Budaya Jawa di Pinggiran Zaman

Budaya Jawa di Pinggiran Zaman

sastra-jawa   Dewasa ini, budaya  jawa sudah mulai terpuruk, terpinggirkan karena perkembangan zaman global yang kian gencar memasuki kebudayaan timur. Westernisasi merupakan kata yang lazim untuk menamai arus global yang mulai melunturkan budaya asli Indonesia. Padahal, tidak semua budaya barat yang ada sekarang ini memiliki nilai positif bagi bangsa Indonesia. Tidak sedikit pula budaya barat yang berdampak negatif dan hal inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa Indonesia.

Budaya Jawa merupakan budaya yang memiliki nilai filosofis yang dalam. Kita lihat saja contoh nyata dengan adanya bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa seperti : Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton, dan lain sebagainya. Adanya mereka tak lepas dari adanya nilai budaya yang terkandung di dalamnya dan nilai-nilai kejiwaan terhadap budaya Jawa.

Globalisasi telah membawa efek yang cukup signifikan bagi pola kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Banyak orang yang terjerat oleh budaya kebaratan. Lalu, apakah kita akan tetap membiarkan budaya barat menggerus budaya Jawa ? Apa usaha kita untuk tetap mempertahankan budaya Jawa di tengah himpitan globalisasi yang kian merenggut satu persatu kebudayaan ketimuran kita?

Media penyaluran bahasa Jawa pun mulai hilang sekarang. Benar-benar seperti tertelan oleh zaman. Para siswa di tingkat sekolah pun kini menganggap budaya Jawa merupakan pelajaran yang tidak penting. Bagi mereka budaya Jawa hanya pelajaran sampingan dan tidak perlu menyita banyak perhatian. Bahkan orang asli Jawa sekalipun lebih fasih melantunkan bahasa indonesia dan lebih hebatnya bahasa inggris, dibandingkan berbicara dengan bahasa Jawa. Apalagi bicara bahasa kromo yang menjadi bahasa utama rakyat Jawa dahulu. Soal aksara jawa? Jangan ditanya, dalam satu kelas hanya satu atau dua anak saja yang dapat mengetahuinya. Ironis memang !

Hal ini perlu menjadi cerminan bagi pemangku kepentingan budaya Jawa di dunia pendidikan. Mereka merupakan pilar penting untuk meluaskan kembali budaya Jawa kepada para pemuda agar budaya Jawa dapat tetap bertahan melawan arus globalisasi.

Sekarang, apakah kita akan membiarkan westernisasi menggrogoti budaya Jawa kita? Apakah kita sudah mempertahankan budaya secara nyata? Apakah kita akan membiarkan kegagapan mengenai budaya jawa ini terus berlanjut? Jika ini terus berlanjut, hal ini merupakan sesuatu yang harus menjadi mawas diri bagi kita semua untuk tetap melestarikan budaya jawa di bumi pertiwi ini. Bukankah kita tidak ingin menjadi orang yang gagap akan budaya sendiri?

Reporter: Adelia Dini

gambar:www.google.com

Related Post

Pelatihan Jurnalistik Dasar

Sabtu, 15 September sebanyak 48 calon anggota Wartadinus mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) yang…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: