Simple Circle and Time Machine

“Alam semesta itu bagaikan koin, kau bisa bertaruh sisi mana yg akan keluar” adalah satu kalimat yang bisa ku ingat darinya sebelum ia melemparku ke masa lalu. Seluruh dunia membenci mereka. Bukan, lebih tepatnya kami. Walau mungkin sekarang hanya ada tiga orang di bumi ini. Dua orang ilmuwan dan satu warga sipil.

Baiklah, mungkin kalian akan bertanya apa maksud dari penjelasan sebelumnya. Ya, memang benar mereka seperti pemeran utama dalam cerita ini. Mereka sudah seperti kakakku. Dan orang-orang mengenal jelas siapa mereka, kak Dino yang merupakan seorang dokter dan fisikawan bernama kak Adi.

Lalu bagaimana kami bisa bertemu? Sebenarnya kami sudah berteman sejak kecil. Saat itu terjadi kecelakaan kecil yang membuatku kehilangan jari telujuk kananku.  Aku akan meceritakan dengan singkat tentang kecelakaan itu.

Disaat itu, aku sangat penasaran, bagaimana buah-buah itu  bisa menjadi cair. Aku berpikir di depan blender hitam metalik di depanku ‘apa yg ada di balik pusaran itu?’. Rasa penasaran yg sangat memuncak membuatku dengan bodohnya menaruh jariku di dalam sana, tepat di bagian penghalusnya. Aku tak dapat mengingat apapun tentang kejadian itu. Yang ku ingat adalah selanjutnya aku di larikan ke rumah sakit, dan kak Dino yang saat itu duduk tepat di sebelah ranjangku. Dia menatapku dengan mata yang penuh ketertarikan dan berkata “Astaga, kamu lucu”.

Ia mengatakan itu tanpa tekanan. Seperti mengalir begitu saja seiring kilatan dari matanya mencerah. Memperlihatkan bahwa dia tak main-main. Dia benar-benar sedang tertarik.

Kak Dino anak seorang dokter, saat itu umurnya masih 8 tahun, lebih tua 1 tahun dariku. Ya, mungkin insiden pusaran penghalus itu agak terdengar konyol, tapi apa kalian tidak memiliki rasa penasaran itu?

Semakin lama kami semakin mengenal satu sama lain. Umur Kak Dino sudah 19 tahun. Dia sudah lulus SMA dan seperti dugaanku, dia akan mengambil jurusan kedokteran. Dia akan menjadi dokter seperti ayahnya. Disinilah peristiwa bertemunya dua ilmuwan itu. Kak Adi, mahasiswa jurusan fisika.

Menurutku mereka keren. Menciptakan banyak hal, salah satunya adalah mesin waktu ini. Tapi di sisi lain, karena mereka bencana ini tercipta. Hanya kami bertiga yang bertahan hidup. Dengan kata lain semua orang di dunia ini mati. Meski di luar sana masih ada banyak orang. Mereka masih bergerak. Tapi bukan atas perintah otak mereka, dan jasad mereka perlahan membusuk. Satu satunya harapan kami adalah mesin waktu.

“Kita akan pergi ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan kita”, ujar kak Dino lembut namun pasti.

“Tapi tidak semudah itu, harus ada yang menyalakan mesinnya. Selain itu, mesin ini hanya mampu menampung 2 orang”, kata kak Adi dengan nada keras.

“Tika, bisa keluar dari lab sebentar?”, kak Dino tersenyum. Menuruti perkataannya, aku pun berjalan keluar.

Sebenarnya aku takut jika saja mayat-mayat itu tiba-tiba masuk ke gedung ini. Tapi aku sangat percaya dengan mereka. Dengan keputusan yang akan mereka buat, aku yakin itu akan jadi keputusan yang terbaik.

PYARRR!!!

Suara itu seperti suara kaca pecah. Kegaduhan itu jelas datang dari dalam lab. Aku segera berlari ke arah lab. Banyak pertanyaan di kepalaku. Dadaku terasa sesak dan jantungku berdebar kencang. Saat ini aku benar benar takut.

Saat aku membuka pintu lab, aku melihat Kak Dino tergeletak di lantai dengan kepala bersimbah darah. aku sangat shock dikarenakan darahnya yang terus mengalir. Aku tak dapat bergerak setelah melihat itu. Badanku kaku.

“Kak Adi, tolong!” hanya itu yg ada di fikiranku. Kak Adi mendatangiku lengannya berdarah. “Kami bertarung”, katanya singkat.

“Bantu aku mengangkatnya ke situ”, tambahnya.

Badanku gemetar, nafasku tidak teratur, aku merasakan tubuh kak Dino dingin. “Jangan khawatir, masih ada waktu, dia masih hidup”, kata kak Adi. Kata-kata itu sama sekali tidak membuatku tenang. Setelah itu Kak Adi mengunciku di dalam sebuah ruangan kecil bersama kak Dino. Aku benar benar larut dalam rasa sedih dan ketakutan yang luar biasa besar. Bahkan melahap mentah jiwaku yang penasaran. Aku perlahan mulai mencoba untuk memasa bodohi keadaan. Dan aku jelas tidak tahu apa maksud semua ini.

Dari luar kak Adi berkata “Alam semesta itu bagaikan koin, kau bisa bertaruh sisi mana yg akan keluar. Saat kau menjumpai sebuah peristiwa, kau akan bertaruh dengan keputusanmu. Kau tidak akan tahu sisi mana yang akan benar-benar keluar. Apakah tebakanmu benar atau salah. Dan mesin ini akan membantumu untuk tahu sisi mana yang akan keluar”, kata kak Adi

Keningku mengkerut, “ini mesin waktu?”, tanyaku

“Ya, tapi yg akan kembali hanya jiwamu. Tubuhmu akan kembali kecil. Namun sisi baiknya, kau akan tau sisi mana yg akan keluar”, jawabnya.

“Tapi bagaimana denganmu, kak?”

Kak Adi cuma tersenyum lembut. Ada gambaran sedih di matanya. Setelah menghela nafas ia berkata, “mungkin nanti rasanya seperti terhisap. Dan waktu akan berhenti menurut sudut pandangmu. Setelah itu waktu akan mundur. Maka bersiaplah.”

Senyum yang sama seperti sebelumnya terpatri di wajahnya. Dan setelah mengatakan itu dia tidak bergerak. Semua yang ada di luar ruangan ini diam. Rasanya amat mual, kepalaku pusing, dan aku juga mengantuk.

-||-

“sebenarnya, apa yang ada di balik pusaran itu?”

Adalah satu hal yg ada di dalam pikiranku saat ini. Keputusan ini sangat berat, tapi aku ingin bertemu mereka lagi.

Semoga saja,

di suatu saat nanti.

(Abara)

Related Post

Le Malentendu

Le Malentendu  (oleh: Muhammad Abdul Malik)   Lampu diatasnya menyala kuning temaram. Sinarnya tidak terlalu…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: