Menahanku untuk tetap di kos, dan tidak masuk kelas. Pikirku, aku akan alfa saja hari ini. Tapi pupus. Sudah tiga minggu, kelas mata kuliah ini kosong. Hari ini berarti akan ada absensi tiga kali. Jadi, kuputuskan menunggu reda. Terlambat sampai setengah jam. Tapi tak apa, saat reda, saatnya melaju cepat.

Ketika menaiki tangga ke lantai dua, tiba-tiba badanku melemas. Aku baru ingat, belum sarapan pagi tadi. Padahal ini sudah jam satu lebih. Pikirku, ah, nanti juga jam dua sudah selesai kelasnya, biasanya juga begitu. Tapi, ah, kesal. Materi minggu kemarin dirangkap di pertemuan hari ini. Terpaksa harus mundur sarapan sampai jam tiga nanti.

Akhirnya, belum sampai pukul tiga, kelas usai juga. Aku langsung berlari menuju food court. Aku mana tahu kalau ternyata dia rapat ditempat yang sama. Sedang duduk bersama teman-temannya. Kami saling tahu keberadaan kami. Aku biasa saja. Kurasa, dia masih punya teman, akupun sama. Dunianya masing-masing. Tidak harus setiap hari bersama ‘kan?

Saat aku sedang makan, tiba-tiba, ia dari kejauhan sudah tampak bangkit dari bangkunya. Sedang berdiskusi dengan teman-temannya, berdiri di samping mejanya. Kemudian melihatku, tak sengaja, akupun sedang melihat kearahnya.

“Aku pulang ‘ya :)”, katanya berbisik malu dibalik punggung temannya.

“Iya :)”, jawabku membalas sambil mengangguk.

Saat itu kamu tahu tidak? Jantungku berdebar lagi. Memang tidak sekencang saat pertama kali kuceritakan padamu. Tapi hampir, hampir sama kedengarannya. Sama-sama aku sendiri mendengarnya.

Tapi sekali lagi, aku biasa saja, dan aku pikir dalam hati,

“Aku tidak posesif. Pergilah, aku tidak harus tau semua tentangmu, kamu dimana, dan sedang apa, bahkan dengan siapa. Kita masih punya dunia kita masing-masing. Sebelum atau sesudah ada kamu, aku akan tetap sama saja. Jadi, aku yang sebelum dan sesudah ada kamu, masih sama, tanpa perubahan”, gumamku dalam hati ketika melihat senyumnya yang tersembunyi dan secara malu-malu. Aku melanjutkan makanku, dan dia pulang.

 

Penulis : Gusti Bintang Kusumaningrum

Related Post

Pulang

Pulang

Hai Bujang, tidakkah kau ingin kembali? Tak adakah sanak saudaramu yang kau rindukan? Kembalilah Bujang,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: