Bahasa Indonesia ”Dirusak” Media Massa

Bahasa Indonesia ”Dirusak” Media Massa

Peringatan hari Sumpah Pemuda–yang salah satu unsurnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional– sebentar lagi akan berlangsung, tapi ternyata bahasa pemersatu ini makin sering dirusak atau digerogoti oleh berbagai lapisan masyarakat mulai pejabat hingga media massa.

Pada hari Jumat, 14 Oktober 2016, ribuan orang melakukan unjuk rasa di ibu kota Jakarta untuk memprotes Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dia dianggap telah menghina ummat Islam. Berbagai media massa terutama radio, televisi melakukan liputan langsung. Namun ternyata kian banyak wartawan yang tak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Ribuan massa sedang berdemonstrasi di depan Stasiun Gambir,” kata seorang wartawan televisi TVOne dengan gagahnya. Tapi dia yang berulang kali menyebutkan kata- kata “ribuan massa” lupa atau tidak sadar atau bahkan bisa tak mau tahu bahwa ada yang salah dalam laporannya.

Kata masssa– jika dilihat di kamus Bahasa Indonesia yang mana pun juga–sudah berarti orang dalam jumlah yang besar atau banyak. Karena itu, bisa dipastikan bahwa kata-kata “ribuan massa” sudah menyalahi aturan bahasa persatuan di Tanah Air.

Kemudian televisi Metro TV pada hari Senin sore (17/1O/2016) memberitakan bahwa sejumlah sopir bus di Yogyakarta berunjuk rasa untuk menuntut perbaikan nasib mereka yang tentu saja berarti mendesak kenaikan upah atau gaji. Apanya yang salah dalam berita itu? “Belasan armada bus berunjuk rasa …,” kata sang pelapor berita.

Entah mengerti atau tidak paham, sang wartawan seharusnya tahu bahwa kata “armada” itu sudah berarti jamak, sehingga belasan bus itu sudah pasti merupakan satu armada.

Sementara itu, Metro TV semakin sering menggunakan bahasa asing khususnya bahasa Inggris untuk memberi nama pada acara-acara mereka. Lihat saja misalnya “Good news today” atau ” news story insight” ataupun “I’m possible”.

Penggunaan kata-kata asing itu pantas dipertanyakan apalagi menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda yang intinya adalah Berbangsa Satu Bangsa Indonsia: Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia’ serta “Satu Bahasa Bahasa Indonesia”.

Sementara itu, ada beberapa penyiar stasiun televisi yang terkenal ini seolah-olah ingin sengaja memperlihatkan ” kehebatan atau kemampuan” mereka berbahasa Inggris.

Ada seorang wanita penyiar beberapa hari lalu dengan santainya berkata” surprisingly”. Apakah sang wanita ini tidak sadar bahwa di dalam Bahasa Indonesia ada beberapa kata padanannya seperti “mengejutkan” atau ” alangkah hebatnya’.” Para wartawan atau redaktur di Metro TV mudah-mudahan tidak akan pernah lupa bahwa pada 28 Oktober tahun 1928 itu, ada tekad dari para pemuda Indonesia untuk mengakui bahwa di Tanah Air hanya ada satu bahasa resmi yakni Bahasa Indonesia.

Di lain pihak, pada televisi Trans7 terdapat acara Hitam Putih” yang dibawakan Deddy Corbuzier. Sang pembawa acara ini hampir tidak pernah ragu ” bercas cis cus”alias berbahasa asing, yang lagi-lagi bahasa Inggris. Orang ini yang disebut-sebut memiliki angka IQ yang tinggi baru-baru misalnya pernah berujar” thank you Delon” dan kemudian berkata” ada seorang polisi yang ingin perform”.

Bahkan tak jarang, Ddddy memberikan petuah, nasehat atau komentar yang panjang dalam bahasa Inggris untuk memperlihatkan bahwa dia sangat menguasai bahasa asing sehingga mungkin ingin dipuji.

Orang asing Di London baru-baru ini, berlangsung sebuah diskusi tentang Bahasa Indonesia yang antara lain pembicaranya adalah pemilik sekolah dan penguji Bahasa Indonesia “Cambridge International Exam” Geoff Roberts.

Dia mengatakan kalau di dalam Bahasa Indonesia ada kata-kata yang sepadan atau kurang lebih sama artinya dengan bahasa asing itu, maka sebaiknya dipakai kata-kata dalam bahasa nasional di Tanah Air.

Pada acara itu, juga tampil Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, Inggris, Profesor Aminudin Aziz.

Aminudin Azis yang juga merupakan ahli bahasa mengungkapkan bahwa pada bulan September-Oktober 2013, pernah dilakukan penelitian bahwa terdapat judul berbahasa asing pada 80 berita.

Jika mendengar pikiran kedua orang di atas, maka harus diakui adalah semakin banyak orang Indonesia terutama anak-anak muda yang sangat “menggandrungi atau hobi atau bahkan memamerkan” berbahasa Inggris atau bahas-bahasa asing lainnya.

Yang menjadi persoalan adalah apakah para wartawan, redaktur serta penyaji (presenter) itu sadar bahwa di Indonesia sekitar 60 persen penduduknya hanya tamatan atau tidak lulus sekolah menengah pertama atau SMP.

Kalau tokoh- tokoh sangat lancar berbahasa Inggris misalnya di televisi atau radio, maka sadarkah mereka bahwa di lingkungan sekitarnya saja masih banyak orang yang tidak berbahasa Indonesia secara lancar dan baik karena mereka terus terbiasa berbahasa daerah.

Tanpa bermaksud merendahkan saudara-saudara kita di Timika, Papua, suku Badui di Banten atau Dayak di kalimantan, maka pertanyaan yang patut muncul direnungkan adalah apakah mereka paham atau mengerti kata-kata asing seperti surprise, inovatif, kondusif dan lain- lainnya.

Jika dahulu di Tanah Air pernah terdapat ahli- ahli Bahasa Indonesia seperti Yus Badudu ataupun Anton Moeliono maka apakah sekarang pemerintah atau perguruan tinggi memiliki ahli- ahli bahasa nasional yang disegani atau bahkan ditakuti oleh masyarakat termasuk para pejabat yang sering disindir misalnya oleh Yus Badudu.

Jika contoh-contoh di atas menggambarkan banyak media massa yang “merusak” Bahasa Indonesia, maka ternyata ada juga lembaga pemerintah yang “hobi” berbahasa Inggris misalnya Badan Ekonomi Kreatif. Pada tanggal 10 Oktober, Badan Ekonomi Kreatif ini mengeluarkan siaran pers yang jika diliahat sangat atau cukup mengejutkan karena dipenuhi bahasa Inggris.

Di situ ada kata- kata yang bisa disebutkan tak akrab dengan orang awam seperti “stratup’ kemudian “talent development, serta “fase pre-incubation“. Kemudian, ada kata-kata “kolaborasi” serta “platform”.

Ternyata tidak hanya media massa yang mempengaruhi rakyat dengan kata-kata asing tapi juga instansi pemerintah.

Karena itu, rasanya tidak;ah sama sekali jika menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober ini seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali kembali ke Bahasa Indonesia. Bangsa ini memang tidak bisa menghindari diri dari kata atau istilah asing.

Akan tetapi masak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat terus dibiasakan mendengar dan memakai ungkapan asing yang ada padanannya dalam bahasa nasional seperti kondusif, atau memprediksi dalam pembicaraan sehari-hari.

SELAMAT BERBAHASA INDONESIA.

Sumber

Related Post

One Comment on “Bahasa Indonesia ”Dirusak” Media Massa

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: