Uluran Tangan Pahlawan Intelektual

Uluran Tangan Pahlawan Intelektual

Uluran Tangan Pahlawan Intelektual4″Sistem pendidikan kurang berarti jika hanya mengajarkan anak muda bagaimana mencari nafkah tetapi tidak mengajarkan mereka bagaimana membuat kehidupan.”

-Anonim-

Pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Ketika pendidikan di sebuah negara secara kualitas dapat dikatakan dengan baik, bsa dipastikan jika itu adalah Negara berkembang tidak lama lagi akan mengganti predikatnya menjadi negara maju. Namun, dibalik kualitas pendidikan yang nomor wahid terdapat faktor yang memperngaruhinya, yakni pemerataan pendidikan. Lebih dari setengah abad negeri ini bebas dari jajahan kolonial, tapi selama itu pula anka-anak di pelosok desa tidak memperoleh haknya untuk mendapat pendidikan yang layak. Selama ini indahnya bangku sekolah hanya bisa dinikmati oleh mereka yang hidup di perkotaan.

Melihat kesenjangan itulah, seorang mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (UNSUD) Purwokerto bernama Wildan tergugah hatinya untuk membuat komunitas bersama rekan-rekan sejawat bernama Bhinneka Ceria (Bhincer). Sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat para pahlawan intelektual yang berjuang untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan terutama di bidang pendidikan. Jalan yang mereka pilih memang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang hobinya unjuk rasa ataupun hanya diskusi tanpa solusi, akan tetapi mereka lebih memilih untuk melihat realita di lapangan dan melakukan aksi nyata.

Sebuah desa di ujung Kabupaten Kendal yang bernama Medono, Kec. Boja menjadi desa binaan Bhincer wilayah Semarang yang pertama. Letak geografis yang berbatasan dengan Semarang tidak menjamin anak-anak di Medono memperoleh pendidikan yang layak. Lebih dari enam bulan terhitung dari bulan Maret, Rosi, Ojan, dan beberapa aktivis yang tergabung dalam Bhincer Semarang melakukan kegiatan sosial di kawasan itu. Tujuannya tak lain adalah dalam rangka pemberdayaan masyarakat Medono.

Pendidikan menjadi sorotan utama, karena dari pengamatan Bhincer masyarakat setempat cenderung memandang sebelah mata arti pentingnya pendidikan. Jenjang pendidikan yang tinggi dianggap tidak menjadi solusi terhadap tingkat kesejahteraan hidup. Oleh sebab itu, bekerjasama dengan masyarakat setempat para aktivis yang meyoritas berasal dari UNNES, UNDIP, dan UDINUS ini setiap minggu meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbagi ilmu dengan anak-anak desa Medono. Pendidikan anak-anak merupakan tahap awal setelah bakti sosial sebelum mencapai tujuan utama yakni pemberdayaan masyarakat desa. Metode yang diterapkan dalam mendidik anak anak juga dirancang sedemikian rupa agar mereka tidak merasa jenuh dan tertekan. Memang, sistematika pengajarannya tidak seperti di sekolah formal pada umumnya yakni dengan menekankan pada permainan-permainan edukatif. “Di sini kitapun juga main-main, tapi dapat sesuatu yang barulah buat anak-anak,” tegas Ojan, mahasiswa Ekonomi Semester 5 UNNES.

Perjuangan Bhincer Semarang untuk menanamkan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Medono tidaklah mudah. Selama tiga bulan mereka mendidik anak-anak desa setempat, masih saja ada beberapa orang tua yang meremehkan kegiatan sosial dari Bhincer. Akan tetapi, hal itu masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tentunya tidak menjadi batu sandungan bagi Bhincer Semarang untuk terus mengabdi bagi masyarakat Medono.

Melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dirancang oleh Bhineka Ceria Semarang, masyarakat setempat terlebih pemuda diharap lebih responsif terhadap kegiatan sosial yang dilakukan oleh Bhincer. Sehingga tujuan tercapainya masyarakat desa yang madani tidak terlalu sulit.

 

Reporter : Kholid Khazmi

 

Related Post

Pelatihan Jurnalistik Dasar

Sabtu, 15 September sebanyak 48 calon anggota Wartadinus mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) yang…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: