Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Baca Rumah Belajar Impian (RUBI) Semarang

Rumah Belajar Impian, yang biasa disebut RUBI oleh masyarakat di Desa Tenggang, Kecamatan Gayamsari, Semarang merupakan tempat belajar bagi anak-anak sekitar desa dari SD hingga SMP. Awal berdirinya RUBI ini adalah inisiatif dari salah seorang pemuda desa tersebut. Komunitas yang dinamai Sahabat Tenggang Semarang inilah yang menjadi pemrakarsa berdirinya RUBI. Komunitas yang resmi berdiri sejak tahun 2013 ini dulunya hanya beranggotakan sekitar 8 orang relawan dari beberapa universitas di Semarang.

Tempat belajar yang berada digang sempit perkampungan inilah yang menjadi tempat belajar bagi mereka, anak-anak korban rob yang memiliki semangat luar biasa untuk terus belajar. Sekarang fungsi RUBI memang sebagai rumah belajar, dan tempat belajar tambahan bagi anak-anak sekitar. Buku-buku yang tertata rapih disana begitu memasuki ruangan depan rumah tersebut merupakan buku yang berasal dari berbagai komunitas sosial dan beberapa adalah buku yang para relawan berikan dari dana pribadi.

Dengan semboyan “Siap Hebat!” inilah yang menjadi pemacu semangat belajar anak-anak. Setiap hari mereka belajar mulai dari pukul 16.00 sampai 18.00 WIB. Meski waktu sangat terbatas tapi semangat belajar mereka tetap terlihat. Walaupun ada beberapa anak yang berlari-larian dan suasana juga cukup ramai dengan suara teriakan mereka, para pengajar tetap dengan sabar memberikan pelajaran hingga sekedar mendongengkan mereka. Tidak hanya itu, yang menjadi prioritas adalah memberikan pedidikan karakter bagi mereka.

Mulai dari pelajaran kelas satu SD hingga SMP diberikan disini. Sistem mengajar juga mungkin cukup membingungkan, yaitu satu atau dua orang pengajar dibagi untuk mengajar satu bahkan hingga dua tingkatan kelas sekaligus. Untuk kelas satu hingga empat SD berada di lantai bawah dan sisanya berada di lantai atas. Tidak mudah memang mengajar anak-anak seusia mereka dengan pengajar yang masih sangat muda. Terlebih dengan adanya toko kecil dirumah belajar itu, anak-anak sering bolak-balik membeli makanan ringan untuk camilan mereka saat belajar.

Keceriaan dan semangat anak-anak Desa Tenggang haruslah tetap seperti itu bahkan harus terus bertambah. Dengan langkah kecil yang tentunya tidak mudah inilah, yang pastinya menjadi segelintir harapan untuk terus memajukan pendidikan anak bangsa.

Related Post

Pelatihan Jurnalistik Dasar

Sabtu, 15 September sebanyak 48 calon anggota Wartadinus mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) yang…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: